Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 8 Cemburu


__ADS_3

Pertemuan antara pihak Bank dan Perusahaan milik Aditya sedang berlangsung. untuk hasil sementara dana masuk hanya 10% sesuai kesepakatan pihak finance yang datang ke bank dan untuk salary payroll sementara karyawan baru yang akan di proses dan untuk karyawan lama akan menyusul berkala.


Kehadiran dari perusahaan Erlangga di sambut oleh Pak Edo sebagai Branch Manager dan Bu Rere sebagai Manager Operasional untuk sisa nya akan di urus satu minggu dari sekarang, sebagai tanda pertemuan tersebut seluruh yang hadir berphoto bersama.


Manager Finance dan HRD di dampingi 2 staff masing-masing devisi mereka undur diri. Setelah urusan selesai Rere berniat untuk pulang akan tetapi sang atasan yang bernama Edo memasuki ruangan nya.


"Bu Rere Terima Kasih atas kerja keras nya" dan tidak lupa tersenyum ramah dengan rere.


"itu sudah pekerjaan saya pak dan memang sudah seharus nya"


"Jika butuh support dari saya jangan sungkan Bu Rere"


"Baik pak" jawab nya singkat.


Semua orang tahu jika Rere tidak bisa berbasa-basi akan langsung pada inti pembicaraan. Setelah 20 Menit berbincang dengan pak Edo mengenai perusahaan Erlangga Nusantara selesai. Rere meminta ijin untuk pulang karena ada urusan mendesak. dan tentu itu hanya alasan untuk menghindari pembicaraan lama dengan atasan nya itu.


(Rere gw jemput lu 20 menit lagi ya, sorry tadi di bengkel, gw bantuin jenal ada service mobil banyak)


pesan masuk dari Geri sekitar 10 menit yang lalu tapi baru sempat baca.


...****************...


"Renia"


Suara yang tak asing untuk Rere dan dia tahu siapa yang memanggil hanya orang ini yang memanggil nya dengan Renia. sedikit tersenyum lalu dia menoleh ke arah suara. Benar saja Pria yang paling Rere rindukan selain ayah nya berdiri gagah nya bersandar pada pintu mobil yang dia bawa. lalu berjalan ke arah Rere.


Sontak bukan hanya Rere tapi semua mata yang berada di sana tertuju pada pria dengan postur tubuh 185 berwajah tampan dengan rambut brown bermata hazel dan berkulit putih, jika di lihat postur nya dia seperti blesteran eropa-indonesia lebih tepat nya spanyol di tambah dada bidang dan perut sixpack nya pun nampak jelas dengan baju kemeja putih panjang dengan lengan sedikit di gulung dan kancing baju terbuka 2 dan kacamata yang bertengger di hidung nya yang mancung.


Renia tampak senyum ramah menyambut CEO Erlangga itu. dan yang di beri senyum pun ikut membalas, jelas terlihat mereka saling merindukan, ya benar apa yang di katakan Aditya jika ada hubungan yang belum usai antara mereka.


"Apa kabar sayang"


"hhhmm... baik Pak Aditya sendiri"


"saya kurang baik" jawab Erlangga datar


"kenapa, Pak Erlangga sakit" tanya Rere khuatir


"lupakan" sahut Aditya


"apa kamu sudah makan, saya sangat lapar apa bisa kita pergi ke restoran atau cafe" lanjut nya.


Sejenak Rere berpikir. Jika dia ke restoran bahan makanan di lemari pendingin milik nya mungkin akan basi karena dia beli stock banyak untuk makan 1 minggu, dan saat habis dia akan membeli nya kembali begitu seterusnya.


"Saya mau pulang saja pak saya lebih suka makan di rumah"


"Apa karena saya yang ajak kamu jadi kamu menolak, mungkin jika pria lain kamu akan menerima dan bermesraan di cafe sana"


Sontak Rere kaget dengan ucapan Aditya dan menatap tajam Aditya yang sudah sembarangan berbicara itu.

__ADS_1


...****************...


Setelah berdebat dengan sang mantan menurut rere, akhir nya sang CEO tampan itu mau mengalah dan dia ikut pulang dengan Rere ke apartemen nya hanya untuk makan masakan Rere. dan ya ini yang membuat sang CEO bersedia ikut alasan nya Rere tidak membawa mobil jjadi aditya yang akan mengantar Rere dan makan berdua dengan pujaan nya seperti kemarin malam.


"Biasa bawa mobil sendiri pak" tanya rere.


"ga juga, kebetulan saya lagi pengen bawa jadi asisten, saya suruh pulang saja" senyuman manis itu tampak di wajah tampan aditya.


"oh begitu" sahut Rere dan menampakan senyum 3 jari yang manis.


Setelah sampai ke dalam apartemen. Rere mendapat panggilan masuk setelah di lihat ternyata geri yang menelpon, Rere langsung mengangkat nya.


"Hallo Geri, sorry gw udah pulang, gw mau tlp lu malah lu tlp duluan apa lu udah ke tempat kerja gw"


Rere lupa memberitahu Geri untuk tidak menjemput karena asik mengobrol ini itu dia sampai lupa dengan Geri, karena itu dia menjelaskan sebelum kena omel Geri.


"ya elu dodol gw udah sampe tempat kerja lu, kenapa ga nunggu gw sih pasti naik kereta ya. udah naik kereta belum, gw ke stasiun ya. tunggu di sana cantik"


"gw udah mau sampe ada yang antar gw pulang"


sahut Rere. "lagian lu bilang 20 menit lagi karena lu lagi sibuk tapi kenapa baru 10 menit lu udah sampe.


" gw udah selesai urusan di bengkel dan gw ngebut syukur ga macet malah lu udah ngilang aja" Geri kecewa.


"sorry deh" sambung nya


Rere berpikir sejenak, di apartemen ada Aditya, kalo misalkan Geri ke sini apa kata orang ada dua pria di dalam apartemen itu membuat dia kurang nyaman.


"jangan geri gw ada tamu, lain kali aja ya, udah dulu ya gw tutup tlp nya" ijin Rere dan langsung mematikan tlp lalu menoleh dan menatap sambil tersenyum ke arah Aditya. yang di tatap dingin dan datar.


Ada yang terlihat aneh untuk rere, mata Aditya seperti menahan emosi dan ekspresi nya sangat mengerikan. dia sedikit takut dengan pria di depan nya itu. meski dia sangat merindukan Aditya tapi tatapan marah Aditya membuat Rere takut dan gemetar. mata pria itu menatap tajam seperti seekor Harimau yang ingin memakan hidup-hidup.


"hhhmm... saya akan ke dapur buat masak... "


"apa dia pacar kamu renia" memotong ucapan rere.


"Dia Geri sahabat ku, aku sudah memberitahu sebelum nya"


Setelah bicara Rere menunduk dia tidak ingin menatap Aditya yang menurut nya sangat mengerikan. Dia bingung dengan sikap Aditya yang menurut nya jauh berubah tidak seperti Aditya yang dia cintai dulu, manis wajah nya dan halus juga lembut pembawaan nya. dia pikir karena waktu dan usia yang merubah nya atau karena pekerjaan yang membuat dia seperti ini sekarang. menjadi CEO perusahaan besar memang harus tegas dan berwibawa.


Menyadari Rere takut dengan nya membuat Aditya mengontrol cemburu dan emosi yang berkecambuk dalam dada nya lalu berdiri dan menyentuh tangan Rere dengan lembut. sontak Rere kaget lalu menarik tangan yang di sentuh Aditya. dia juga takut akan ada sesuatu setelah nya. Rere tidak berubah dia masih lugu dan naif seperti dulu meski umur nya sudah memasuki 32 tahun.


"Kenapa? kamu takut sayang? jangan khuatir aku tidak akan menyakiti mu sayang, aku hanya tidak suka kamu berbicara dengan Geri atau pria lain"


Rere menatap Aditya dengan bertanya dalam hati kenapa dia tidak suka jika Rere bicara dengan pria lain dan Rere bekerja di bank dan sudah pasti akan bertemu banyak orang termasuk pria. Bukankah dia tidak ada hubungan dengan pria yang ada di depan nya ini. Hubungan dulu terjalin saat usia nya 14 tahun saat Aditya menyatakan cinta nya di taman kota saat itu dan Rere menerima nya.


Kemudian tidak ada kelanjutan kisah mereka karena sehari setelah nya Aditya pamit pergi bersama mami Sherly selama 2 hari dan tepat malam minggu setelah kembali dia akan ajak Rere jalan dengan motor ninja C250 yang dia miliki saat itu tapi sebelum Aditya datang Rere sudah pindah ke kampung halaman orang tua dan mereka bertemu kembali setelah 18 tahun.


Apakah benar dia masih sendiri dan belum menikah, dan apakah benar aku masih kekasih nya karena hubungan itu dan belum berakhir. Apa karena itu dia marah saat aku bicara dengan pria lain. apa seperti itu.

__ADS_1


Semakin di pikirkan semakin pusing. Akhir nya dia ijin ke dapur untuk memasak dan terlebih dahulu menaruh tas yang dia bawa kedalam kamar. saat Rere memasuki kamar pribadi nya Aditya menoleh ke arah kamar Rere dan Tersenyum melihat mawar yang dia bawa berada di nakas tempat tidur nya. Aditya dapat melihat dengan jelas. karena apartemen renia tidak terlalu besar dan keadaan kamar bisa terlihat dari luar jika pintu kamar terbuka.


Setelah menaruh tas rere menuju ke dapur dan Aditya menghampiri Rere di sana dan memaksa untuk ikut memasak. renia tidak mau berdebat lagi dia sudah lelah bekerja dan pusing memikirkan banyak hal. hanya memasak kenapa harus berdebat itu yang di pikirkan Rere. akhirnya mereka memasak berdua, sesekali tersenyum dan tertawa bersama saat memasak, menurut nya ada aja hal lucu dan menyenangkan saat memasak berdua. telur lupa di beri garam. ada juga mata pedih saat mengiris bawang drama kecil seperti itu yang sangat menyenangkan untuk Adit dan Rere.


"kembali kemeja makan atau ruang tamu, baju pak Adit akan kotor nanti"


"Sekali lagi panggil pak aku cium kamu Renia" tanpa menoleh ke arah renia. Aditya fokus menggoreng telur yang sedikit gosong.


Rere diam dan hanya menoleh sebentar kearah aditya dia malas berbicara lagi dengan pria ini, ada saja yang membuat kesal mendengar ucapan nya itu.


Setelah selesai memasak lalu Rere membawa masakan nya ke meja makan dan bersama aditya mulai memakan masakan mereka berdua dan saat aditya mengambil telur yang terlihat sedikit gosong, adit menatap rere. sontak Rere tertawa dan menyuruh aditya memakan hasil masakan nya yang gagal itu. dan mereka berdua tertawa bersama.


Setelah selesai makan dan membereskan juga mencuci piring kotor mereka berdua berbincang ringan seputar pekerjaan di mana perusahaan Aditya akan menaruh dana di bank tempat Rere bekerja. Setelah hampir 3 jam bersama tepat pukul 8 malam Aditya pulang dan di antarkan oleh Rere ke tempat parkir mobil Aditya.


Setelah di pastikan mobil yang di bawa Aditya sudah melaju ke luar area apartemen dan melaju ke jalanan ibu kota. Rere berbalik untuk masuk ke dalam apartemen nya.


"Rere"


"Geri kenapa lu ada di sini" sahut Rere


"Apa dia pacar lu"


"sejak kapan lu berdiri di situ" tanpa membalas pertanyaan Geri


"Gw nunggu lu dari tadi, gw penasaran siapa tamu yang membuat lu sibuk dan mengabaikan gw yang udah janji jemput lu tadi"


"Geri"


Reni bingung saat Geri membalikan tubuh nya lalu berjalan menjauhi Rere untuk menuju kearah mobil nya tanpa pamit Geri pergi begitu aja membuat Rere bingung dan bertanya.


Kenapa dengan Geri dia aneh sekali ga pernah Geri seperti ini selama gw temanan ama dia meski suka gw marahin, dia kenapa ekspresi kaya orang marah apa dia cemburu


dalam hati Rere terus bertanya dan membuat pikiran nya pusing. cukup lama Rere berdiri di posisi nya saat itu. tak mau tambah rumit dia memutuskan untuk masuk kedalam gedung apartemen dan menuju ke kamar dan memutuskan untuk tidur lebih cepat tidak lagi membuka chat tentang laporan bisnis baju dan hijab nya dia pusing dengan banyak hal. menurut Rere bertambah nya usia maka masalah bertambah besar.


...****************...


Tiga hari sejak malam itu Geri tidak pernah menghubungi Rere kembali dan saat Rere mencoba menelpon Geri tidak ada respon padahal nomor nya aktif. Rere bingung apa yang terjadi dengan sahabat nya. memang Rere tahu jika Geri menyukai nya sudah sering Geri mengatakan dan mengajak menikah tapi Rere selalu menghindar dan terus mengalihkan pembicaraan Geri jika membahas tentang itu dan tidak menanggapi serius ucapan geri, karena mereka sifat nya yang santai dan konyol, dan Rere anggap geri belum dewasa dengan usia nya atau hanya alasan Rere saja karena ada pria yang sedang dia tunggu.


Tapi ada perasaan aneh yang Rere rasakan dia merasa kangen dan kehilangan sosok sahabat nya itu.


Apa mungkin karena terbiasa dengan nya aku jadi kehilangan seperti ini, kenapa geri marah dengan ku.


Hati nya terasa sakit tapi Rere coba untuk tetap tengah apalagi selama tiga hari sejak masak dan makan bersama. Aditya selalu menjemput Rere saat akan berangkat dan pulang kantor dan setiap hari selalu membawa bunga yang berbeda tapi tetap sama cantik nya. Rere merasa bahagia meski ada perasaan kehilangan geri. dia ingin bercerita tentang kebahagiaan nya bersama sahabat nya tapi itu tidak bisa karena dia tahu geri menyukai Rere juga dan yang membuat Rere sakit tatapan geri terakhir pada malam itu.


Rere merasa diri nya sangat jahat jika mengingat tatapan mata sedih geri. daripada pusing memikirkan dua pria di masalalu nya yang hadir kembali setelah kepergian Rere dari kota masa kecil nya itu. Maka Rere memutuskan untuk pulang dan bertemu dengan sang ibu


Sesampainya di kampung Rere menghampiri sang ibu dan mencium tangan dan pipi ibu yang dia rindukan itu. setelah berbincang sedikit dengan ibu dan adik nya lalu Rere menuju ke arah kamar untuk beristirahat.


Rere mencoba menelpon kembali Geri dan tetap tidak ada respon meski nomor nya aktif. Rere menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan kasar. Rere memutuskan untuk tidur karena lelah dengan perjalanan dari apartemen ke rumah ibu di kampung apalagi dia membawa mobil nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2