Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 147 Ria Panik


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan Putra Saya Ria"


Aries merasa sesak di bagian dadanya. Ria membantu Aries untuk bersandar di dalam mobil. Desi tidak tahu bahwanya Aries ada didalam mobil dan juga tidak tahu hubungannya dengan Aditya Pria yang sering mengunjungi Ria. Apalagi riwayat sakit jantung yang di derita oleh Aries.


Ria Panik melihat Aries yang mendadak merasakan sesak di bagian dadanya dan menyuruh Desi mengambilkam air dan Driver Pribadi Aries Keluar dan mencoba membantu Aries untuk masuk kedalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


Akan tetapi Aries menggelengkan kepala dan mengambil obat yang berada di dalam saku celananya dan mencoba untuk menenangkan diri dan kemudian Desi berlari memberikan segelas air.


"Terima Kasih" ucap Aries.


"Mas Aries sebaiknya mas kerumah sakit, Saya khuatir terjadi sesuatu dengan Mas Aries"


"Tenanglah Ria, Saya ingin melihat berita tentang Putra Saya. Apa yang dia katakan itu benar Aditya Putra Saya Ria"


"Jangan pikirkan itu Mas, Tenanglah Aditya Baik-baik saja, dia sedang mengurus bisnisnya. Sebaiknya kita kerumah sakit. Saya Mohon Mas Aries"


Ria Panik meski cintanya bertepuk sebelah tangan tapi mengetahui keadaan Aries tidak Baik-baik saja membuat Ria merasa sangat sedih dan terpukul. Ria merasa takut kehilangan Aries.


Lebih baik Aries dimiliki wanita lain setidaknya dia masih bisa melihat dirinya meski di berita mengenai kesuksesan Pria yang bersemayam di hatinya dari pada harus menerima kenyataan Prianya telah tiada.


"Mas... Aries. Saya Mohon sebaiknya kita kerumah sakit jika terjadi sesuatu kepada Mas. Istri Mas Aries akan menyalahkan saya nantinya"


"Tenanglah Ria saya tidak apa-apa. Saya bisa mengatasinya. Ria Jangan Panik saya Mohon"


Aries mengatakan dengan suara berat dan nafas terasa sesak. Dirinya menyentuh dada yang dirasakan sakit mendengar keadaan Putranya.


Aries meminta untuk diambilkan handphone yang ada di dalam mobil kepada Driver Pribadinya. Aries mengaku ingin menghubungi Riki dan Ayu, Putrinya. Tapi kedua orang tersebut tidak juga mengangkat Panggilan Telepon dirinya.


Aries segera menghubungi Joni yang mana Aries tahu, Joni sering mengantar jemput Riki jika Asisten keluarganya ini tidak membawa Mobil sendiri, Riki lebih nyaman Jika Drivernya yang membawa kemanapun dirinya pergi itu Joni.


Aris tersambung dengan Ponsel milik Joni. Aries bertanya Apakah Riki berada di Kantor dan Joni cukup lama menjawab karena dirinya takut terbawa dalam masalah keluarga tempat dirinya bekerja. Setelah dua kali ditanyakan akhirnya dia bisa menjawab dengan sebenarnya.


Jika Ayu, Riki dan Jimmy pergi ke bandara tapi Joni mengaku tidak tahu kemana tujuan Atasannya itu yang dia dengar hanya Amerika dan Joni menyimpulkan kemungkinan mereka bertiga pergi ke Amerika.


Aries kaget dan dadanya merasa sakit nafasnya tersekal. Aries berpikir mungkin ini akhir hidupnya karena sakitnya berbeda dari sebelumnya.


"Rrrriiiiaaaa... "


"Mas... Aries Tolong bawa kerumah sakit, Segera Ayo Bantu Saya" Teriak Ria kepada Driver dan pihak keamaan yang bekerja dengan Ria.


Aries dibawa kedalam Mobil dan di sana Ria menggenggam tangan Aries dengan erat lalu dia menangis dan meminta bertahan karena sebentar lagi akan sampai di rumah sakit. Ria berteriak agar Driver Pribadi Aries agar lebih cepat lagi membawa mobilnya.


"Riiiiaaaa... Ttttooolllooonggg Putraaaa Saaayyaa...Addidiiyyyaaa....Renniaaaa" Aries terhenti berbicara karena tidak sadarkan diri


"Mas Aries bangunlah... Mas... Jangan Seperti ini. Mas Arriiiieeessss... Aditya akan Baik-baik saja. kita akan membantu mereka bersatu. Biarkan cinta kita yang tidak bersatu tapi jangan dengan Cinta mereka. Kita harus membantu Anak-anak kita menikah. Bangunlah Mas Saya Mohon.... Mas Aries"


Ria Berteriak didalam mobil menangis histeris membuat Driver Pribadi Aries merasa gugup dan cemas dengan keadaan Aries. Dirinya mempercepat laju mobilnya ke arah rumah sakit terdekat dengan kediaman Ria.


Tangan Ria menggenggam Tangan Pria yang amat dia cintai itu dan menangis meminta Aries untuk bangun, Banyak hal yang harus Aries lakukan untuk Putra dan Putrinya yang kini membutuhkan dirinya. Tapi belum ada tanda-tanda Aries tersadar.

__ADS_1


...****************...


Di Rumah Sakit New York, Sisilia sedang berada di ruang khusus untuk merawat Aditya, Sisilia menyentuh tangan Pria yang sangat dia cintai yang mana sekarang sedang berjuang untuk hidup dengan bantuan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


Sisillia mencium punggung tangan Aditya pelan dan air matanya tanpa terasa menetes di punggung tangan prianya. Sisillia mengingat apa yang dikatakan Dokter.


Bahwa Aditya beruntung karena Peluru tidak mengenai Jantung Jika tidak pasti Ayah dari Anaknya ini sudah tiada. Aditya hanya menembak dada sebelah kanan yang jauh dari bagian tubuh vitalnya. Dan Peluru tidak terlalu dalam bersarang di dalam tubuhnya.


Walau begitu tetap saja Aditya belum sadarkan diri. Sisillia meminta kepada Susi dan Rita untuk tidak menyalakan televisi atau memberika Ponsel kepada Zayn untuk menghindari Pemberitaan tentang Papinya yang mencoba mengakhiri hidup dengan cara menembakkan dirinya sendri.


Sisillia kemudian menghapus air matanya saat dokter datang untuk memeriksa keadaan Aditya dan dokter meminta untuk keluar sementara agar memberikan kesempatan dokter memeriksa lebih intens lagi.


Diluar ruangan Sisillia hanya bisa menangis meratapi kesalahan yang terlalu gegabah menyebarkan photo dan video tentang kehidupan Aditya dan dirinya. Rasa Cemburu di dalam hatinya membuat Sisillia tidak memikirkan dampak yang akan di lakukan Pria yang sangat dicintainya itu.


"Renia... Jika terjadi sesuatu dengan Aditya. Saya akan melakukan perhitungan dengan kamu" gumam Sisillia pelan.


...****************...


Keluarga Rere sudah datang. Arsyila berlari kearah ruang ICU dengan menangis dan Tya mengejar Adik terakhirnya yang nampak sangat terpukul mendapatkan kabar saudara perempuan yang selama ini sudah membantu dirinya membayar biaya Pendidikan dan kebutuhan dirinya yang lain sekarang sedang berada di ruang ICU.


Sementara Ali Kakak Laki-laki Rere masih berada di depan Lobby karena harus membayar sewa untuk Driver Online dan membawa 2 koper milik Tya dan Arsyila yang berlari begitu saja meninggalkan dirinya di mobil sewa online,


Riki dari kejauhan melihat Arsyila berlari dan di susul oleh Tya, dirinya yang keluar dari ruangan ICU setelah menjenguk Rere didalam kamar ICU melangkahkan kami untuk mendekat Kedua saudara perempuan Rere.


"Mas Geri... Gimana keadaan Teteh"


Arsyila menarik lengan Geri sambil menangis, Tya menyuruh Arsyila tetap tenang dan mendengarkan penjelasan dari Geri.


"Mba Dina pernah jenguk ibu saat sakit"


"Benar Teh"


"Terima Kasih sudah membawa Adik saya sampai ke rumah sakit. Saya ingin melihat Rere terlebih dahulu apa sudah di perbolehkan masuk oleh Dokter"


"Sudah teh tadi Geri baru selesai jenguk Rere di dalam" Sahut Geri menatap Tya.


"Ya Sudah Arsyila kamu tunggu di sini. Kak Ali belum kemari. Jika Kak Ali sudah datang bilang teteh sedang ada di dalam. Geri saya nitip Arsyila disini ya dan kakak saya ada di depan lobby sedang membayar driver online"


"Ya Teh Tya tunggu Arsyila dan Kang Ali"


"Terima Kasih Geri. mba Dina dan mba Cindy saya ijin masuk ke dalam"


"iya teh, silahkan" sahut Dina dan Cindy bersamaan.


Kemudian Dina masuk kedalam ruangan ICU dan tidak lama Ali datang membawa 2 koper milik Adiknya. Kemudian Geri berjabat tangan begitu juga dengan Dina dan Cindy.


Ali duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan ICU dan Arsyila menyandarkan kepalanya di bahu Kakaknya dengan menangis.


Ali bertanya apa yang terjadi dan Geri mencoba untuk menjelaskan. Ali terdiam dan mengerti, Setelah di jelaskan oleh Geri.

__ADS_1


Kemudian Arsyila di minta untuk pulang bersama Tya setelah adik perempuan keluar dari ruang ICU, dirinya meminta kedua adiknya menjaga dan tidak memberitahu kepada ibunya yang memang sakit jantung.


Jangan sampai kondisi Rere seperti ini membuat Ibunya menjadi Syok dan menyebabkan Jantung nya kambuh kembali.


Geri menawarkan diri untuk mengantarkan kedua saudara Rere untuk pulang dan Ali menyetujuinya karena dirinya yang akan menunggu Adiknya dirumah Sakit dan meminta agar kedua Adiknya agar menyembunyikan keadaan Rere sekali lagi meminta agar merahasiakan tentang kondisi Rere saat ini kepada ibu mereka


Keduanya mengerti lalu Dina dan Cindy undur diri untuk pulang dan berkata akan kembali besok setelah pulang kerja. Ali mengucapkan sekali lagi ucapan Terima Kasih untuk Kedua teman Rere juga Geri karena sudah menolong Adiknya.


"Jangan Sungkan Kak Ali. Rere teman kami dan dia juga butuh bantuan karena sakit jadi kita harus saling membantu" Sahut Dina terdengar tulus.


'Kang Ali Saya antarkan Teh Tya dan juga Arsyila pulang ke Apartemen setelah ini saya akan kembali lagi untuk menunggu Rere disini bersama kang Ali"


"Baik... Terima Kasih Mas Geri"


"Jangan Sungkan Kang Ali"


"Oh... Ya Maaf kang Ali, tadi Dokter minta ingin bertemu dengan keluarga Rere karena ingin membahas tentang sakit Rere juga ingin meminta ijin untuk penangan Rere. Untuk lebih detail sebaiknya Kang Ali datang ke ruangan Dokter terlebih dahulu. Biar kita tunggu kabar dari dokter kemudian Geri antar teh Tya dan juga Arsyila"


"oh... Ya Sebaiknya seperti itu saja. Kita berdua juga ingin menunggu hasil dari dokter supaya kita bisa tenang"


"Ya Sudah Jika seperti itu saya akan ke ruangan Dokter terlebih dahulu"


Semua yang berada di tempat itu hanya bisa menatap Kakak Laki-laki Rere yang berjalan ke arah ruangan Rere.


...****************...


Dari Arah Lobby Aries di bawa menggunakan Bangkar ke arah Ruangan ICU. Kebetulan Rumah sakit sama dengan tempat Rere di rawat.


Dina mengenal Ria karena termasuk nasabah Prioritas di Bank tempatnya bekerja dan tentu Dina menyapa dan Ria yang juga dalam keadaan tidak baik-baik saja menatap ke arah wajah Dina yang nampak sedih, dalam keadaan Panik memikirkan keadaan Rere begitu juga dengan Ria yang terlihat memiliki beban di pikirannya.


"Sedang apa kamu Nak ada disini. Apa ada kerabat kamu yang sakit"


"Tidak Bu tapi Rere yang masuk rumah sakit bu"


"Apa...Rere... Maksud kamu Renia teman kerja kamu Nak"


"Benar Bu..."


"Ya... Allah Nak Renia, Kenapa dengan kalian berdua kenapa kalian masuk ke rumah sakit secara bersamaan dan Mas Aries juga ikut masuk rumah sakit"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ria membuat orang-orang yang berada di sana menatap Ria dengan lekat.


"Bagaimana ini bisa terjadi Nak"


Dina menceritakan tentang apa yang dia tahu dan Ria menutup mulutnya dan menangis. Geri hanya menatap Ria dengan penuh tanya


"Apa Nyonya kerabat dari Aditya" Tanya Geri Pelan dengan tajam matanya menatap Ria.


Geri tahu yang di bawa diatas Bangkar saat melewatinya adalah Orang Tua dari Aditya karena pernah menemui dirinya juga Orang Tua Geri di Rumah Sakit saat dirinya mendapatkan penangan Dokter karena luka serius akibat penganiayaan yang dilakukan oleh Aditya kepada dirinya.

__ADS_1


"Saya Rekan bisnis Keluarga Erlangga" Ria berucap sambil menatap sedih ke arah Geri.


__ADS_2