
"Selamat Sore Pak Rafli"
Rere menyapa dengan senyum yang dipaksakan. Pengacara yang dikirimkan oleh Aditya untuk membantu perceraian Tya melihat dengan jelas wajah sembab yang nampak diwajah Rere.
"Selamat Sore... Bu Renia" Rafli berdiri dan berjabat tangan dengan Rere.
Rafli berusaha tidak canggung berbicara dengan Rere yang dia ketahui sebagai kekasih dari CEO Perusahaan ternama yang mempercayakan jasanya sebagai Pengacara untuk Perusahaan juga Keluarga Erlangga.
"Selamat Sore Pak Rafli, Silahkan duduk Pak"
"Terima Kasih Bu Renia, Maaf Sebelumnya jika kedatangan saya kurang berkenan karena terlalu Sore"
"Tidak apa Pak Rafli, saya senang bapak datang yang seharusnya kami yang datang ke kantor Pak Rafli"
"Tidak Masalah Bu Renia, Saya sekalian lewat tadi dan mampir untuk mengetahui permasalahannya secara detail"
Tya datang membawa Minuman dan Cemilan untuk Rafli dan mempersilahkan Rafli untuk menikmati hidangan yang di berikan Tya dan Rafli mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih. Bu Tya"
"Saya yang harusnya berterima kasih karena Pak Rafli sudah menyempatkan datang untuk membantu masalah saya"
"Duduk Teh Tya dan Jelasin semuanya ke Pak Rafli" ucap Rere dan di balas anggukan.
Tya duduk setelah memberikan minum kepada Rafli dan juga lainnya. Tya masih memegang nampan dan duduk dengan menundukan kepalanya dia sebenarnya merasa malu karena akan menggugat cerai suaminya sendiri akan tetapi jika dilanjutkan rasanya sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan oleh sikap Didit yang sering berselingkuh.
“Teh… Ayo ceritain alasan teteh ingin bercerai dengan Mas Didit”
Perkataan Rere menyadarkan Tya dari pikirannya yang mendadak bimbang, Setelah ada pengacara didepannya seakan Tya merasa tidak yakin akan apa yang akan dia lakuakn untuk suaminya, Perjuangan pernikahan selama Dua Belas Tahun dan kebersamaan dengan suami seakan silih berganti didalam pikirannya.
Tya memejamkan matanya dirinya menahan nafas sejenak dan bayangan perselingkuhan suaminya dengan tetangganya sendiri muncul menggantikan ingatan nya tentang Perjuangan juga kebersamaannya dengan suami selama Dua Belas Tahun Pernikahan membuat dirinya memutuskan untuk melanjutkan Proses Perceraian.
Tya membuka matanya dengan pelan menghembuskan nafas perlahan dan menatap Rafli yang akan menangani kasus Perceraiannya dengan Didit, Rere mengenggam tangan Tya mencoba menguatkan lalu memeluk saudara perempuannya yang mulai meneteskan air mata seperti merasa sangat berat dalam proses perceraiannya.
“Rere… Teteh Sakit Re…” Sambil menyentuh dadanya sendiri.
“Jika Belum yakin sebaiknya jangan teteh ambil keputusan ini, Tenangkan lebih dahulu teh”
“Tidak Rere… Pak Rafli sudah kemari dan teteh sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan Pernikahan Teteh dengan Mas Didit”
Tya mengusap air matanya dan menguatkan dirinya sendiri. Rere melepaskan pelukannya untuk Tya dengan tetap memegang erat tangan Tya.
“Bu Tya bisa pikirkan lagi jika belum siap bercerai supaya tidak ada penyesalan nantinya” kedua kakak beradik beralih memandangi Rafli
“Saya Sudah Siap, Pak Rafli tolong bantu untuk Prosesnya” Tya sedikit bergetar saat mengucapkannya.
“Kenapa Bu Tya ingin bercerai, Maaf Sebelumnya karena alasannya penting untuk saya ketahui yang nantinya saya akan memasukan alasan tersebut ke dalam berkas perceraian” Rafli dengan tatapan lembut merasakan kesedihan Tya .
Usia Rafli 36 Tahun lebih tua satu tahun dari Tya dan dirinya sudah lama menjadi seorang Pengacara jadi memahami apa yang menjadi alasan Tya bercerai meski belum mendapatkan penjelasan perihal alasan Tya untuk bercerai.
__ADS_1
“Sebenarnya… Eeehh… Suami Saya Berselingkuh dengan tetangga saya dan saat mereka melakukan hubungan gelap suami tetangga saya datang kerumah bersama RT dan juga tetangga yang lain lalu…”Tya diam sejenak menangis dan Rere mengusap lengan Tya Pelan.
“Lalu Saya dipanggil oleh Pak RT dan suami saya saat itu di amankan oleh warga dan suami wanita yang berselingkuh dengan mas Didit meminta Denda saat itu kepada saya dan saat saya ingin berbicara dengan Suami saya dia ntah bagaimana bisa kabur” tangis Tya pilu
“Saat itu saya didesak oleh suami wanita itu untuk membayar denda terpaksa saya menjual asset milik Adik saya… Rere untuk dijual” menatap Rere dengan sedih dan Rere hanya terdiam dengan tangannya yang masih mengusap Tya.
“Saya Lelah Pak Rafli, Saya Malu dengan Keluarga dan Tetangga saya. Saya ingin mengakhiri pernikahan ini karena ingin membuka lembaran hidup baru dengan anak saya Dion, saya tidak ingin melihat kebelakang, Sebelumnya saya sudah memberikan kesempatakan kepada Suami saya tapi dia selalu melakukan hal yang sama berselingkuh dengan wanita lain, ini menjadi yang terakhir untuk saya” Tya menangis merasa malu harus menceritakan alasan dirinya menggugat cerai Didit suaminya.
“Sudah Berapa lama Bu Tya menikah dengan suami”
“Dua Belas Tahun Pak”
“Apakah Suami Bu Tya sudah mengetahui akan hal ini”
“Sudah Pak, Setelah Satu Hari dari kejadian suami saya pulang dan saya utarakan keinginan saya dan dia melakukan tindakan kekerasaan kepada saya Karena itu juga saya tidak ingin meneruskan Pernikahan Saya Pak Rafli…Tolong Bantu saya untuk mengurus gugatan Perceraian saya karena saya jujur tidak sanggup lagi” Ibu Inah yang mendengarnya turut menangis dan Rere beralih menguatkan ibunya.
“Jadi ada Tindakan Kekerasan dalam rumah tangga juga ya. Bu Tya?” dan diJawab anggukan kepala oleh Tya.
“Apa Ada Keinginan Bu Tya untuk meminta Harta Gono Gini dan Hak Asuh Anak”
“Pak Rafli suami saya juga tidak mengerti tentang proses perceraian, Jika saya di damping oleh Pengacara untuk Proses ini pasti dia akan setuju. Karena kita berdua ini hanya orang biasa jadi tidak akan sulit. Saya hanya ingin mengajukan Perceraian itu saya dan saya juga tidak ingin ada tuntutan lainnya selain bercerai dan hak asuh dion. Untuk Aset yang kami miliki tidak seberapa nominal nya dan saya ingin membagi dua saja, Pak Rafli”
Rafli Hanya diam sejenak, Kasus ini tergolong kecil menurut dia karena Aset yang Tya punya hanya Rumah dan Motor dan juga disini ada tindakan perselingkuhan dan juga kekerasan yang dilakukan Suami Tya dalam Pernikahan.
“Baiklah Bu untuk Dokumen nya tolong disiapkan, sudah saya catat di dalam kertas ini, mungkin besok atau lusa jika Dokumen yang di butuhkan sudah ada saya akan datang lagi kemari, ini nomor telepon yang bisa Bu Tya hubungi jika semua dokumen sudah siap”
“Baik, Pak Terima Kasih sebelumnya, dan silahkan dinikamati cemilan dan juga Kopi nya pak”
Setelah Mencicipi hidangan yang disiapkan oleh Tya, Rafli meminta undur diri dan Ketiga wanita yang ada diruangan itu mengantar Rafli sampai didepan pintu apartementnya dan saat membuka pintu Aditya berdiri dengan tangan seperti ingin mengetuk pintu.
“Pak Aditya”
“Pak Rafli” Keduanya berjabatan tangan.
“Mas Aditya, Pak Rafli datang untuk mengurus semuanya”
Rere memecahkan kecanggungan diantara mereka dan dibalas anggukan Aditya karena dia yang menyuruh Riki untuk memberitahu Rafli untuk menemui Tya tapi memang Aditya tidak menyangka jika Pengacaranya datang ke apartemen Rere, Aditya kira mereka bertemu dikantor Rafli atau ditempat lain ternyata Rafli datang ke apartemen kekasihnya.
“Ok…Sayang” Aditya menatap ke arah Rafli dan mengucapkan terima kasih lalu meminta secepatnya membantu permasalahan yang dihadapi oleh calon kakak iparnya itu.
Setelah perbincangan singkat itu Rafli berpamitan kembali untuk pulang dan Aditya mempersilahkan lalu dirinya masuk ke dalam apartemen Rere setelah dipersilahkan masuk oleh Ibu Inah dan sekarang keduanya duduk diruang tamu sedangkan ibu inah juga Tya masuk kedalam kamar beserta Dion.
“Ada apa Mas datang kemari” Jawaban dari Rere membuat Aditya menautkan kedua alisnya.
“Sayang tidak suka mas datang dan kenapa tidak membalas pesan atau mengangkat telepon dari mas” sambil membelai pipi Rere dan wajah kekasihnya terlihat sembab dan matanya sedikit bengkak.
“Renia menemani teh Tya bertemu dengan Pak rafli dan Ponsel Renia masih berada di tas, Mas”
“Renia, Apa Sayang menangis heeemmm…” Aditya mengusap Hijab Rere dan dibalas gelengan kepala.
__ADS_1
“Ada apa Renia ceritakan kepada mas, jangan berbohong kepada Mas"
“Tidak ada mas, Renia hanya bersedih dengan apa yang dialami teh tya, dia sudah melewati pernikahan selama dua belas tahun tapi suaminya tega berkhianat dengan wanita lain”
Kebohongan rere yang menutupi kebenaran atas alasannya menangis yang mana dia sedih karena perlakuan kasar orang tua geri dan hubungan persabahatannya antara dirinya, Geri dan Cantika mendapatkan masalahan seperti ini padahal Rere ingin tetap menjalin persahabatan yang baik meski geri dan dirinya tidak bersama dan cantika juga tidak bersikap kasar seperti tadi saat diparkir rumah sakit belum lagi kesedihan karena SP1 yang dia dapatkan.
Tapi dari sisi Aditya kebohongan Rere justru seperti hantaman untuk dirinya sendiri yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suami Tya yang mana dirinya berkhianat kepada Rere dengan menjalin hubungan terlarang dengan Psikiater Pribadinya selama Delapan Belas tahun dan menghasilkan putra yang sudah berusia Sembilan tahun hanya bedanya mereka tidak terikat Pernikahan seperti Tya dan Didit.
Aditya terdiam dan sesekali menatap Rere yang juga terdiam dengan tatapan kosong terlihat dirinya sangat sedih dan terpukul, Aditya berpikir bahwa kekasihnya memiliki permasalahan lain bukan hanya tentang perceraian Tya jika dilihat dari raut wajahnya.
“Sayang Besok Mas harus ke Amerika karena ada masalah Perinjinan Hotel yang ada disana, Meski sudah ada yang mengurus tapi Mas harus tetap mengontrol dan mengecek kendala yang terjadi disana”
Rere mendengar itu menoleh kearah kekasihnya dengan tatapan yang Nampak jelas masih menyimpan kesedihan, Rere hanya mengangguk dan tersenyum. Rere juga ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya.
“Baiklah Mas, Rere mengerti memang mas Aditya mengurus masalah tersebut”
“Kamu tidak marahkan Sayang”
“Tentu saja tidak mas, untuk apa Renia marah, Justru Renia bahagia jika Mas Aditya Fokus bekerja dan bersikap Profesional seperti ini. Renia bangga dengan kesuksesan Mas Adit”
Ntah kenapa rere ingin memeluk Aditya dan dia mengabaikan jika di apartemen nya juga ada ibu dan saudara perempuannya. Rere menangis didalam pelukan Aditya dan membuat prianya itu terdiam dan bingung.
“Sayang ada apa”
“Mas… Biarkan Renia memeluk mas adit selama Lima menit. Renia rindu Mas Aditya, Rindu masa kecil kita berdua yang tenang”
Apa yang dikatakan Rere membuat Aditya memeluk erat Rere dan meneteskan air matanya di dalam hatinya merasa bersalah, sedih dan takut kehilangan Rere semua bercampur aduk menjadi satu, Penyesalan akan kebodohan nya yang selalu terjebak hubungan terlarang dengan Sisillia bahkan sampai sekarang.
“Ada apa ceritakan kepada Mas, Renia… Sayangku” ucap Aditya sambil mengusap air matanya sendiri, Aditya yakin ada masalah lain yang mengganggu pikiran Rere, dirinya ingin mengetahui.
“Tadi Renia ke rumah sakit untuk menjenguk Geri tapi Bu Sri dan Cantika melarang Renia untuk bertemu geri hanya sekedar melihat keadaannya saja Mas” Aditya melepaskan pelukannya dan menatap tajam kearah Rere.
“Untuk apa kamu kesana?” Aditya berkata dengan nada tinggi.
“Renia hanya ingin melihat keadaan Geri dan meminta maaf kepada Geri karena Renia sudah membuat Geri terluka hatinya Mas” Rere menangis membuat Aditya bertambah marah dan Nampak rahangnya mengeras.
“Apa kamu mencintai Geri… Mas ingin kejujuran Renia” Tangan Aditya membingkai wajah Rere dengan menatap tajam kearah kekasihnya.
“Lepaskan… Mas. Kenapa Kalian tidak ada yang mengerti Mas Adit… Bu Sri… dan Cantika kalian semua tidak mengerti. Geri sangat spesial untuk Renia. Hanya dia yang menemani dan membantu saat Renia Sulit dan berjuang sendiri dalm hidup agar bisa keluar dari kesulitan dan kemiskinan”
Teriak Renia yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa sedih dan amarah juga kekecewaan terhadap permasalahan yang dirinya alami sejak ayahnya meninggal karena kanker Paru-Paru dan kecurigaan dan salah paham orang-orang yang tidak mengetahui apa yang ada dalam hatinya.
“Dimana Mas Aditya… Saat Rere harus berjuang di Jakarta sendirian… Di mana Mas Aditya saat Rere menahan lapar dan di mana Mas Aditya saat Rere harus berjualan dari satu tempat ke tempat yang lain hanya untuk mencari tambahan uang, Dimana Mas. Haaaa….” Lanjutnya lagi.
“Geri… Sahabat Renia. Dia ada di sini. Spesial tapi bukan cinta but my guardian Angel. He is My Hero in my life” sambil menyentuh dadanya dengan berbicara pelan.
“Renia… Apa kamu pikir mas Aditya diam dan tidak mencari kamu selama Delapan Belas tahun. Renia sudah mengetahu dengan jelas betapa menderitanya mas Aditya jauh dari Renia… Apa Renia Pikir Mas Aditya tidak seperti orang gila kehilangan kamu dan tidak tahu kabar tentang Renia dan Apa Renia lupa mas juga berjuang untuk hidup hanya karena ingin bertemu Renia” Teriak Aditya lebih keras dari Rere.
Ibu Inah dari Kamar mendengarkan perdebatan mereka ingin menghentikannya dan saat ingin memutar knop pintu Tya mencegahnya dan menarik tangan ibu Inah untuk menjauhi pintu supaya memberikan kesempatan kepada Rere dan Aditya menyelesaikan permasalahan mereka. Ibu inah menganggukan kepala dan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
“Kenapa Bibi Berteriak Ma… apa seperti mama waktu marahan sama papa dan tadi mama bilang sama paman yang datang tadi jika mama ingin bercerai dan menyebutkan nama Dion, itu maksud nya apa sih” Tanya Dion yang Nampak bingung.