
Rere ingin pergi ke rumah sakit sekarang akan tetapi melihat kondisi Rere membuat Ibu dan Tya melarangnya.
"Ini Sudah malam, Rere harus dengarkan apa kata ibu, mengerti ya. Nak"
"Tapi Bu, Renia hanya ingin melihat keadaan Geri saja"
"Ya.Tapi keadaan Rere saat ini juga sedang tidak Baik-baik saja" jawab Bu Inah yang mengerti akan kegundahan hati Rere.
"Pergilah Tidur, Nak. ini sudah malam besok Rere sudah mulai bekerja. Pulang Kerja Rere sudah sedikit tenang Rere bisa menjenguk Geri. Nak, Jangan Paksakan Malam ini pasti Geri juga akan mengerti" Jelas Bu Inah dengan membelai punggung Putrinya.
Renia menurut dengan apa yang di katakan oleh Ibu nya dan memasuki kamar untuk mengurung diri bukan untuk tidur, Karena dirinya tidak bisa tidur memikirkan rasa sakit yang pasti dirasakan oleh Geri
Flasback
"Rere besok pagi gw ke Kontrakan Lu, ya."
"Mau apa sih, Gw Sibuk"
"Ya Allah Sibuk apa sih Rere. gw pengen ajak lu Jogging"
"Gw mau jualan di Car Free Day"
"Haaaa... Jualan di Car Free Day. Lu Mau jual apa? Rere Cantik"
"Hijab sama Piyama juga Aksesoris"
"Sama siapa dan nanti yang bakal bantu beresin memang ada"
"Gw sendiri aja bisa. santai aja kali"
"ya udah tunggu gw bakal bantuin lu. jangan tinggalin gw besok pagi. ya Rere Sayang"
"iiihhh... Apaan si sayang-sayang ga jelas banget"
"Hahaha... Emang gw sayang sama Lu"
"Ya. udah Gw ngantuk bye... besok mau jualan"
"Mimpi Indah ya Cantik"
"nama gw Renia bukan Cantika"
"iihhh... Apaan sih yang ga jelas itu lu"
"Lu yang ga jelas, dari tadi panggil cantik. cantik... udah tahu nama gw Renia dan nama panggilan gw Rere. bukan cantik. N G E R T I" penuh penekanan di akhir kalimat nya.
"iya Rere Cantik" Geri menggoda.
"ihhh... dibilangin masih aja ga ngerti. ya udah Bye"
Rere mematikan Ponselnya secara tiba-tiba dan Geri diseberang sana hanya terkekeh dan menggelengkan kepala dengan sikap Jutek Rere kepada dirinya.
Geri tersenyum saat menatap photo Rere yang dirinya ambil saat mengantar Rere ke acara Pernikahan Sahabat Rere yang bernama Dina.
"Rere... Kamu sangat Cantik. Sayang dan Semoga Allah menjadikan kita bersama sampai akhir usia" Doa Geri untuk masa depan hubungannya bersama Rere.
Geri menaruh Ponselnya ke Nakas dekat ranjang tempat tidur dan menutup Matanya untuk segera tidur karena akan bangun pagi untuk menemani Rere berjualan di Car Free Day begitu juga Rere yang juga telah menyimpan Ponsel di Nakas dekat Ranjang tempatnya tidur dan menutup mata untuk beristirahat karena besok pagi harus memulai aktivitas nya dengan penuh semangat.
Suara Adzan terdengar dan membangunkan Rere untuk dapat menunaikan Sholat Subuh. Setelah Selesai Mandi dan Sholat lalu Rere membersihkan sebentar Rumah nya dan memakan Roti Tawar yang ada di meja dengan Selai Nanas yang dia buat sendiri kemudian dirinya juga membawa bekal.
Beberapa Helai Roti dan Botol Kecil Selai juga Air Putih dan Teh Kedalam Tas Ransel lalu membawa ke dalam Mobil yang mana di dalam mobil sudah ada Barang Jualan Milik Rere yang selalu dia bawa saat bekerja juga kemana pun.
Karena Rere memang sering mengikuti Bazar atau Pasar Dadakan untuk sekedar menjual Hijab dan Piyama juga Aksesoris sebagai kerja sambilan setelah pulang dari kantor atau saat weekend supaya tidak repot membawanya.
__ADS_1
Rere membuka Gerbang Kontrakan di mana dia tinggal dan menaruh Tas Ransel berisi Makanan kedalam Tas dan mengeluarkan Mobilnya lalu menutup kembali Pintu Gerbang.
"Rere... Rere"
Suara yang dia kenal memanggilnya beberapa kali Saat Rere ingin masuk kedalam mobil membuat Rere menoleh Ke arah suara. benar saja itu Suara Geri sahabatnya yang datang pagi untuk ikut berjualan dan saat mendatangi kontrakan Geri membawa Motor Sport miliknya.
"Kenapa Lu di sini Geri"
"Gw Mau ikut Lu Jualan Baju sama Hijab, Gw Titip Motor Gw ya di Kontrakan Lu. Buruan buka Gerbang dan masukin motor punya gw ke kontrakan Lu"
"iiihhh... Ngapain sih. Ngerepotin banget, Mana udah siang gini. padahal gw mau jualan kenapa Lu mesti kesini sih"
Rere nampak kesal dengan tangan yang membuka pintu gerbang kemudian Geri membawa Motor nya masuk ke dalam kontrakan Rere dan kali ini Geri yang membawa Mobil Rere ke Car Free Day.
"Orang Mau di bantu ko malah ngomel dasar cwe aneh" Gerutu Geri yang masih bisa di dengar oleh Rere. wanita itu hanya menatap dengan wajah sinis.
Sesampainya di tempat Lokasi untuk Jualan Geri membantu Rere membereskan Barang Jualan Rere dan merapihkan nya di Bawah menggunkan Plastik Transparan untuk mendisplay barang yang Rere jual dan untuk Piyama dan beberapa Hijab ada yang di gantung dan ada juga yang masih di dalam Mobil.
"Bu... Silahkan di Pilih. Hijab nya 100 rb dapat 4 dan Piyama Motif nya 35 ribu satu pasang" Teriak Geri dan Rere hanya tersenyum melihat Geri yang terlihat tampan tapi semangat untuk berjualan tidak terlihat malu.
"Lu ada bakat Geri jadi penjual Baju, Keren juga. Semangat Geriii"
Rere dan Geri mulai berjualan, Ntah karena murah atau tampang Geri dan Rere yang terlihat tampan dan cantik dengan usia saat itu 25 Tahun dan Rere 24 tahun membuat jualan mereka laris banyak yang membeli membuat Geri nampak kesulitan dalam melayani.
"Sabar ya... Penjualnya ga kemana-mana ini. Hahahaha... Sabar. Ok" ucap Geri dengan becanda.
Rere menggelengkan kepala dan tersenyum ke arah Geri. Mereka keluar Pukul setengah Enam Pagi dan selesai pukul Sepuluh siang.
"Waduh Laris jualan nya nih Bos. gw dapat Bonus apa" Tanya Geri sambil makan Roti yang dibawa oleh Rere.
"Nanti gw kasih uang ya Geri. Makasih Banyak Lu Bantuin Gw"
"Diihhhh... Uang ga mau. Uang gw Banyak Sayang. Gw Mau Bonus Cinta dari Lu"
"Alhamdulillah Geri dapat Enam Juta pagi ini, Gw kasih lu Lima Ratus Ribu Mau ya" Rere berkata dengan tidak enak karena hanya memberi sedikit uang.
"Dihhh... Apaan sih buat lu semua aja sayang. Gw cuma bantuin lu aja sambil cuci mata Haaaa... "
"Dasar Genit" Sahut Rere sambil. memukul kembali sahabat nya itu.
"Gw bilang gw ga mau duit, Lu untung nya di simpan aja buat sewa Ruko biar bisa Punya Toko Sendiri Rere dan lain nya bisa beliin Bahan-bahan buat lu jual lagi"
"Terima Kasih Geri lu Sahabat Terbaik Gw" Geri memeluk Rere dan keduanya kembali memakan bekal yang Rere bawa dari Rumah.
FLASBACK SELESAI
Rere menangis di atas Ranjang sambil memandangi Photo kebersamaan nya dengan Geri selama Sepuluh Tahun, Ntah Kenapa hatinya merasa sakit dan juga merasa bersalah dengan apa yang dia sampaikan kepada Geri.
Padahal dirinya berharap Geri mengerti keputusan yang dirinya berikan tapi nyata nya Geri sangat terpukul dan merasa sakit dengan apa yang Rere ucapkan.
Rere merasa Cantika wanita yang tepat untuk Geri selain mereka bersahabat juga karena Cantika sangat mencintai Geri.
Rere mengusap air mata nya dan ingin merasa tenang karena dirinya bukan hanya mengurusi masalah cinta saja akan tetapi keluarganya juga membutuhkan kehadiran dirinya terlebih Tya yang sedang merasa hancur karena perselingkuhan suaminya.
Juga kedua kakak laki-lakinya yang memang masih harus dia bantu terlebih untuk masalah biaya sekolah kemudian Arsyila yang masih baru belajar bisnis Cake yang harus tetap dia dampingi.
Rere memutuskan untuk tidur karena besok pagi harus bekerja dan sepulangnya bekerja, dirinya harus menjenguk Geri di Rumah Sakit. Sebelum Tidur, Rere mengirimkan pesan kepada Cantika
(assalamu'alaikum Cantika, Maaf ganggu waktu tidur lu. Hanya ingin kasih tahu Geri masuk ke rumah sakit dan Gw dapat info karena pihak rumah sakit yang menghubungi gw tadi dan gw juga udah kasih tahu keluarga Geri)
(Kenapa lu baru kasih tahu gw sekarang Rere dan apa yang terjadi itu semua karena salah lu. Jika terjadi sesuatu dengan Geri gw ga bakal mau maafin Lu)
Rere membaca pesan yang dikirim sahabatnya itu akan tetapi memutuskan untuk tidak membalas nya karena tidak ingin menyulut amarah Cantika lebih besar lagi.
__ADS_1
Rere memutuskan untuk menaruh Ponselnya kembali di atas nakas dekat tempat tidurnya dan air mata Rere mengalir mengingat pesan balasan dari Cantika dan Rere memang setuju, Jika apa yang terjadi pada Geri sekarang semua karena ulah dirinya.
Mendapatkan Pesan dari Rere tentu saja membuat Cantika merasa kaget dan syok oleh karena itu segera Cantika mengambil Tas miliknya yang berada di atas meja, tanpa pikir panjang Cantika bergegas ke rumah sakit, Cantika tidak peduli waktu sudah menunjukan pukul Sepuluh Malam yang ada di pikirannya hanya keadaan Geri.
Dengan kencang Cantika melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Dua Puluh Menit akhirnya Cantika sampai di Bassment Rumah Sakit dan memarkirkan mobilnya disana dan menuju Lift untuk ketempat informasi menanyakan ruangan Geri karena dirinya belum mengetahui ruangan Geri di Rawat karena hubungannya dengan Rere buruk sekarang jadi dirinya tidak bisa menanyakan hal lebih saat di beritahukan bahwa Geri dilarikan ke rumah sakit.
Setelah Lift terbuka Cantika segera bergegas ke tempat informasi dan menanyakan Pasien atas nama Geriyanto Eko Wardoyo berada diruangan mana.
Setelah petugas.mengecek di system informasi, nama yang di sebutkan tadi masih berada diruangan ICU, segera Cantika berlari ke ruangan yang di sebutkan oleh petugas rumah sakit.
Saat ingin memasuki ruangan ICU Cantika melihat Aditya dan Riki sedang berbincang di koridor rumah sakit yang tidak jauh dari ruangan ICU.
“Apakah itu Aditya, sedang apa dia disini. Apa Geri dan Aditya terlibat perkelahian kembali, Apa karena itu Rere menghubungi Saya tadi” gumam Cantika di dalam hatinya.
Dan saat akan mendekat dari ruangan ICU keluar Kedua orang Tua Geri memanggil dirinya.
“Cantika, Nak"
"Geri…” Bu Sri mendekat dan memeluk wanita yang diketahui memiliki perasaan dengan Geri itu.
“Bu. Apa yang terjadi dengan Geri” Tanya Cantika yang mengurungkan niatnya untuk menghampiri Aditya dan Riki.
“Geri di larikan oleh petugas Café yang ada di dekat pantai, Karena Geri tidak sadarkan diri setelah Mabuk, Padahal selama ini Geri tidak pernah menyentuh minuman beralkohol tersebut"
Bu Sri terhenti dan berkata kembali
"Bagaimana Putra saya sampai meminumnya”
Cantika mendengarnya merasa bersalah karena tadi dirinya mengikuti Geri dan melihat memang benar Geri ada di dekat pantai terlihat sangat sedih dan kacau keadaannya saat itu.
Cantika merasa menyesal kenapa tidak menemani Geri atau menguatkan Hati Geri pada saat itu, Kenapa dirinya justru meninggalkan Geri dan memilih untuk Pulang dan mengurung diri di dalam kamar.
“Sudahlah Bu kita doakan saja Geri semoga Putra kita tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya” Ucap Pak Yanto.
“Nak Cantika tahu Geri dirumah sakit dari siapa” Tanya Pak Yanto
“Rere mengirimkan Pesan kepada saya” Pak Yanto mengangguk.
“Haaaa… Wanita Pel*cur itu mengirimkan pesan kepada Cantika dan juga Bapak karena ingin lepas tanggung jawab” Bu Sri berkata dengan sedikit keras.
“Bu… Jaga bicara nya jangan Sembarangan mengucap Jika sampai Nak Rere dengan bagaimana” Pak Yanto mengusap punggung dengan menasehati istrinya.
“Biarkan saja dia mendengarnya karena memang seperti itu kenyataan nya, Coba mana dia sekarang tidak ada disini, Pak. Dan ibu yakin ini karena Rere jadi nya Geri Seperti ini” Tangis Bu Sri saat mengatakan itu.
Cantika memeluk dan mengusap punggung ibu Sri dan mengajaknya untuk melihat Geri di ruangan ICU. Ketiganya melangkah dan mendekat Bangkar Geri dan Cantika menggenggam tangan Geri dengan erat dan tanpa di sangka Geri juga menggenggam Tangan Cantika.
“Bu… Tangan Geri bergerak, Geri menggenggam tangan cantika”
Benarkah, Nak Tika” Cantika menganggukan kepala.
“Re…Re…, Ja…ngan… pergi”
Suara Geri terbata saat mengatakan nya dan saat Cantika mendengar terasa hatinya Sakit dan Juga Sedih, mengapa alam bawah sadarnya saja Rere menguasai pikiran dan hati Geri.
Perlahan Mata Geri terbuka dan mendapati Cantika tersenyum ke arahnya kemudian bola matanya sekaan mencari keberadaan Rere diruangan itu yang ternyata tidak ada bersama nya, Geri hanya diam dan kembali menutup matanya dan dari sudut bola matanya mengeluarkan air mata.
“Nak. Bagaimana keadaanmu apa masih ada yang sakit nanti ibu panggilkan Dokter” Bisik Bu Sri Pelan ditelinga Geri.
“Sakit Bu… Di sini”
Geri membuka mataya dan menunjuk dada nya menggunakan tangan yang lain karena tangan yang di pasangi selang infus masih di genggam oleh Cantika.
“Sakit di situ tidak butuh dokter Nak, Tapi cukup kamu buka hati untuk cantika maka sakitnya akan hilang, percaya dengan ibu mu ini Nak”
__ADS_1
Bu Sri mengusap air matanya yang mengalir di pipi sedangkan cantika menundukan kepalanya mendengarkan apa yang dikatakan ibu dari Pria yang sangat dia cintai.