
"Ya sudah Geri gw ingin membantu ibu membereskan sisa makan malam, sekali lagi gw ucapkan Terima kasih untuk apa yang lu lakuin. Gw senang dan bangga sama lu emang bener lu cinta damai" ucap Rere sambil tersenyum.
"ya ok. lu tahu kan kalo gw emang suka memelihara perdamaian. Hahahah..." ucap Geri tertawa kecil.
"iya sih lu cocok di angkat jadi duta perdamaian. Hihihi... " balas Rere sambil terkekeh.
"Besok lu kerja ga beb" sahut Geri.
"Masih cuti, gw masuk senin depan. by the way gw udah pamitan kenapa lanjut hihihi... " balas Rere.
"Masih kangen sepuluh menit lagi ya sayang" sahut geri yang di balas juluran lidah oleh Rere.
Setelah Berbincang dengan geri sekitar Dua Puluh Menit, keduanya mengakhiri panggilan telepon. Rere keluar kamar dan bergabung dengan ibu dan kakaknya untuk menonton televisi. Ternyata ibu dan kakaknya sudah membereskan sisa makan malam.
"Rere Pacar kamu sudah pulang ya" Tya membuka obrolan.
"Maksudnya... " ucap Rere duduk didekat Dion yang sedang bermain handphone.
"Aditya emang kamu punya pacara berapa. oh ya Ada lagi Geri ya aku lupa. Hahaha... " ucap Tya menggoda Adiknya.
"Apaan sih ga jelas, lagian tadi udah dikasih tahu mas Adit udah pulang ga jelas deh. Kadang ga konek si teteh mah. Hahaha... " balas Rere
"oh... ya lupa Hahaha... " sahut Tya kembali.
Mereka menyaksikan berita malam dan memberitahukan tentang kabar kebebasan Aditya yang mana korban sudah mencabut tuntutanya.
"Kamu pilih yang mana Rere? Sudah Sholat istikharoh belum minta pilihan terbaik dari dua orang yang menyukai kamu?" Tya berkata sambil meminum teh yang dia buat dan memakan cemilan.
Rere diam tidak menjawab tapi dirinya merasa sudah yakin dan mantap dengan hatinya, Karena Rere sudah menentukan itu hanya saja menunggu keadaan sedikit tenang agar dapat berbicara dari hati ke hati kepada salah satu pria yang tidak dia pilih agar tidak merasa sedih dan kecewa.
"Rere... ihhh tidak mau jawab Main Rahasia sama keluarga apa ingin kasih suprise" tanya Tya kembali.
"sudah ya jangan bahas masalah Rere lebih baik teh Tya fokus sama rumah tangga teh Tya aja" ucap Rere santai tapi membuat Tya terdiam.
Ibu Inah menatap kedua putrinya dan melihat wajah Tya yang nampak tidak enak hati dan sedikit malu karena ucapan Rere.
"Mama tidur yuk ngantuk" ucap Dion.
"Hayo mama juga ngantuk pamit tidur dulu sama nenek dan juga bibi terlebih dahulu ya" sahut Tya.
"Nenek dan Bibi Dion pergi tidur dulu ya bye... " Dion berkata dan mendekat kepada Bu Inah dan Rere.
"Ok bocah ganteng dan Pelit" balas Rere dengan menjulurkan lidahnya.
"ihhh... Apaan sih ga jelas bibi nih, udah dibagi juga. salah siapa tadi nolak" balas Dion menjauh setelah dicium oleh Rere. Semua tertawa karena Dion terlihat cemberut dan menuju kearah kamar tidurnya.
"Bu...Rere tidur dulu ya" ucap Tya dan dibalas anggukan keduanya lalu Tya menyusul putranya kekamar tidur.
"Rere, Nak lain kali bicaranya tidak boleh ketus sama orang lain terutama saudara kamu ya" tegur Bu Inah yang merasa anaknya sembarangan dalam berucap tadi.
Rere hanya diam dia tahu apa yang dimaksud ibunya dan berkata akan minta maaf besok kepada Tya. Rere memang seperti itu cara bicaranya Terdengar tegas dan apa adanya, dan karena pembawaannya seperti itu jika orang tidak mengenal dekat sudah pasti akan menilai Rere Jutek.
Setelah beberap menit ibu Inah berpamitan untuk menyusul Tya dan Dion kekamar untuk Tidur bertiga. Sebenarnya kamar diapartemen Rere ada Tiga kamar akan tetapi mereka memilih satu kamar karena ibu inah menolak tidur sendiri.
Setelah semuanya pergi Rere mematikan televisi dan beranjak dari duduknya dan menuju kedalam kamar, dirinya ingin juga pergi untuk tidur. Rere merasa lelah seharian beraktivitas.
Sebelum Tidur seperti biasa Rere mengecek ulang pesan masuk baik diapplikasi obrolan online maupun email juga memerikasa panggilan masuk. Memang sudah memeriksa tadi tapi belum seluruhnya hanya sekilas saja.
Karena itu rere mengecek dengan detail dan sesekali membalas pesan yang masuk baik tentang pekerjaan, usaha miliknya ataupun dari teman-teman yang menanyakan tentang Rere apalagi masalah akhir-akhir ini yang membuatnya viral.
Ada Teman Kuliah dan semasa sekolah yang memang memiliki nomor atau akun media sosial miliknya. Dan saat sedang mengetik pesan untuk salah satu teman kuliahnya.
Aditya menelpon. Rere melihat nama yang masuk kepanggilan telpon miliknya nampak tersenyum dan menunggu beberapa saat agar tidak terlihat mengharapkan panggilan telpon dar Aditya. Panggilan kedua Rere mengangkat.
"assalamu'alaikum mas" ucap Rere.
"Belum tidur sayang" balas Aditya.
__ADS_1
"kelihatannya gimana" sahut Rere.
"Hhhhmm... " Aditya membalas sambil tersenyum diujung telpon sana.
Aditya merubah panggilan telpon menjadi panggilan Video, tapi tidak juga diterima oleh Rere. Dua kali Rere hanya tersenyum memandangi handphone miliknya yang menampilkan photo profil Aditya yang terlihat tampan dengan kemeja putih yang mengenakan kemeja putih dan bagian atas nampak terbuka dua kancing sehingga menampakan dada bidangnya dan dipadukan dengan celana pendek yang sedang berpose di sebuah pantai yang memperlihatkan indahnya air laut dan juga birunya langit. Rere melihat photo Aditya dengan senyum yang sangat manis.
"Sayang kenapa tidak dibuka panggilan video mas" ucap Aditya dengan nada kesal.
"Renia tidak menggunakan hijab mas" balas Rere.
"Sepertinya tidak masalah karena Mas Adit Calon suami Renia kan jadi tidak apa-apa sayang. Hahaha..." canda Aditya.
"Enak aja. iyakan belum resmi dan belum tentu juga nantinya jika tidak Rere Rugi" sahut Rere.
"Maksudnya gimana sayang, belum tentu gimana jelasin ke mas" Balas Aditya nampak kesal apa maksud Rere mengatakan hal demikian.
"Kelahiran Jodoh dan Kematian adalah Rahasia Allah benerkan mas" sahut Rere.
"Hemmm... " Aditya menanggapi.
"ya sudah. sekarang Renia sedang apa. Mas kangen. Besok mas mulai kekantor. berangkat kerja Mas ingin melihat Renia, supaya kerja Mas selama satu hari menjadi semangat. Mas mampir sebentar hanya dilobby atau tempat parkir ya sayang dan saat pulang kerja boleh mampir ya keapartemen ingin bertemu dengan ibu inah kangen calon mertua" tambah Aditya penuh harap Rere menerima permintaannya.
"Hemmm... gimana ya... " balas Rere tersenyum dia sengaja membuat pria yang mencintainya merasa kesal atau marah.
Rere memang memiliki bakat merusak mood seseorang. ya benar saja Aditya menjadi kesal dan perkataannya terlihat marah.
"Terserah boleh atau tidak Mas Adit akan datang keapartemen Besok" balas Aditya.
"Iya... Boleh silahkan saja lagian Rere ingin bicara masalah penting dengan Mas Aditya besok" sahut Rere sedikit terkekeh.
"Masalah apa itu sayang" balas Aditya.
"ya Besok Renia kasih tahu Mas" sahut Rere.
"Kenapa tidak sekarang sayang, jangan buat Mas Aditya tidak bisa tidur malam ini jika tidak mengatakan juga Mas Aditya datang ke apartemen Rere sekarang juga" sahut Aditya sangat kesal.
"Sayang... " suara terdengar meninggi.
"hahaha... dasar emosian. jadi Renia takut" balas Rere.
"hemmm... Maaf mas hanya kesal dan penasaran" sedikit pasrah.
"Masalah Teh Tya" balas Rere.
"Kenapa dengan Teh Tya" balas Aditya.
"ya makanya besok mau diomongin ga enak ngomong ditelpon begini" Rere menegaskan.
"oh... apa masalah perceraian" tebak Aditya yang mengingat ucapan Bu Inah saat menjenguk dirinya.
"iya" balas Rere.
"Baiklah sayang Mas mengerti ya besok kita bicarakan lagi sekarang tidur ya Cantik jangan lupa mimpiin Mas Adit" ucap Adit.
"InsyaAllah. tidak janji" Rere berkata sambil tertawa kecil.
"Hemmm... Sayang godain Mas Adit terus dari tadi, besok Mas balas ya saat kita bertemu" sahut Aditya.
Setelah melakukan panggilan telepon Keduanya menjatuhkan tubuh diatas ranjang dengan senyum sama-sama merekah mengingat apa yang terjadi hari ini dan tidak sabar untuk bertemu belahan jiwanya besok. Tanpa terasa mereka tidur dengan memeluk handphone.
Suara Adzan menggema dikota jakarta menjadi penanda hari telah pagi dan waktunya menjalankan ibadah sholat subuh dan rutinitas seperti biasa. Saat Rere sudah sholat, mandi dan juga berpakaian rapi, Rere membuka pintu kamar dan melihat Tya sedang sibuk menyapu dan ibu menyiapkan makan pagi.
"Pagi semua" Rere menyapa semua yang ada di apartemen.
"Pagi Rere... kamu ingin pergi bekerja hari ini rapih benar" balas Tya.
"Tidak. Rere masuk hari senin dan sekarang hari Kamis masih Empat Hari lagi cuti Rere selesai" Sebenarnya Rere malas menjawab.
__ADS_1
Rere sudah memberitahukan itu beberapa kali tapi Tya selalu bertanya ulang, mungkin dirinya tidak fokus karena permasalahan rumah tangganya dengan suami dan masih tergoncang karena perselingkuhan suaminya.
Rere harus menjaga cara bicaranya dengan Tya supaya tidak menyinggung kakaknya sesuai permintaan ibu inah semalam.
"Teh maafkan, semalam Rere mungkin ada perkataan yang menyinggung teh Tya" ucap Rere terlihat tersenyum dan ibu inah menoleh kearah kedua kakak beradik itu lalu ikut tersenyum juga.
"Yang mana Rere perasaan tidak ada" balas Tya tersenyum.
"Ya sudah abaikan. oh..., hari ini Rere ingin bicara dengan Mas Aditya tentang permintaan teh Tya semalam. tapi Rere ingin memastikan apa teh Tya benar sudah siap sebelum berkas masuk. Sebaiknya di pikirkan lagi dengan matang" ucap Rere menatap Tya.
Dan duduk di meja makan disusul dengan ibu Inah dan Tya yang sudah selesai menyapu. Sedangkan Dion sudah sejak tadi di meja makan dan tidak peduli apa yang di bicarakan keluarganya.
"Teteh yakin Rere... InsyaAllah hanya saja... " Tya berhenti.
"Apa teh pastikan dulu, jangan terburu-buru" ucap Rere.
"Biayanya Rere" segera membalas ucapan Rere.
"Jangan Pikirkan itu teteh, yang Rere tanyakan kesiapan teteh dengan status baru. yakin atau masih ingin memperbaiki lagi itu yang perlu dipikirkan" balas Rere.
...****************...
"Hallo Sayang bisa kita bertemu" ucap Sisilia
"Baiklah" sahut Aditya dari seberang telpon sana.
"Dimana kita bertemu Saya kerumah utama sekarang" balas Sisilia.
"Saya yang akan menemui di klinik tempat kerjamu siang ini" sahut Aditya.
"Baiklah sayang. Saya sangat merindukan dirimu" ucap Sisilia
Merasa bahagia karena pujaanya ingin bertemu. Sisilia tahu apa yang membuat Aditya bersedia menemuinya.
Aditya menutup telpon tanpa berbasa-basi yang sebenarnya Sisilia sangat kesal dengan perlakuan Aditya itu tapi mengingat siang ini, Aditya akan menemui dirinya maka rasa marah dan kesal itupun hilang.
"Kita akan selalu terhubung sayang karena kita memiliki Zayn" Ucap Sisilia pelan sambil menatap handphone yang memperlihatkan anak laki-laki berusia sembilan tahun yang berwajah tampan dan berkulit putih.
"Sayang seperti janji mami kepada kamu bahwa Mami akan menjemputmu dari sana bersama Papi. Maka tunggu kami sayang" Sisilia berkata kembali dengan sorot mata berkaca-kaca dan menciumi photo anak kecil itu.
Renia kamu hanya masa lalu untuk Aditya yang hanya ada dalam kenangan saja sedangkan Saya dan Zayn adalah masa depan untuk Aditya. Jangan Kamu pikir saya akan melepaskan Aditya untuk Kamu. Saya yang menemani dan selalu ada untuk nya bukan Kamu.
Sisilia bermonolog didalam hati dan menatap photo dirinya dan Aditya dimoment wisuda saat Sisilia menyelesaikan pendidikan Magisternya di Amerika tampak dari photo Aditya menyentuh perut Sisilia karena saat itu sisil berbisik perutnya sakit dan Sisilia menggenggam tangan Aditya lalu tersenyum kearah Aditya. Disaat itu photo diambil. Seakan Aditya menyambut kehamilan sisil. Padahal yang Aditya tahu kehamilannya sudah tidak ada lagi saat itu. Sisilia tersenyum dengan sorot mata tajam dan sulit untuk diartikan
...****************...
"Kalian terus ikuti dan cari tahu siapa perempuan itu dan apa hubungannya dengan Tuan Hans" ucap Riki.
"Baik Pak Riki, Saya sedang mengamati hotel tempat Tuan Hans menginap dan sesuai dengan pantauan kami Pak Hans bermalam dengan seorang wanita muda di sebuah Hotel***** di Jogjakarya" balas seseorang di ujung telpon sana.
"Apa kamu yakin Doni" sahut Riki sedikit geram dengan apa yang dikatakan oleh Pria yang bernama Doni.
"Saya sangat Yakin dan semalam mereka menyewa Diner Private di Restaurant yang ada di hotel ini" sahut Doni.
"Siapa namanya dan dia bekerja dimana" balas Riki.
"Wanita itu bernama Lita Liyondri Sesa, Dia Sekertaris di kantor Tuan Hans. Sebelum mereka pergi ke jogja mereka bedua tinggal di apartemen mewah Tuan Hans yang ada di Jakarta. Setelah Tiga Hari baru mereka pergi ke Jogjakarta" Jelas Doni.
"Lita... Sekertaris... Hemmm. ok dan tetap kamu selidiki dan pantau mereka jangan kamu kasih celah mereka. ambil bukti sebanyak-banyaknya dan amankan lalu berikan kesaya secepatnya" sahut Riki lalu mematikan panggilan Telpon.
Tidak lama Lisna menelpon dan meminta Riki untuk masuk ke ruangan Aries karena suaminya ingin mengatakan sesuatu.
Aries menatap Lisna yang sedang menelpon Riki, sejak kemarin sore Lisna terlihat manis dan baik, terlihat dari cara bicara dengan Riki yang sebelumnya sedikit ketus dan sekarang lembut.
Ancaman Aries tentang perceraian membuat istrinya menjadi lembut, dan berharap istrinya dapat melakukan hal itu juga kepada Aditya dan Rere.
Sesuai ucapan Lisna yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Putra sambungnya asalkan suaminya mengurungkan niat atau tidak berkata tentang perceraian lagi kepada dirinya.
__ADS_1