
Mobil yang dinaiki oleh Riki sudah sampai di Airport dan Riki keluar dari mobilnya untuk membawa Koper ke arah Lobby Airport dan menuju ke Pesawat yang akan dia naiki setelah cek tiket dan lainya.
Langkah Riki nampak tidak semangat karena apa yang dirinya perbuat pagi ini kepada Ayu, Kini dirinya sudah berada di pesawat menuju ke Bali. Mencoba untuk menutup mata akan tetapi bayangan tentang Ayu selalu membayangi.
Padahal semalaman tidak tidur karena menunggu Ayu yang sedang kacau suasana hatinya dan itu karena dirinya yang memberitahukan tentang Perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.
Maafkan Saya Ayu
Hanya kalimat itu saja yang menguasai pikiran juga hatinya. Sampai suara kepala Pramugari memberitahukan bahwa Pesawat akan lepas landas dan Riki memakai pengaman sesuai perintah pramugari.
...****************...
Dirumah sakit Zayn terbangun dan mendapati Papinya duduk dengan menggenggam tangannya lalu tersenyum kearah nya saat dirinya bangun.
"Papi... Papi kenapa baru kesini. Zayn cari-cari Papi dan menelpon papi tapi tidak di angkat" Putranya Terlihat Cemberut
"Sayang Papi Sibuk tapi jangan marah dan sedih lagi hari ini Papi dan akan mengajak Zayn bertemu Mami" Aditya mencium Putranya.
"Bertemu Mami... Horeeee... Sekarang Papi"
Zayn berkata dan selang infus yang menancap di lengan kanan nya terlepas karena gerakan yang dj lakukan Zayn karena sangat bahagia.
"Hati-Hati Nak, dan satu lagi kita hari ini akan pergi ke Amerika. Nanti Zayn dan Mami akan tinggal di sana untuk sementara waktu supaya Zayn mendapatkan pengobatan yang lebih baik nak" ucap Aditya mencoba untuk menjelaskan.
"Papi ikut dan kita tinggal bersama-sama di sana Papi" Tanya Zayn.
"Papi akan ikut selama tiga hari selanjutnya Papi akan kembali ke jakarta dan akan sering-sering jenguk Zayn" Aditya menjawab dengan lembut sambil tersenyum ke arah putranya.
"Yah... kenapa Papi tidak ikut saja bersama Zayn dan Mami, piiii... " Rengek Putranya yang kecewa dengan apa yang dijelaskan oleh Papinya.
"Kerja Papi ada di sini, Nak. dan kesehatan Zayn sangat penting apalagi Mami juga sakit. Kalian akan mendapatkan pengobatan yang terbaik disana Karena Papi Sayang dengan kalian"
Zayn mengangguk dan memeluk Papinya dan mencium pipinya dengan rasa sayang yang sangat besar. Zayn mengingunkan bertemu dengan Papinya selama ini dan orang yang dia rindukan berada di depannya tentu Zayn sangat bahagia.
"Kita temui Mami sekarang" ucap Aditya.
"Iya... " Senyum Zayn terlihat.
Dan bersamaan dengan itu Perawat datang membawa nampan obat dan Ayah dan anak itu hanya menatap ke arah suster.
"Suster Zayn sudah sembuh dan selang infusnya sudah Zayn lepas tadi. lihat nih, tidak sakit suster, Karena Zayn ingin menjenguk Mami jadi Zayn tidak ingin di pasang infus lagi" Jelas Putra Aditya kepada suster yang datang.
"Oh... Seperti itu ya, tapi boleh tidak suster cek keadaan Tuan Zayn terlebih dahulu" Tanya Suster.
"Boleh, Jangan lama-lama karena Zayn sudah rindu dengan Mami jadi Zayn ingin ke ruangan tempat Mami dirawat" Jelas Zayn.
"Iya.. Sippp" Sahut Suster dengan mengedipkan mata kanan nya.
Aditya hanya diam dan tatapannya terlihat datar dan Baby Sister yang dia sewa untuk menemani Zayn berdiri disamping Aditya.
Suster memeriksa keadaan Zayn menggunakan alat yang dia bawa. Zayn hanya diam mengikuti perkataan dari suster. Suster menyuruhnya untuk membuka mulut dan Anak berusia sembilan tahun itu menuruti apa yang di katakan oleh suster.
"Pinter banget ya Zayn dan nanti tunggu dokter untuk memastikan apa sudah sembuh atau belum"
"Ya. Baiklah Dokter tapi Zayn, Mami dan Papi tetap akan meninggalkan Rumah Sakit siang ini. Karena Papi akan mengajak kami ke Amerika. Benarkan Papi" Aditya hanya mengangguk dengan wajah datar.
__ADS_1
"Wahhh... Hebat ya Zayn bisa ke Amerika. Suster belum pernah kesana jadi sedih" Ucap Suster yang memang sudah dekat dengan Zayn meski baru dua hari berada di rumah sakit. Memang Zayn anak yang hamble dan ramah meski memiliki karakter yang tertutup dan pendiam.
"Papi Suster sudah selesai memeriksa Zayn sekarang Zayn ingin bertemu dengan Mami" Setelah Suster keluar dari ruangan rawat inap dimana Zayn berada.
Aditya menggendong Zayn dan mengusap kepala putranya pelan dan Baby Sister yang di tugaskan menjaga Zayn mengikuti Aditya dari belakang.
Saat Aditya keluar dari kamar rawat inap putranya, Terlihat Keponakan Ria yang sedang memata-matai merasa terkejut dan membelalkan matanya dan bertanya siapa anak yang di gendong oleh Pria Tampan yang saat awal bertemu dengan dirinya berkata akan menikah dengan wanita yang menjenguk tantenya akan tetapi mengapa sekarang terlihat sedang menggendong seorang anak laki-laki dan terlihat sangat dekat bahkan anak laki-laki yang dia lihat nampak memeluk Pria yang tadi menjenguk tantenya itu.
Kemudian Aditya memasuki ruangan Sisilia yang berada di samping ruangan rawat inap Putranya. Disana Sisilia nampak tersenyum dan merentangkan tangannya untuk memeluk putranya.
"Mami... "
"Zayn Sayang"
Mereka berpelukan setelah Aditya melangkah ke arah bangkar Sisilia dan menyerahkan Zayn ke dalam pelukan Sisilia.
"Hati-hati Sisilia, keadaan kamu belum membaik"
Sisilia mengabaikan Perkataan Aditya dirinya terus saja memeluk dan mencium Zayn melepas rindu selama dua hari tidak bertemu.
"Sayang... Bagaimana dengan Status Zayn yang masih tercatat di Panti Asuhan" ucap Sisillia.
"Saya sudah menyuruh Riki untuk mengurus Dokumen Pengalihan untuk Putra kita agar bisa kita bawa ke Amerika"
"Baiklah Jika Dokumennya sudah siap semua"
"Perkenalkan ini Susi yang akan menjaga kalian selama di New York" ucap Aditya
"Ini Sisillia, Mami Zayn kalian bertiga akan tinggal di NYC dan saya akan memberikan tambahan Bonus untuk kamu selama disana. Semoga kamu betah"
Baiklah, Tuan saya pasti betah karena ini pertama kali saya pergi keluar negeri dan demi keluarga harus di betahin Tuan" Susi Tersenyum dan Aditya mengangguk dengan wajah datar sedangkan Sisillia nampak tidak menyukai Susi yang terlihat Genit kepada Pria yang adalah Ayah kandung dari Putranya.
"Tunggu Dokter datang dan kita berangkat pukul 12 karena pesawat landing pukul 2 siang ini"
Sisillia mengangguk dan menyuruh Baby Sister yang di tugaskan untuk pergi bersamanya untuk membereskan Semua Barang baik milik Zayn ataupun dirinya agar saat dokter datang tinggal membawa saja dan Susi mengangguk.
Susi merapihkan seluruh Pakaian dan barang yang ada di ruangan Sisillia kedalam Tas dan berganti ke ruangan milik Zayn. sedangkan keponakan Ria hanya mengamati dari jarak jauh dirinya tidak beranjak dari tempatnya. Tidak lama suara Ponsel milik nya berbunyi
"Hallo Mi... "
"Kamu di mana Wenny cepat kembali kesini, apa kamu nyasar kenapa lama sekali padahal hanya ke kamar kecil"
"iya Mi, Wenny lagi ada di taman. Soalnya capek harus di dalam ruangan Tante Ria terus dari tadi" Sahut Keponakan Ria.
"Ya sudah tapi jangan kemana-mana, setelahnya kembali lagi kesini ok"
"Ok... Mi" Wenny menutup Ponsel yang dia miliki
Karena mengangkat Panggilan Telepon dirinya tidak melihat Dokter Willy masuk kedalam ruangan Sisillia. Setelah menutup Telepon Wenny kembali mengamati ruangan tempat Sisillia berada, dirinya jadi penasaran sebenarnya apa status Aditya sudah menikah atau duda dan apa.
"Siapa yang ada di ruangan itu apa wanita yang menjenguk tante Ria dan mungkin itu anak mereka tapi Pria itu jelas mengatakan akan menikahi wanita yang datang bersama untuk menjenguk tante. iiihhhh... Bingung amat ya. Apa mungkin pria ganteng itu sudah menikah berarti wanita yang menjenguk tante itu Pelakor ya. atau bisa juga Pria nya duda" Wenny berbicara sendiri.
Orang-orang yang berlalu lalang hanya menatap aneh Wenny yang berbicara sendiri dan dirinya bersembunyi di balik dinding yang tidak jauh dari ruangan rawat inap VVIP tempat Sisillia di rawat.
Setelah beberapa menit Aditya keluar dengan mendorong Sisillia dan Susi menggendong Zayn setelah di perbolehkan pulang oleh Dokter Willy sebagai Dokter kepala di rumah sakit milik keluarga Erlangga.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan Rumah Sakit Aditya berbicara pelan dengan Dokter Willy mengenai hasil test DNA tanpa sepengetahuan dari Sisillia yang nampak sedang bercanda dengan Mami nya.
Dokter Willy berkata maksimal dua minggu akan di serahkan hasilnya dan Aditya mengangguk mengucapkan Terima Kasih.
Dokter Willy setelah mengatakan itu lalu bergabung dengan Sisillia dan Putranya juga Aditya yang berjalan berdampingan dengan Dokter Willy yang akan menyampaikan bahwa keduanya sudah di perbolehkan untuk Pulang.
Zayn sangat senang karena akan di ajak ke luar negeri dan akan tinggal bersama kedua orang tuanya dan Sisillia menjanjikan akan berkeliling Kota NYC bersama Aditya sebelum Papi Zayn itu pulang ke Jakarta.
Sisillia di gendong oleh Aditya untuk duduk di atas kursi roda sedangkan Putanya di berikan kepada Susi dan Pengawal Aditya dua orang yang membawa Tas yang berisi Pakaian dan barang Zayn juga Sisillia untuk dibawa ke dalam Mobil.
Dokter Willy akan mengantarkan sampai tempat parkir dan saat pintu terbuka Betapa terkejutnya Wenny mendapati Aditya yang mendorong wanita yang di panggil mama oleh anak laki-laki yang di gendong oleh Pria yang dia mata-matai tadi dan Pria itu di panggil Papi.
Mulutnya di tutup dan dirinya bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat oleh Aditya, Tidak jauh dari sana berdiri Cantika yang akan ke ruangan Geri yang mana dirinya dari Cafe setelah selesai makan.
Baik Aditya maupun Cantika diam mematung saling pandang satu sama lainnya. Aditya tidak menyangka Cantika melihat dirinya bersama Sisillia juga Putranya, Detak Jantung Aditya seakan berhenti dan tangannya melepaskan dorongan dari kursi roda yang mana Sisillia duduk disana.
Aditya menempatkan Sisillia dan putranya di ruangan VVIP rawat inap jauh dari ruang ICU dan Aditya tahu dengan jelas bahwa Geri hanya di tempatkan di ruangan Standar di rumah sakit itu yang berjarak jauh dari tempat anak dan juga selingkuhannya berada tapi kenapa justru bertemu juga.
"Tika... "
"Wow Aditya... Apa ini... Siapa Mereka" Cantika mendekati Aditya dengan tangan dilipat di atas dadanya sedangkan Aditya hanya terdiam.
"Papi.. Papi.. kenapa berhenti katanya kita akan ke Amerika dengan Mami nanti ketinggalan Pesawat kalo tidak cepat pi"
Cantika menoleh kearah Zayn dan tersenyum. Aditya menatap dingin dan datar dengan wajah yang sulit untuk diartikan. Aditya mengabaikan putranya dan hanya menatap Cantika.
"Hallo anak Ganteng... siapa namanya"
"Zayn Tante"
"apa ini Mami dan Papi Zayn" ucap Cantika ramah kearah Zayn yang mengangguk.
"Susi, Bryan bawa mereka kedalam mobil dan tunggu saya" ucap Aditya dengan tatapan yang masih mengarah ke Cantika yang masih melipat tangannya dengan tatapan menatang.
"Kasihan Renia dia melepaskan Pria Baik hanya untuk Pria yang memiliki wanita lain dan juga seorang anak. Bagaimana Perasaan dia nanti"
Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Cantika yang membuat Aditya merasa sangat marah dan membuat rahang nya nampak mengeras. Aditya menarik kasar lengan Cantika dan berkata dengan penuh penekanan dan amarah
"Kamu akan sangat menyesal jika berani mengataka mengenai ini kepada Renia dan dengan sahabat kamu memilih saya bukankah itu suatu keuntungan untuk dirimu yang selalu mengejar cinta Geri yang ternyata mencintai Renia" Aditya berkata dengan senyum sinis dan tatapan mata terlihat dingin.
"Ya... Untuk apa saya mengatakan apa yang kamu simpan untuk mendapatkan Renia... Itu memang keuntungan untuk saya dan kamu tahu saya akan menikmati rasa sakit yang akan Renia dapatkan jika mengetahui Pria yang dia tunggu ternyata membohongi dirinya"
Cantika tersenyum dan melepaskan lengannya yang di cengkram kuat oleh Aditya. Cantika menyuruh Aditya tetap tenang karena dirinya akan merahasiakan itu dan tidak akan peduli dengan Rere jika kelak sahabatnya itu mengetahui fakta tentang kebohongan Aditya.
Lalu Cantika Pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang ada didalam pikiranya dan Aditya hanya menatap kepergian Cantika dengan perasaan takut dan kalut. Tanpa Aditya sadari Wenny mengikuti dirinya dan sedang menutup mulutnya karena mengetahui fakta tentang permasalah yang terjadi antara mereka.
"Ya Allah Kasihan sekali wanita yang bersama dirinya saat menjenguk tante Ria ternyata dia dibohongi oleh Pria itu, Bagaimana jika wanita itu mengetahui Faktanya ya"
Aditya melangkah dengan langkah panjang mendekati Mobil Mewah yang mana Sisillia juga Putranya berada. Aditya nampak kesal dan marah.
Saat Bryan menanyakan apakah harus berangkat sekarang atau nanti Aditya hanya diam dan sisillia yang duduk di samping Aditya yang justru menjawab untuk segera ke Airport saja tidak perlu ke Apartemen karena untuk segala sesuatunya pasti sudah siap karena asisten Riki yang telah mengurusnya.
Aditya hanya menatap luar kaca mobil pikirannya masih mengingat dengan jelas perkataan dari Cantika dan tentu itu sangat mengganggu dirinya
Apakah Sisillia akan mengatakan kepada Renia dan apa Renia akan memaafkan saya nanti
__ADS_1
Aditya bermonolog didalam hati dan saat putranya bertanya tidak dirinya jawab. Putranya merasa kesal dan cemberut dengan duduk disamping Susi dengan melipat tangannya di atas dada.
Sisillia yang mengetahui itu menepuk pelan bahu Aditya dan memberikan kode jika putranya terlihat kesal kepada dirinya.