
"Apa yang terjadi sisil" tanya Aries
Sisil terlihat syok dengan apa yang di lakukan oleh Aditya kepada nya dia memang sudah siap dengan apa yang akan di lakukan aditya kepada diri nya tapi tetap Sisil syok dia di dorong dengan keras dan di teriaki oleh aditya membuat diri nya sedih, sebegitu tidak pentingkah diri nya di mata Aditya.
"Berikan anak ku obat penenang nya sisil" teriak Aries yang mencoba menahan amarah Aditya.
Saat akan di suntikan obat penenang oleh Sisil, segera ayu menghentikan dan menyuruh semua keluar dia akan berbicara dengan kakak nya hanya berdua tentu saja petugas tidak ingin mengambil resiko, karena sebelum nya sisil pun memaksa tapi yang terjadi Aditya mengamuk dan berteriak histeris terus mengusir sisil dan semua yang ada di sana panik.
Aries menangguk saat putri nya memberikan kode lalu Aries meminta petugas untuk percaya dan memohon agar Putra dan Putri nya dapat berbicara dan dia yang akan bertanggung jawab jika ada hal yang tidak di inginkan.
Akhirnya petugas mengijinkan dengan syarat Aditya tetap dalam keadaan tangan di ikat. Dan petugas akan berjaga di dalam ruangan itu, dan ayu pun setuju. dan untuk yang lain keluar termasuk sisil.
Padahal dia ingin mengetahui apa yang akan di katakan Ayu kepada Aditya kenapa seakan sangat rahasia dan penting sehingga tidak memperbolehkan siapa pun dari pihak luar untuk mengetahui pembicaraan mereka berdua, Apa ini tentang Renia. Pikiran Sisilia di penuhi oleh pertanyaan seperti itu. tapi tetap kaki nya melangkah pergi.
"Tenanglah kak, Ayu sudah menemui Renia dia akan datang kemari dan dia tidak marah dengan kakak" Ayu memulai pembicaraan nya kepada Aditya.
Hanya itu ucap nya lalu menunjukan photo saat dirinya berkunjung ke rumah sakit tempat ibu inah di rawan. saat di cafe saat makan itulah Riki memotret kedua nya sebagai bukti untuk Aditya.
Aditya mengambil handphone yang ada di tangan ayu lalu mencium dan memeluk nya, ikatan yang ada di tangan sudah di buka oleh Ayu dia tidak tega melihat kakak nya di perlakukan seperti itu dan Aditya beberapa kali memanggil nama Renia dan sang Adik memeluk tubuh sang kakak lalu mengusap lembut rambut dan punggung nya pelan. Mereka menangis bersama. Dua saudara yang berbeda ibu tapi saling menyayangi dan menguatkan. meski hubungan dengan ibu tiri nya kacau tapi tidak dengan adik tiri nya itu.
...****************...
Sedang di Lobby rumah sakit berdiri Rere menunggu kedatangan sahabat nya Dina dan yang ditunggu akhir nya datang. Dina menghampiri Rere dengan membawa keranjang buah di dampingi putra putri dan suami nya.
Putra Dina yang sebelum nya sakit sudah sembuh dan setelah kontrol keadaan anak nya ke dokter Dina datang ke rumah sakit untuk menemui Rere. Perjalanan hanya di tempuh dengan waktu Satu jam setengah karena kendala di macet jika lancar hanya satu jam karena memang dekat dan ada fasilitas jalan bebas hambatan.
__ADS_1
"Terima Kasih ya Dina sudah datang menjenguk ibu, mari Dina dan mas Budi kita keruangan ibu" Rere menyapa dengan ramah dan bergegas berjalan menemui sang ibu.
"Jam berapa dari sana din, dan sekali lagi terima kasih sudah berkunjung ucap Rere kembali.
"ya ALLAH, jangan sungkan. kita kan teman benar kan bu inah" Dina dan suami duduk di ruang anggrek tempat ibu inah di rawat.
"gw berangkat tadi dari sana jam setengah 6 pulang dari kontrol si adek lihat dokter inget lu jadi gw pengen ngejenguk ibu inah" tambah nya lagi sambil menatap ibu inah dan di balas anggukan dan senyum manis tanda ucapan terima kasih.
Setelah sampai di ruangan tanpa sadar sudah berbincang hampir 1 jam. Dina dan Rere keluar. sementara suami nya masih berbincang dengan ibu inah dan Tya tentang perceraian kebetulan suami Dina adalah seorang pengacara.
Tadi di tengah pembicaraan di tanyakan tentang apa pekerjaan Budi, kemudian di jawab pengacara, Tya jadi menanyakan tentang pengurusan perceraian diri nya dan suami dan tadi ibu inah sudah menceritakan permasalahan yang terjadi pada anak ketiga nya itu.
Dan di sarankan uang yang seratus juta dapat di minta kembali kepada keluarga selingkuhan didit karena Tya bukan pihak yang harus menanggung nya atau meminta ganti rugi kepada keluarga didit jika ingin di bantu proses nya Budi siap membantu tapi tya menolak, dia hanya ingin bercerai saja tanpa ada permusuhan atau keributan lagi, Tya hanya ingin tenang membesarkan putra semata wayang nya saja dan bercerai dengan baik-baik. menikah baik bercerai pun harus dalam keadaan baik seperti itu keinginan tya untuk saat ini meski hati nya hancur. Budi hanya menganggu tanda mengerti jika di butuhkan dia siap membantu.
Sedangkan Dina dan Rere keluar dari ruangan rawat inap karena ingin membicarakan masalah pekerjaan selama diri nya cuti dan untuk Dina baru masuk dua hari setelah diri nya mengajukan cuti karena anak nya sakit.
"Lu tanya keadaan kerjaan atau keadaan gosip lu" jawab nya sambil menoleh ke arah Rere
"kedua nya Dina" Rere menatap tajam kearah depan tanpa menoleh ke arah Dina dengan ekspresi yang penuh dengan kesedihan.
"Gosip lu tidak terkendali Rere, tapi masalah kerjaan bisa gw backup lu jangan khuatir fokus aja ke masalah pribadi lu untuk pekerjaan masih banyak team kita yang handle dan insyaallah masih ada gw, sebisa mungkin gw handle kalo pun gw ga ngeri dan bingung gw tinggal tanya ke lu aja" Dina menyeringai dan tersenyum ke arah Rere.
Kedua nya terlihat terdiam beberapa menit menyaksikan kedua anak kembar dari Dina dan dion bermain kedua nya kadang tersenyum bersama menyaksikan kelucuan ketiga anak kecil yang langsung akrab sedangkan Arsyila sudah pulang sebelum Dina datang karena harus membereskan rumah sebab ibu dan Tya berada di rumah sakit.
"Rere lu ga mau nikah apa, lu ga tergerak hati nya melihat kelucuan anak-anak itu" Dina menoleh ke arah Rere begitu sebalik nya.
__ADS_1
Setiap orang tidak ingin menjalani hidup yang menyedihkan dan sulit bahkan berbeda dengan orang lain.
"Semua orang ingin menjalankan hidup bahagia bersama orang yang mereka cinta dan memiliki anak sebagai tempat melepaskan penat atas rutinitas pekerjaan atau hidup yang berat tapi tidak semua orang memiliki jalan hidup yang sama ada yang mulus ada pula yang berliku"
Rere senyum ke arah Dina lalu mengarahkan pandangan nya ke arah ketiga bocah lucu yang sedang bermain kadang tertawa bersama. Rere melihat orang berlalu lalang melewati mereka yang duduk di kursi samping ruangan ibu.
"Kamu tahu Din, bahkan setiap melihat anak kecil gw selalu menangis karena merindukan sosok anak yang bahkan belum lahir atau tidak akan pernah lahir dari rahim ini, kadang gw ingin tahu bagaimana wajah nya apa kah dia tampan atau cantik" tanpa sadar meneteskan air mata.
Dina sebagai sahabat langsung merespon dengan mengusap air mata di pipi sahabat sekaligus atasan nya itu dan memberi kekuatan dengan menggenggam tangan Rere.
"Maaf, sudah buat kamu sedih" ucap Dina
Rere hanya menggeleng dan tersenyum. Bagi Rere pertanyaan Dina sudah biasa dia dengar dan memang orang butuh tahu apa alasan dia belum menikah. orang sering bertanya dan menyayangkan apa yang menurut standar mereka tidak sesuai maka mereka akan mencemooh orang yang tidak sama nasib bahkan jalan hidup nya dengan meeeka.
Selalu mereka menggunakan standar hidup mereka sendiri untuk orang lain tanpa menanyakan keadaan nya apakah orang yang di tanya baik atau adakah luka di hati nya.
Rere sangat mengerti dan mencoba terus menerima situasi hidup nya. kadang orang lain tidak mengerti karena tidak melihat, merasakan bahkan berjalan di posisi yang kita ambil untuk terus melangkah dalam takdir.
Ada manusia yang tidak melakukan apapun hidup sangat mudah ada juga manusia yang bahkan dia sudah berusaha dengan air mata dan keringat tapi hasil nya hanya kesedihan dalam hidup.
Menikah bukan tentang tinggal bersama bercinta lalu memiliki anak, menurut Rere seseorang yang menikah harus siap dengan diri nya sendiri dan juga harus sudah selesai dengan permasalahan hidup nya, sebelum melangkah naik ke jenjang pernikahan kita juga harus berdamai dengan hidup kita barulah kita akan mendapatkan ketenangan dalam pernikahan.
Rere bermonolog di dalam hati dia tidak ingin menjelaskan apapun yang dia rasakan dan ketahui karena Rere yakin jalan hidup dan pemikiran Dina berbeda dengan diri nya, cara hidup dan lingkungan tempat dia tumbuh pasti berbeda dengan diri nya pula.
Setelah cukup lama berdiam diri dengan pikiran nya masing-masing dengan mata menatap ketiga anak kecil yang aktif, dion lebih tua dua tahun dari kedua anak kembar Dina. Tapi bisa mengimbangi mereka dalam berinteraksi.
__ADS_1
"Sayang kita pulang, mungkin nanti bisa berkunjung lagi ini sudah malam" ucapan Budi mengagetkan Rere dan Dina. Tanpa menunggu lama mereka pulang karena besok harus bekerja.