Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 95 Membujuk


__ADS_3

"Bibi... Paman kenapa" Tanya Dion yang membenarkan duduknya.


Rere sangat jengkel dengan tingkah Aditya yang dia anggap seperti anak kecil. Rere keluar kembali dan menghampiri Aditya.


"Ada apa Mas, Renia lelah. Pulanglah Jangan lagi merusak mood Renia" ucap Rere ketus.


Jika bicara Rere seperti ini Aditya Jelas Paham Jika Kekasihnya itu sudah sangat kesal, Aditya menunduk dan diam.


Rere hanya menatap dengan rasa kesal dan menunggu Aditya menjauhi Mobil miliknya. Aditya mendongakkan kepala menatap Rere Kembali.


"Kejujuran Apa yang Mas Tutupi dari Renia, Sayang" ucap Aditya Pelan.


Sementara Dion hanya menatap kedua nya yang nampak sedang berdebat. Dion hanya menggeleng lalu menutup kembali matanya.


"Mas... Renia Lelah dan Dion juga sudah tertidur, Jadi jangan berdiri didepan mobil Renia" sahut Rere.


"Mas sudah menjelaskan bahwa Mas bertemu dengan Klien untuk membicarakan tentang Hotel yang ada disana, Selasa depan Riki juga berangkat ke Bali untuk mengawasi perkembangan Proyek Hotel disana, Sayang"


"Ini Proyek Penting, Sayang. Tadi Siang Mas kesal karena Renia sejak pagi tidak membalas pesan juga panggilan telepon dari Mas dan tadi siang Klien Mas memberikan perkembangan Proyek yang tidak ingin Mas dengarkan. Karena itu Mas tersulut emosi saat Renia menelpon jadi Maafkan Mas. Mas Salah dengan Renia"Ucap Aditya Pelan.


Rere berpikir sejenak sebelum memutuskan apakah akan pulang bersama Aditya atau dirinya tetap pulang berdua saja dengan Dion, dengan menatap Aditya yang memohon untuk dimaafkan dan dirinya juga memaksa ikut satu mobil dengan Rere.


"Baiklah Mas, Ayo saya antar Mas pulang" ucap Rere dan segera kembali kedalam mobil.


Tukkkktukkktukk...


Suara pintu kaca mobil di ketuk oleh Aditya, dengan sedikit kesal Rere membuka kaca mobilnya.


"Ada apa lagi Mas, Masuklah. Renia dan Dion lelah. Kami ingin cepat pulang" ketus Rere tanpa menoleh kearah Aditya.


"Sayang....Kamu belum memafkan Mas" ucap Aditya.


"Ingin Masuk Tidak? Renia ingin cepat pulang, Jika Mas tidak Masuk Renia tinggal" dengan nada ketus Rere menoleh kearah Aditya.


"Baiklah Sayang Mas Masuk" Aditya memutari mobil Renia dan membuka kursi depan yang mana Dion sedang tidur.


Aditya membuka seat belt dan mengangkat tubuh Dion dan dirinya duduk disamping Renia dan menawarkan untuk mengendarai mobil Rere tapi tidak ada jawaban. Renia melajukan kendaraannya tanpa menoleh kearah Aditya.


"Sayang... Mas ingin mampir kerumah Renia ya" Aditya berkata pelan.


"Tidak.ini hampir malam, Renia lelah ingin istirahat besok ada perlu penting" ucap Rere.


"Perlu penting apa sayang" tanya Aditya masih pelan, dirinya tidak ingin menambah kekesalan Rere.


Rere hanya menoleh dan tetap diam. Aditya bertanya sekali lagi dan Rere tetap diam. Aditya menghembuskan nafas kasar dan menoleh kearah kaca sampingnya dan mobil menjadi hening.


"Sayang ingin kemana dan ada perlu apa lalu dengan siapa?" Tanya Aditya kembali dengan menoleh kearah Rere.


"Ada beberapa hal yang tidak harus kita saling tahu" Ucap Rere tanpa menoleh kearah Aditya.


"Maksudnya Sayang" Sahut Aditya yang tidak lagi bisa menahan amarahnya.


"Mas, Cerita bahkan minta ijin dengan Renia jika hari ini bertemu dengan Klien" jawab Aditya kesal.


"Tapi itu Bohong" ucap Rere singkat.


"Bohong... Bohong bagaimana Sayang. Tepikan Mobilnya. Cepaaaatttt"


Aditya benar-benar kesal dan ingin tahu kenapa Rere marah dan berkata bohong kepada dirinya, apa sebenarnya Rere sudah mengetahui fakta tentang Zayn.


"Dion sedang tidur kecilkan suaramu Mas" Rere masih tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sayang... Semalam Mas ajak Renia tapi Sayang menolak kenapa sekarang sayang Marah, Jika tidak percaya seharusnya Renia ikut jangan seperti ini" ucap Aditya dengan nada kesal dan Rere hanya diam.


"Terus kenapa Mobil Mas di bawa Riki seharusnya jika Mas ada perlu dengan Klien bukan nya Riki harus ikut serta mendampingi Mas tapi kenapa Riki ada di taman Kota" tanya Rere dengan nada marah.


"ohhh... Jadi Sayang mengikuti Mas dan ingin menjadi detektif untuk meyakinkan pikiran negatif Renia benar atau tidak seperti itu. Haaaa... " Aditya berusaha tenang dan dia juga tertawa untuk menutupi perasaan takut yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


"Diajak tidak Mau tapi diam-diam membuntuti Mas seperti itu" Aditya berkata sambil menggelengkan kepala lalu mencubit hidung dan Pipi Rere dengan gemas.


"Mas suka lihat Renia Curiga dan Cemburu karena itu tandanya Renia Cinta dengan Mas. Benarkan" Aditya berbisik pelan ke telinga Rere dengan dion yang masih berada dalam pangkuan Aditya.


Rere hanya melirik tajam dan memanyunkan mulutnya. Memang benar apa yang di katakan kekasihnya itu Jika Renia Curiga dan Cemburu kepada Sisilia yang sebelumnya terlihat menatap dirinya dengan sinis seakan ada sesuatu diantara Sisillia dan juga Aditya.


Karena disekitar Rere banyak wanita yang di khianati oleh pria itu yang membuat Rere harus waspada dengan Aditya dan harus tahu apa yang dilakukan oleh prianya itu. Rere tidak ingin apa yang menimpa Tya dan Ayu juga menimpa dirinya.


Menurut Rere lebih baik gagal sebelum menikah dari pada gagal setelah menikah. Walaupun Aditya satu-satunya Pria yang ada di hati Rere akan tetapi Jika Prianya itu berbohong tentang cinta maka Rere akan meninggalkan Aditya walaupun pada akhirnya sakit. Seperti itu yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Sayang... Maafkan Mas tadi berbicara kasar"


Aditya membujuk Rere supaya tidak lagi marah dan mendiamkan dirinya. Rere hanya menoleh singkat dan kembali fokus pandangannya kedepan.


Aditya membelai lembut pucuk kepala Rere dan kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi yang berada di mobil dan memeluk Dion sambil tersenyum lalu menutup matanya.


Diam-diam Rere menoleh kearah Aditya dan ikut tersenyum mengaggumi ketampanan Pria yang selama ini ada dihatinya.


****************


Di dalam kamar Sisilia selalu menatap kearah jam yang ada di pergelangan tangan nya, dirinya menunggu kedatangan Aditya yang mengatakan ingin bertemu dengan Riki tapi kenapa lama sebentar lagi datang adzan maghrib berarti sudah Tiga jam lebih Aditya meninggalkan Apartemen nya.


Apa Masih Lama Dia


Sisilia membenarkan duduknya dan mengambil kembali Ponsel yang ada di samping Nakas dan memandangi Video kebersamaan antara Putranya dan juga Aditya lalu photo mereka berdua saat berada di area beberapa satwa burung yang ada di kebun binatang itu.


Putranya tersenyum dan mencium pipi Aditya dengan bahagia tanpa terasa air mata Sisilia menetes dan dia menoleh kearah Zayn yang sedang tidur dan membelai lembut kepala Zayn dan menciumi pipi Putra semata wayangnya dengan penuh Kasih Sayang.


"Zayn, Sayangnya Mami dan Papi. Tetaplah Tersenyum Sayang. Demi Senyuman Kamu Mami akan melakukan apapun termasuk memisahkan Papi dengan Wanita yang Papi Kamu Cintai" Guman Sisilia pelan sambil membelai pipi anaknya yang sedang tertidur.


Sisilia menatap Ponselnya lalu melakukan panggilan telepon dengan Aditya beberapa kali karena Aditya mematikan panggilannya.


"Sayang kenapa tidak diangkat" gumam Sisilia pelan.


Sedangkan didalam mobil Rere diam melihat apa yang dilakukan oleh Aditya. Dirinya tidak bertanya kenapa tidak mengangkat Panggilan yang masuk kedalam ponselnya. Aditya menoleh kearah Rere dan barkata


Dddrrrttt.... Dddrrttt... Ddddrttttt...


"Kenapa Riki, kamu kenapa menelpon terus mengganggu saja"


Aditya sedikit marah tapi didalam hatinya sangat bersyukur karena dia menyelamatkan dari kecurigaan Rere. Segera Aditya merubah menjadi panggilan.


"Sayang Lihat Riki mengganggu kita terus" ucap Aditya mengarahkan Ponselnya. Rere menoleh dan benar saja itu Panggilan dari asisten Pribadi Aditya.


"Kenapa Riki, Kamu lihat kan Saya sedang berdua dengan Renia, Jangan kamu ganggu" Aditya menoleh kearah Rere dan tersenyum.


"Katakan ada apa" Aditya menanyakan kembali.


"Saya mendapatkan imformasi tentanh keberadaan Bu Ria, Pak Adit" ucap Riki dengan Cepat.


Mendengarkan Riki menyebutkan nama Ria, Rere menepikan Mobilnya dan mendengarkan apa yang akan Riki sampaikan, Menyadari bahwa Rere juga tertarik untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Riki. Aditya mengarahkan Ponsel kearah Rere agar penyampaiannya dapat didengar jelas oleh Rere.


"Bu Ria. Mas... " Rere memastikan dan dibalas anggukan kepala.


"Katakan Riki... " Ucap Aditya kembali


"Bu Ria di temukan tidak sadarkan diri didalam Apartemen miliknya dengan keadaan kritis dan sekarang ada di ruangan ICU"


"Apa... " Keduanya membalas bersamaan dengan nada tinggi membuat Dion terbangun.


"Ada apa Bibi... Paman" Tanya Dion yang tidak mendapatkan jawaban.


"Mas... Mas Adit... kita ke Rumah Sakit sekarang" Rere berkata dengan menangis.


"Tenang Sayang" Sahut Aditya.


"Riki kamu ada dimana sekarang" tanya Aditya

__ADS_1


"Saya ada dirumah sakit, Apa saya juga harus hubungi Pak Aries" Tanya Riki Pelan.


"Jangan Papi bisa syok dan akan berdampak pada Jantungnya" Balas Aditya dan juga dirinya menenangkan Rere yang menangis mendengarkan kabar tentang Ria yang sudah Rere anggap sebagai ibu angkatnya.


"Mas... kita ke rumah sakit sekarang... Mas" Rere menangis dan terus memohon untuk ke rumah sakit.


"Ya Sudah Riki kamu tetap berada disana sampai kami berdua datang" Sahut Aditya dengan tangannya tetap mengusap bahu Rere agar lebih tenang.


Panggilan ditutup dan Aditya memeluk Rere yang tidak berhenti menangis dan tubuh Rere bergetar. Aditya berpikir lebih baik dia yang mengendarai mobil, mengingat keadaan Rere yang terguncang atas kabar yang di dapatkannya tentang Ria.


"Sayang kamu pindah duduknya biar mas yang bawa, kita harus cepat menemui Tante Ria" ucap Aditya yang dijawab anggukan oleh Rere.


"Bibi... Dion ingin pulang, Dion tidak mau ke rumah sakit lagi, Capek Males, Ngantuk... Biiiiibiiii" Dion merajuk menolak ikut ke rumah sakit.


"Ya Baik, Paman antar Dion Pulang dulu ya" Sahut Aditya yang mengerti Rere tidak bisa menjawab keponakannya karena dirinya masih syok.


Aditya membuka seat belt lalu keluar dari mobil dengan sebelumnya mendudukan Dion dikursi yang ada di belakang dan memasangkan seat belt ketubuh Dion.Rere juga keluar dari mobil dan mereka bertukar posisi duduk.


"Mas kita putar balik karena ini arah kerumah Mas Adit" ucap Rere sambil memasang Seat Belt.


"Mas tadi bilang kita kerumah Renia... Sayang tidak mendengarkan Mas" Sahut Aditya dengan pandangan lurus kedepan dan melajukan mobilnya sedangkan Rere hanya menoleh mendengarkan keluhan Aditya.


Suara Panggilan Masuk kembali dan tanpa melihat siapa yang menelpon Aditya mengangkat panggilan telepon


"Riki Saya sedang menuju ke rumah sakit tapi saya mau antar keponakan Renia terlebih dahulu kembali ke Apartemen kamu tunggu di sana dan tetap dirumah sakit untuk mendapatkan informasi tentang keadaan Tante Ria" Aditya tampak Panik.


"Sayang Siapa Tante Ria... dan kenapa kamu antar keponakan Rere. Kamu sekarang ada dimana. Zayn dari tadi menunggu kamu" Balas Sisilia dan Aditya memastikan siapa yang menelpon dengan wajah kesal Aditya menarik nafasnya.


"Tunggu saja ok" Aditya menutup panggilan teleponnya begitu saja dan mematikan Ponselnya agar tidak ada yang menelpon lagi.


Aditya kembali Fokus kearah depan dan melajukan Mobilnya sedikit cepat. Rere tidak menghiraukan tentang apa yang di lakukan oleh Aditya karena dirinya sibuk dengan pikirannya mengenai keadaan ibu Angkatnya itu.


"Teteh tunggu di Lobby Rere ingin pulang ke apartemen hanya untuk antar Dion, Rere ingin pergi ke rumah sakit ada teman Rere dia di larikan ke rumah sakit dan keadaan nya sekarang Kritis" ucap Rere yang memutuskan untuk menelpon Tya, Karena dirinya harus segera kerumah sakit.


"Baiklah Rere, Teteh tunggu di lobby kamu sudah sampai mana" Tanya Tya.


"Sebentar lagi sampai teteh sekarang turun kebawah aja ya" sahut Rere.


"Ya Ok. Rere kamu sudah tanyakan ke Aditya tentang Pengacara untuk urus perceraian Teteh belum?" tanya Tya karena Adiknya belum membahas tentang pengacara yang sebelumnya diminta oleh Tya.


"Ya Teh... Rere kelupaan masalah itu, Tapi nanti pasti Rere tanyakan ke Mas Adit. Masalah Pengacaranya" Jawab Rere sambil menoleh ke Aditya yang juga menoleh kearah Rere.


"Ya sudah Terima Kasih Ya Rere, teteh kebawah sekarang dan teh Tya tutup telepon ya"


" ya teh" sahut Rere dan panggilan telepon dimatikan.


"Pengacara " Tanya Aditya dan Rere mengangguk.


"Teh Tya ingin bercerai dan meminta Rere untuk mencarikan Pengacara untuk itu, dan Rere ingin..." Menatap Aditya Ragu.


"Ingin... Apa Sayang" mengerutkan dahi.


"Eeehhh... Minta Bantu Pengacara yang membantu kasus mas Aditya itu.


"Rere tidak tahu mengenai ini sebenarnya dan juga harus bagaimana, tapi teteh minta tolong ke Renia"


Rere tersenyum karena dia juga bingung dan canggung karena seharian mendiamkan kekasihnya tapi ingin meminta tolong untuk masalah Kakaknya.


"oh... itu ya Mas Nanti Bantu. Apa Tya sudah Yakin berpisah dengan suaminya" tanya Aditya dan Rere hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ya sudah. Biarkan nanti Riki yang mengurus semuanya. Sayang" ucap Aditya tersenyum karena Rere tidak lagi mendiamkan dirinya.


"Kenapa Mas Riki yang mengurus. Biarkan Teh Tya yang mengurusnya sendiri. Mas Adit bantu sampaikan saja ke Pengacara yang menangani kasus Mas Adit dan berikan alamat kepada Renia. Nanti Renia antar teh Tya menemui pengacaranya" Rere menjelaskan.


"Ya Baiklah sayang" balas Aditya yang tidak ingin berdebat.


Aditya mengusap pelan kepala Rere dan menggapai tangan Rere lalu jari jemari Rere dicium dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2