Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 155 Rere Sadarkan Diri


__ADS_3

"Bu Ini sepertinya mobil Online yang Tya pesan sudah datang, Tya pergi dulu ya Bu"


Tya berusaha menghindari ibunya khuatir salah bicara. Beberapa kali Arsyila menatap wajah Tya saat saudara perempuannya itu berbicara dengan ibunya.


Tya mencium punggung ibunya lalu berpamitan juga dengan Arsyila dan menitipkan Dion lalu dirinya keluar dari pintu apartemen Rere dan menuju ke Lift.


Setelah Lift terbuka Tya melangkahkan kakinya menuju Lobby dan memesan Mobil secara online. Dua kali memesan tapi dibatalkan sepihak oleh Driver online membuat Tya kesal.


Dirinya berjalan kearah jalan raya untuk menunggu taxi yang lewat didepan apartemen Rere. Dan suara klakson membuat Tya terkejut, Saat menoleh kaca mobil terbuka dan Rafli menyapa Tya.


"Pak Rafli pagi juga"


"Bu Tya ingin pergi kemana"


"Sebenarnya saya ingin ke rumah sakit menjenguk Renia setelahnya ingin ke tempat pak Rafli menanyakan tentang gugatam cerai saya. Tapi Mobil Online dari tadi membatalkan pesanan saya"


"Oh... Begitu. Bu Renia masuk rumah sakit" Tanya Rafli sambil membuka pintu mobil dan menghampiri Tya.


"Benar Pak"


"Ya sudah saya antarkan saja ke rumah sakit"


"Jangan Pak nanti saya mengganggu Pak Rafli"


"Tidak Bu... Mari" Ucap Rafli sambil mempersilahkan Tya masuk ke dalam mobilnya"


Rafli membukakan Mobil lalu Tya dengan rasa tidak enak hati melangkahkan kaki kearah pintu yang dibuka oleh Rafli.


"Apa tidak mengganggu waktu kerja pak Rafli. Saya takut nanti pak Rafli telat"


"Tidak... Saya juga ingin bertemu dengan Pak Aries jadi tidak ke kantor. Pak Wisnu sudah tahu"


"Oh... Baik Terima Kasih Pak" Tya masuk ke dalam mobil dan pintu segera ditutup.


Sepanjang Jalan Tya hanya diam dengan duduk disamping Rafli yang sedang mengemudi. Rafli menanyakan banyak hal mengenai kondisi Rere yang dikatakan Tya sedang sakit.


"Adik saya di diagnosa sakit Leukimia Pak Rafli"


"Apaaaa..." Rafli tidak percaya dan menoleh kearah Tya yang nampak bersedih.


"Ini masalah yang sangat sulit untuk keluarga Erlangga juga keluarga Bu Tya juga"


"Ya... Benar" Sahut Tya dengar lemas.


...****************...


Geri menunggu Rere sudah dua hari ijin tidak masuk kerja. Cantika tahu geri menunggu di rumah sakit tapi dirinya belum juga menjenguk sahabatnya.


Cantika menangis seharian tidak keluar dari kamar, Dirinya sedih dengan keadaan Rere yang sakit dan tengah dirawat di rumah sakit tapi dirinya belum menemui Rere.


Cantika masih merasa cemburu karena Geri menemani Rere di rumah sakit dan tentang Pertunangan dirinya takut Geri akan membatalkan karena Rere sakit.


Geri menghubungi Cantika dua kali tidak direspon yang ketiga Cantika dengan malasnya mengambil Ponsel yang ada diatas Nakas.


Setelah dilihat banyak panggilan tidak dijawab dan panggilan terakhir dari Geri, Pria yang sejak kemarin ditunggu untuk meneleponnya.


"Hallo Kenapa Geri" Suara serak dan berat terdengar.


"Cantika. Rere Sakit. kemarilah apa kamu tidak ingin menjenguk Rere. Saya yakin kamu sudah mengetahui kabar ini dari ibu benarkan"


"Baik Saya akan kesana. Beritahukan alamatnya saya akan menjenguk Rere"


"Cantika, Pernikahan kita akan tetap dilaksanakan, Saya sudah melamar kamu didepan ibu dan ayah kamu. Saya akan tetap berkomitmen tentang Pernikahan kita jadi kamu jangan khuatir akan hal itu. Rere sahabat kita jangan karena permasalahan ini persahabatan kita hancur"


"Saya... Maaf Geri" Suara tangisan terdengar dari seberang telepon.


"Saya tunggu dirumah sakit Cantika. Kita akan bicarakan ini kembali. Ok"


Panggilan Telepon dimatikan oleh Cantika, lalu dirinya menangis kembali. Perasaan tidak menentu dia rasakan saat ini. Menyesal, Sedih juga merasa kejam kepada sahabatnya yang ternyata mengidap Leukimia.


"Rere... Maafkan saya, rasa cinta untuk Geri membuat saya menjadi sahabat yang jahat. Saya menghalangi kamu untuk bertemu dengan Geri saat dia dirawat. Maafkan Saya tidak memberitahukan bahwa Aditya memiliki wanita lain dan juga seorang anak. Saya justru mengharapkan kehancuran kamu, Setelah mengetahui kenyataan tentang Adit. Maafkan Saya Rere"


...****************...


Sementara di Rumah Sakit. Rere sudah sadarkan diri dan sekarang sedang bersama Ali, Saudara Laki-lakinya yang sudah menunggu selama 2 hari bersama Geri.


Sementara Geri sedang berada diluar menelpon Cantika agar datang menjenguk Rere, Menurut Geri wanita yang dia cintai ini membutuhkan support dan kehadiran sabahat juga keluarganya sebagai bentuk dukungan secara mental agar bisa melawat sakitnya.


"Akang... Kenapa Rere bisa disini" Ali yang sedang membaca alquran terhenti dan menatap Rere.


"Rere sakit. Kamu sudah sadar. Akang panggilkan Dokter ya" Ali bingung dan bahagia menjadi satu.


"Akang... Jangan"

__ADS_1


"Tapi Rere... Dokter harus mengecek kondisi Rere"


"Rere sudah baik... kang. Rere mau pulang"


"Pulang... Ya tidak bisa seperti itu, Rere. Emangnya ini rumah Ibu. Kamu bisa langsung pulang aja. Kamu harus diperiksa dulu oleh dokter. Jika keadaan Rere sudah membaik pasti dokter juga memperbolehka. Rere Pulang. Sekarang tunggu disini. Akang panggil Dokter dulu ya dek"


Dari Pintu masuk Tya dan Rafli lalu menyapa kakak dan Adiknya. Tya menghampiri Rere lalu memeluk adiknya yang sudah sadarkan diri.


"Teh... Pak Rafli"


"Rere... kamu sudah sadar"


"Memangnya Rere kenapa"


Rere menunduk dan mengingat apa yang terjadi sampai dirinya harus dilarikan ke Rumah Sakit.


"Teh... Siapa yang bawa Renia kesini. Bukannya Renia sedang kerja ya"


"Teman Kamu Dina... Rere tidak sadarkan diri ditempat kerja"


"Sekarang Dina mana teh"


"Dina tidak ada disini. Rere kamu tidak sadarkan diri selama 2 hari"


"Apa... 2 hari"


"Iya Dek... Ya sudah jangan berpikir yang berat-berat dulu. Sekarang kamu istirahat. Akang panggilkan Dokter dan Tya tunggu disini dulu ya Dek"


"Ya... Kang Ali cepat panggil dokter" Sahut Tya.


Ali keluar ruangan rawat inap dan menuju ke ruang dokter jaga dan dari kejauhan Geri melihat Ali berjalan tergesa-gesa kearah ruang dokter.


Geri yang sedang berpikir dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada didekatnya. Segera berlari kecil untuk mendekati Ali


"Mas Ada apa... Kenapa sama Rere"


"oh... Geri... itu Renia sudah sadar. Saya ingin panggilkan dokter"


"Oh... Renia sudah sadar... Saya ke ruangan Rere ya mas"


"Ya sudah ok Geri"


Geri berlari menghampiri ruangan Rere dan saat masuk didalam sudah ada Tya dan seorang Pria yang dia ketahui adalah Pengacara yang menangani Perceraian Tya.


"Renia... " Teriak Geri dengan membuka pintu ruangan rawat inap.


"Teh Tya... Pak Rafli" sambung Rafli.


"Geri... " Sahut Rere dan Tya bersamaan


"Rere... Lu udah sadar"


Geri melewati Tya dan juga Rafli lalu mendekat ke arah Rere dan memeluknya erat sambil menangis dan berkata


"Please... Rere jangan ulangi lagi kaya gini, Gw ga bisa lihat lu sakit kaya gini. Janji ya Rere lu harus sehat"


"Iiihhhh... Geri gw ga bisa nafas. Lu kenapa sih, Aneh banget"


Rere mendorong Geri pelan dan nampak cemberut dan Geri meminta maaf karena bersikap seperti tidak sopan dengan memeluk secara tiba-tiba.


Tya hanya menggelengkan kepala dengan tingkah keduanya yang seperti anak kecil. Rafli menatap Tya yang tersenyum ke arah Adiknya. Meski terlihat wajah cemas tapi Tya mencoba untuk memperlihatkan suasana hati yang tenang seakan tidak terjadi apapun kepada Adiknya.


"Lu laper ga" Tanya Gerdan Rere hanya menggelengkan kepala.


Rere nampak murung kembali dan ingin membaringkan kembali tubuhnya di atas bankar rawan inap. Rere tampak sedih terlihat dari wajahnya.


"Geri... Mana Cantika kenapa dia tidak datang menjenguk saya apa Cantika masih marah"


"Marah kenapa..." Geri terkekeh meski hatinya sedih tapi tidak ingin memperlihatkan itu.


"Oh... Ya Dia sedih karena Lu ga datang ke acara Pertunangan Gw sama Cantika. Parah banget sih lu... Sahabat tunangan malah ga datang" Geri nampak tersenyum lalu menoleh ke arah kiri dan mengusap air matanya.


"Lu Nangis Geri..." Geri menggelengkan kepala.


"Ya ngga, kenapa juga gw nangis"


"Lu merahasiakan sesuatu ya" Tanya Rere dan menyentuh lengan Geri


"Gw ngantuk mata sampe berair. Gw nungguin lu dari semalam belum tidur. Nunggu bareng Mas Ali" Mendengar itu Rere mengangguk.


"Geri gw sakit apa kata Dokter"


Geri hanya terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari wanita yang di cintanya itu.

__ADS_1


"Lu..." Ucap Geri lalu terdiam


kemudian Pintu terbuka Dokter dan suster masuk ke ruang rawat inap di susul Ali dari belakang.


"Selamat Pagi... Maaf Cukup 1 orang yang menunggu Pasien di dalam jangan banyak seperti ini nanti ruangan jadi pengap kasian Pasien" Ucap Suster.


Sedangkan Dokter melangkah ke arah Rere dan Geri bangkit dari tempat duduknya.


"Bu Renia... Bagaiamana keadaannya apa sudah merasa lebih baik sekarang"


"Iya Dokter. Saya ingin pulang... Saya sudah lebih baik sekarang"


"Oh... Ya tapi boleh saya cek dulu ya Maaf Boleh buka mulutnya" Ucap Dokter Pelan.


"Bu Renia... Jangan Pulang dulu ya kita mau ambil sampel darah dan ingin melakukan CT Scan setelah hasilnya sudah keluar, Saya akan melihat kembali perkembangannya jika memungkinkan untuk pulang saya akan ijinkan tapi jika butuh perawatan intensif terpaksa Bu Renia harus di rawat beberapa hari"


"Memang Saya sakit apa Dokter. Saya hanya kelelahan karena kemarin saya mengaku tidak tidur semalam tapi sekarang saya sudah membaik. Saya merasakan tubuh saya sudah segar kembali"


"Iya... Bu Renia tapi tunggu hasil Medis terlebih dahulu ya"


"Baikan Dokter"


Dokter Pria yang nampak masih muda tersenyum ke arah Rere lalu memberikan Resep Kepada Ali yang mendampi Rere selama pemeriksaan.


Karena yang lain sudah di suruh keluar oleh Suster yang ikut mendampingi Dokter Pria yang memeriksa Rere tersebut.


"Terima Kasih Dokter nanti saya beli obatnya di Apotik" Dokter mengangguk.


Dokter mengatakan sebelum pergi dari ruangan bahwa Rere akan dilakukan pengecekan menggunakan CT Scan siang pukul 2 dan Ali mengangguk.


"Akang Ali ibu sudah tahu Rere masuk rumah sakit tidak" Tanya Rere.


Ali duduk di dekat Rere dan mengatakan Ibu Inah belum mengetahui jika Rere di rawat di rumah sakit selama 2 hari.


"Kang Ali memang Rere sakit apa"


Ali hanya terdiam dan menatap sendu Adiknya lalu berkata


"Dokter masih menunggu hasil dari test darah dan juga CT Scan Rere tapi Dokter mengatakan Rere..." Ali tertenti dan berat untuk mengatakannya.


"Katakan aja kang... Rere tidak apa-apa" Rere menggenggam erat tangan Ali.


"Rere di diagnosa terkena Leukimia..." Ali menunduk dan menangis.


Rere lemas mendengarnya dirinya hanya terdiam dan menatap kosong ke arah saudara laki-lakinya yang sedang menangis sedih dengan keadaan dirinya.


"Sudahlah Kang jangan bersedih hati, Semua sudah Takdir Allah. Jika ini yang terbaik untuk Renia kita harus ikhlas menjalaninya"


"Semoga Dokter salah ya, Dek. Semoga Rere Sehat tidak seperti yang dokter katakan kepada akang"


"Ya... kang Amin" Rere berusaha tegar.


Diluar ruangan Geri duduk dengan memegangi kepalanya. Geri merasa sangat sakit dan sedih dengan situasi seperti ini.


Kemudian Ponselnya berdering dan setelah di lihat Ria menelepon untuk menanyakan keadaan Rere dan Geri memberitahukan bahwa sahabatnya itu sudah sadarkan diri.


Mendengarnya Ria merasa bahagia dan mengatakan akan mendatangi Rumah Sakit sekitar pukul 1 siang.


Ria sudah mulai masuk kerja. Dirinya lama cuti karena harus di rawat di rumah sakit dan saat ini Sedang mengerjakan beberapa Pekerjaan yang terpaksa Pending.


Geri juga mengatakan jika pukul 2 Rere akan di lakukan CT Scan untuk mengetahui secara detail mengenai penyakit Rere dan Rere memutuskan untuk mendampingi anak angkatnya tersebut.


"Baiklah Bu Ria... Kami tunggu dan Terima Kasih"


Panggilan telepon di tutup, Kemudian Ria menatap berkas yang akan di tanda tangani lalu Ria teringat dengan Aditya dan juga Aries.


Ria sudah mendapatkan informasi dari Riki bahwa Aditya, Ayu juga dirinya, dalam perjalan ke jakarta dan di perkirakan sampai ke Jakarta sore.


"Nak Adit... Ibu tidak menyangka kamu melakukan ini kepada Rere, Jika kamu sudah memiliki kekasih atau wanita lain kenapa kamu mencari Rere dan memberikan wanita polos ini harapan dengan cinta yang kamu bawa itu. Memang tidak di ragukan lagi. Kamu Memang Putra Aries. Kalian sama-sama Egois. Hanya memikirkan kebahagian kalian sendiri tanpa berpikir tentang perasaan orang lain yang mungkin akan terluka karena ulah kalian"


Ria menghembuskan nafas kasar lalu membaca kembali dokumen-dokumen yang ada diatas meja sebelum dibubuhi tanda tangan olehnya.


...****************...


Sementara Rian sudah berada di rumah sakit milik Erlangga Group dirinya menanyakan keberadaan ruangan yang di tempati oleh Aries.


Kemudian Pihak Informasi menanyakan perihal keperluan dan hubungan Rian dengan Aries, Karena Staff informasi tahu jika yang di tanyakan adalah pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja


"Saya Rian Hermawan ini tanda pengenal saya dan hubungan kami teman lama. Saya dengar Pak Aries di rawat di rumah sakit, Saya ingin menjenguk Beliau"


"Baik, Silahkan. Ruangan Pak Aries berada diruang rawat inap VVIP yang berada di lorong kedua dan ruangan yang pertama disana adalah tempat Pak Aries dirawat"


"Terima Kasih" Sahut Rian dan melangkahkan kaki sesuai dengan yang di arahkan oleh Staff Informasi.

__ADS_1


__ADS_2