Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 167 Pemakaman Hans


__ADS_3

"Tenanglah Laurane... " Alexander menenangkan istrinya.


"Hans.... " Sekar memeluk Peti yang berisi jenasah Putranya.


Aditya sudah berada di kediaman Alexander pukul 8 pagi dan menyambut para tamu yang berdatangan untuk melayat.


Saat orang tua Hans datang dirinya hanya bisa menatap kedua orang tua Hans dan teringat dengan kematian mamanya. Aditya hanya bisa menunduk menahan rasa trauma yang dirasakan.


"Tuan Aditya"


"Pak Rafli... Teh Tya" saat Aditya menoleh ke arah mereka dan tya hanya tersenyum canggung dan Rafli menggandeng Tya ke arah Adit.


"Tuan Adit saya ikut berduka atas wafatnya Tuan Hans semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuk Tuan Hans"


"Adit... Semoga Suami Ayu di Terima amal ibadahnya dan juga di ampuni semua kesalahannya selama hidup"


"Terima Kasih Pak Rafli. Teh Tya..."


"Dimana Ayu Adit" Tanya Tya


"Ayu masih kritis di rumah sakit dan Jimmy masih dalam penanganan Dokter dia mengalami trauma sedang. Doakan kami bisa melewati ujian ini" Tya hanya menganggukan kepala pelan.


"Paman... Memang Jimmy dirawat dirumah sakit apa? Paman tahu tidak bibi hilang dia belum pulang sampai hari ini. Nenek nangis terus karena bibi belum pulang kata nenek ibu merahasiakan sesuatu" Tya menutup mulut Dion dan kedua pria dewasa menatap tya.


"kami belum siap memberitahu ibu kalo renia... "


Dion menatap ibunya yang bersedih lalu menatap Aditya bergantian kearah Rafli. Aditya mengajak keempatnya untuk mendekati Peti Hans dan mempersilahkan untuk melihat untuk yang terakhir kalinya agar mengalihkan pembicaraan tentang Rere. Aditya tahu yang dirasakan Tya.


Kedua orang tua Hans menatap dengan tajam ke arah Aditya dengan ekspresi tidak suka. Suara tangisan anak kecil terdengar dari pintu memanggil Papinya dan berlari lalu mendekat kearah peti Hans.


"Papi... Papi Bangun" Aditya memeluk dan menggendong keponakannya yang datang diantarkan oleh Riki.


Semua orang menoleh kearah Riki dan Alexander menatap marah ke arah Riki dan berjalan mendekat ke arah Riki dan berteriak


"Untuk Apa kamu datang kesini" Aditya mengerutkan dahinya.


"Maafkan saya tuan tapi Tuan Jimmy menangis karena ingin melihat Tuan Hans untuk terakhir kalinya"


Plakkkk


Tamparan keras mendarat dipipi Riki. Aditya menyerahkan Jimmy ke Tya dan mendekati Alexander dan Riki.


"Hentikan... Hari ini Pemakaman Hans sebaiknya turunkan amarahmu Tuan dan lakukan kewajiban kita untuk memakamkan Hans terlebih dahulu kita akan membicarakan ini secara baik-baik"


"secara baik-baik kamu bilang. Orang ini adalah penyebab dari Anak saya meninggal. Dia berkhianat dengan Ayu dan tidur dengan adikmu saat di Amerika dan Hans marah itu penyebab kecelakaan yang terjadi. Saya akan melaporkan ini semua kepihak berwajib dan Adik juga asisten kamu akan menerima apa yang seharusnya mereka Terima dan saya akan membatalkannya jika anak saya Hans bisa kembali hidup. Apa kalian bisa melakukan itu" Sahut Alexander dengan sangat marah.

__ADS_1


"Kalian keluarga Erlangga pulanglah kami tidak membutuhkan belasungkawa dari kalian dan Jimmy akan kami asuh dan tidak akan kami ijinkan cucu kami bertemu dengan pel*cur dari keturunan keluarga Erlangga itu"


"Jaga ucapan anda Tuan ini bukan kesalahan Ayu. tapi tanyakan kepada putra anda yang berada di dalam peti apa yang sudah dia lakukan terhadap Ayu"


"Riki tahan jangan membuat keributan, sebaiknya kita pulang" ucap Aditya


"Berani sekali kamu mengatakan hal kurang ajar kepada anak saya asisten Si*lan"


"Jimmy akan bersama Ayu karena dia yang berhak. Tuan Alexander anda jangan khuatir karena Hans memiliki keturunan lain dari selingkuhannya yang adalah Sekertarisnya sendiri. Ya... Wanita itu Hamil anak Hans" ucap Riki tajam


"Berani sekali kamu membuat keributan dan kekacauan disini" ucap Laurane istri Alexander.


"Jimmy kita pulang, Nak temui mami kamu"


"Tidka uncle Jimmy ingin melihat Papi di makamkan"


"Biarkan dia disini, sebaiknya kita yang pulang saja" Aditya menarik lengan Riki kasar.


"Tapi... Tuan" Riki menepis tangan Aditya dan membuat atasnnya menatap tajam.


"Mereka akan mempersulit Jimmy bertemu dengan Ayu"


"Kita akan urus hak asuhnya di pengadilan. Sekarang kita pulang banyak mata menatap kearah kita"


Aditya dan Riki pulang sedangkan Tya menggendong Jimmy yang sedang menangis dan memeluknya.


Aditya sudah memberikan tatapan mata seakan meminta untuk Rafli mendampingi Jimmy. Dengan kepergian Aditya dan Riki membuat Rafli mengerti akan tatapan Aditya tadi.


...****************...


Rian sudah memarkirkan Mobil di rumah sakit yang alamatnya sudah di kirimkan oleh Aditya. Rian berjalan kearah ruang rawat inap yang sudah diberikan oleh Aditya.


Rere sudah pindahkan oleh pihak rumah sakit setelah dirinya sadarkan diri dan di depan ruangan itu duduk seorang wanita paruh baya yang di kursi tunggu dengan wajahnya yang masih terlihat cantik mengingatkan Rian kepada mantan istrinya.


Rian membaca nama ruangan dan mengetuk pintu ruangan tempat Rere dirawat. wanita paruh baya itu menatap Rian yang berdiri didepan pintu.


"Maaf Pak anda mencari siapa" Rian menoleh dan keduanya saling menatap


"Apa ini ruangan Anggrek I. Saya ingin mengunjungi Renia Azahra Putra Pak Rabbas dan Bu Inah"


"oh... iya benar. Saya ingin tahu Anda siapa? "


"Saya Rian... Papa Aditya. Anda siapa... Apa Anda Bu Inah tapi saya rasa bukan" Rian mengingat lagi wajah bu inah yang sering datang ke rumahnya dulu untuk membantu Sherly mencuci dan setrika baju mereka.


"oh... Bukan. Saya Ria... oh ya silahkan masuk"

__ADS_1


"Terima Kasih"


...****************...


Pintu terbuka dan Renia yang sedang berbaring lemas melihat sosok pria yang sangat dia kenal dan di belakangnya ada Ria yang sedang berdiri mengikuti Rian.


"Nak... Renia. Masih ingat Saya"


"Eeehhh... Papa Rian" ucap Renia spontan saat melihat wajah yang tidak berubah walau sudah dipenuhi uban.


Rian tersenyum dan menganggukan kepala lalu berjalan kearah Rere lalu memeluk Rere yang sejak dulu sudah dianggap seperti putrinya sendiri.


"Papi tahu dari Aditya, Nak... semoga Renia cepat sembuh"


"iya Pa... Terima Kasih"


"Papa kenalkan itu Bu Ria dia sahabatnya Mama Sherly... Bu Ria perkenalkan ini Papa Rian suami Mama Sherly" Keduanya saling menatap dan berjabat tangan.


...****************...


Rafli dan Tya mendampingi Jimmy saat proses Pemakaman Hans. Dion mengusap pelan punggung temannya dan Bunga memandangi Jimmy yang menangis dalam pelukan Tya.


"Jangan sedih... Bunga juga tidak memiliki Mami. Mami meninggal saat melahirkan Bunga tapi alhamdulillah Papi baik merawat Bunga. Jangan menangis kata pak ustadz Jika orang tua kita meninggal cukup doakan saja supaya di tempatkan di surga karena doa anak sholeh dan sholehah pasti di dengar Allah"


"Iya... Jimmy jangan sedih ya... kamu tidak sendiri nanti Dion temenin main dan doakan saja Papi Jimmy supaya tenang di surga. kata Pak Ustadz semua yang hidup pasti meninggal hanya menunggu waktu saja"


Semua orang yang mendengar menatap dengan sedih kearah anak kecil yang sedang berjongkok di atas pusaran makam termasuk Alexander dan Laurane. Tya menutup mulut Dion dan meminta maaf kepada orang tuan Hans.


Tya merasa tidak enak dengan ucapan putranya meski itu benar tapi tatapan tidak suka dari Alexander terlihat dan Rafli mengerti saat Tya menoleh kearahnya.


Rafli meminta ijin pulang kepada orang Tua Hans dan ucapan Terima kasih terlontar dari mulut Laurane kepada pengacara muda yang sukses itu.


Rafli menggandeng tangan Tya dan menyuruh Dion dan bunga untuk jalan lebih dulu. Tya menarik tangannya dari genggaman Rafli.


Rafli tersenyum dan menggenggam tangan Tya kembali sebagian orang memandangi mereka dan wartawan mengambil gambar keduanya yang berjalan bersama anak-anak mereka.


"Pak Rafli... Tolong lepaskan saya malu dilihati banyak orang dan banyak kamera yang mengarah ke kita"


"Tidak apa itu justru bagus dan Saya jika diperbolehkan ingin bertemu dengan ibu untuk mengutarakan keinginan Saya Bu Tya"


"Tapi... Pak Rafli saya belum resmi bercerai pasti akan banyak orang yang menuduh kita berselingkuh"


"Berkas perceraian sudah didaftarkan 7 hari yang lalu dan dua minggu lagi proses sidang gugatan cerainya yang artinya kita tidak selingkuh karena kalian sedang proses pisah. Saya hanya ingin menunggu prosesnya selesai dan setelah masa idah saya ingin menikahi Bu Tya. Suami bu Tya tidak bersyukur mendapatkan bu Tya ya sudah saya ambil tapi dengan proses yang benar pastinya. InsyaAllah"


"Pak Rafli apa ini benar saya janda miskin... lulusan hanya sekolah menengah atas saja pekerjaan juga buruh pabrik malah sudah mengajukan risegn dan baru ingin memulai pekerjaan baru dengan berjualan makanan"

__ADS_1


"Itu yang membuat saya yakin ingin taaruf dengan Bu Tya dan secepatnya datang ke apartemen untuk bertemu dengan keluarga Bu Tya"


Mendengar itu Tya meneteskan air mata haru. Seorang Pengacara sukses ingin menikahi dirinya yang hanya janda miskin dari kampung, Hati Tya merasa sangat tersentuh dan bersyukur jika memang Rafli menjadi pengganti Didit suaminya yang dari awal menikah selalu berselingkuh.


__ADS_2