Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab 125. Hans Marah


__ADS_3

Apa yang dilakukan Rere tidak luput dari pandangan dua Pengawal yang diminta oleh aditya untuk mengikuti Rere. Semua yang terjadi hari ini setelah dua Pengawal mendapatkan perintah semua dia abadikan lewat photo dan video.


Semua yang dilakukan oleh Rere terekam dengan baik oleh Dua Pengawal yang ditugaskan oleh Aditya termasuk kedatangannya untuk menjenguk Geri sahabatnya dan saat Bu Sri Menolak kedatangan Rere dengan bertindak kasar juga terekam jelas lalu Rere yang sedang berbincang dengan Pak Yanto saat ini juga tidak luput oleh Kedua Pengawal yang di tugaskan oleh Aditya untuk menjaga Rere.


Kedua Pengawal itu dengan serius menatap dan merekam juga memotret Rere untuk di kirimkan kepada Aditya saat Rere duduk berdua dengan Ayah Geri dan Rere tampak menangis dan Pak Yanto mengusap punggung Rere. Video dan Photo tersimpan di dalam memory handphone milik nya.


"Rere, maafkan kami jika berlaku tidak baik dan kasar kepada kamu, Nak. Memang tidak seharusnya ibu bertindak seperti tadi juga Bapak melarang kamu bertemu dengan Geri"


Pak Yanto terus mengusap seperti kepada putrinya sendiri. Pak Yanto sebenarnya tidak ingin bertindak seperti itu kepada Rere tapi demi kebaikan keduanya Pak Yanto memberanikan diri untuk berbicara dengan Rere.


"Nak, Jika kamu menyayangi Geri sebagai sahabat dan seperti saudara maka biarkan dia membuka hatinya untuk Cantika, Geri harus meneruskan hidup dan terbiasa tanpa Rere. Jika Nak Rere terus hadir di hidup Geri bagaimana dia bisa melupakan Rere, Sedangkan hati Rere sendiri tidak memilih Geri. Memang benar jika Rere berpikir bahwa kalian masih bisa berteman baik walau tidak bersama akan tetapi Masalahnya Geri tidak akan Menikah Jika Rere terus menggantungnya. Sedangkan Geri Putra kami satu-satunya Kami juga butuh Penerus Keluarga" Pak Yanto terhenti untuk berbicara dan menunduk.


"Sebenarnya Bapak dan ibu takut Geri memilih tidak akan menikah nantinya jika Rere dan Pria yang Rere Cintai Menikah. Menurut Kami Lebih baik Geri yang menikah terlebih dahulu dari pada Rere" Pak Yanto menatap Langit yang menampakan warna senja.


"Lalu Rere harus apa Pak" Rere menoleh untuk memberanikan diri bertanya.


"Biarkan Geri sendiri dengan rasa sakitnya dan dia akan bangkit lalu menata kembali hidupnya tanpa Rere karena dia terbiasa dengan Nak Rere Benarkan?" Rere hanya terdiam sambil menatap sendu ayah dari sahabtnya itu.


"Baiklah, Rere akan menjauh dari Geri tapi Bolehkan Rere bertemu sekali saja untuk meminta maaf kepada Geri dan Setelahnya Rere dan Geri tidak akan pernah bertemu kembali


" Baikan dan Maafkan Bapak dan ibu Rere yang memisahkan Persahabatan kalian"


Rere mengangguk dan keduanya beranjak dari kursi yang ada di taman lalu menuju ke ruangan rawat inap Geri dan tentu saja dua pengawalnya mengikuti dari belakang.


Laporan sudah di kirim kepada Aditya. Karena masih di atas pesawat Atasan yang menyuruh mereka tentu belum membuka Pesannya.


Rere dan Pak Yanto sudah berada di depan ruangan tempat Geri di rawat. Pak Yanto menggeser knpo pintu dan membuka nya dan melangkah terlebih dahulu kedalam ruangan dan ketiga orang yang berada di dalam menoleh kearah pak Yanto dan Geri memiringkan tubuhnya karena melihat ada sosok perempuan di balik punggung Pak Yanto.


"Rere... Sayang. Kamu ada di sini benarkan kamu datang menjenguk Mas Geri. Sayang Kemarilah"


Mendengar itu Cantika merasa sakit hati dan marah dengan Rere kenapa masih nekat datang setelah sebelumnya di usir oleh ibu dari Pria yang dia cintai. Sedangkan Bu Sri nampak sangat Marah dan Emosioanal melihat Rere yang nekat datang keruangan Putranya setelah dirinya mengusir dan Geri merenatangkan tangannya agar Rere mendekat dan memeluknya akan tetapi Rere hanya terdiam di balik punggung Pak Yanto dan hanya mengintip.


"Dasar Wanita tidak tahu malu masih saja kamu datang setelah membuat Anak saya masuk rumah sakit untuk kedua kalinya Ha.... " Teriak Bu Sri penuh amarah.


"Bu... ibu kenapa bicara kasar dengan Delisa" Geri berkata dengan menurunkan kembali tanganya yang sebelumnya merentangkan tangan agar dapat di peluk oleh Rere.


"Buat apalagi Kamu mengharapkan wanita yang tidak mencintai kamu Geri. Buka Mata kamu Nak... Bahkan Jelas-jelas dia menjodohkan kamu dengan Cantika tapi kenapa kamu masih mengharapkan wanita ini Haaaa... " Bu Sri berteriak tidak kalah keras dari Putranya.


"Bu sudahlah jangan buat keributan kita berada dirumah sakit, sebaiknya kita keluar dan biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka berdua" ucap Pak Yanto lalu menoleh kearah Cantika


"Nak Cantika sebaiknya juga ikut keluar biarkan Nak Rere dan Geri berbicara sebentar karena Bapak yang membawa Rere kemari agar mereka bisa saling bicara" Sambung Pak Yangi

__ADS_1


"Bapak kenapa bapak membawa wanita ini ke ruangan Geri. Bapak tidak kasihan dengan Putra Kita Haaa... " Teriak Bu Sri sangat marah dengan suaminya.


"Sudah lah Mu Kita sebaiknya keluar" sahut lembut Pak Yanto.


"Wanita ini lebih memilih Pria kaya raya yang terlahir sebagai anak Konglomerat dari pada Putra kita Pak, dan ini adalah Penghinaan untuk keluarga kita dan untuk Apalagi dia kemari. Seakan dia ingin memiliki keduanya menginginkan kekayaan Pria itu juga Perhatian dari Putra kita Geri" Sambung Bu Sri dengan sangat menyakitkan.


"IBU..... " Teriak Geri dan juga Pak Yanto bersamaan.


"Ibu kenapa bicara kasar seperti itu kepada Rere. Berarti selama ini Rere mendapatkan tekanan dari ibu maka dari itu Rere berubah seperti menjauh dan mungkin karena itu Rere lebih memilih Pria itu dibandingkan Geri" Geri berkata dengan nada tinggi.


"Kamu menyalahkan ibu ini, Nak... Karena Wanita ini Haaaa.... " Teriak Bu Sri dengan wajah Kecewa dengan sedikit berteriak.


"ibu sudah lah jangan memperumit keadaan ikut Ayah keluar dan biarkan mereka bicara. Nak Cantika Ayooo... kita keluar sekarang"


Cantika hanya mengangguk dan Pak Yanto berjalan mendahului keduanya dan Cantika menoleh dengan tatapan sengit dan tajam kearah Rere yang kemudian menunduk. Bu Sri juga ikut meninggalkan Ruangan dengan melewati ibunda Rere begitu saja.


"Rere... kemarilah sayang dan maafkan nyokap gw" ucap Geri setelah kedua wanitanya keluar dari ruangan rawat inapnya.


"Geri... apa kabar" Rere mencoba mengalihkan pembicaraan dari apa yang telah terjadi saat ini.


"gw baik-baik saja Sayang... kenapa hubungan kita menjadi rumit saat ini. gw merindukan moment-moment kita dulu"


Geri mengulurkan tanganya agar disambut Rere akan tetapi wanitanya hanya berdiri menatap dirinya lalu menggeser kursi lalu didepan Geri dan berkata


"Apa maksud lu Rere... Lu datang kemari hanya buat gw kesel kaya gini Ha..." Terlihat Geri sangat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang dia cintai itu.


"Minggu ini Mas Adit akan melamar gw Geri. sebagai sahabat gw harap lu datang dan maafkan atas apa yang gw pilih tapi percayalah lu ada tempat tersendiri dihati gw tapi itu bukan cinta. tempat itu spesial yang bernama Respect. Lu Pahlawan buat gw selain sahabat, keluarga dan juga graduan angel bagi gw. Jadi mengertilah Geri. dan gw harap hubungan kita tidak berubah. kita akan menjadi sahabat selamanya dan janji akan bahagia dengan pasangan kita masing-masing" Rere terhenti lalu mengenggam tanga Geri yang nampak bergetar dengan wajah yang menahan kecewa dan marah dengan waktu yang bersamaan.


"Lu dateng cuma mo ngomong gini aja Rere... " Geri menepis tangan Geri.


"Jika Lu cinta sama gw buktikan Geri. Lepaskan gw dan biarkan gw melangkah dengan pria yang gw tunggu selama ini. Lu tahu gw merasa tenang jika saat lu melepas gw tangan lu sudah menggenggam erat Cantika. Asal Lu tahu. Cantika cinta ke Lu sejak masih remaja dan dia harus menahan sakit saat kita bicara dan dekat selama ini" Rere menyakinkan Geri dengan menyentuh lengannya agar Geri mengerti.


"Pergilah....Rere... gw Mohon" Geri mengatakan tanpa menoleh atau menatap Rere. Pandangannya lurus kearah depan dengan raut wajah yang sangat marah.


"Geri... Jangan seperti ini. Lu harus menerimanya... ini buka akhir dari segalanya. Gw Mohon Geri" Rere mencoba memberikan pengertian dan mendekati Geri...


"Apa ini karena nyokap gw yang menjadi dinding untuk kita bersama Sayang" Tanya Geri setelah mengingat perlakuan Ibunya kepada Rere tadi.


"Tidak ada hubungannya dengan ibu Sri, Gw ingin lu mengerti kenyataannya ini Geri... dari dulu gw sayang sama Mas Aditya dan menunggu dia datang dan Allah mendengarkan Doa gw. Kita bertemu setelah Delapan Belas Tahun bertemu" Rere mencoba menjelaskan agar Geri mengerti apa yang ada dalam hati dan pikiranya.


"Haaahhaaaahhhaaa... Sayang apa Lu yakin Pria itu benar-benar tulus dan serius mencari kamu selama Delapan Belas Tahun ini" Geri tampak santai mengatakan itu setelah tertawa mendengarkan ucapan Rere.

__ADS_1


"Maksud Lu apa Geri" Balas Rere


"Gw hanya memberikan saran ke Lu bukan karena gw cemburu Lu ga milih gw, tapi sebagai sahabat gw hanya minta lu jangan gegabah memutuskan apa yang akan lu pilih untuk masa depan lu, yang gw takutkan nanti lu menyesal dan saat lu menoleh ke arah gw ternyata gw udah ga ada di samping lu lagi Rere" Ucapan itu terlontar dengan tatapan yang serius.


"Bisa ga lu jelasin ke gw" Rere tidak memahami apa yang di katakan oleh Geri.


"Cari tahu terlebih dahulu masa lalu Aditya jangan terburu-buru memutuskan Selama dia pergi dari Lu dan selama dia tinggal di Amerika apa dia sendiri atau ada orang yang selalu bersamanya" Jelas Geri lalu beranjak dari tempat tidurnya dan melepaskan selang infusnya dan melangkah ke arah Rere dan memeluk Rere.


"Gw Terima Pilihan Lu Jika itu buat lu bahagia tapi sebelumnya lu harus mencari tahu sisi lain dari Aditya bukan dari dirinya ataupun keluarganya akan tetapi dari orang terdekatnya yang pernah mengenal dia. Jangan salah pilih Rere. Gw tahu lu mencintai Aditya tapi cinta harus di dasari kejujuran. Jika dia tidak jujur maka kamu sendiri yang harus mencari nya. Mengerti"


Sebenarnya Rere tidak mengerti dengan ucapan Geri akan tetapi dirinya tetap mengangguk dan mengucapkan Terima Kasih kepada Geri karena sahabatnya sudah memberikan Nasehat dan juga masukan kepada dirinya.


"Gw harap Lu mau buka hati lu untuk Cantika dan Gw Berdoa lu bahagia dengan Cantika"


Geri hanya mengangguk dan menatap sekilas Rere lalu memeluknya kembali dan pandangan nya lurus ke arah depan terlihat raut wajah yang sulit untuk di artikan.


...****************...


Sementara di kediaman Aries, kini Ayu mengurung diri di dalam kamar pribadinya bersama Jimmy yang tenang bermain dengan Robot-dan juga main yang lainnya. Ayu hanya duduk terdiam diatas ranjang.


Beberapa Panggilan telepon dari Hans tidak dia angkat dan dari sebrang sana Hans merasa kesal dengan tingkah dari istrinya yang tidak ingin mendengarkan apa yang akan dia katakan.


Beberapa Kali meja dia pukul karena merasa kesal dengan Istrinya. Dan kali ini tampilan ruang kerja Hans seperti kapal yang hampir karam di terpa ombak yang sangat besar. Berkas ada dimana-maa.


Dari Luar Lita beberapa kali mengetuk ruangan kerja CEO milik Hans yang adalah selingkuhanya. Tanpa Persetujuan dari Hans Lita masuk dengan beberapa Dokumen yang dia bawa untuk mengelabui rekan kerjanya yang lain agar hubungan mereka tidak tercium oleh staff lain yang ada di Perusahaan milik Alexander.


Hans yang sedang berdiri melamun menatap tampilan kota Jakarta dari lantai Gedung tempatnya bekerja tidak merespon.


Lita memeluk dan mencium punggung Hans dari belakang dan sedikit menggoda agar Kekasihnya bisa melupakan apa yang terjadi hari ini. Diluar dugaan justru Hans menolak dan melepaskan pelukan dari gadis selingkuhannya itu.


"Pulanglah... Lita sekarang sudah waktunya untuk Pulang Kerja" Hans duduk diatas kursi kebesarannya tanpa menatap Lita.


Hans membuka kembali Laptopnya dan membaca dengan serius email yang masuk. Lita bukan tipe wanita yang suka menyerah, Penolakan menurut dirinya adalah Tantangan karena itu dengan tiba-tiba dirinya melingkarkan tanganya dileher Hans dari arah belakang.


Hans menghentikan tanganya yang sedang mengetik untuk membalas email masuk dan tangannya melepaskan pelukan Lita dengan berdecak kesal.


"Kamu kenapa, Sayang. Seakan menolak. Apa yang terjadi sebenarnya. Katakanlah Sayang supaya masalahnya menjadi ringan dengan berbagi masalah dengan Saya" Tanya Lita dengan duduk dimeja kerja Hans dengan sebelumnya menyingkirkan Laptop dan membingkai wajah Hans.


"Istri saya Ayu sudah mengetahui tentang hubungan kita dan itu semua karena Riki. Asisten sial*n keluarga Erlangga yang selalu menjadi Pengacau" Hans berkata dengan wajah yang sangat marah dan kesal.


"Bukanya kita harus bahagia karena hubungan kita tidak usah lagi harus sembunyi-sembunyi. Benarkan" Ucapan Lita justru menyulutkan Emosi Aditya

__ADS_1


Dengan wajah penuh Amarah Hans bangkit dan menarik kasar pergelangan tangan Lita dan membuka pintu ruangannya dan mendorong Lita agar keluar ruangan.


__ADS_2