
Setelah Ambulans datang, Aries segera di larikan ke rumah sakit di sana Riki mendampingi di dalam ambulans. Tangan Riki menggenggam tangan Aries berusaha menguatkan seorang Pria yang sudah dia anggap ayah kandungnya.
Flasback
"Nak apa benar kamu mencintai Ayu"
"Benar ayah" Riki menunduk
"Tapi dia putri dari keluarga Erlangga, Jangan kamu mencintai Bintang yang ada di langit, Kamu tidak mampu untuk menggapai nya"
"Cinta tidak mengenal status ayah"
"Hahhhh... Dari mana kamu bisa mengatakan itu kamu tahu apa yang terjadi pada Nak Aditya itu karena Cinta yang tak sampai Sherly kepada Aries yang terlahir dari kalangan konglomerat sedangkan Sherly hanya gadis biasa" ayah menasehati Riki putra nya.
"Ayah bukan melarangmu tapi ayah tidak ingin kamu bernasib sama dengan Sherly. Dia ibu dari Nak Aditya yang bunuh diri karena cinta yang tidak bisa dia perjuangkan" Ayah Riki menunduk lalu menatap Riki.
"Pak Aries bukan seperti Papi nya jangan membuat Riki kalah sebelum mencoba"
Hati Riki perih di saat dia ingin menyatakan cinta malah ayah nya sendiri yang mematahkan semangat nya untuk mengungkapkan dan berjuang atas perasaan nya kepada Ayu wanita yang dia cintai sejak remaja.
Flashback Selesai
"Bertahan lah Pak Aries Ayu Putri anda masih membutuhkan anda juga Pak Aditya yang masih berjuang atas trauma dan sekarang sedang mendapatkan ujian dalam hidupnya"
Dddrrrttt...
Suara Handphone milik Riki terdengar. Segera Riki mengangkat terdengar ayu panik saat dia menelpon sekertaris nya dan mendapatkan kabar ayah nya di larikan ke rumah sakit
Riki mengingat dirinya tidak sempat memberitahukan karena sibuk menangani Aries yang harus segera di larikan ke rumah sakit.
"Pak Aries sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Nona Ayu jangan Khuatir pasti pak Aries Baik-baik saja. Jika sudah sampai akan saya kabari Nona" Riki menyampaikan supaya Ayu tidak mengkhawatirkan nya.
Ddddtrrr...
Suara Handphone Aries terdengar Riki segera mengangkat nya dan terdengar dari ujung telpon di sana bahwa Aditya dalam keadaan kritis jadi pihak keluarga di minta untuk segera ke rumah sakit.
Sontak itu membuat Riki kaget dan segera menelpon Ayu kembali dan memberitahukan apa yang terjadi pada kakak nya. Ayu saat ini membawa Jimmy anak nya segera ke mobil untuk bergegas ke rumah sakit untuk menemani ayah dan kakak nya, Saat hendak melangkahkan kaki ke arah bagasi, Lisna memanggil dan bertanya apa yang terjadi Ayu memberitahu bahwa ayah dan kakak nya dilarikan ke rumah sakit.
Lisna kaget dan segera meminta ikut bersama putri nya, meski hubungan nya kurang baik tapi Lisna sangat mencintai Aries walau hanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Mas Aries... " Lisna bergumam dan tanpa terasa air mata nya mengalir.
"Papi... Kak Adit bertahanlah" Ayu juga menitikan air mata.
...****************...
"Geri gw pulang dulu ya" Rere berpamitan.
"Tunggu sebentar sayang" Geri memohon.
"Gw mau antar Dion ke Mall, ya kan sayang nya bibi" ucap Rere sambil mencium Dion.
"iya ihhh... Om Geri dari tadi bibi nya di tahan terus. Dion itu mau main om, sudah lama di sini" Dion berdiri dan berkaca pinggang dan menatap sinis Geri.
"ok... tapi besok ke sini lagi ya Dion" Hidung Dion di cubit oleh Geri dengan gemas.
"Besok masih cuti kan... ke sini ya sayang" Geri meminta Rere.
"hhhmm... apaan sih sayang... sayang apa kali" Rere sedikit risih dengan panggilan sayang yang di berikan oleh Geri.
Geri hanya tertawa dan berbisik supaya Rere terbiasa dengan hal tersebut karena nanti nya Rere akan dia perjuangkan menjadi istri nya yang sah. Tentu saja membuat Rere kaget dan canggung.
Di saat bersamaaan itu Ambulans yang membawa Aries sampai di rumah sakit dan bangkar di siapkan lalu di dorong menuju ruang ICU untuk mendapatkan penangan. Riki mengikuti ke arah ICU dan menyuruh Sekertaris Perusahaan Erlangga untuk mengurus administrasi.
"Hati-hati di jalan dan jangan ngebut" ucap geri sambil tersenyum di balas anggukan oleh Rere.
"Geri kaya nya lu udah sembuh deh, kapan boleh pulang" tanya Rere.
"Besok minta pulang aku udah cepek tiduran terus, makasih ya sayang udah njengukin itu obat kesembuhan buat gw"
'hhhhmm... " Melirik sinis geri.
"Aku pengen ketemu ibu inah buat melamar kamu" tambah geri.
Saat ingin menutup mobil Rere mengurungkan niat nya dan menatap Geri yang di tatap hanya tersenyum.
"Gw Serius dan ingin menikahi kamu Rere" geri menggenggam jemari Rere.
"Beri kesempatan buat gw sayang" ucap Geri
__ADS_1
Rere hanya menatap Geri lalu melepaskan genggaman nya dan berpikir apa yang harus dia ucapkan untuk sahabatnya itu.
"Geri jangan ngaco deh buru lu balik lagi ke ruangan lu dan makasih udah anter sampe sini" Rere menunduk dan menatap kembali wajah geri.
"Beri gw waktu geri, pernikahan adalah hal yang paling serius yang harus gw pikirkan. harus yakin dalam hati gw" Rere memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati nya.
"gw ga mau menyakiti hati lu geri dan gw juga ga mau nanti pernikahan gw tidak bahagian, gw pengen nikah sekali seumur hidup dan menghabiskan sisa hidup gw sama orang yang gw pilih, gw butuh hati gw yakin atas pilihan gw"
"Rere apa lu ga yakin ke gw selama ini, apa karena itu lu ga menganggap keberadaan gw, apa karena pria itu lebih memiliki segala nya di banding gw" Geri terlihat kecewa dari bola mata nya.
"Kenapa lu ngomong gitu geri, lu salah paham" Rere menjawab.
Geri diam dan tersenyum kecut ke arah Rere dan membantu pintu mobil nya tertutup.
"Pulang sayang, lu boleh tenangin diri lu, yakinin diri lu apa gw pantes buat lu atau ga, dan harus lu tahu gw sayang dan cinta sama lu dari dulu. untuk masalah ekonomi lu jangan takut gw bakal kerja keras agar hidup anak kita ga susah. percaya sama gw rere" Geri mengucapkan itu dengan menatap lekat Rere dan begitu juga dengan Rere.
Rere tidak ingin lagi ada perdebatan, Rere pamit dan melajukan mobil nya untuk menuju jalan utama, Setelah Rere pergi kedua orang tua geri menghampiri Putra nya lalu menyuruh untuk kembali ke ruangan nya.
"Bu Geri sudah sembuh, ingin pulang saja besok dan geri juga sudah jenuh di rumah sakit"
Geri mengatakan itu dengan berlalu berjalan menuju ruangan rawat inap VVIP. Di sana sudah ada Perawat yang akan membantu Geri untuk memasangkan kembali selang infus tapi Geri menolak dengan alasan sudah sembuh.
Geri merasa luka nya sudah pulih dan kepala nya yang di benturkan aditya sudah tidak lagi sakit. hasil CT Scan kepala juga tidak menyatakan adanya luka serius.
Terdengar pintu terbuka orang tua geri masuk ke dalam ruangan. Geri yang sedang duduk di atas ranjang rawat inap menoleh ke arah kedua orang tua nya. Perawat ijin untuk meninggalkan ruangan dan di balas anggukan dan ucapan Terima kasih dari Bu Sri dan Suami.
"Ayah dan ibu, bebaskan saja pria itu. Geri sudah membaik dan keluarga nya sudah bertanggung jawab atas pengobatan Geri" ucap geri kepada orang tua nya.
"Nak, apa yang kamu katakan. Apa Rere yang membujuk kamu" Bu Sri bertanya dan Geri hanya menggeleng.
"Ibu tidak ingin mencabut tuntutan ibu, biarkan saja anak orang kaya itu bertanggung jawab atas perbuatan nya" Bu Sri duduk dan menatap dingin putra nya.
"Bu... Geri tidak ingin ada keributan sudah cukup. Geri ingin hidup damai" ucap Geri.
"Geri ingin melamar Rere dan ingin menikahi nya jadi bair kan pria itu bebas" ucap Geri yakin.
"Ibu Tidak akan merestui kamu dan Rere" Bu Sri berteriak sedangkan ayah hanya memandangi keduanya tanpa ikut dalam perdebatan.
"Ibu... Geri mencintai Rere dan bahagia bersama nya" sahut geri
__ADS_1
"Rere tidak sebaik yang kamu pikirkan nak, dia sering membawa pria asing ke apartemen nya dan dia juga yang menyebabkan kamu terluka seperti ini. Hanya kamu putra ibu" Bu Sri berteriak dan menangis.