Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 42 Mengunjungi Geri


__ADS_3

Setelah dua jam pintu kamar Rere akhir nya terbuka, di sana nampak Rere sudah bersiap pergi dengan Kemeja Putih dan Rok motif bunga dan hijab berwarna Lime dan di bahu kanan terlihat tas selempang dan jam tangan putih di lengan kiri.


Ibu dan Tya yang sedang duduk dan terlihat mengobrol menoleh ke arah Rere. Dion yang sedang makan cemilan di kursi tamu langsung berlari ke arah bibi nya itu.


"Bibi, pergi sekarang tapi dion belum ganti pakaian" ucap dion sambil mendongakkan kepala nya.


"Dion udah mandi belum" tanya Rere.


"ya sudah dong bi, pagi pasti dion mandi"


"ya, sudah kita langsung berangkat saja, dion pakai baju ini juga cocok masih terlihat tampan" sahut Rere.


"Jadi jenguk Geri re, ibu ikut boleh" bu inah menanggapi interaksi anak dan cucu nya itu.


"jangan deh bu soal nya Rere ingin pergi ke mall juga setelah ke rumah sakit nanti ibu kecapekan" jawab Rere sambil menatap ibu nya.


"Dion tidak apa pakai baju itu Rere" tanya Tya kepada adik nya.


"ya tidak apa, memang nya kenapa teh, kita juga mau ke mall sekalian beli aja. apa ke mall dulu baru jenguk Geri ya" Rere terlihat berpikir sambil menatap langit apartemen nya.


"ya sudah kita berangkat dulu nanti kita putuskan di jalan aja" ucap Rere sambil menatap keponakan nya.


Menurut Rere dion sangat tampan dan lucu menggunakan baju apapun pantas di pakai oleh keponakan nya itu dari tshirt ataupun kemeja, celana pendek atau celana panjang. memang saat ini dion hanya menggunakan tshirt dan celana pendek di atas lutut tapi menurut Rere tidak masalah karena cocok untuk anak seusia Dion.


"Rere pergi dulu. ibu dan teh Tya kalo ada butuh sesuatu langsung kasih tahu Tya" Rere berpamitan dan menciun punggung tangan ibu dan saudara perempuan nya begitupun dengan dion dan keduanya melangkah pergi.


...****************...


Di ruangan praktek telihat wanita yang sedang menelpon seseorang. Mata nya menatap ke arah luar jendela dan melihat di sana ada rerumputan dan pohon juga taman bunga mini nampak sangat indah.


"Tante, kenapa om Aries bisa menyampaikan itu permasalahan aditya kepada para pencari berita seperti itu"


Sisilia nampak kesal dengan apa yang di lihat nya di salah satu video yang di posting oleh salah satu akun gosip di aplikasi pertemanan berlogo kamera itu.


"Sudah sisil kamu jangan menambah kekesalan tante, tante juga tidak habis pikir dengan yang di lakukan mas Aries, perusahan goncang seperti ini dia malah mengumumkan kisah cinta anak nya seperti drama Films seperti ini" ucap wanita di ujung telepon itu lalu menutup nya.


"Hallo... Hallo tante" tanya wanita itu memastikan kembali panggilan telepon nya.


"Aarrrhhhh... sialan om Aries, kamu tidak akan bisa menyatukan Aditya dan Renia karena Aditya hanya milikku" gerutu Sisil dengan menggenggam erat handphone milik nya lalu tersenyum penuh misteri di ruangan praktek milik nya.


...****************...


Rere sudah sampai ke rumah sakit menuju ke ruangan rawat inap VVIP dengan tangan kiri menggandeng Dion yang membawa bouquet bunga dan Rere memeluk keranjang buah di tangan kanan nya.


Suara Pintu di ketuk dan ayah geri berdiri untuk membuka pintu dan mempersilahka Rere masuk, Rere memberikan salam dan tersenyum kepada orang tua geri, ternyata di dalam ruangan juga ada cantika duduk di dekat ranjang rawat inap.

__ADS_1


Cantika berdiri lalu tersenyum ke arah Rere, Geri juga nampak tersenyum ke arah Rere dan Dion, melihat anak kecil yang di gandeng Rere membuat geri berpikir jauh tentang masa depan. Jauh di lubuk hati nya membayangkan jika Dion adalah anak nya bersama Rere.


Rere mencium punggung tangan orang tua Geri tapi di balas dengan tatapan dingin oleh ibu Sri. Rere hanya tersenyum lalu mengarah ke Cantika dan berjabat tangan saling bertanya kabar masing-masing.


"Rere... kemarilah gw kangen lu" Geri mencairkan suasana tegang atas sikap ibu nya kepada Rere.


"Apa kabar Geri lu udah baik apa belum" Rere duduk di tempat yang sebelumnya cantika tempati karena permintaan geri.


"gw mendingan tapi gw pikir lu lupa ama gw lama ga jenguk gw" Geri berucap sambil mencubit hidung Rere.


Rere memanyunkan bibir nya dan mata yang membesar tanda tidak suka. Rere membawa Dion kedalam pangkuan nya supaya tidak canggung karena orang tua dan cantika melihat apa yang geri perbuat kepada nya.


"Rere apa ini anak kamu?" Cantika bertanya dengan membelai pipi Dion.


Cantika tahu jika Rere belum menikah tapi mengapa bertanya seperti itu tatapan geri tertuju kepada cantika dan cantika hanya membalas dengan senyuman.


"iya anak gw sama Rere" jawab Geri yang menatap cantika lalu beralih kepada Rere dan tersenyum sedangkan Rere hanya menatap sinis geri yang selalu sembarangan jika berucap.


"siapa dia nak, apa benar anak kamu" ibu sri bertanya karena berpikir Rere janda.


"Bukan bu, ini Dion keponakan saya" Rere tersenyum.


"Nak Rere bagaimana keadaan ibu apakah sudah sehat" ayah bertanya untuk mengurangi ketegangan di antara mereka.


"iya re gw ingin tanya kabar nyokap lu apa udah baikan? maaf gw masih sakit jadi ga bisa jenguk"


"ga apa. ibu sehat, beliau ikut ke Jakarta dan sekarang ada di apartemen bersama teh tya sekarang, tadi ingin ikut ke sini tapi... "


"lu pasti ga bolehin" geri memotong ucapan Rere dan Rere hanya terdiam.


"keponakan lu gemoy banget ya re" cantika berkata sambil mencium pipi Dion.


"iya... makannya banyak tika" Rere menjawab sambil tertawa membuat Dion kesal dan memukul lengan bibi nya lalu memeluk karena malu.


Semua yang berada di ruangan itu hanya tertawa melihat interaksi antara Rere dan Dion. Geri menatap Rere dan tersenyum lalu membenarkan duduk nya, ibu sri hanya memandang kedua nya lalu beralih ke arah cantika yang memperlihatkan ekspresi Cantika yang sulit di artikan.


"Duduk di sini Dion sama om" geri berkata sambil menepuk ranjang nya dan Dion menggeleng.


Geri memberi kode melalui tatapan mata kepada orang tua nya untuk membawa cantika keluar ada yang ingin dia bicarakan dengan renia. Orang tuanya mengerti dan mengajak Cantika untuk makan ke Cafe.


"Nak Cantika kita ke Cafe sebentar kebetulan ada nak Rere jadi kita bisa mengisi perut" ayah berucap sambil tersenyum ke arah cantika.


Cantika sebenar nya ingin menolak tapi jika mengutarakan hal yang sebenarnya dia tidak enak hati kepada kedua orang tua geri dan lagi dia ingin mengambil hati orang tua dari pria yang dia cintai.


"Baiklah bu mari kita ke cafe" Cantika tersenyum kepada geri dan Rere lalu berpamitan untuk mengikuti kedua orang tua Geri.

__ADS_1


"Dion ikut mbah ke cafe beli makanan juga ya nak" ajak ayah geri kepada keponakan Rere. dion memandang Rere dan dijawab angggukan bibinya itu.


Setelah mereka pergi dari ruangan rawat inap VVIP, Rere terdiam untuk menyusun kata, dia ingin membujuk Geri supaya kedua orang tua dan dirinya mencabut tuntutan atas Aditya.


Begitu juga dengan Geri yang sedang menyusun kata untuk meminta Rere menikah dengan nya karena geri tidak ingin menunda lama, apa lagi sekarang ada saingan yang menurut nya sangat berat dan tidak ada waktu lagi bersantai dengan hubungan antara diri nya dan Rere


"Geri"


"Rere"


Mereka memanggil nama bersamaan dan sejenak terdiam lalu saling menatap.


"lu dulu yang ngomong"


"lu dulu aja geri" sahut Rere


"Lady First" Geri ingin mengetahui terlebih dahulu apa yang ingin wanita yang dia cintai bicara.


"Geri..... " Rere menunduk dan menautkan kedua tangan nya sebelum mengucapkan maksud dan tujuan nya datang.


Geri menggenggam tangan Rere dan menatap tajam lalu menyuruh nya untuk menyampaikan apa yang ingin di kataka tanpa ragu.


"gw...." Rere menitikan air mata dia takut geri marah dan tidak sanggup melihat sahabat nya kecewa.


"kenapa cantik katakan jangan bikin gw bingung" sahut geri.


"Gw minta maaf lu sakit begini karena gw. Aditya memukul karena melihat kita jalan berdua seharusnya saat itu gw pulang sendiri saja menggunakan kereta, harus nya gw nolak saat lu minta buat antar gw" Rere menangis dan melepaskan genggaman Geri.


"Apa maksud lu rere, sebelum ini gw sudah sering antar dan jemput lu dari tempat kerja kenapa lu ngomong gitu" Geri membenarkan duduk nya untuk lebih dekat dengan Rere.


"Geri... andai lu ga pulang bareng gw pasti lu ga masuk rumah sakit dan mas Aditya ga masuk ke tempat itu sekarang, ini karena gw" Rere menangis menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"kenapa lu salahin diri lu hanya karena orang gila yang ga jelas datang langsung nyerang gw" Geri kesal dan Rere menatap Geri.


"Geri... " Rere menatap geri dan yang di tatap mengerti tujuan Rere menemui nya.


"Rere jika kamu datang untuk meminta gw untuk membebaskan dia jangan pernah kamu berpikir untuk itu" Geri menjelaskan apa yang ingin diri nya katakan.


"Geri ini bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan dan gw tahu lu orang baik" sahut Rere.


"Rere kamu tahu seberapa parah luka yang dia perbuat, gw hampir mati Rere, apa lu ingin gw memafkan dia" Geri meninggikan suara nya Rere hanya diam.


"Andaikan saat itu gw ga selamat apa bisa lu maafin Pria itu karena membunuh gw, atau lu ga peduli sama gw Rere" Nada bicara geri keras dan membuat Rere tersentak belum pernah geri melakukan itu kepada Rere selama mereka dekat.


"Kamu baru menemui nya hanya beberapa hari ini aku menemani kamu selama 10 tahun dan kamu lebih membela nya Rere" Geri melempar gelas yang ada di nakas dan berkata dengan nada tinggi.

__ADS_1


Beberapa suster masuk untuk mengetahui apa yang terjadi. Rere berdiri dari tempat duduk nya lalu geri menunduk. Suster menyuruh Rere untuk keluar, Keadaan itu membuat Rere kaget dan tidak percaya. Sebenarnya bukan itu maksud Rere tapi geri sudah salah paham.


Rere menoleh kearah Geri lalu pergi meninggalkan ruang rawat inap dan Geri hanya memandang Rere yang berjalan keluar, hati nya sakit untuk kesekian kali nya niat untuk mengutarakan perasaan cinta gagal sebelum diri nya berucap selalu di patahkan oleh sikap Rere.


__ADS_2