
“Bagaiaman keadaan Putra kami” ucapan Sisillia bersaman dengan Aditya yang mengatakan hal serupa sejenak dirinya menatap Aditya dan tersenyum lalu beralih kembali kearah perawat dari arah pintu ruang ICU keluar Dokter Willy yang juga Dokter kepala yang menangani seluruh keluarga Erlangga jika mereka mendapatkan perawatan dirumah sakit.
“Pak Aditya” ucap Dokter Willy.
“Bagaimana Keadaan Putra Saya” tanya Aditya yang membuat Dokter Willy terdiam sejenak dengan rasa tidak percaya mengingat Aditya belum menikah kenapa dia memiliki seorang anak dan Dokter Willy menatap kearah Sisillia juga Aditya bergantian
“Dia tadi pingsan dan sekarang sudah sadarkan diri, Pak Adit…” ucap Dokter Willy terhenti.
“Kita bicara nanti Dokter saya harus menemui Putra Saya” Sahut Aditya sambil melangkah keruangan ICU.
“Baiklah dan Silahkan Pak Adit” balas Dokter Willy yang melihat Aditya memasuki ruangan ICU. Disusul dengan Psikiater Pribadinya.
Dokter Willy mengenal baik Sisillia karena wanita itu yang mendampingi Aditya untuk mengatasi Trauma saat masih Remaja karena kematian Mamanya.
“Apa Anak itu….” Dokter Willy menggelengkan kepala dan melangkahkan kaki menuju ruangan kerjanya.
Didalam ruangan ICU, Zayn menatap kedua orang tuanya yang berjalan menuju kearahnya dan kedua orang tuanya tersenyum manis kepadanya.
“Sayang… Katanya ingin ke kebun binatang kenapa Zayn mendadak Sakit”
Sisillia berkata sambil berjalan kearah Zayn dan kemudian mecium pipi Putranya juga memeluknya. Aditya hanya terdiam didekat bangkar putranya.
“Papi tidak menginginkan Zayn, Mami. Zayn tidak memiliki Papi hanya Mami yang Zayn miliki, Bisakah kita pergi dan hidup berdua saja tanpa papi” ucap Zayn yang membuat Sissillia dan juga Aditya terkejut dengan ucapan Putra mereka.
“A… Apa yang Zayn katakan Sayang, Papi Ada disini dan Papi sayang dengan Zayn buktinya saat Zayn sakit papi menggendong sampai ke rumah Sakit” ucap Sisillia mengusap pipi Zayn dan menoleh kearah Aditya yang hanya diam mematung.
“Kemarilah Sayang, katakan sesuatu Zayn salah berpikir tentang kamu” sambung Sisillia sedikit bicara dengan nada tinggi kepada Aditya.
“Sayang…”
Aditya mendekati Putranya menyentuh tangan mungilnya akan tetapi Zayn menarik dan memalingkan pandangannya kearah lain.
“Zayn Sayang jangan seperti itu, Memangnya Zayn tidak kangen sama Papi” Ucap Sisillia.
“Papi Jahat, Papi usir mami dan membentak mami. Zayn dengar karena itu Papi melarang Zayn keluar supaya bisa memarahi mami. Jika ada Zayn disana Papi tidak akan berani melakukan itu Mom” ucap Zayn dan merentangkan tangannya untuk memeluk Maminya dan Sisillia membalas pelukan dan menangis mendengarkan pembelaan putranya.
“Maafkan Papi, Nak” balas Aditya pelan.
“Janji tidak akan marah dan berteriak lagi kepada Mami” Ucap Zayn dengan nada Marah. Aditya hanya menganggukan kepala lalu memeluk Putranya dan juga Sisillia yang masih memeluk Zayn.
Betapa Bahagia hati Sisillia mendapati Pria yang dia cintai memeluk erat tubuhnya. Sisillia menoleh kearah Aditya lalu mencium Pipi Pria yang dia cintai lalu mencium puncuk kepala Zayn.
Menyadari apa yang dilakukan oleh Sisillia membuat Aditya melepaskan pelukanya dan berkata pelan kepada Zayn
“Sayang Jadi pergi ke kebun binatangnya atau Zayn ingin tetap di rumah sakit ini” tanya Aditya pelan.
“Mami katakan kepada Dokter Zayn ingin ke kebun binatang bersama Mami dan Papi” Ucap Zayn dengan antusias.
Aditya tersenyum dan menciumi pipi dan juga pucuk kepala Zayn dan memeluknya dengan hangat.
Sisillia menatap dan tersenyum dia merasa bahagia dengan apa yang dia lihat hari ini dan bersyukur dahulu dirinya memutuskan untuk tetap melahirkan Zayn dan memanipulasi mengenai Abo*si kepada Aditya.
“Baiklah Sayang, tunggu disini bersama Papi.
Mami ingin meminta ijin kepada Dokter, bisa pulang atau Zayn harus dirawat jika Zayn harus dirawat berarti besok atau minggu depan kita perginya ya Nak”
__ADS_1
Sisillia mengusap rambu Zayn pelan dan dibalas dengan gelengan dan tangan Zayn dilipat diatas perut dan Nampak Cemberut.
“Pergilah Sisillia dan katakan kepada Perawat kita ingin membawa Zayn Pulang biarkan Perawat yang menyampaikan kepada Dokter Willy” ucap Aditya menoleh kearah Sisillia yang dibalas anggukan kepala.
Sisillia melangkahkan kaki meninggalkan kedua pria yang sangat dia cintai untuk menuju ke ruangan perawat dan mengatakan apa yang Aditya perintahkan kepadanya.
Sisillia tersenyum mengingat kedekatan Aditya dengan Putra mereka. Ini yang dia tunggu dan ketakutan Aditya tidak menerima Zayn tidak terbukti yang terjadi justru Aditya sangat panik saat Zayn tidak sadarkan diri diatas lantai kamar dan terlihat sangat menyayangi Zayn.
Sisillia juga merasa lega karena kondisi anaknya sudah membaik itu tandanya dia dan Aditya akan pergi ke kebun binatang sesuai dengan rencana awal.
Mereka akan menghabiskan waktu weekend bersama Putra mereka. Sisillia berjalan kembali kearah ruangan dimana Zayn dirawat.
Tidak lama Dokter Willy datang dan memeriksa kembali Zayn dan dinyatakan bahwa keadaan Zayn membaik dan boleh di bawa pulang akan tetapi Dokter Willy memberikan pesan kepada Aditya diluar ruangan ICU, Dokter Willy berkata
“Sekarang Boleh dibawa pulang dan usahakan jauhkan pasien dari rasa stress atau tekanan dan hari senin pasien bisa datang lagi kemari untuk saya lakukan pemeriksaan mendetail jika Pak Aditya mengijinkan” ucap Dokter Willy yang sebenarnya tidak mengijinkan Zayn pulang terlebih dahulu karena akan memeriksa keadaan Zayn secara mendalam terhadap jantungnya.
Akan tetapi Zayn memaksa bahkan sampai menangis dan memohon kepada Sisillia untuk pulang dari rumah sakit dan pergi bertiga ke kebun binatang sesuai dengan rencana Papinya.
Dokter Willy menatap dengan penuh tanya tapi tidak berani untuk menanyakan apa yang ada dalam Pikirannya kepada Aditya yang mana Pria muda itu adalah Pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Menurut kabar yang dia dapatkan Aditya akan menerima Hak Penuh atas Rumah Sakit itu setelah Aries membagi beberapa Aset Milik keluarganya kepada Putra dan Putrinya yaitu Aditya juga Ayu dan Rumah Sakit itu akan masuk kedalam kepemilikan Aditya.
“Memangnya Apa yang terjadi dengan Zayn” keduanya berbincang diluar ruangan ICU dan Zayn berada diruangan itu bersama Sisillia.
“Begini Pak Aditya Pasien ada indikasi terkena Kardiomiopati Dilatasi awal” ujar Dokter Willy.
“Apa itu Dokter” Aditya menatap serius Dokter willy yang terus memanggil Zayn dengan sebutan Pasien.
“Begini Pak Aditya, Pasien terkena lemah jantung awal dan itu masih indikasi karena itu saya butuh pemeriksaan berkelanjutan terhadap Jantung Pasien” Ucap Dokter Willy penuh kehati-hatian dalam pengucapannya.
“Apakah penyakit ini bisa disembuhkan Dokter” ucap Aditya menatap sedih kepada dokter willy.
“Dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh insyaalah kita bisa menyembuhkan Pasien.” sahut Dokter Willy dan dibalas anggukan lemas oleh Aditya lalu melangkah gontai kearah ruangan tempat Putranya berada.
Saat Aditya berdiri didepan pintu ruangan yang mana Putranya dirawat Aditya menundukan kepala dan terlihat bersedih, Sisillia menatap dengan cemas dan menghampiri dengan menyentuh lembut lengan Aditya dan berkata
“Apa yang dikatakan Dokter Apakah Zayn kita baik-baik saja” dengan air mata yang menetes dan raut wajah cemas dengan ketakutan Nampak diwajah Sisillia.
“Kita akan bahas ini nanti Sisillia, kita harus temui Zayn sekarang”
Aditya melepaskan pegangan tangan Sisillia dan melangkahkan kakinya kearah Zayn dan tersenyum lalu mencium kening Putranya dan meneteskan airmata dengan cepat dia menghapus airmatnya dan tersenyum kembali dengan tatapan teduh seorang ayah kepada putranya.
“Papi kita jadi ke kebun binatangkan. Maafkan Zayn karena Zayn sedih jadinya kita semua ada ditempat ini dan rencana gagal” ucap Zayn lalu menunduk.
“Sayang, Jagoan Papi Kita jadi ke kebun binatangnya sekarang juga, Jangan lagi sedih Sayang, papi akan jaga kamu dan juga akan memberikan apapun yang Zayn inginkan mulai sekarang” ucap Aditya.
“Benarkah Papi, Semuanya” Zayn ingin memastikan.
“Semuanya Sayang” Aditya mengangguk dan mengecuk kembali kening dan pucuk kepala Zayn.
Putranya berteriak bahagia dan ingin berdiri untuk melompat di atas bangkar miliknya akan tetapi dicegah oleh Aditya sedangkan Sisillia mengusap air matanya yang menetes di pipinya melihat kedekatan kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Mami… mami sini” ucap Zayn sedikit keras dan Sisillia menghampiri mereka berdua
“Papi akan memenuhi keinginan Zayn Mam. Papi mengatakan itu tadi, benarkan Papi” Zayn bertanya sekali lagi dan dijawab anggukan kepala.
__ADS_1
“Apa yang Jogan Papi Mau katakanlah Sayang” ucap Aditya tersenyum
Putranya berpikir sejenak dengan tulunjuknya berada di pelipis matanya dan matanya menatap kearah langit ruangan itu.
“Papi… Zayn ingin kita tinggal dirumah yang sama seperti teman sekolah Zayn, Dia terkadang dijemput oleh Mami dan Papinya” Ucap Zayn dengan sedikit memajukan mulutnya dengan muka sedih.
“Mami… Zayn tidak ingin tinggal di Panti Asuhan. Kenapa Zayn tinggal disana sedangkan Zayn memiliki Papi dan Mami. Kenapa Zayn harus tinggal bersama Anak Panti yang kehilang Orang Tuanya” Zayn mulai meneteskan air mata.
Aditya menoleh kearah Sisillia yang didapatinya menunduk dan menangis. Zayn memeluk Sisillia dan mengatakan jangan bersedih lagi karena Papi sudah datang dan akan memenuhi keinginnanya dan sudah berjanji kepada dirinya. Dan Zayn sudah mengatakan apa keinginnnya.
Aditya hanya terdiam seperti hatinya terkena sengatan listrik mendengar perkataan putra satu-satunya dan jelas itu akan membuat jarak dirinya dengan Rere semakin menjauh.
Sisillia menolak tawaran dirinya untuk memindahkan mereka berdua ke Amerika atau Eropa sesuai pilihan Sisillia negara mana yang wanita itu inginkan tapi dengan adanya hal ini menjadi semakin sulit.
Aditya menghebuskan nafas berat dan hanya bisa membelai rambut Zayn yang adalah hasil dari kesalahan masa lalunya bersama Sisillia yang adalah Psikiater Pribadinya yang juga menjadi teman tidurnya selam di NYC.
Kesalahannya ini yang akan memisahkan dirinya dengan wanita yang dia cari selama ini dan dia rindukan. Bayangan Rere menikah dengan Geri datang menganggu pikirannya. Aditya mengepalkan tangan dengan rasa kesal mengingat kebodohannya di masa lalu.
Aditya menepiskan sejenak rasa kesal dan marah dihatinya hanya untuk putranya yang di katakan oleh Dokter Willy terkena lemah jantung, Aditya berdoa dan berharap apa yang dikatakan oleh Dokter kepala tidak benar setelah pemeriksaan yang akan dijadwalkan kembali pada hari senin.
Aditya menggendong Putranya untuk meninggalkan ruangan ICU dan menuju kedalam mobil miliknya, Aditya membukakan pintu kemudian menyuruh Sisillia masuk dan menyerahkan putranya kepada Sisillia lalu menutup kembali pintu mobil dan dirinya mengintari mobilnya pelan untuk membuka pintu mobil dan segera melajukan kearah kebun binatang yang di janjikan untuk Putranya itu.
"Sayang, kita tebus resep untuk Zayn terlebih dahulu sebelum pergi ke kebun binatang" ucap Sisillia yang dijawab dengan anggukan.
...****************...
Rere hanya diam melihat Dion dan juga Jimmy menaiki salah satu wahana yang ada di sana. Rere mengingat perkataan marah Aditya kepada dirinya karena tidak merespon pesan dan panggilan Aditya.
Sebenarnya Rere kesal dengan Aditya karena merasa ada yang disembunyikan oleh kekasihnya tapi dia sendiri tidak tahu apa itu. Dan Pertanyaan besarnya kenapa Mobil Aditya dipakai oleh Riki jika Aditya harus bertemu dengan Klien kenapa asistennya itu pergi ke taman kota tidak ikut bersamanya.
"Apa Mas Riki libur kerja saat Weekend" gumam Rere pelan yang masih terdengar pelan ditelinga Ayu.
"Kenapa Rere" tanya Ayu yang melihat Rere melamun dengan kedua tangan Rere menggenggam besi pembatas untuk masuk ke
area bermain.
"Ahhh... Tidak Ayu. Saya hanya sedang menyaksikan Dion dan Jimmy bermain, Sepertinya Asik" Ayu hanya tersenyum mendengar jawaban absurd kekasih kakaknya itu.
Rere terdiam kembali memikirkan Aditya yang belum juga menelpon dirinya, hatinya menjadi ragu untuk menerima permintaan Aditya untuk menikah.
Pria yang pernah hadir dalam hidup Rere seakan memiliki Rahasia yang sulit Rere pecahkan. Mata Rere menatap Dua anak kecil yang terus tersenyum dan melambaikan tangannya kearah kedua wanita yang berdiri untuk menunggu mereka.
Rere Maafkan Saya yang ikut merahasiakan kebenarannya dan Saat kamu tahu nanti, Pasti kamu akan Sangat kecewa Jika mengetahui Fakta yang sebenarnya Jika Kak Aditya memiliki Anak dengan Sisillia.
Ayu menatap Rere tanpa sadar air matanya mengalir dan segera dia menoleh kearah lain. Ayu merasakan apa yang akan Rere rasakan jika mengetahui Pria yang dia tunggu selama ini berkhianat dengan Psikiater Pribadinya sendiri yang berusia lima tahun diatas Kakaknya itu.
"Bibi, Tante Kita Naik itu yukkk... " Dion berkata sambil menunjuk ke arah wahana kapal yang mengayuh kencang diudara.
"iiihh... ga ya Dion, Jangan macam-macam deh. Bibi aja takut kamu bisa-bisanya masih kecil minta permainan itu" Tolak Rere.
"Seru Bibi... ihhh males banget pergi sama bibi ga asyik tahu Jimmy" ucap Dion dengan Kesal dan melipat tangannya diatas perut dan membuang pandangannya ke arah lain lalu cemberut.
"Dion Wahana yang ada disini ada batas Usianya sayang dan tidak boleh semua wahana di naiki oleh anak-anak" Ayu memberikan pengertian kepada Dion.
"Kita makan dulu yuuukkk" Ajak Rere yang dibalas anggukan oleh Ayu.
__ADS_1
Keempatnya pergi kearah restauran cepat saji yang ada disana dan memesan beberapa menu makanan. Setelah menunggu beberapa menit makanan yang dipesan datang segera mereka memulai untuk makan.