Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 131 Kepanikan Keluarga Erlangga


__ADS_3

Lisna menyusul Anak dan menantunya kearah Halaman Mansion dan mensapati Hans yang sedang mengacak-acak rambutnya sendiri terlihat Frustasi dengan keadaan yang terjadi.


"Hans dimana Ayu... Jimmy ikut bersama Ayu"


Pertanyaan dari Mertuanya di abaikan begitu saja oleh Hans dan dirinya tanpa kesal dengan tangannya yang berada di tekuk lehernya dan menatap kearah Gerbang Mansion


"Hans Kejar Ayu, Mami tidak ingin terjadi sesuatu dengan Putri dan juga Cucu Mami" Tangis Lisna yang merasa sangat khuatir dengan Putri Satu-satunya itu.


Hans berlari menuju kedalam Mobilnya dan berusaha mengejar Istrinya. Lisna hanya menatap kearah Mobil Hans yang sudah meninggalkan Gerbang Mansion dirinya kemudian masuk kedalam Mansion dan mengambil telepon rumah dan menelpon Aries.


Beberapa Kali tidak dijawab oleh suaminya karena Ponselnua di silent. Mobil Aries menuju ke arah Bandara ingin menemui Putra dari sahabatnya yang juga sebagai asisten Aditya untuk menggantikan Ayahnya yang tiada. Sepanjang Jalan dirinya hanya menatap pemandangan yang ada di sekitarnya dari arah jendela.


Seandainya dulu Ayu saya nikahkan dengan Riki semua ini tidak terjadi, Sayang Maafkan Papi. Tidak seharusnya Papi mengijinkan Hans Putra dari Alexander untuk menikahi kamu Sayang. Hans hanya memanfaatkan Putri Saya. Jika benar kamu berselingkuh dan menyakiti Putri Saya kamu akan mendapatkan balasannya Hans. Tidak akan saya biarkan siapapun menyentuh Putra dan Putri Saya. Tidak akan pernah, Saya akan melindungi mereka.


Aries bermonolog di dalam hati dan mendengar Drivernya bertanya. Aries menoleh kearah Driver dia hanya mengangguk tanpa menjawab. Tidak lama Mobil yang di naiki sampai di dalam area Bandara. Aries tahu jika Pesawat yang dinaiki oleh Riki mendarat sekitar pukul 7 karena perjalanan dari Bali ke Jakarta memakan waktu sekitar 2 Jam dan Riki sore tadi pukul 4 mengirimkan Data dan Dokumen hasil kunjungannya ke Hotel yang ada di Bali yang telah di Renovasi dan beberapa ada yang di bangun baru dan hasil nya sudah dia kirim lewat email ke Aditya dan di juga di cc ke Aries setelahnya dia menuju ke Bandara karena Penerbangan yang ping dekat ada di pukul 5.


Karena itu dia bergegas mengirimkan hasil kunjungannya agar dapat mengejar penerbangan itu. Dan sebelum menaiki Pesawat dirinya juga mendapatkan panggilan Telepon dari Aries dan meminta menunggu di Bandara saat sudah mendarat di jakarta karena Bos Besarnya sendiri yang ingin menjemputnya dan menanyakan kapan waktu Riki sampai di Bandara.


Aries berjalan kearah pintu masuk dan berjalan menuju ke mushola yang ada di Bandara Karena sudah waktunya Sholat Maghrib. Sambil menunggu Riki dirinya akan menunaikan Sholat di Mushola yang berada di Bandara dan mengirim Pesan saat sampai di Bandara Jakarta langsung temui dirinya di Mushola yang sambil menunggu Waktu Sholat Isya, Aries akan berada di Mushola saja.


...****************...


Rere sudah mulai tenang kembali setelah menjalankan Sholat Maghrib di kediaman Ria dan Rere pamit ingin pulang kerumah karena ibunya sendiri di Apartemen setelah Kakaknya Pulang ke Kampung Halaman Orang Tua mereka.


"Rere Sebaiknya kamu diantarkan Saja sama Peayoga, Saya sangat mengkhuatirkan kamu Nak, Apalagi sekarang kamu sedang tidak baik-baik saja, ibu takut terjadi sesuatu di Jalan" ucap Ria sambil mengusap pelan bahu Rere yang sedang duduk di meja tamu setelah menunaikan sholat maghrib.


"Jangan Khuatir Bu Reni Baik-Baik Saja. Dan sebaiknya Renia membawa sendiri Mobil Renia. Karena besok Renia harus pergi ke kantor dan harus sudah sampai pukul 7 karena Banyak Pekerjaan yang masih Pending karena Rere sempat Cuti selama 10 hari dan Renia tidak bisa mengabaikan pekerjaan Renia takut atasan Saya di Kantor akan marah By Ria" Rere menoleh ke arah Ria dan tersenyum dengan terpaksa.


"Baiklah tapi kamu harus berhati-hati di jalan dan setelah sampai ke Apartemen jangan lupa hubungi ibu ya Renia. Dan Tidak Lupa ibu ucapkan Terima Kasih karena Renia sudah menjemput juga mengantarkan ibu pulang ke rumah sore ini" Ria berkata sambil tersenyum.


Keduanya berpelukan dan Rere beranjak dari duduknya lalu berpamitan kepada Desi dan mencium punggung tangan Desi dan juga berjabat tangan dengan Wenny juga tidak lupa Rere mengucapkan Terima Kasih banyak karena Wenny mau jujur dan terbuka kepada dirinya dengan menceritakan semuanya yang dia lihat.


"Kak Rere Tolong Jangan Kasih Tahu ke kekasih Kak Renia Jika Saya yang telah membocorkan semuanya. Dan Saya tidak bisa memastikan kebenaran dan juga tidak bisa menduga siapa wanita tadi tapi yang Wenny katakanbenar tanpa ada kebohongan dalam apa yang sudah Wenny sampaikan kepada Kak Renia" Ucap Wenny dengan mata memohon dan Rere menganggukan kepalanya.


"Saya tidak akan mengatakan Jika Wenny yang sudah memberitahukan kepada Saya"


Kemudian Rere berjalan ke arah Halaman Mansion dan menuju ke arah mobilnya dan dari dalam Rere melambaikan tangannya lalu meninggalkan Halaman Kediaman Ria. Ketiga Wanita yang berada didalam Halaman Rumah akhirnya masuk kembali kedalam rumahnya.


Mobil yang Rere kendarai menembus Jalanan ibu kota untuk menuju kearah Apartemen Sederhana Miliknya dan saat berada di halaman Parkir dirinya mendapati suara Ponsel berdering kembali. Rere merogoh Tasnya untuk mengambil Ponsel dan saat di lihat ternyata Dion keponakannya yang menelpon dan bertanya dengan melakukan video Call.

__ADS_1


" Bibi sekarang Ada di mana sejak tadi Nenek Tanya terus nih Pusing tahu Bi dan Capek Jawabnya ini Langsung Ngomong aja sama Nenek" Ucap Dion segera memberikan Ponselnya kepada neneknya.


" Ada dimana sekarang Renia, Kenapa Jam segini Belum Pulang Nak" Tanya Bu Inah kepada Putrinya.


"Ini sudah sampai di halaman parkir di bawah Apartement" Rere berkata sambil tersenyum yang di paksakan dan mengedarkan Ponselnya ke arah halaman Parkir dan menunjukan bangunan apartement sederhana miliknya yang terlihat dekat dengan tempat dirinya berada saat ini.


Saat Rere membuka Mobilnya dan melangkahkan kakinya kearah Lobby Apartement dengan tetap mengaktifkan panggilan Videonya saat dirinya memasuki Lobby Utama dirinya menoleh saat namanya di panggil oleh seorang wanita yang dirinya kenal.


"Ayu... Ayu kamu kenapa ada di sini" Tanya Rere terkejut dengan Kedatangan Ayu yang sedang menggendong Jimmy yang tertidur.


"Ayu saya keluar dari Rumah. Boleh untuk sementara Waktu Saya tinggal di Apartement Kamu dan saya akan keluar besok saya hanya ingin bertanya sesuatu kepada kamu"


Rere termenung untuk sementara sambil mematap Ayu, Rere sudah mengerti arah apa yang akan di bahas Adik dari Kekasihnya itu. Segera Rere menganggukan kepala dan kebetulan dirinya juga ingin bertanya dan mencari info dari Adik Kekasihnya itu.


...****************...


Sementara Aries Setelah Selesai Sholat Maghrib membuka Ponsel yang masuk dan dia mendapati Panggilan tak terjawab dari istrinya lebih dari 5 kali. Aries yakin ini penting, Maka Segera dia menelpon balik tanpa melihat pesan yang di kirim oleh istrinya. Pada panggilan Ketiga Aries Mendapatkan respon dari seberang sana.


"Hallo Sayang kamu ada di mana kenapa tidak merespon panggilan Telepon yang Saya lakukan" Protes istrinya.


"Ada apa katakan saja saya tadi berada di jalan dan tadi di jalan tidur. Ada apa katakanlah Lisna"


"Katakanlah Lisna dan Jangan khuatir dengan keadaan Jantung saya" Aditya merasa cemas dan mulai tidak enak hati medengarkan apa yang di ucapkan istrinya.


"Lisna... Kenapa kamu diam. Katakanlah Jangan merahasiakan apapun dari saya. MENGERTI" Ucap Aries lembut kepada istrinya dan mengingat terakhir dirinya bertemu dengan Hans yang berdiri didepan Pintu Kamar Ayu dan Hans yang berada di Mansion miliknya.


"Ayu... Ayu..."


"iya kenapa dengan keadaan putri kita Tolong jangan membuat saya penasaran dan takut Lisna. Apa yang terjadi dengan Ayu dan Hans" ucapan Aries sambil menyentuh dadanya merasakan degupan kencang dari Jantungnya dan memotong apa yang akan di ucapkan oleh Lisna.


"Putri kita pergi membawa Jimmy Ntah kemana dalam keadaan Panik setelah bertengkar dengan Hans yang mana Ayu berkata ingin bercerai"


Deeegggg...


Jantungnya merasa Perih dan dirinya mencoba menenangkan diri dengan menutup matanya dan menarik nafas dengan keadaan seperti itu Riki yang sudah turun dari pesawat sejuta 7:00.


Setelah Riki mengaktifkan kembali Ponselnya ada pesan yang dia dapatkan dari Aries yang menyita perhatiannya dan tanpa menunggu lama. Riki menuju ke Mushola dan mendapati Aries sedang menyentuh Dadanya dengan tatapan sendu dan kosong. Aries sedang mengingat kembali kejadian yang membuat dirinya merasa bersalah karena kedua Putra dan Putrinya bernasib Malang.


"Papi Aries..." Ucap Riki dan yang di panggil menoleh kearahnya dengan menyentuh dadanya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Apa yang Terjadi" Sambung Riki.


"Sebaiknya kita kerumah sakit sepertinya Jantung Papi kambuh" Riki membungkukkan tubuhnya dan mencoba memapah Atasannya juga sahabat Ayahnya yang sudah dia anggap Ayah keduanya.


"Riki... Nak. Kmu sudah datang. Jangan Khuatirkan Papi... Nak, Ayu Kamu Cari dia. Ayu pergi dari Mansion membawa Jimmy setelah bertengkar dengan Hans dan dia juga meminta Cerai. Apa yang kamu katakan tentang Hans itu Benar" Tanya Aries sambil meringis kesakitan.


"Papi Sebaiknya kita kerumah sakit terlebih dahulu. Setelahnya Saya akan mencari Nona Ayu"


"Saya tidak apa-apa hanya merasa syok dan dada saya mendadak sakit. Papi sudah membawa obat di saku celana kemana pun Papi pergi. Jadi kamu jangan khuatir. Sekarang Pergilah Cari Ayu untuk Papi" Riki merasa bingung dan segera dia menghubungi Driver Pribadi Aries untuk membantu membawa Aries Pulang Kerumah dan Riki segera menghubungi Dokter Willy yang merupakan Kepala di Rumah Sakit Milik keluarga Erlangga.


Driver Pribadi Aries segera bergegas ke arah yang telah di beritahukan oleh Riki kemudian dirinya memberikan air minum untuk Aries setelah Aries meminum obatnya.


Driver datang dan membantu Riki memapah Aries dan orang-orang yang ada di sekitar Mushola hanya memandangi ketiganya saja yang berlalu dari sana.


...****************...


Sementara di kediaman Geri kedua orang tuanya duduk di ruang tamu berhadapan dengan Putra mereka yang hanya diam setelah mengataka akan menikahi Cantika minggu depan.


"Nak Menikah itu bukan main-main dan jangan karena kamu marah sehingga memutuskan sesuatu tanpa di pikirkan. Coba Kamu pikirkan sekali lagi Jika nanti kamu tidak yakin dan membatalkan Pernikahan ini Bagaimana dengan Perasaan Cantika juga Keluarganya nanti" Ucap Pak Yanto dengan mengusap pelan lengan Geri.


"Ayah... Geri sudah siap untuk menikah dan usia Geri juga memang harusnya sudah menikah dan saat Geri meminta Rere dia menolak dan meminta Geri membuka hati untuk Cantika. Jadi Geri lakukan apa yang menjadi keinginan Rere untuk hidup Geri" Ucapannya dengan tatapan Kosong menatap kearah Televisi.


"Ini hidup kamu sendiri, Nak untuk apa kamu mendengarkan perkataan wanita itu. Hidup dan kebahagian kamu ya kamu sendiri yang menjalaninya Nak bukan wanita itu" Geri menatap ibunya setelah mendengar perkataan ibunya itu.


"Bukankah ini juga yang ibu inginkan untuk hidup Geri Menikah dengan wanita yang mandiri dan kaya raya itu. Ibu juga yang menolak dan terlihat tidak setuju jika Geri Menikah dengan Rere bukan. Mungkin karena itu juga Rere memilih Pria Breng*ek itu di bandingkan Anak ibu ini" Ucap Geri dengan menatap sendu kepada ibunya.


"Kenapa kamu seakan menyalahkan ibu sekarang Geri... " Teriak Bu Sri sambil menangis.


"Sudahlah Bu Jangan menangis Geri Pusing melihatnya. Geri sudah mengatakan kepada Cantika bahwa dua hari lagi kita akan melamar Cantika dan dia terlihat Bahagia dan menantikan kedatangan keluarga kita untuk meminang dirinya"


"Apa kamu sudah yakin Nak" Tanya Pak Yanto sekali lagi.


"Geri tidak butuh itu lagi Ayah, karena saat Geri merasakan yakin Rere menerima Geri nyatanya Rere menolak Geri dan lebih memilih Pria lain yang ada di dalam masa lalunya untuk menjadi suami untuknya dan dia menjodohkan Geri dengan Sahabatnya" Geri terkekeh dan tersenyum kecut lalu meranjak dari duduknya dan menuju kearah kamar dan menutup pintu lalu menangis tanpa bersuara.


Kakinya melangkah ke arah Photo yang ada di kamarnya yang dia pasang tepat di depan ranjang tidurnya photo saat Rere wisuda S2 dan S3, Saat itu Geri datang meski tidak bertemu dengan Keluarga Rere. Karena memang Rere belum pernah mau membawa pria yang bukan pilihannya untuk bertemu keluarga besarnya takut keluarganya berharap pernikahan untuknya yang sebenarnya Pria yang Rere nantikan sedang bersama wanita lain di Amerika kala itu. Dan yang menemaninya selama ini adalah Pria yang adalah sahabat sekaligus Orang yang mencintai Rere.


Geri mengambil Photonya lalu membanting kedua photo sambil berteriak. Kedua orang Tua Geri hanya saling pandang dan Bu Sri kemudian menangis dan merasa menyesal bersikap kasar dengan Rere dan ini putranya terlihat Hancur.


Bukan seperti ini yang di harapkan Bu Sri. Dirinya hanya mengharapkan kebahagian untuk Putra semata wayangnya. Akan tetapi yang terjadi Geri terlihat Hancur dengan kehilangan wanita yang sangat dia benci.

__ADS_1


__ADS_2