
Sementara di rumah sakit Aditya terus memandangi wajah imut Rere yang tidak dapat di gantikan posisinya di dalam hatinya oleh siapapun termasuk Sisil.
"Jangan lihatin terus mas..." Rere memukul pelan lengan Aditya.
"Sayang suka banget pukul-pukul mas" Aditya Pura-pura sakit.
Rere justru menoleh kearah Aries dia merasa tidak enak hati dengan tingkah Aditya di depan Aries. Rere memanyunkan wajahnya dan memberi kode Aditya jika di ruangan itu ada Aries juga, tapi Aditya tidak peduli tentang keberadaan Aries, Aditya justru menyandarkan kepalanya di bahu Rere.
Sontak saja Rere kesal dan menggeser duduknya untuk menjauh dari Aditya dan membuat pria yang menyandarkan kepalanya sedikit tersinggung.
"Kenapa Sayang" ucap Aditya.
"Kita belum muhrim mas" ucap Rere cepat.
"Baiklah Sayang, pulang dari tempat ini mas akan jadikan Renia muhrim supaya tidak ada alasan untuk menghindari mas lagi" ucapnya sedikit kesal.
"Papi Aditya ingin menikahi Renia, Cepatlah sembuh untuk bisa melamar Renia kepada ibu Inah" ucap Aditya dan Aries hanya diam menatap putranya.
Dia tersenyum mendengar ucapan Aditya dan melihat Rere memukul lengan Aditya pelan. Aditya nampak meringis. Renia nampak kesal dan memanyunkan mulutnya merasa semakin jengkel dengan tingkah Aditya yang tidak dapat melihat tempat.
"Emangnya melamar wanita harus seperti itu. tidak romatis sama sekali" ucap Rere mendengar itu Aditya tertawa.
Dddrrttt... Dddrrrtttt... Dddrrttt...
Suara Panggilan masuk saat Rere melihat nama yang ada di monitor, Rere membuka panggilannya dengan menggeser tanda gagang telpon berwarna hijau
"Halo Bu Ria... " ucap Rere
"Rere kamu masih di rumah sakit?" balas Ria.
"Masih Bu, Sekarang Bu Ria ada di mana kenapa tadi langsung pergi. Rere kejar sampai parkir mobil Bu Ria sudah tidak ada" Rere berdiri dan meninggalkan ruangan.
"Maafkan saya Rere, Saya ada perlu mendadak tadi, ya sudah sampaikan salam Saya untuk Nak Aditya, nanti Saya jadwalkan lagi untuk bertemu dengan Aditya. Sekali lagi saya minta maaf sama Rere ya atas kejadian tadi" ucap Ria terdengar suara berat yang terdengar di telinga Rere.
"Baiklah Bu tidak apa yang penting saya tahu keadaan ibu baik sekarang" sahut Rere.
Selesai melakukan panggilan telepon, Rere masuk kembali dan berdiri di dekat Aditya lalu Aditya mengulurkan tangannya tapi Rere mengabaikan Aditya dan membuat kekasih nya itu marah dan ingin menggapai pinggang Rere tapi di tepis dan Rere menjauhi Aditya.
"Sayang kenapa?" tanya Aditya.
"Jangan seperti itu Mas Adit" Rere cemberut.
"Dia Papi Mas... Sudahlah kemari jangan malu sayang" Rere tetap menjauhi Aditya.
Aditya mulai sedikit marah, dia berpikir Rere tidak mencintainya, apa ada kaitannya dengan kebebasan yang dia dapatkan apakah ini keinginan Geri sebagai syarat dirinya bebas dan Rere menjauhi nya.
"Sayang... " Nada Aditya mulai meninggi.
"Kenapa Sayang, terus menghindar apa ini syarat yang sahabat kamu berikan untuk Mas mendapatkan Kebebasan Mas. Jika seperti itu Mas akan tetap melanjutkan Proses nya, Dia akan tetap bermimpi untuk dapat bersamamu Sayang" Ucap Aditya dengan nada kesal.
"Apa sih Mas ga jelas banget jadi orang" balas Rere.
"Selalu negatif sama orang lain" tambah Rere yang tampak kesal.
"Nak... Jika ingin menyentuh Renia kamu harus menikahinya" ucap Aries.
Aditya menoleh ke arah Aries yang menatapnya dengan tatapan yang penuh arti dan kembali Aditya menoleh kearah Rere kemudian berkata
"Maafkan Mas, Renia. Mas hanya takut kehilangan Kamu sayang" jelas Aditya.
"Kemarilah Sayangku, Mas Janji ga akan peluk atau sentuh Renia tanpa ijin" tambah Aditya yang mulai mengerti dan dan ada perasaan takut kehilangan.
Rere mendekati Aditya dan duduk di samping ranjang Aditya, untuk mengurangi ketegangan di ruangan itu. Aries berkata
"Nak Rere, Apakah yang menelfon tadi Ria yang datang bersamamu" ucap Aries membuat Aditya menoleh dan Rere memandangi Papi Kandung Aries itu.
__ADS_1
"Benar Pak Aries"
Rere berkata dengan mimik wajah yang terlihat canggung berhadapan dengan Aries yang adalah Papi Kandung Aditya yang baru dia temui hari ini.
Rere menatap wajah Aries yang memang terlihat mirip dengan Pria yang dia cintai itu, Rere bermonolog dalam hati
Bener Mas Aditya anak kandung Pak Aries mereka sangat mirip, lalu bagaiamana keadaan Papa Rian sekarang, Saya jadi rindu dengan Papa Rian dia Pria yang sangat Baik
Hati Rere mendadak sedih mengingat Tetangga yang dia ketahui dulu adalah Papa Kandung
dari pria yang menjadi kekasih masalalu nya itu. Rere berpikir pasti Papa Rian sangat sedih dan terpukul saat itu jika mendengar kisah kehancuran rumah tangga dengan Mama Sherly.
Seingat Rere, Rian sangat menyayangi dan memanjakan Sherly dan juga perhatian bahkan kepada Aditya dan dirinya.
Rian adalah sosok Pria yang lembut dan penuh cinta. Sosok Family man bahkan Rere berharap memiliki suami saat dewasa seperti Papa Rian.
*Mama Sherly tidak bersyukur mendapatkan Papa Rian tapi cinta tidak bisa di paksa jika hati memilih bukan orang itu maka sebaik apapun pria yang memberikan kita cinta tidak akan membuat kita bahagia, walaupun pria itu tidak sebaik yang orang pikirkan tapi jika hati kita nyaman bersama nya maka hidup kita akan bahagia. Ya mungkin seperti hubungan saya dengan Geri juga dengan Mas Adit.
Ya Allah berilah Hamba petunjuk yang terbaik dari sisimu untuk hati ini dapat memilih satu diantara mereka, Dan semoga salah satu dari mereka tidak merasa sakit hati. Siapapun yang terbaik dari sisimu ya Rob Maka Hamba akan menerimanya dan berikanlah keikhlasan untuk salah satu dari mereka yang tidak menjadi jodoh hamba dan berikan jodoh yang terbaik untuk nya nanti. Amin*.
Rere bermonolog dan berdoa atas apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Geri yang ingin berjuang untuk mendapatkan cinta Rere dan Aditya yang juga melakukan hal yang sama.
"Renia... Renia... Nak" Aries memanggil tapi yang dipanggil hanya diam dan nampak melamun.
"Sayang... "
Aditya memanggil pelan Rere kali ini tanpa menyentuh, sesuai ucapannya tadi tidak akan menyentuh tanpa seijin Rere.
"Sayangku... "
Nada Aditya sedikit tinggi dan membuat renia nampak kaget dan menoleh kearah Aditya.
"Sayang apa yang kamu pikirkan Papi dan Mas Panggil kamu beberapa kali tapi Sayang hanya diam, Apa yang kami pikirkan. Tante Ria Baik-baik saja kan?" tanya Aditya pelan.
"eehhhh.... iya Mas Bu Ria Baik dan Bu Ria bilang dia ada keperluan mendadak dan nitip salam untuk Mas Aditya"
"Sekarang Tante Ria ada dimana" ucap Aditya kembali.
"Renia tidak tahu hanya itu yang Bu Ria sampaikan" sahut Rere.
Aditya tersenyum nampak sekali wanitanya masih sama seperti dulu polos dan apa adanya. Ingin rasanya Aditya memeluk dan menci*m b*bir Rere tapi dia sadar jika Renia bukan seperti Wanita yang dia temui di Amerika bahkan tidak seperti Sisilia yang rela di sentuh bahkan tidur hanya karena sebuah kata yang bernama cinta.
Rere memang berbeda dan Aditya akan mendekati dengan lembut dan sopan. Aditya juga ingat latar belakang keluarga Rere yang memang religius bahwa interaksi dengan tubuh hanya dapat di lakukan jika mereka sudah menikah.
"Nak Rere... " Aries nampak ragu.
"iya Pak Aries" ucap Rere.
"Boleh saya bertanya sesuatu" Aditya menoleh kearah Aries dan mengerutkan dahinya.
"Tentu saja Boleh Pak Aries" Rere tersenyum manis
"jangan panggil pak Aries cukup panggil Papi" ucap Aries dan Rere melirik kearah Aditya dan pria itu hanya menganggukan pelan.
"Baik Pak... maksud saya Papi" Rere tersenyum malu.
"Nak... Bagaimana kamu bisa mngenal Ria dan Apakah Ria adalah keluarga mu" ucap Aries terlihat sedikit ragu untuk bertanya.
"Bu Ria nasabah di tempat Renia bekerja" ucap Rere
"Nasabah Renia. Tapi... " ucap Aries
"Tante Ria Klien Perusahaan kita juga pi" ucap Aditya memotong perkataan Papinya,
Tentu membuat Aries tampak kaget dan tidak percaya. Wanita yang pernah dia cari hanya untuk kata maaf ternyata begitu dekat dengan dirinya. Bagaimana bisa dia menjadi klien perusahaannya dan sejak kapan.
__ADS_1
"Nanti Aditya ceritakan" sahut putranya yang mengerti apa yang di pikirkan Papinya.
Aries menoleh kearahnya dengan tatapan penuh pertanyaan, tetapi Aries harus menahan diri untuk tidak bertanya karena di ruangan itu ada Rere, dia tidak ingin wanita yang di cintai putranya mengetahui masalah dirinya dengan Ria.
"Nak, katakan kepada Riki jika dia kemari, belikan Renia makan siang, mungkin dia belum makan" ucap Aries.
"Mas Adit, Renia sudah makan bersama Bu Ria sebelum datang menjenguk mas Aditya" ucap Rere.
Dengan cepat berkata sebelum Aditya mengambil Handphone untuk memerintahkan Riki membeli makanan sesuai perintah Aries.
"Benarkah itu sayang" ucap Aditya dan di jawab anggukan Rere.
"Baiklah sayangku" ucap Aditya.
Ketukan pintu terdengar, segera Rere beranjak dari kursinya untuk melangkah kaki kearah pintu ingin membuka tapi petugas rumah sakit masuk sebelum Rere membukanya.
"Maaf Pak saya bawakan makan siang untuk hari ini" ucap petugas rumah sakit ramah.
"Terima Kasih" Aries berkata.
Petugas memberikan masing-masing satu menu makan siang di atas ranjang tempat tidur pasien. Setelah itu petugas keluar dan Rere menoleh kearahnya Aditya dan Aries.
"Mas Aditya Rere bantu suapin ya, ada selang infus di punggung tangan, pasti mas sulit makannya" ucap Rere dan Aditya hanya mengangguk.
"Papi ingin Rere bantu juga" ucap Rere lembut.
"Tidak nak papi bisa melakukan nya sendiri, Renia bantu urus Aditya saja" ucap Aries sambil tersenyum.
Sedangkan Aditya menatap Rere dengan tatapan yang sulit untuk diartikan dan melihat tatapan Aditya seperti itu membuat Rere mengerutkan dahi dan menaikan sebelah alisnya.
Tidak mungkin kekasih nya itu cemburu dengan Papinya juga. Ya, memang Rere sedikit risih dengan tingkah Aditya yang memiliki rasa cemburu juga sikap Posesif dan Protektif nya membuat Rere pusing karena selama ini, Renia seorang wanita yang mandiri dan melakukan apapun terbiasa sendiri dan menurut kata hatinya dan berkata sesuai apa yang ada dalam pikirannya. Juga terbiasa ramah dengan orang bahkan dengan orang yang baru dia kenal.
Setelah bertemu dengan Aditya dan mengetahui karakter pria yang dia cintai seperti itu, Rere berpikir untuk beradaptasi bahkan mungkin sedikit merubah supaya hubungan nya dengan Aditya tidak memiliki masalah kedepannya.
Setelah membantu Aditya makan siang, Rere melihat jam di tangan karena notice yang menunjukan waktu sholat dhuhur. Rere ijin kepada Aditya dan Aries untuk melakukan sholat dhuhur di mushola rumah sakit.
"Nak sebaiknya Sholat di ruangan ini saja, kamu membawa mukena nya tidak" ucap Aries.
"Tadi pagi petugas sudah membersihkan ruangan ini dan sebelah sana tidak terinjak atau tersentuh oleh orang yang menjenguk kami" sambil menujuk sudut ruangan yang memang bersih.
"Renia bisa gunakan untuk tempat Sholat" tambah Aries tersenyum.
"Baiklah Papi, Terima Kasih. Renia membawa mukena dari Rumah, Renia akan ambil wudhu terlebih dahulu"
Rere mengambil mukena dan sajadah di dalam tas yang terbiasa dia pakai jika dia berpergian. kemudian kaki nya melangkah ke arah kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai berwudhu Renia melakukan ibadah Sholat Dhuhur, Aditya dan Aries menatap Rere yang sedang menjalankan sholat Dhuhur dengan khuyu. Di hati Aditya merasa damai dan tenang melihat Rere sholat, tanpa sadar dia menitikan air mata.
Aditya mengingat masa kecilnya yang mana dirinya dan Rere pergi bersama untuk belajar MTQ (Membaca Tulis Quran) yang biasa mereka lakukan sewaktu kecil di masjid dekat rumah mereka.
Aries menatap Putranya dan berharap Rere yang akan merubah Putranya yang tempramental dan juga membantu menyembuhkan dari rasa Trauma dan Depresi akibat Kehilangan Sherly mamanya saat remaja. Rere adalah cahaya yang akan membawa putra nya kembali ke jalan yang lebih baik.
Selesai Sholat terlihat Rere berdoa dan membaca beberapa ayat suci al'quran dan berdzikir. Aditya menatap lekat Pujaannya itu dan mengusap air matanya dan tersenyum saat melihat Rere selesai dengan ibadah sholat Dhuhur lalu melipat Mukena dan sajadah kemudian menoleh kearah Aditya yang juga tersenyum kepadanya.
"Sudah selesai Sholat nya Sayang" ucap Aditya.
"iya Mas, Mas Aditya mau sholat juga, nanti Rere bantu persiapkan pakaian bersihnya dan mas bisa bersuci dengan tayamum" ucap Rere.
"Sayang bisa bantu mas" ucap Aditya yang juga di jawab dengan anggukan.
"Baiklah, ambilkan Pakaian bersih mas yang ada di lemari kecil sebelah sana" sambil menunjukan letak lemarinya.
"Papi Aries juga mau sholat" ucap Rere yang di balas anggukan oleh Aries.
Bersamaan dengan itu ketukan pintu terdengar dan saat menoleh asisten datang dengan membawa beberapa paper bag berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
Setelah Renia mengambilkan Pakaian bersih Rere keluar sejenak untuk memberikan mereka waktu untuk memakai pakaian yang akan di bantu oleh Riki setelah kedua nya menggunakan pakaian bersih, Renia masuk dan memandu untuk bersuci dengan cara tayamum.
Selesai Aries dan Aditya melakukan Sholat, Rere menyuruh asisten Riki juga untuk menunaikan ibadah Sholat Dhuhur dan memberikan Sajadah yang dia gunakan tadi untuk Riki melakukan ibadah sholat dhuhur.