Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 130 Ayu Mengetahui Semua


__ADS_3

Aditya beberapa kali mengirimkan Pesan kepada Rere tapi tidak juga dibalas. Aditya kesal dan melemapae begitu saja Ponselnya kesembarang tempat membuat Ponselnya hancur.


Tubuh Aditya luruh ke lantai. Bayangan Rere meninggalkannya berputar-putar dipikiranya. Aditya meringkuk dan menutup wajahnya menggunakan lutut yang dilipat.


Kemudian dirinya mending akan wajahnya kelangit-langit kamarnya dan beberapa kali bayangan Rere mengisi pikirannya dan bergantian dengan kematian Mamanya yang Tragis.


"Tidaaaaakkkk" Teriak Aditya kencang membuat Sisilia dan Zayn menoleh kearah suara dari Aditya.


"Papi... kenapa Mi" Tanya Zayn yang berada di kamar bersama dengan Sisilia.


"Tidak tahu. Sebaiknya kamu tetap disini biar Mami yang lihat ya. Susi Tolong jaga Zayn jangan sampai keluar kamar sampai saya masuk kekamar lagi. dan kamu sorry kita belum berkenalan" Sisilia menatap ke arah Perawat yang ditugaskan menjaganya.


"Nama Saya Rita, Nyonya" Jawab Perawat yang ditugaskan untuk menjaga dirinya juga zayn.


Kemudian dengan tertatih Sisilia melangkah kearah kamar Pribadi Aditya yang mana dia mendengar suara Aditya berasal dari sana.


"Sebaiknya saya bantu Nyonya" Jawab Bryan.


"Tidak Perlu, Saya bisa dan Terima Kasih" Tanpa menoleh kearah Pengawal yang di beri tugas untuk menjaganya di Amerika saat Aditya pulang kembali ke jakarta nantinya.


Dengan berpegang dengan dinding sepanjang jalan ke arah kamar Aditya sambil memegangi perut bawahnya Sisilia terus berjalan tanpa menghiraukan rasa sakitnya.


"Renia... Sayang jangan tinggalkan saya" Teriak Aditya dari arah kamarnya yang mana terdengar di telinga Sisilia yang berdiri di balik pintu kamar Aditya.


Sisilia terdiam hatinya sakit mendengarkan apa yang di katakan oleh Pria yang dia cintai. Secara perlahan Sisilia membukan knop pintu dan mendapati Aditya yang duduk meringkuk di sudut ruangan dengan menutup wajahnya di balik kedua lututnya.


"Sayang... Apa yang terjadi" Sisilia berkata pelan.


Aditya menatap Sisilia dengan wajah marah dan tatapan yang mengerikan dari pria yang dia cintai itu. Sisilia terhenti sejenak dari langkah kakinya yang ingin mendekat ke araha Aditya.


"Apa yang terjadi Aditya" Suara Sisilia Pelan.


"Puas kamu Sisilia. Kenapa kamu tidak membunuh saya saja dari pada kamu memisahkan saya dari Renia" ucapan Aditya membuat hati Sisilia terluka.


"Saya tidak mengerti, Apa yang sesungguhnya terjadi Aditya" Sisillia bertanya kembali.


"Renia sudah mengetahui semua dan dia akan meninggalkan saya. lebih baik saya mati dari pada hidup tanpa Renia. Saya sudah mati sejak saat Mama Meninggalkan saya dan saya bertahan saat ini hanya demi bertemu Renia... Dan kamu menghancurkan semuanya Sisillia" Aditya meneteskan air mata.


"Tenanglah Sayang, Saya Mohon" Pinta Sisillia.


"Pergi... Sisilia... Pergi... atau saya melalukan hal buruk kepada kamu"


"Aditya Saya Mohon tenanglah"


"Pergiiiii...." Aditya berteriak dengan mata yang membelalak tajam ke arah Sisillia.


"Papi..." TeriakTeriak Zayn.


Keduanya menoleh kearah Putranya yang sudah berdiri didepan pintu kamar dan menatap Papinya yang nampak kacau dan terdengar berteriak ke arah Sisillia.


"Papi kenapa marah dengan Mami... Papi sudah janji tidak akan berteriak kepada Mami" Zayn memeluk Sisillia dan Menangis.

__ADS_1


"Zayn sayang jangan menangis Nak, Papi tidak berteriak. Papi hanya bicara dengan Mami Saja" Sisillia berusaha menenangkan Putranya.


"Jika Zayn begini nanti sakit Zayn akan kambuh lagi sayang" Sisillia berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan Putranya.


"Papi sedang sakit sayang, cobalah Zayn mengerti. Jangan Marah dengan Papi ya. Sayang. Mami Baik-baik saja" Sisisllia berbisik ditelinga Zayn dan mencium dahi putranya lalu memeluknya.


Aditya hanya menatap mereka berdua. Dirinya sangat bingung dengan keadaan ini, Hatinya merasa sakit dan juga merasa bersalah dengan keadaan yang bersamaan. Aditya membenturkan kepalanya ke arah dinding yang ada dibelakangnya sambil menutup matanya.


"Peluk Papi kamu sayang supaya Papi menjadi tenang" Bisik Sisilia yang sedari tadi menatap apa yang dilakukan oleh Pria yang dia cintai itu.


Zayn mengangguk dan melangkahkan kakinya kearah Aditya dan memeluk Papinya lalu mencium pipi Aditya dengan Lembut.


"Papi... it's ok. Zayn in here for you Pi" ucap Zayn dengan memeluk Putranya.


Aditya dengan apa yang di lakukan oleh Putranya menjadi terdiam dia menghentikan apa yang dia lakukan sebelumnya. Lalu memeluk tubuh kecil Putranya yang sedang sakit Jantung.


"Maafkan Papi Zayn... Papi tidak bisa menjadi Papi yang baik untuk Kamu dan Papi..." Ucapan Aditya berhenti saat menatap Putranya yang tersenyum kepadanya.


Dari jauh Sisillia tersenyum mendapati interaksi Papi dan Anak itu lalu dirinya keluar dan menutup pintu kamar Pribadi Aditya dan melangkahkan kakinya kearah kamar dirinya dan menangis. Pintu ditutup dan dirinya berdiri dibalik pintu lalu menatap Langit-langit kamar dan Berkata


"Maafkan Saya Aditya... Maafkan Saya tidak seharusnya saya menjadi penghalang antara kamu dan Renia. Tapi Saya sudah terbiasa dengan kamu Sayang. Saya tidak bisa melepaskan kamu untuk wanita lain. Ijinkan Saya Egois kali ini. Saya Mohon Maafkan Saya"


Setelah puas menangis dirinya menuju ke arah Nakas dan mengambil Handphone lalu menelpon seseorang dan berkata


"Tolong lepaskan Aditya setelah ini, Jika apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan. Biarkan dia hidup tenang bersama Saya dan Putra Saya Lisna"


"Kenapa kamu bicara seperti itu Sisillia" Dari seberang Telepon Lisna menjawab apa yang dikatakan oleh Sisillia.


"Saya tidak perduli anak Sherly akan menjadi gila sekalipun karena itu tujuan saya. Mama nya membuat keluarga saya hancur Dan suaminya tidak pernah menganggap saya ada. Jadi saya tidak peduli jika Anak Haram itu Gila atau Mati sekalipun" Teriak Lisna.


"Saya tidak akan membiarkan kamu menyentuh Aditya kembali. Cukup dulu Saya mendengarkan perintah kamu dan menghancurkan hidup Aditya tapi tidak untuk saat ini. Dia Ayah dari Putra Saya dan tidak akan saya biarkan kamu menyakitinya kembali Nyonya Lisna" Sisillia menekan suaranya dengan nada marah.


"Hahaha... ingat ya... Kalian bisa bersama itu karena saya dan saya yang menyatukan kalian kamu tahu dan seharusnya kamu berterima Kasih dengan saya bukan malah mengancam saya dasar wanita si*lan kamu" Teriak Lisna dan Sisillia menjadi kesal dan menutup Panggilan teleponnya begitu saja.


"Hallo... Sisillia... Hallo... Sisillia... ingat kamu hutang budi dengan saya. Karena saya kamu bisa mendapatkan Aditya dan karena saya kamu bisa melahirkan Putra Har*am kamu Mengerti... Saya tidak mau tahu kamu harus tetap memberikan obat itu kepada Aditya"


Tanpa sepengetahuan Lisna Ayu berdiri di belakang Mami nya dan menutup Mulutnya dan menangis.


"Apa yang Mami lakuka kepada Kak Aditya selama ini Mi... " Teriak Ayu dengan menangis.


"Ayu... Sayang kamu kenapa berdiri disana... Apa kamu..."


"Ayu mendengarkan semua yang Mami katakan kepada Psikiater Pribadi Kak Aditya" Potong Ayu dengan suara bergetar menahan kekecewaan ya yang ketiga kalinya.


Pertama dia tahu suaminya selingkuh dan yang kedua ternyata Rere mengetahui dan pernah bertemu suaminya jalan dengan wanita lain di mall saat pergi bersama putranya. Walau saat itu Rere belum pernah bertemu dengan suaminya akan tetapi saat kumpul keluarga saat Papinya pulang dari rumah sakit Rere jelas bertemu dengan suaminya dan mengapa tidak bercerita kepada dirinya.


Dan Sekarang Ayu sangat Syok mendengarkan apa yang di katakan Maminya walaupun tidak di sengaja akan tetapi bagi Ayu ini adalah pengakuan yang sebenarnya dari Maminya tentang apa yang dia perbuat kepada Kakak Tirinya sslama ini.


Sedangkan Hans berlari dari pintu Lift saat mengejar istrinya yang memasuki Lift dan menuju kedalam kamar Papi dan Maminya yang akan mengatakan ingin bercerai dengan Hans.


Suami Ayu terdiam di depan Pintu saat Menemui Ayu dan Lisna Saling menatap tajam dengan Ayu menangis dan tampak Lisna terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Ayu... Sayang" Kedua wanita itu menoleh kearah Hans dan segera Ayu mengusap air matanya dan menatap suaminya lalu Lisna.


"Ayu ingin bercerai dengan Hans Mami Tolong Katakan kepada Hans untuk meninggalkan Mansion Papi ini. Dan Sekarang ada di mana Papi diruang kerjanya jelas Papi tidak ada dan Ayu pikir Papi berada di Kamar" Ayu mengalihkan perhatian dari permasalahan yang terjadi dan ingin menutupi masalah Maminya dari Hans.


"Sayang Tolong dengarkan... Kamu Salah Paham. Lita... Dia"


"oh Nama nya Lita... " Ayu tersenyum dan menatap tajam suaminya.


"Ada Apa ini Sayang jelaskan kepada Mami... Jangan bikin Mami bingung dan Pusing" Tanya Lisna dengan menatap keduanya.


"Mami bingung karena masalah Mami atau Masalah Ayu dan Hans"


Flasback


"Ayu buka pintu nya sayang... saya mohon ini salah paham" Hans mengetuk pintu beberapa kali ingin agar Ayu mendengarkan ucapannya dan membuka pintu.


Cukup lama Hans berdiri dan beberapa kali mengetuk pintu Kamar dan Ayu beranjak dari ranjang tempat tidur mereka yang mana sebelumnya Ayu menutup telinganya menggunakan bantal karena tidak ingin mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh suaminya.


Ayu melangkahkan kaki menuju pintu dan membukanya lalu menampar dengan keras pipi Hans dan yang di tampar diam dengan sorot mata yang tajam dalam hatinya Berani sekali Ayu menampar dirinya Jika buka kekayaan dan pengaruh Bisnis Papi dan juga Kakak nya juga nama besar Erlangga dan Keluarga Lisna yang memang Konglomerat sudah di pastika Ayu akan mendapatkan balasan karena berani menampar dirinya. Terlihat rahang wajahnya yang mengeras dan tatapan tajam Hans tajam kepada Ayu.


Sedangkan di lantai bawah Aries pergi setelah mengatakan akan pergi ke Bandara karena tahu Jika Riki kembali dari Bali dan Aditya sedang ke Amerika mengurus perijinan Hotel miliknya dan juga mengecek bisnis Property milik Erlangga di Amerika yang belum di temui selama Enam Bulan ini karena kesibukan juga masalah yang menimpa Putranya akhir-akhir ini. Dan dia ingin menanyakan perkembangan Hotem milik Perusahaan miliknya yang berada di Bali. Walaupun itu hanya alasan Aries karena sesungguhnya dia ingin menanyaka hal mengenai Hans dan Ayu kepada Riki yang sebelumnya mendapatkan kabar dia pulang sore dari Bali dan Aries akan menjemputnya di Bandara


Lisna mengangguk dan melangkahkan kakinya kedalam Lift yang akan membawanya kedalam lantai Tiga dimana kamarnya berada. Setelah Lift terbuka dan dia melangkahkan kakinya kembali ke arah kamar dan setelah sampai dirinya belum menutup pintu suara Ponselnya berdering dari saku celananya dan segera dia melihat siapa yang menelponnya saat membaca nama penelpon tanpa pikir panjang Lisna mengangkat dan mendengar Sisillia berbicara dengan nada mengamcam dan memperingati dirinya agar tidak mengganggu atau mengusik Papi dari Anaknya.


Sedangkan Ayu di depan kamarnya sedang berdebat Ayu meminta cerai dan tidak ingin hidup bersama dengan Hans kembali dan akan menemui kedua orang tuanya untuk mengurus Perceraian dan Ayu menggendong Putranya yang ada saat itu disampingnya.


Lalu mengetuk Pintu kerja Papinya dan tidak melihat Papinya di ruang kerjanya, Dia mengerti kenapa saat berdebat hebat dengan suaminya Papinya tidak kunjung keluar dari ruangan kerja yang ternyata kosong.


Mendapati Ruang Kerja Papinya kosong Ayu melangkah ke arah Lift dan di halangi oleh Hans dan berusaha untuk mengambil Jimmy putranya dan berkata


"Kita tidak akan berpisah karena jika itu terjadi saya pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan Jimny untuk selamanya. kemarikan Putra saya Ayu" Bentak Hans.


"Lepaskan Pria Brengs*k kamu tidak akan mendapatkan Hak apapun atas Jimmy dia Putra Saya mengerti"


"Mami... Papi... Sakit" Teriak Jimmy.


Dengan Keras Ayu menendang tepat di bagian tubuh Hans yang paling penting. Sambil memegang bagian inti dirinya Hans menahan rasa sakit dengan Cepat Ayu menarik Tangan Putranya dan membawanya ke Lift untuk menuju ke Kamar Kedua orang tuanya karena yakin Papinya berada di sana jika menjelang Maghrib.


Ayu melangkahkan kaki cepat dengan menggendong putranya menuju ruangan kamar kedua orang tuanya yang memang tidak terkunci. Lisna yakin tidak ada orang yang akan masuk ke kamarnya karena suaminya dia tahu sudah menaiki Mobil yang di bawa oleh Supirnya keluar Gerbang Mansion Karena dirinya yang mengantar sampai di depan Halaman bahkan sempat melambaikan tangan.


Jadi saat Sisillia menelpon dirinya dia tidak menutup pintu dan membukanya begitu saja karena mendapati kata-kata intimidasi dari Sisillia yang membuat dirinya tersulut emosi


Bersamaan dengan itu Putrinya Ayu berdiri di depan Pintu setelah perdebatannya dengan suaminya yang ada di depan kamarnya.


Flasback Selesai


Ayu menjadi pusing dan kesal bercampur marah maka dari itu dia mendorong suaminya sampai terbentur dinding yang ada di dekatnya lalu menggendong dan memeluk Putranya berlari ke arah Lift.


"Hans Hentikan Ayu. Jangan Biarkan dia Pergi Karena dia dalam keadaan Panik. Mami takut Ayu tidak bisa menguasai dirinya. Berhaya Jika dia mengendarai Mobilnya saat ini"


Lisna berteriak dan saat itu juga Hans bangkit dan mengejar Ayu yang kini sudah berada di dalam mobil dan saat Hans Keluar dari dalam Mansion dia melihat Mobil Ayu sudah meninggalkan Gerbang Mansion.

__ADS_1


__ADS_2