Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 124 Berhentilah Bertemu Geri


__ADS_3

Rere masuk kedalam ruangan rawat inap milik Ria dan disana ada Wenny dan ibu nya yang sedang duduk didekat bangkar Ria berada sekarang.


"Selama Sore Bu Ria" Sapa Rere sambil bersalaman dengan Bu Ria dan sepupunya dengan mencium punggung tangannya dan bersalaman dengan Wenny yang sedari tadi nampak diam seperti orang yang sedang berpikir karena permasalahan yang sangat rumit.


"Sore.Rere apa kabar" Tanya Bu Ria dengan senyum ramah.


"Baik.alhamdulillah. Bu Ria Bagaimana sudah lebih baik" Tanya Rere.


"alhamdulillah, sudah sehat dan besok ibu sudah di perbolehkan pulang" Jawab Ria


"Oh... Baiklah Rere sangat bersyukur mendengarnya Bu" Rere berkata sambil tersenyum.


"Bu...... Rere membawa buah sebaiknya, Rere taruh di atas nakas saja ya dan Rere akan kupaskan apel buat Bu Ria" Rere melangkahkan kaki ke arah wastafel untuk mencuci Buah yang dia bawa.


"Tante Ria, sebenarnya dia siapa dan Apakah Pria yang datang menjenguk tante itu kemarin, benar kekasih wanita tadi" Tanya Wenny memulai pertanyaan dengan sedikit berbisik.


"Ya. Menang ada apa Nak" Sahut Ria dengan menautkan kedua Alisnya dan mengerutkan dahi.


"Eeehhh... Nanti Wenny Ceritakan setelah Wanita ini pulang" balas Wenny dan tersenyum membuat Ria dan sepupu yang juga ibunya saling pandang dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Katakan apa yang ingin kamu kataka tentang Adit, apa ini sangat serius jika iya. Kamu benar kita bicarakan setelah Renia pulang tapi jika tidak. kamu katakan saja sekarang" sahut Ria yang mencurigai jiga keponakan nya itu menyukai Aditya karena memang Ria melihat Tingkah Aneh dari Wenny saat dirinya bertemu dengan Putra Sahabat nya itu.


"Apa Kamu menyukai Aditya, dia kekasih Renia dan sebentar lagi mereka akan lamaran mungkin minggu ini. Jadi sebaiknya kami jangan Macam-Macam. Desi sebaiknya kamu nasehati Putri kamu ini" sambung Ria dengan sengit.


"Heeemm... Tante akan Jatuh Pingsan Jika mengetahui Fakta tentang Pria yang sering mengunjungi Tante" Balas Wenny tanpa mereka sadari Rere mendengarkan dari balik tembok dekat westafel yang ada di ruangan itu.


"Fakta... Fakta Apa dan siapa. Apa Fakta tentang Mas Aditya" Rere bergumam pelan dan berdiam diri mencoba mendengarkan nya.


"Kamu jangan ngaco Fakta apa yang kamu tahu. Memang Kamu mengenal Aditya sebelumnya. Nak" ucap Desi sepupu dari Ria.


"Tidak tapi Wenny mengikuti Pria yang menjenguk bersama wanita tadi saat datang kemari, pagi tadi" Rere melebarkan telinganya untuk mendengarkan percakapan mereka.


"Mengikuti Kemana" Tanya Ria


"Ke Ruangan VVIP yang ada di ujung kanan sebelah lorong dekat ruangan ICU dan Tante Tahu tidak... " Wenny berkata dengan pelan dan memajukan wajahnya untuk mendekati Ria.


"Ternyata Pria itu sudah memiliki istri dan Anak"


"Apa... " Sahut Ria kaget dan Desi hanya menatap Putri nya


Praanggg...


Mangkuk yang berisi Buah yang telah Rere cuci dan ingin dirinya potong-potong jatuh. Mangkuknya Pecah dan Buah nya jatuh dan menggelinding di dekat Pintu.


"Apa... Apa Maksud kamu" Ucap Rere dengan wajah yang sangat syok dan pucat pasi.


"Rere... Tenangkan dirimu. Mungkin Wenny salah melihat atau dia bisa saja salah duga. Kemarilah Rere. Ibu Minta kamu tetap tenang. Wenny jangan sembarangan jika berkata" Tegur Ria dengan tegas.


Rere berjalan pelan melewati pecahan Mangkuk yang dia bawa. Hatinya hancur sama seperti Mangkuk itu tapi dirinya ingin tetap tenang karena tidak ingin menelan begitu saja cerita Wenny yang belum pasti.


"Tolong Ceritakan Semua yang kamu lihat dan kamu dengar tentang Mas Aditya. Pria yang menjenguk Bu Ria bersama saya. Apakah Pria itu yang kamu lihat di Ruangan Rawat Inap VVIP di lorong sebelah ruangan ICU itu"

__ADS_1


"Renia..." ucap Ria yang ucapannya terhenti karena Rere mengangkat tangannya ke udara sebagai tanda Ria agar tidak melanjutkan ucapannya. Dengan tatapan Rere yang masih terarah kepada Wenny


"i... iya. Pria itu Kak" ucap Wenny seakan ragu


"Apa dia bersama seorang wanita dan seorang anak laki-laki" tanya Rere yang di jawab anggukan oleh Wenny.


"Apakah anak laki-laki itu memanggil Aditya dengan sebutan Papa" kembali Wenny mengangguk.


"oh... Baiklah seperti nya dia Jimmy dan Ayu" Rere tersenyum dan Wenny hanya menatap dengan tatapan bingung.


"Mas Aditya bersama Ayu. apa Jimmy sakit ya" gumam Rere Pelan tapi masih bisa di dengar oleh Ria dan kedua kerabat Ria.


"Siapa Ayu dan Jimmy. Nak" Tanya Ria memastikan karena setahu dia Aditya belum menikah dan nama Ayu seperti familier tapi lupa.


"Dia Adik juga keponakan dari Mas Aditya Bu" Rere tersenyum dan meminta maaf karena menjatuhkan Mangkuk sampai pecah Desi hanya mengatakan


"Tidak apa-apa Nak, Biarkan ibu yang membersihkan sebaiknya kamu berbicara saja dengan Ria" Ucap Desi dan mengambil serpihan Mangkuk yang berada di tangan Rere dan kemudian membersihkan lantainya.


Desi membuang serpihan Mangkuk dan segera menarik Putrinya agar keluar dari ruangan supaya tidak memgacau karena terlihat masalahnya bisa serius jika Wenny meneruskan ucapan nya yang mana dirinya tidak ingin anaknya terlibat terlalu jauh atas masalah Rekan Kerja Ria.


"Cepat ikut Mami" Bisiknya Pelan.


Wenny menuruti apa yang di katakan Maminya lalu dia berjalan keluar ruangan yang di gunakan untuk merawat Ria.


"Nak, Jangan di pikirkan Mungkin Wenny salah duga karena dia tidak mengenal Aditya juga keluarganya" Ucap Ria yang mengkhawatirkan keadaan Rere juga bertanya dalam hati


Bagaimana Jika yang di katakan oleh Wenny Benar. itu anak dan istri Aditya. Karena saya juga tidak tahu dengan jelas kehidupan Aditya di Amerika. Jika yang bersama Aditya ternyata bukan Ayu dan Jimmy. Bagaimana Perasaan Rere. Gadis ini akan sangat hancur hatinya, Mengingat dirinya akan melakukan lamaran setelah Delapan Belas Tahun saling mencari.


Rere dan Ria Saling berbincang terkait Butik milik Rere dan juga perkembangan Fashion. Ria tidak ingin membahas tentang Aditya saat ini, Karena dirinya ingin mengalihkan perhatian Rere dari apa yang di ucapkan Wenny.


Dan nanti setelah Rere pulang Ria akan menanyakan secara detail apa yang dia lihat dan dia dengar saat bertemu dengan Aditya. Ria ingin tahu apa yang terjadi dan mungkin itu yang di rahasiakan oleh Aditya selama ini.


Ria dan Rere keduanya terlihat serius membahas Fashion yang menurut Ria, wanita yang dia anggap anak angkatnya ini harus mengembangkan Produk UMKM sampai keluar negeri dan mengikuti berbagai Pameran Fashion di Luar sebagai Referensi. Meski bukan lulusan Disegner tapi Rere bisa belajar sendiri dengan masuk ke dunia fashion itu sendiri dan belajar secara otodidak.


"iya Sepertinya Setelah Rere menikah, Rere akan fokus ke bisnis Fashion saja bu dan Risegn dari Bank"


Senyum Rere sedikit di paksakan mengingat kerja kerasnya harus dibayar SP1 oleh Edo atasannya yang mana dengan alasan Reputasi Kantornya Bekerja tanpa Memberi Rere kesempatan untuk menjelaskan Edo begitu saja memberikan Rere Sanksi Etik kepada dirinya.


Setelah berbincang selama Empat Puluh Menit Rere meminta ijin untuk Pergi karena ingin menjenguk sahabatnya yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan Ria.


Rere mencium Punggung Tangan Ria dan melangkahkan kakinya ke arah pintu depan dan mendapati kerabat Ria tersenyum kearahnya dirinya juga membalas senyum dari kerabat Ria dan meminta ijin untuk pamit karena ingin mengunjungi sahabatnya yang di rawat di rumah sakit yang sama.


Desi mengangguk dan Rere mencium punggung Sepupu dari Ria itu dan berjabat tangan dengan Wenny. Kemudian Rere melangkahkan kaki nya ke arah ruangan yang sebelumnya sudah dia tanyakan kepada pihak informasi. Tidak jauh dari Rere dua pria berpura-pura sedang berbincang sambil sesekali memperhatikan Rere yang melangkah ke ruangan Rawat Inap Kelas 1 yang ada di sana.


Di depan Ruangan Rawat inap berdiri Bu Sri dan Pak Yanto yang sedang berbincang dengan Dokter mengenai kepulangan Geri. Ketiga orang itu menoleh kearah Rere. Terlihat Jelas wajah tidak suka dari Bu Sri.


Bersamaan dengan kedatangan Rere, Dokter yang memeriksa Geri meminta ijin untuk kembali ke ruangannya setelah mengatakan bahwa Geri Boleh Pulang Besok Pagi. Awalnya dirinya memang kemungkinan akan pulang hari ini tapi Dokter menunda kepulangan nya Karena saat di periksa Geri masih terlihat lemah dan tekanan darahnya saat di periksa masih rendah padahal Geri memaksa ingin pulang akan tetapi Dokter tetap memutuskan Besok Geri bisa di ijinkan Pulang.


"Untuk Apalagi kamu kesini Rere" Bu Sri menarik tangan Rere keras untuk menjauh dari ruangan putranya. Bu Sri ingin menjauhkan Geri dari Rere yang dipikirnya penyebab Putranya mengalami masalah akhir-akhir ini.


Padahal sebelumnya Pak Yanto sudah mencoba untuk mencegah istrinya saat Bu Sri melangkahkan kaki ke arah Rere tapi Bu Sri menepis tangan suami nya dan menarik Rere dengan kasar.

__ADS_1


"Maaf Bu, Rere hanya ingin melihat keadaan Geri. Rere mohon" Pinta Rere dengan wajah yang menunjukan kesedihanya.


"Jangan dekati lagi Putra Saya apa kamu tidak mendengarnya Haaa... Kamu ini dasar wanita M*rahan ya susah untuk di kasih tahu" Teriak Bu Sri.


"Rere Janji ini yang terakhir tapi ijinkan Saya meminta maaf kepada Geri, Bu... Rere Mohon" ucap Rere dengan menggenggam tangan Bu Sri yang terus menarik Rere untuk menjauh dari ruangan Putranya Bahkan mengusir untuk pergi dari rumah sakit.


"Cepatlah Pergi... Jangan Ganggu Putra Saya. Cukup Dua kali Geri masuk Rumah Sakit. Saya Akan menjodohkan Geri dengan Cantika. Kamu Mengerti" Sambil mendorong Rere dengan keras ke arah tembok rumah sakit yang berada tebat dibelakangnya.


"Aaauuuhhh" Teriak Rere kesakitan dan menyentuh kepalanya yang terbentur keras karena ibu dari sahabatnya itu.


"Ibu... Cukup" Teriak Pak Yanto dengan keras dan berlari ke arah Rere.


Teriakan Ayahnya mengusik Geri yang berada di dalam ruangan yang saat ini bersama Cantika yang mana keduanya hanya saling pandang.


"Apa yang ibu lakukan. Jangan kasar dengan anak perempuan, orang lain ingat itu Bu, Jangan melewati batas jika Nak Rere tidak Terima ibu bisa di tuntut. MENGERTI" dengan nada marah berkata kepada istrinya.


Pak Yanto membantu Rere untuk berdiri dan meminta maaf atas perbuatan kasar istrinya kepada Rere. Wanita yang di cintai Putranya hanya bisa meneteskan air mata diperlakukan seperti itu.


Lalu Pak Yanto mengajak Rere untuk meninggalkan tempatnya saat ini bersama Pak Yanto untuk berbicara Empat mata di taman yang ada di luar Lobby Utama Rumah Sakit.


Saat Rere pergi bersama Pak Yanto dari Pintu Kamar rawat inapnya Geri keluar dan membuat Bu Sri kaget dan dengan perasaan takut dirinya menoleh kearah belakang di mana dia mendoronga Rere ke arah Tembok.


Bu Sri menghembuskan nafas lega karena Rere sudah tidak ada disana dan Geri hanya mendapati ibunya yang berjalan kearahnya setelah memastikan Rere tidak ada.


"Kenapa Kamu bangun, Nak. Bukankah Dokter menyuruh kamu untuk beristirahat" ucap Bu Sri.


"Apa Rere tadi, Apa dia kemari bu... Apakah ibu mengusir Rere dari sini Bu" Sahut Geri sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Untuk apa ibu melakukannya... Kamu ini Rere... Rere terus. Sedangkan Wanita itu tidak menginginkan Kamu, Nak. Sadar dirilah Nak. Lupakan Rere dan bukalah Hati Kamu untuk Cantika Kamu harus menikah dengan Cantika" ucap Bu Sri sambil mengusap bahu Putranya.


Geri terdiam dan menatap ke arah lorong yang menghubungkan ruangannya dengan Lobby rumah sakit.


Rere kamu kenapa tidak kesini. Sayang.... Apa kamu tidak tahu jika saya di rawat atau kamu memang sudah tidak menganggap saya lagi walau hanya sebatas teman.


Geri bermonolog di dalam hati lalu membalikan tubuhnya kedalam ruangan diirinya yakin Rere datang untuk menjenguk ke rumah sakit.


Sementara di taman Rere duduk di samping Ayah dari pak Yanto. Rere terdiam dengan menunduk sementara pak yanto berbicara dengan menoleh ke arahnya


"Nak, Rere maafkan ibu yang tadi berlaku kasar kepada Rere. Sebenarnya itu karena ibu sangat menyayangi Geri. Dia Putra kami satu-satunya"


Rere kemudian menatap Pak Geri dan mengangguk dirinya mengerti apa yang dilakukan ibu dari sahabatnya hanya sebuah kekesalan dan kemarahan seorang ibu yang melihat Putranya di sakiti bahkan sampai masuk ke rumah sakit.


"Nak Rere, Boleh bapak bertanya" ucap Pak Yanto pelan dan dibalas anggukan kepala.


"Sebelumnya Bapak minta maaf, Bapak menanyakan urusan pribadi kepada Nak Rere"


"Tidak Masalah Pak, Silahkan jika ingin ada yang ditanyakan"


"Bapak hanya ingin tahu bagaimana perasaan nak Rere kepada Geri" Rere hanya terdiam


"Jika Nak Rere tidak ada hati dan hanya menganggap Geri sebagai sahabat bisakah bapak minta tolong" Rere menatap dan menganggukan kepala dengan cepat

__ADS_1


"Berhentilah bertemu Geri. Bukan bapak melarang tapi Geri akan terus berpikir Nak Rere mencintai dirinya dan Geri akan terus berharap sedangkan usianya sekarang sudah 33 tahun dan sudah saatnya Geri Menikah" Ucap Pak Yanto sedangkan Rere hanya diam.


__ADS_2