Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 120 Rencana Pergi


__ADS_3

Mendengarkan Teriakan keras Hans membuat Lita menghentakan kakinya secara keras dilantai dan masuk kembali ke kamar mandi untuk mengenakan Pakaiannya lalu meninggalkan Hans yang masih berada di dalam kamarnya yang sedang memegangi kepalanya yang tampak pusing dengan apa yang terjadi.


"Saya tidak ingin meninggalkan Ayu itu tidak akan mungkin. Saya memang menikmati tubuh Lita tapi hati saya hanya untuk Ayu, Bagaimana Jika Ayu mengetahui ini semua" Gumam Hans Pelan dan mengacak-acak rambutnya Sendiri.


Hans menyuruh Pelayan Mansion nya untuk membersihkan Kamar Pribadinya dan dia berjalan dengan langkah cepat ke arah kamar tamu yang mana Ayu berada saat ini dalam posisi tidak sadarkan diri.


Tidak lama Dokter datang bersamaan dengan Lita pulang dari Mansion milik Hans dimana wanita muda itu adalah kekasih gelap Hans.


Hans menunggu kedatangan Dokter Pribadi keluarganya dan dari luar terdengar langkah kaki lebih dari dua orang memasuki kamar tamu.


"Dokter Jo tolong Ayu tadi pingsan"


Dokter Jo mengenal Ayu sebagai menantu satu-satunya di keluarga Alexander. Hans menyambut dokter Jo yang memasuki kamar tempat istrinya berada dan berkata


"Selamat Pagi Dokter, Maaf mengganggu waktunya"


"Pagi juga Tuan Hans, seorang dokter memang harus siap di ganggu" ucap Dokter Jo sambil tersenyum.


"Saya akan memeriksa Nona Ayu terlebih dahulu" sambungnya lagi.


"Baik Silahkan Dokter" Hans keluar kamar tamu bersama pelayan yang mengantarkan dokter pribadi keluarga Alexander. Sedangkan Dokter mulai memeriksa keadaan Ayu.


Setelah Beberapa Menit Dokter Jo keluar dan Hans mendekati dokter pribadi keluarganya untuk menanyakan keadaan istrinya


"Istri Tuan Hans hanya kelelahan saya akan memberikan beberapa vitamin agar kembali pulih"


ucap Dokter Jo sambil memberikan beberapa vitamin yang ada di tas yang dia bawa.


Dokter Jo memang sudah menyiapkan beberapa obat dan vitamin untuk diberikan kepada Pasien jika ada yang memanggil, Jika sakitnya serius Dokter Jo akan memberikan resep obat untuk dibeli di Apotik.


"Nona Ayu membutuhkan istirahat agar kesehatannya segera Pulih" sambung dokter Jo.


"Apa tidak ada penyakit yang serius Dokter"


"Setelah dicek tidak ada Tuan Hans, Sepertinya istri anda hanya kelelahan dan diusahakan untuk jangan terlalu stress"


"Baik. Terima Kasih Dokter Jo"


Dokter Jo diantarkan oleh Pelayan kepala sampai dihalaman Mansion dan Mobil yang dikendarai oleh Dokter Jo meninggalkan Gerbang Mansion.


Sedangkan Hans menghampiri istrinya yang terbaring lemah, Hans merasa bersalah beberapa kali dia mencium punggung tangan istrinya dan mengusap rambut Ayu dengan sangat lembut.


"Sayang Bangun, Ayo kita pulang ke Mansion orang tuamu. Anak kita Jimmy pasti menunggu kedatangan kita dan maafkan saya jika menyakiti kamu Ayu, Bangunlah sayang jangan buat saya menjadi cemas" Gumam Hans pelan dengan terus menggenggam tangan istrinya.


Perlahan Ayu membuka mata dan menggerakan jari jemarinya dan mendapati Hans berada duduk disamping ranjang tempat dirinya berbaring.


"Sayang Kamu sudah sadar"


"Apa yang terjadi Hans"


"Kamu Tidak sadarkan diri tadi kata Dokter Kelelahan, Sayanh. Maafkan saya mungkin karena kejadian semalam membuat Ayu tidak dapat tidur dan merasa tidak tenang"


"Saya bingung dengan masalah ini, harus percaya atau tidak"


"Kenapa kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri, Sayang. Aku sangat mencintai kamu. Mana mungkin saya akan mengkhianati Pernikahan kita apalagi ada Jimmy diantara kita"


Ayu terdiam dirinya mengingat kejadian pagi ini saat dirinya dan riki berada di tepi pantai. Riki juga menjelaskan bahwa informasi yang dia katakan itu adalah kebohongan dan dia tidak ingin Ayu berlarut dari masalah ini dan berharap kembali dengan suaminya.


Akan tetapi Ayu yakin Riki tidak mungkin berbohong sehingga perdebatan terjadi dan Riki memcium yang artinya sekarang justru dirinya yang berkhianat dari suaminya jika tidak terbukti Hans memiliki wanita lain.


Ayu menolehkan wajahnya ke arah lain dan hanya terdiam, Hans mencoba membujuk Ayu agar tidak lagi marah atau membahas masalah semalam dan hubungan mereka kembali membaik seperti saat mereka berada di Berlin, Rumah tangga mereka sangat damai dan tidak pernah ada keributan seperti saat sekarang ini.


...****************...


Sementara Aditya sudah meninggalkan Apartemen Rere dan menuju ke rumah sakit tempat Sisilia dan Putranya di rawat.


Dan Rere berangkat bekerja yang sebelumnya mengantarkan Tya ke Stasiun karena Tya ingin pulang dengan menggunakan Kereta Api.

__ADS_1


"Teh Tya hati-hati di jalan jika ada sesuatu segera hubungi Rere dan saat kembali ke jakarta ajak akang dan Arsyila juga ya"


"Ya sudah Rere sebaiknya kamu pergi bekerja"


"Hati-hati di jalan teh, jika sudah sampai kabari"


"Tentu saja dan Terima Kasih sudah antar teteh sampe di Stasiun"


Tya melangkah masuk kedalam Stasiun sedangkan Rere melajukan kembali Mobilnya kearah kantor tempatnya bekerja.


Kemudian Aditya sudah sampai di parkir Rumah Sakit dan dirinya mampir terlebih dahulu ke ruangan Ria untuk melihat keadaan sahabat dari Maminya itu.


"Selamat Pagi Tante, Apa kabar" ucap Aditya Ramah.


"Baik Kamu apa kabar, kenapa Pagi-pagi kesini, Tidak ke kantor Nak?"


Diruang rawat inap VVIP duduk sepupu dari bu Ria dan juga Putrinya yang memandangi Aditya sejak datang selalu menatap ke arah Aditya tetapi diabaikan begitu saja oleh Aditya.


"Saya ingin melihat keadaan Tante Ria dan maaf baru sempat datang kesini karena Aditya kemarin ada meeting dan Renia sudah mulai masuk kerja, Renia mengirimkan salam untuk Tante"


"Sampaikan Terima Kasih Tante Ria untuk kekasih kamu itu" Ria tersenyum sedangkan Aditya mengangguk pelan.


"Adit ingin pergi ke Amerika selama Tiga Hari, nanti Renia yang akan jenguk tante disini selama Adit berada di sana"


"Baiklah Nak"


Sedangkan Sepupu dan keponakan Ria saat Aditya datang keduanya beranjak untuk meninggalkan ruangan karena Sepupu dari Ria tahu jika Aditya datang akan ada sesuatu penting yang akan disampaikan kepada Ria.


Meski Putrinya menolak karena ingin tetap berada di samping Aditya yang nampak sangat tampan Pagi ini dengan setelah Kemeja berwarna biru beserta dasi dipadukan celana berwarna hitam. Akan tetapi ibunya tetapi menarik dirinya untuk keluar ruangan.


Keduanya kini duduk menunggu didepan ruangan rawat inap VVIP sampai Aditya selesai berbicara dengan Ria.


Aditya didalam ruangan memberitahukan rencananya untuk melamar Renia Minggu ini setelah kembali dari Amerika, Mendengar itu tentu saja Ria merasa bahagia karena penantian dan pencarian keduanya akhirnya akan berakhir dan Ria berdoa acaranya lancar dan keduanya dipermudah untuk hidup bersama.


Setelah berbincang selama Tiga Puluh Menit Aditya meminta ijin untuk pulang dan mempersiapkan diri karena harus pergi ke Amerika hari ini. Yang sebenarnya Aditya akan menemui Sisillia juga Putranya di Ruang Rawat Inap VVIP yang lain.


"Saya harap tante Ria sudah sembuh saat Saya melamar Renia nanti saya ingin Tante menggantikan Mama Sherly untuk mendampingi Adit"


"Semoga saja dan Tante Harap juga begitu"


Keduanya berpelukan dan Aditya meninggalkan ruangan rawat inap VVIP dengan menatap sepupu dan juga keponakan Ria.


Aditya hanya menyapa sekilas saja dan kembali melangkahkan kakinya menusuri Koridor rumah sakit dan membelokan kakinya ke arah kanan yang seharusnya jika ingin ke tempat Parkir Aditya harus berbelok kearah kiri.


Tanpa Aditya ketahui Keponakan Bu Ria mengikuti dari belakang, yang mana dirinya meminta ijin kepada ibunya untuk ke kamar kecil tapi sebenarnya niat dirinya mengikuti Aditya.


"Kenapa Mas Ganteng ke arah kanan bukan ke arah kiri. Memang tempat Parkir bisa ya lewat situ" gumamnya Pelan.


Pintu Kamar rawat inap tempat Sisilia berada di buka begitu saja oleh Aditya dan kemudian ditutup kembali tampak seorang Perempuan berada di ruangan itu sedang duduk diatas ranjang tempat tidurnya.


"Sayang kamu datang kemari, saya dari semalam mengkhawatirkan dirimu" ucap Sisillia dengan merentangkan tangannya.


Aditya mendekati Sisillia dan memeluk wanitanya dengan harapan Sisillia akan menuruti dirinya untuk pergi ke Amerika.


Sedangkan keponakan Ria hanya berdiri tidak jauh dari ruangan itu yang mana dirinya berada di balik dinding untuk menyembunyikan tubuhnya agar tidak di ketahui oleh Aditya bahwa dia mengikuti dari belakang.


"Ruangan siapa ya, Apa itu saudara Mas Ganteng tadi saya lihat seorang wanita. Apa yang pernah menjenguk Tante Ria"


Keponakan Ria memutuskan untuk menunggu disana karena ingin tahu lebih lagi, ntah kenapa hatinya sejak pertemuan pertama tidak bisa mengabaikan wajah Aditya yang terlihat sangat tampan dimatanya.


Sementara di ruangan Sisillia sedang menciumi pipi, bibir dan juga dahi Aditya, dirinya sangat bahagia melihat keadaan kekasihnya yang baik-baik saja. Aditya menarik wajahnya dan duduk disamping Sisillia.


"Bagaiamana keadaan kamu sekarang" Tanya Aditya dengan wajah dingin.


"Seperti yang kamu lihat, Sayang. Saya sekarang sudah membaik jangan khuatirkan itu"


"Saya ada urusan ke Amerika saya harap kamu dan Zayn ikut bersama dengan Saya supaya Zayn mendapatkan pengobatan yang terbaik juga untuk kamu mengobati luka yang ada dirahimu"

__ADS_1


"Saya akan ikuti apa yang kamu inginkan asalkan kita menikah"


"Apa yang kamu katakan Sisil" Aditya merasa terkejut.


"Renia tidak akan pernah tahu jika kita menikah, Apalagi Saya dan Zayn tinggal di Amerika" Sisillia berkata sambil tersenyum membuat Aditya merasa tersudutkan.


"Baiklah, kamu bisa mengatur semuanya tapi jika Renia tahu dan membatalkan Pernikahan dengan Saya, Kamu akan tahu apa yang akan saya lakukan kepada kamu, Sisillia"


"Baiklah Sayang" Sisillia berkata lalu mencium pipi Aditya.


"Ngomong-ngomong dimana Putra kita kenapa dia tidak ikut bersama kamu, Sayang" Tanya Sisillia.


"Sebenarnya Zayn dirawat dirumah sakit ini juga"


"Apa... Apa Maksud kami Adit" Teriak Sisillia.


"Tenanglah, Kenapa kamu berteriak" Aditya menatap Tajam Sisillia.


"Saat kamu ditemukan tidak sadarkan diri, Zayn Jatuh Pingsan karena Jantung Putra kita bermasalah, Karena itu juga yang membuat saya memutuskan Zayn harus di bawa ke Amerika untuk Pengobatan Putra Kita juga. Maka dari itu kamu harus setuju dengan apa yang saya rencanakan ini"


"Baiklah Sayang" Sisillia menangis dengan memeluk tubuh Aditya.


"Saya ingin menemui Putra Kita"


"Sebaiknya kamu tetap di sini, Saya akan membawa Zayn kemari, Kamu juga harus menjaga kesehatan supaya kita bisa pergi siang ini"


Aditya mengusap air mata Sisillia dan mengecup dahinya perlakuan Manis Aditya tentu membuat Sisillia Bahagia, Perhatian seperti ini yang selalu Sisillia harapkan dan Doakan setiap saat dan hari ini dirinya mendapatkan itu.


Tidak seperti sebelumnya dimana Aditya merasa dingin dan setiap tidur bersama juga dirinya yang memulai terlebih dahulu untuk membuat Aditya memberikan sentuhan kepadanya.


"Saya akan ke ruangan Putra kita untuk memastikan keadaannya tunggu disini dan jangan kemana-mana, OK" Ucap Aditya dan dijawab anggukan kepala Sissillia.


Aditya melangkahkan kaki keluar Ruangan membuat keponakan Ria menjadi kaget karena mendapati Pria tampan yang menjadi incarannya keluar ruangan secara mengejutkan.


Aditya tidak menoleh kearahnya, dirinya melangkahkan kaki panjang ke ruangan yang tidak jauh dari sana karena itu ruangan Zayn berada dirumah sakit yang sama dengan Sisillia.


Pintu di buka tanpa mengetuk membuat baby sister yang menunggu Zayn menjadi kaget dan menoleh kebelakang. Keponakan Ria merasa bingung sebenarnya ada berapa yang dikunjungi oleh Aditya kenapa Pria tampan yang dia sukai itu terlihat sibuk berpindah ruangan rawat inap.


"Tuan Adit... " sapa Baby Sister Putranya


"Bagaimana keadaan Putra saya" Aditya tersenyum saat mengatakannya.


"Tuan Muda Zayn baru saja makan dan diberi obat dan sekarang tertidur Tuan dan tadi mencari Nyonya dan juga Tuan" Sambung Baby Sister Zayn.


"Ok.Terima Kasih sudah menunggui Putra Saya hari ini dan saya minta kamu segera memberekan keperluan kamu karena siang ini kamu akan ikut bersama kami ke Amerika dan saya akan menugaskan kamu untuk menjaga Putra saya juga Maminya selama di Amerika" Jelas Aditya.


"Baik Tuan sebelumnya Tuan Riki juga sudah memberitahukan itu kepada saya dan sebelum saya kesini tadi pagi, Saya sudah membereskannya"


"Ok... Berikan alamat tempat tinggal kamu supaya orang saya akan mengantarkan kamu untuk mengambil barang-barang itu" Aditya menatap dengan wajah dingin.


"Siapa nama kamu" sambung Aditya


"Susi Tuan" Aditya mengangguk.


Aditya menghadap ke arah Zayn dan mencium dahi putranya dan mengusap kepala Zayn dengan pelan dan mengenggam tangan putranya yang berusia Sembilan tahun yang baru bertemu dengannya.


...****************...


Sementara Riki kini sedang menuju ke Airport setelah dirinya pulang ke Apartemen mengambil keperluan kerja untuk dibali.


Riki diantarkan oleh Driver dari perusahaan yang dia minta sebelumnya dan diperjalanan dirinya mengingat apa yang dia lakukan kepada Ayu.


Riki meruntuki kebo*ohannya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tentang Hans ditambah dirinya mencium Ayu.


Riki mengela nafas dengan kasar dan menatap dengan tatapan kosong kearah jendela hati nya terasa pilu dan bingung. Keadaan yang terjadi benar-benar menghancurkan dirinya.


Kenapa Mencintai Kamu terlalu sakit seperti ini Ayu. Ya Allah... Apa yang saya harus saya lakukan. Kenapa Saya melakukan kebodohan seperti tadi.

__ADS_1


Hati Riki bermonolog kemudian dia menutup matanya mencoba untuk melupakan apa yang terjadi tapi bayangan-bayangan mengenai Ayu kembali mengusik pikirannya.


__ADS_2