Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 109 Sisillia Setuju


__ADS_3

Geri berada didalam ruangan ICU dan Dokter sedang mengeluarkan cairan alkohol yang berada didalam perutnya dan mengurangi pengaruh alkohol yang ada pada tubuhnya.


Sedangkan Sisillia harus mendapatkan Perawatan intensif karena mengalami pendarahan juga Zayn yang tidak sadarkan diri setelah mendapati Sisillia yang tidak sadarkan diri didalam kamar membuat Jantungnya berdegub kencang dan sakit juga nyeri di waktu yang bersamaan. Mereka bertiga berada dirumah sakit yang sama juga berada di ruangan yang berdekatan.


Sedangkan Ria sudah dipindahkan diruangan rawat inap VVIP atas permintaan Riki yang mengurus segalanya atas perintah Aditya sebelum dirinya meninggalkan Rumah Sakit tadi.


Aditya sudah sampai dirumah sakit dan berlari dengan kencang ke arah Ruangan ICU yang mana sebelumnya sudah mengunci terlebih dahulu mobil miliknya.


Aditya Panik dengan keadaan keduanya sampai di depan Ruangan ICU Aditya bertemu dengan Deden yang mendekati Pengusaha Muda tersebut yang terlihat sedang mengatur nafasnya setelah berlari dari Parkir kedepan Ruang ICU.


"Selamat Malam Pak Aditya, Perkenalkan nama Saya Deden yang tadi menelpon Pak Aditya"


"oh. Iya Terima Kasih atas Bantuannya bagaimana keadaan keduanya"


Aditya memperlihatkan wajah datar saat bertanya kepada petugas keamanan apartemen Sisillia.


"Keduanya masih dalam penanganan intersif pihak rumah sakit Pak Adit"


"Baiklah Saya mengerti dan sekali lagi saya berterima kasih kepada Pak Deden atas Bantuannya"


"Jangan Sungkan Pak Adit"


Keduanya terdiam sejenak dengan Aditya yang berdiri di depan pintu ruangan ICU dengan memijat dahinya pelan.


Keadaan yang membuatnya sangat sulit kali ini. Bagaimana Jika Aditya meninggalkan Sisillia dan akan berdampak pada Putranya dan jika meninggalkan Rere yang ada wanitanya itu akan sangat terluka hatinya apalagi Rere sudah menentukan pilihannya yang ingin hidup untuk menua bersamanya.


Aditya menyandarkan tubuhnya di dinding yang ada didekat pintu ruangan ICU. Aditya tidak tahu apa yang ingin dirinya lakukan. Selama Delapan Belas Tahun dirinya selalu mencari Rere setelah bertemu Justru keraguan yang ada didalam hatinya.


Padahal dirinya ingin bersama wanita yang sangat dia cinta dan hidup juga menua bersama Rere sama dengan yang di inginkan wanitanya akan tetapi Rencana untuk memindahkan ke Luar Negeri sepertinya akan ada kendala dengan keadaan Zayn yang sangat lemah dan Sisillia yang tidak ingin melepaskan dirinya.


Aditya beberapa kali meremas rambut nya yang berwarna Brown, Aditya menutup matanya lalu cairan bening keluar dari sudut matanya. Tentu yang dilakukan oleh Aditya menjadi pusat perhatian Kedua Petugas Keamanan yang mengantarkan Zayn dan Sisilia ke rumah sakit.


Dari Kejauhan terdengar tangisan seorang ibu yang histeris mendengar Putranya sekali lagi masuk kedalam Rumah Sakit dan harus di rawat di Ruangan ICU.


"Apa Yang Terjadi dengan Geri Putra Kita Pak"


Tangis seorang ibu yang membuat mata Aditya terbuka dan menatap kedua orang tua Geri. Aditya mengerutkan Dahinya dan menatap dengan tajam kedua pasangan suami istri yang dia ketahui bahwa kedua nya adalah orang tua dari pria yang mencintai Rere wanita yang sangat di cintai.


Apa yang terjadi dengan Geri. Apa Sahabat Rere itu ada di dalam ruangan ini.


Aditya mengingat kemarahan dan raut kekecewaan juga kesedihan yang tergambar jelas di wajah Geri saat meninggalkan Rere di dalam Cafe Siang tadi.


"Pak... Geri kenapa Pak" Bu Sri memeluk suami nya yang juga menangis.


Dokter keluar dan memanggil keluarga Sisillia. Aditya bergegas masuk dan berbicara dengan dokter di dalam ruangan ICU. Aditya tidak ingin kedua orang tua Geri melihatnya.


Maka dari itu dia membelakangi kedua Orang Tua Geri saat berbicara sekilas tentang kondisi Putra juga simpanannya lalu masuk kedalam ruangan ICU.


"Seperti nya ibu mengenal Pria itu tapi dimana ya Pak"


"Sudahlah Bu Jangan Pikirkan yang lain, tetap fokus saja kepada Putra Kita yang masih berada diruang ICU"


"ini pasti karena Rere. Sudah ibu katakan Jika Cantika Jauh lebih cocok untuk hidup bersama dengan Putra Kita Pak... Geri Putra kita satu-satunya pak. Bagaimana Jika terjadi sesuatu dengan Putra Kita Pak" Tangis Pilu terdengar di telinga sang istri yang membuat suaminya juga nampak bersedih.


"Kita harus pasrahkan kepada Allah Bu dan tetap berdoa Putra kita bisa melewati masa sulitnya di ruangan itu" dengan memeluk erat istrinya Pak Yanto menangis dengan menatap pintu ruangan ICU.


Sedangkan Aditya memasuki Ruangan ICU dengan manatap wajah Sisilia yang tampak pucat dan dirinya hanya duduk di dekat Bangkar rumah sakit tempat Sisilia mendapatkan perawatan intensif.


"Sayang... Perut saya sakit" ucap Sisilia mengulurkan tangannya.


"Ya, Sisil dan sekarang kamu harus banyak istirahat" Aditya menggapai uluran tangan sisillia.

__ADS_1


"Sayang Saya tidak ingin menggunakan Sp*ral, Percayalah Zayn adalah satu-satunya Putra kita nantinya dan kita tidak akan memiliki anak lagi apalagi usia saya sekarang 39 Tahun"


"Sisil kenapa kamu berkata seperti itu"


"Karena Saya tahu dengan benar apa yang dipikirkan olemu Sayang"


"Baiklah jangan dibahas lagi"


Aditya mengingat apa yang di katakan oleh Dokter tentang Rahim Sisillia yang mengalami luka dan di paksa oleh Aditya untuk menggunakan alat Sp*ral dan akibat luka itu juga pemasangan sp*ral membuat Sisillia mengalami pendarahan hebat karena itu Sisillia harus melepaskan alat Spir*l nya dan untung Rahim Sisillia masih bisa di selamatkan, tetapi menurut Dokter kesempatan untuk Sisillia hamil kembali hanya 10% saja.


Sisillia merentangkan tangannya dan meminta Aditya memeluknya. Pria nya hanya terdiam dan membuat Sisillia sangat bersedih dan terluka lalu dia berusaha untuk bangkit walaupun dibagian perut bawahnya sangat sakit dan nyeri. Sisillia nampak sangat kesakitan dan mengusap perut bagian bawahnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan Sisillia, Diamlah dan tidurlah" Aditya terlihat dingin dan wajah datarnya nampak dengan jelas.


"Saya hanya ingin dipeluk Sayang"


Sekali lagi Sisillia merentangkan tangan nya dan Aditya hanya diam dan tetap menyuruhnya untuk tidur. Tetapi Penolakan yang di lakukan Aditya membuat Sisillia terlihat menekuk wajah nya dan menangis dengan menatap dinding yang ada di dekat nya.


"Jangan Seperti ini Sisillia, bersikaplah layaknya kamu memiliki seorang anak"


"Apa Sayang juga melakukan hal yang sama, Apa sekarang sudah merasa seperti memiliki seorang Putra" Sisillia menatap Tajam Aditya.


"Sudahlah Sisil Saya sangat lelah hari ini jangan lagi berdebat malam ini"


"Lelah. Apakah Sayang menghabiskan waktu bersama Renia sampai Ayah dari Putraku ini merasa lelah"


"Jaga Bicaramu Sisillia"


"Haaahaahaa... Kamu Jahat Sayang... "


Sisillia menangis Histeris dengan memukul lengan Aditya dan Pria nya hanya membiarkan saja Sisillia berbuat semau nya mungkin ini mampu membuatnya meluapkan kemarahan atas sikap yang dia dapatkan dari dirinya.


"Sisillia ini kesalahan dan Zayn adalah hasil dari kesalahan kita dimasa muda dulu. Saya minta maaf dan saya ingin bertanggung jawab atas dirimu juga Zayn tapi tolonglah mengerti Saya. Ini juga sulit untuk diri saya sendiri. Jangan lakukan hal yang seperti Mama. Pikirkan Zayn" ucap Aditya mendekat dan membelai rambut sisillia.


"Kita adalah Sahabat, Kamu Orang Pertama yang membantu saat masa sulit saya dulu, dan kamu yang menguatkan saya dan menyuruh untuk Percaya dengan sebuah keajaiban tentang Masa Depan dimana saya dapat menemukan Renia dan kamu orang yang membantu saya berdiri dengan kuat dan kamu juga pasti ingat dulu kita mencari bersama keberadaan Renia" Aditya menangis dengan menggenggam tangan Sisillia.


"Saya sudah menemukannya Sisil dan itu karena kekuatan yang kamu berikan kepada Saya tapi kenapa kekuatan itu, dirimu ambil kembali. Saya sangat lemah dan tidak memiliki kekuatan lagi untuk menatap Renia"


Aditya menenggelamkan tubuhnya di samping ranjang Sisillia dan menangis tersedu. Sisillia membelai Rambut Aditya dan ikut menangis.


"Sayang Saya sangat mencintai kamu karena bagi saya kamu adalah segalanya Rumah, Sahabat, Cinta juga Keluarga" Sisillia membalas ucapan Aditya.


"Renia memiliki segalanya yang tidak saya miliki, Dia wanita yang Sangat Ceria, Cantik, mimiliki sahabat yang banyak dan keluarga yang sangat mencintai nya. Apakah Renia tidak bisa memberikan Pria yang dia Cinta untuk Saya. Saya hanya Cinta Kamu Aditya. Tolong Mengertilah"


Aditya hanya terdiam dan menatap Sisillia dengan lekat, Air Matanya mengalir dengan deras dan di usap oleh Sisillia.


"Lepaskan Saya Sisillia Saya Mohon"


"Saya hanya mimiliki dirimu walaupun Cinta itu untuk Renia"


"Saya akan membawa Putra kita dan dirimu ke Swiss atau Amerika dan akan membiayai hidup kalian berdua. Zayn akan mendapatkan Hak di dalam keluarga Erlangga, Tapi mengertilah Hanya Renia yang ingin saya nikahi"


Rere menampar pipi Aditya dengan tangan yang tertancap selang Infus sontak darah naik ke dalam selang infus dan Sisillia merasakan sakit di tanganya.


"Kamu Jahat Adit... Kamu Jahat"


"Kita akan tetap bersama, Saya Janji akan sering menemui dirimu nanti setiap bulan dan tidak akan ada yang berubah dengan hubungan kita tapi saya mohon menurutlah Sisillia"


Ucapan yang dikatakan oleh Aditya itu lebih sakit didalam dadanya dari pada rasa sakit yang dia dapatkan diperut bawahnya.


"Kamu yang meminta itu kenapa kamu menolak dan mempermasalahkan nya"

__ADS_1


"Apa Renia mu itu akan menerima kami" Sisillia tersenyum pilu.


"Renia tidak akan pernah tahu akan hal ini Jika kamu tidak mengkhianati diri saya nantinya"


Sisillia memainkan pipi dan juga bibir Aditya lalu tersenyum. Sisillia menarik pelan kepala Aditya menggunakan tanganya dan dengan cepat menyatukan bibir mereka.


"Saya Setuju asalkan kamu tetap bersama dengan saya. Apapun akan saya lakukan bahkan menjadi simpanan dirimu pun saya rela"


"Terima Kasih Sisillia, Zayn juga akan mendapatkan pengobatan yang terbaik di sana, mengertilah ini juga demi Putra kita"


"Demi Putra Kita" Sisillia menangis lalu tertawa pelan dan Aditya hanya mendiamkan nya saja.


"Dimana Zayn Putra kita sekarang"


"Dia baik-baik saja jangan khuatir, Ada pengawal yang akan menjaganya" Sisillia menganggukan kepala.


"Sayang Kamu Janji ya setelah menikah dengan Renia tidak akan pernah meninggalkan kami"


"Tentu saja"


"Saya sangat mencintai kamu Aditya Sayang"


"Terima Kasih"


Aditya bangkit dari duduknya dan menunduk lalu berciuman dengan Sisillia di dalam ruangan ICU setelah Sisillia Setuju dengan rencana nya. Aditya merasa bahagia dan berharap, Apa yang di ucapkan wanita nya ini akan menjadi kenyataan bukan hanya kebohongan dari Sisillia.


Aditya melepaskan ciuman dan pelukan Sisillia lalu membelai Sisillia dan menyuruhnya tidur, tentu saja apa yang di lakukan Aditya kepada nya sangat menyentuh juga kebahagian tersendiri untuk dirinya.


"Saya akan menemani Zayn Malam ini kamu tidurlah supaya cepat sembuh Zayn membutuhkan dirimu"


"Baiklah Sayang. Katakan Padanya Mami nya sudah membaik, katakan untuk tidak mengkhawatirkan keadaan Mami nya"


"Tentu Saja"


"Sayang datanglah lagi agar kita bisa membicarakan tentang Zayn yang menginginkan keluar dari Panti Asuhan sekarang untuk tinggal bersama dengan saya di apartemen"


"Tentu kita akan membicarakan apalagi kalian akan pergi keluar negeri tentu kita harus membicarakan ini"


Sisillia hanya mengangguk dan meminta Aditya untuk mencium nya kembali dan Aditya melakukan nya juga. Dirinya hanya ingin mengambil Hati Sisillia agar menurut kepada nya dan Rencana nya untuk Menikahi Rere tidak memiliki kendala karena Sisillia.


Aditya meminta ijin keluar dari ruangan yang merawat Sisillia dan sebelum keluar Aditya mencium kening Sisillia. Setelah nya kaki Aditya melangkah keluar ruangan dan Aditya terhenti saat menatap seorang Pria yang dia kenal sebagai sahabat Rere sedang berbaring di ruangan ICU rumah sakit yang sama dengan Sisillia.


...****************...


"Sayang kamu Hanya Milik Kami, Sudah Saya katakan sebelumnya, Apapun akan saya lakukan demi Putra Kita" Gumam Sisillua Pelan.


Pintu ICU terbuka nampak Kedua orang tua Geri menatap Aditya dengan tatapan sangat serius dan telihat emosional. Mereka bertemu di depan pintu Masuk ke Ruangan ICU.


"Jangan-jangan ini ulah Kamu anak Konglomerat, Apa yang kamu lakukan Ha... " Teriak Bu Sri.


"Maaf saya tidak mengerti itu apa maksud ibu sebenarnya"


Bukan hanya Sisillia yang terkejut dengan keadaan yang terdengar akan tetapi tubuh nya tidak dapat melihat keributan apa yang terjadi di luar sana.


Bu Sri menarik Baju yang di kenakan oleh Aditya dan Pak Prayoga menarik kedua tangannya istrinya di kerah Baju yang di kenakan Pria yang sedang berdiri tegap ke arah kedua orang tua Geri dan hanya diam di perlakuan seperti itu oleh kedua orang Tua Geri.


Setelah terlepas tidak ada yang di ucapkan oleh Aditya yang justru memilih meninggalkan Ruangan ICU untuk beralih ke ruangan samping tempat Putra nya di rawat dan tidak ada keinginan untuk memberitahu tentang keadaan Zayn kepada Sisillia yang Pasti akan histeris dan mengundang perhatian Banyak orang yang ada di sekitar ruangan ICU yang terlihat banyak yang di rawat saat ini.


Panggilan Masuk dari Ponsel Aditya dengan melangkah keluar Aditya mengangkat Panggilan Telepon dan berbicara dengan Riki agar Asisten nya melaksanakan apa yang dirinya Perintahkan dan dari seberang sana mengatakan


"Baik, Pak Akan saya beritahu Dokter Willy untuk melakukannya sekarang dan Nona Sisillia akan di pindahkan dari ruangan itu sekarang juga"

__ADS_1


__ADS_2