
"Sayang... " Lisna terdiam dan mendekati suaminya.
"Saya... ingin memberi pelajaran kepada Riki. Dia ingin menghancurkan rumah tangga putri kita. Maafkan. Saya belum sempat menjelaskan tentang berita yang sangat besar ini. Karena Saya mengkhawatirkan keadaanmu Sayang"
"Jangan menyakiti Putra-Putra Saya Lisna, Jika kamu marah dan benci dengan keadaan pernikahan kita jangan bawa anak-anak ini yang tidak bersalah. Limpahkan semua kemarah dan kekecewaan kamu hanya kepada saya. Jika kamu tidak bisa berdamai dengan keadaan lebih baik kita berpisah saja"
"Apaaa... Berpisah" Lisna merasa sangat kaget dengan ucapan Aries.
"Oh... Ya Saya tahu supaya kamu bisa menikah dengan wanita yang kamu temui hari ini bukan. Hebat sekali. Anak dan Papi sama saja memiliki sifat pengkhianatan. Tidak heran kamu dan anak-anakmu membuat skandal memalukan" Lisna marah dan melupakan suaminya yang memiliki sakit jantung
"Jaga ucapan kamu Lisna dan apa kamu mengikuti Saya hari ini" Aries menatap tajam istrinya
"Papi... Tolong tenanglah. Ini hanya salah paham kita bisa bicarakan ini baik-baik Tolonglah Pi. Nyonya Lisna Saya minta maaf saya akan membereskan kesalahpahaman ini. Saya Janji. Tolong tenanglah Papi masih belum baik kondisinya" Riki memotong perdebatan antara suami dan istri yang ada didepannya.
"Diam kamu Riki, Kamu hanya orang luar tidak seharusnya kamu ikut campur dalam masalah kami. Urus kelacauan yang kamu lakukan dan bersihkan nama baik Putri saya yang sudah kamu rusak mengerti!!!" Teriak Lisna.
Keadaan Kantor sudah sepi terlebih lantai dimana kantor Riki berada. Seluruh Staff sudah pulang tidak ada yang menambah jam kerja yang tersisa hanya petugas kebersihan dan keamanan gedung. Mereka berdua yang mendengar keributan yang ada di ruangan kerja Riki.
"Nyonya Saya mohon, tenanglah. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya Janji akan membereskan semua pemberitaan buruk yang sedang viral dan saya akan berusaha untuk mengembalikan nilai saham Perusahaan yang turun. Saya akan bekerja keras untuk itu"
"Baiklah saya akan tunggu kerja kamu" Lisna berkata dengan menatap tajam Riki lalu beralih menatap Aries dan berlalu untuk pulang.
Lisna melangkahkan kaki menuju Lift Khusus untuk Petinggi Perusahaan dan di dalam Lift Lisna menangis dan menyandarkan tubuhnya di besi yang ada di belakangnya.
Hatinya sangat hancur dengan perlakuan Aries yang sangat berbeda dengan apa yang dia lakukan kepada wanita yang dia lihat sedang bersama suaminya tadi.
Dulu Sherly sekarang wanita itu. Mengapa Aries tidak bisa melihat dirinya walau hanya sedetik dengan tatapan cinta dan kehangatan. Begitu tidak berharga dirinya di mata Aries.
Sedangkan Aries menatap Riki dengan tatapan tegas dan dingin lalu bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud yang Riki ucapkan kepada istrinya.
Riki meminta maaf dan meminta Ayah angkatnya untuk tetap tenang dan Riki akan menjelaskan apa yang terjadi secara pelan supaya kondisi jantung Aries tidak berdampak.
Aries tahu ini masalah serius karena itu dirinya mencoba mengikuti apa yang dikatakan Riki dan sebelumnya meminun air putih yang di berikan Riki kepada dirinya.
Perlahan dengan perkataan yang lembut Riki menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya, Hans dan juga Ayu di Apartemen Rere.
Kemudian berita viral mengenai kejadian malam itu dan berita yang yang sedang terjadi hari ini yang mengakibatkan saham perusahan milik Erlangga Group turun drastis.
Aries mengangguk dan mengerti dengan semua cerita Riki dan dirinya menyentuh dada yang mulai merasa sakit. Dia menoleh kearah Pintu dan berkata pelan
"Ini yang membuat Lisna marah" Lalu menoleh kearah Riki.
"Nak, Maafkan istri Papi. Jangan kamu ambil hati apa yang dia katakan. Lisna hanya merasa kesal dan lelah dengan semua keadaan yang terjadi"
"Saya tidak marah Papi. Saya juga sudah memaafkan Nyonya Lisna"
Setelah mendengarkan perkataan dari Riki dirinya tersenyum dan segera meminta untuk mendatangi apartemen Rere. Aries berpikir Saat ini wanita yang dicintai oleh Putranya pasti sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Renia pasti sangat terpukul dan Tentang Lamaran itu Bagaiamana Riki. Apa Renia akan membatalkannya atau melanjutkan rencana mereka. Apa Aditya sudah tahu akan hal ini" Aries bertanya kepada Riki
"Saya tidak tahu Papi. Pak Adit berada di Amerika dan disana sekarang sekitar pukul 4 pagi. Pak Adit mungkin masih tidur dan sepertinya dia belum mendengar atau mengetahui berita ini"
"Ya. Sebaiknya kita bicarakan ini dengan Renia. Semoga Gadis ini tidak membatalkan Rencana lamaran minggu ini Setelah Saya berbicara dan membujuk Renia"
"Semoga Bu Inah dan Keluarga Bu Renia mau mendengar kita pi" Aries mengangguk.
"Ya sudah sebaiknya kita segera ke Apartemen Renia Sekarang" Aries dan Riki melangkahkan kakinya ke Pintu untuk segera ke Apartemen Renia.
...****************...
Aditya tidak bisa tidur semalaman karena Memikirkan Renia yang tidak ingin berbicara dengannya dan Aditya mengingat perkataan apa yang disampaikan oleh Sisilia tentang tanggung jawab kepada putranya juga agar Aditya melepaskan Renia dan membiarkan wanita yang dia cintai mendapatkan Pria Lain.
"Aaaahhhh"
__ADS_1
Aditya berteriak dan melemparkan Botol alkohol yang dia minum kearah dinding. lalu menarik rambutnya sendiri dengan duduk diatas lantai dan kemudian menyandarkan kepalanya diranjang tempat tidur. Aditya berteriak keras dan terdengar sampai kamar Sisilia dan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya dan menoleh kearah pintu.
Sisilia kemudian kembali menatap Putranya lalu mencium Zayn dengan lembut. Raut Wajah Sisilia tidak dapat diartikan. Sisilia mengambil Ponselnya lalu membaca berita online yang sedang terjadi di indonesia.
Sisilia tersenyum melihat berita yang dia baca kemudian Sisilia duduk dan serius membaca berita tentang turunnya saham Perusahaan Erlangga karena pemberitaan itu.
Sisilia menutup mulutnya dan menatap langit-langit kamarnya dan mengingat teriakan Aditya.
"Apa Aditya sudah mendengar tentang berita ini. Dan Kenapa berdampak kepada Perusahaan Erlangga. Ya Allah saya tidak memperkirakan ini" gumam Sisillia pelan dengan mata masih tertuju pada Ponsel miliknya.
"Tapi Saya yakin Aditya bisa menyelesaikan masalah Perusahaan yang terpenting, Saya bisa menyingkirkan Renia dari hidup Aditya dan juga memberi pelajaran kepada Lisna. Dengan berita-berita ini Saya Yakin Nyonya besar yang angkuh itu sedang merasakan hidupnya tergoncang. Dan Saat Papi Aries mengetahui ini semua dirinya yang sangat menyayangi Putranya Akan mati karena serangan jantung. Dan Lisna akan sangat hancur... "
Sisillia tersenyum dan menaruh kembali Ponselnya diatas nakas tempat tidurnya. Lalu kembali memeluk putranya dan juga mencium Zayn dan kembali tertidur. Zayn masih tertidur meski suara teriakan marah dan kesal Aditya terdengar sampai di dalam kamarnya.
...****************...
Dina membujuk Rere untuk ikut bersama dengannya untuk menemui sahabat kuliahnya yang adalah seorang Dokter. Mereka Janji bertemu karena sahabatnya itu baru pulang dari Surabaya.
Sahabat dina menikah dengan Pria asal Surabaya dan setelah menikah dirinya ikut bersama dengan suami untuk tinggal di Surabaya dan bekerja dirumah sakit yang ada disana.
Dirinya sedang cuti dan sengaja mengunjungi orang tuanya di jakarta. karena lama tidak bertemu maka Dina meminta temannya untuk bertemu.
Dina mengajak Rere awalnya Rere tidak bersedia ikut akan tetapi Dina memaksa karena tidak mungkin meninggalkan sahabatnya sendiri dikantor yang sudah kosong.
Dina meminta agar cepat meninggalkan ruangan kerjanya karena takut dicurigai karena hanya tinggal dirinya juga Rere saja dilantai gedung kantor Rere.
Akhirnya keduannya meninggalkan kantor menggunakan Mobil Rere. Mereka berdua sudah sampai di tempat yang sudah disepakati oleh Dina dan sahabatnya yang profesi sebagai Dokter itu.
"Haiii... Dina Gw disini Din"
"Heiiii.... Cindy. Sorry ya gw ngaret. Banyak kerjaan gw" ucap Dina sambil memperhatikan giginya yang rata dan putih.
"oh Kenalin ini Rere Atasan gw" Rere berjabat tangan lalu melirik Dina.
"iya Terima Kasih" Jawab Rere dan Dina bersamaan.
Suara Ponsel Rere berdering kembali tapi tidak diangkat oleh Rere karena tahu itu dari Aditya. Cindy menatap Rere lalu beralih ke Dina. Cindy tahu tentang berita viral mengenai Rere.
Suara Ponsel berdering kembali dan Rere mengambil ponsel dengan kesal dan tanpa sengaja menarik obat yang digunakan Aditya saat kekasihnya sakit dan terpaksa menginap di Apartemen miliknya.
Obat Penenang yang digunakan Aditya saat dirinya merasa Depresi menggelinding kearah Cindy.
"Maaf... " ucap Rere lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"oh... tidak masalah. ini... eh tunggu sebentar"
Saat melihat nama dari obat yang akan diserahkan kepada Rere dan mengamati lalu membuka tutup botolnya dan mengambil satu obat didalamnya dan membelalakan matanya.
"Kenapa..." Sahut Dina dan Rere.
"Apa ini obat Lu konsumsi Rere"
"Tidak" Rere menjawab dengan menggelengkan kepala lalu saling menatap dengan Dina.
"Memang ada apa jangan bikin kita bingung Cindy dan memang ini obat siapa Rere"
"Memang kenapa" Sahut Rere mengabaikan pertanyaan Dina sahabatnya.
"ini obat memiliki efek yang sangat besar dan tidak boleh dikonsumsi oleh Pasien"
"Maksudnya apa ini semacam obat yang dilarang digunakan"
"Bisa di kategorikan begitu, ini obat awalnya diberika untuk seseorang untuk obat penenang akan tetapi setelah dikaji oleh para Dokter ternyata memiliki efek candu dan mengakibatkan orang akan Depresi berat dan lebih ke tempramental dan bisa menyakiti dirinya sendiri bahkan bisa jadi gila jika di konsumsi secara berkelanjutan"
__ADS_1
"Apa... " Rere sangat syok.
"ini obat siapa. lu Rere. Jangan karena masalah yang lu hadapi lu sampe beli obat penenang seperti ini. Ada gw Rere"
"Apaan si Lu Dina. itu Obat milik Mas Aditya"
"Apaaaa..." Ucap Dina dan Cindy bersamaan.
"Mas Aditya... Memiliki Trauma Besar atas kematian Mama Sherly dan Sisilia yang menjadi Psikiater Pribadinya memberikan Obat ini"
"Apa Psikiater. Apa dia berprofesi juga sebagai Dokter Rere" Tanya Cindy.
"Bagaimana Ceritanya" Tanya Dina
"Iya... Sejak usia Mas Aditya 17 Tahun dia dirawat oleh Sisilia dan... " Rere menangis tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Saya rasa saya mengerti" Balas Cindy.
"Maksud Lu Apa Cindy" Dina bertanya
"Aditya bergantung kepada Sisilia. Berarti bisa jadi hubungan mereka terjalin sejak dulu saat Pak Aditya Remaja. Apa mungkin ada pelecehan terhadap Pak Aditya atau suka sama suka" Jelas Cindy dan dari bawah Dina menendang kaki Cindy.
"Aduhhh..." Dina menatap tajam Cindy.
"Maaf Rere... Tapi Jika benar telah terjadi paksaan kepada Pak Aditya saat remaja berarti itu melanggar hukum dan juga kode etik tapi jika mereka sama-sama suka dan cinta kenapa Obat ini diberikan kepada Pak Aditya. Padahal semua Dokter tahu jika Obat ini dilarang untuk di gunakan kepada Pasien. ini janggal dan aneh. Apa Motifnya jika benar dan saya maaf sebelumnya tahu dari media tentang berita viral kalian" Cindy menjelaskan karena memang menurut dirinya harus memberitahu Rere.
"Apa obat ini sangat berbahaya" Tanya Rere dengan suara lemah
"Sangat. Efek Jangka panjang bisa membuat pengguna bisa mengalami kerusakan saraf dan otak. Dan secara psikis akan menderita Panik dan ketakutan yang sangat besar" Balas Cindy
"Rere mungkin ini jawaban dari Allah atas apa yang kamu hadapi Mungkin sebaiknya kamu cari tahu dulu. Rere mungkin kamu harus membantu Pak Aditya untuk keluar dari pengaruh Psikiater Pribadinya itu"
"Dina... Saya tidak tahu saya bingung dengan apa yang terjadi" Rere menangis.
Dina menatap Rere dan beralih menatap Cindy. Dina memang mempertemukan Rere dengan Dina karena takut Sahabatnya mengalami Trauma setelah apa yang sedang terjadi.
Dina menelpon dan menceritakan tentang Rere kepada Cindy menurut yang dia ketahui. Karena Rere memiliki karakter yang introvert jadi tidak semua Rere sharing kepada dirinya dan pertemuan ini sudah tepat,
"Lu kapan pulang Cindy" Dina mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mungkin beberapa hari lagi"
"Bisa ga untuk sementara lu tinggal di jakarta bantu sahabat gw. Please dia butuh konseling dan pendamping untuk masalah ini" Dina dan Rere saling pandang.
"Jangan merepotkan lu tenang aja gw baik-baik saja Dina. oh...iya Cindy Terima kasih informasinya. Saya sepertinya ingin pulang. gw antar lu atau bagaimana Dina. Sorry banget gw merasa lemas dan tidak tahu harus apa sekarang"
"lu sebaiknya gw antar ke apartemen lu deh gw khuatir lu kenapa-kenapa Rere. biar nanti pulangnya gw naik mobil online"
"ga usah gw baik-baik aja. harusnya gw yang antar lu Dina"
"Lu bawa mobil sendiri Rere" Tanya Cindy dan dijawab anggukan kepala.
"Sebaiknya lu anter deh Dina nanti gw ikuti dari belakang. ntar lu pulang sama gw"
Tatapan mata Cindy dapat diartikan oleh Dina dan dia setuju lalu Rere juga ikut dengan apa yang dikatakan oleh Cindy.
Ketiganya berlalu setelah Dina membayar Bill makan yang dipesan oleh mereka. Rere dan Cindy ingin membayarkan tapi ditolak dengan alasan Dina yang mengajak mereka.
Lalu Ketiganya meninggalkan Resto yang ada di Mall lalu menuju ke Parkir dan Dina membawa mobil Rere lalu Cindy mengikuti dari belakang mobil Rere. Dan didalam Mobil Rere hanya menangis mengingat apa yang dijelaskan oleh Dokter yang adalah sahabat Dina semasa Kuliah.
"Rere yang sabar lu kuat makanya Allah kasih Cobaan seperti ini ke lu. Jangan sedih Rere gw yakin lu bisa menghadapinya"
"Gw hanya capek Dina" sahut Rere dengan menangis.
__ADS_1