
"assalamu'alaikum Bu, Teh tya Rere pulang" ucap Rere sambil mengetuk pintu apartemen miliknya.
Dia lupa tidak membawa kunci cadangan saat pergi meninggalkan rumah. Kemungkinan ibu dan saudara perempuannya sedang menjalankan ibadah sholat maghrib.
Rere tidak lagi mengetuk pintu apartementnya tapi dia akan menunggu di depan pintu. Setelah menunggu Sepuluh Menit terdengar seseorang sedang membuka pintu.
"Lama sekali pulangnya Rere, bagaimana keadaan Aditya dan Ayahnya" ucap Tya
Lalu mengunci kembali pintu apartemen milik adiknya itu dan mengikuti Rere dari belakang. Bu Inah menghampiri Rere dan nampak Rere menciun punggung tangan ibunya lalu Bu Inah menanyakan apa yang ditanyakan oleh Tya.
"Mas Aditya sudah membaik dan sore ini pulang kerumah Rere ikut mengantarkan kerumahnya, tadi Mas Aditya yang menyuruh Rere bu" ucap Rere dan terlihat mengambil minum dilemari pendingin yang berada di dekat meja makan.
"Dan Pak Aries sudah membaik alhamdulillah tadi istrinya yang menunggu disana kemungkinan besok atau lusa Pak Aries pulang, Beliau meminta itu kepada keluarganya. Tapi sepertinya tunggu hasil pemeriksaan Dokter selanjutnya" tambah Rere sambil menaruh kembali gelas yang berisi setengah air.
"Ya sudah kamu mandi Rere setelahnya sholat ibu ingin membicarakan hal penting mengenai Tya Kakakmu" balas Bu Heni.
"baik, bu Rere ijin masuk kedalam terlebih dahulu ya bu" sahut Rere.
Rere mengambil wudhu lalu sholat maghrib. Selesai itu Rere harus mandi dengan sedikit cepat karena ada yang perlu di bicarakan keluarganya. Setelah Empat Puluh Lima Menit Rere keluar dan bergabung dengan ibu dan kakaknya dimeja makan.
Keluarganya berada disana untuk makan malam dan Rere berpikir masalahnya akan dibicarakan setelah mereka makan malam. Terlihat ibu dan kakaknya saling bantu untuk menyiapkan makanan dan menghidangkan di meja makan.
Rere berdiri dan menyiapkan minum Jus dan Air Putih dan juga mengambil syrup di lemari pendingin juga buah-buahan. Sebagian Rere kupas sebagian dibiarkan begitu saja.
"Hayo Makan seperti nya Nenek masak enak nih Dion" Rere tersenyum.
Rere ingat sebelumnya Aditya sudah mengisi Lemari Pendinginya dengan banyak makanan saat berbelanja di mall sebelum hari kejadian pemukulan kepada Geri dan ibunya tadi menjawab hanya memasak apa yang ada dipendingin itupun sayuran banyak yang sudah tidak segar karena telalu banyak itu menurut Tya sangat mubazir.
Maka dari itu mereka berdua memasak sayuran banyak dan tadi membagikan kepada keamanan yang bertugas diapartemen dan beberapa tuna wisma yang berada di dekat apartemen Rere.
Rere dan keluarga makan bersama dimeja makan dan dalam hati Renia bersyukur untuk segera pulang dan tidak makan malam dirumah Aditya tadi. Ternyata ibu dan kakaknya masak besar dirumah dan sungguh enak masakan Tya dan ibu Inah.
"Rere teh tya ingin buka rumah makan dijakarta bisa tidak ya" Disela makan malam ibu Inah membuka pembicaraan.
"Bisa aja bu, nanti kita cari tempat yang strategis dan mudah diakses oleh pelanggan dan cari tempat yang dekat perkantoran, universitas ataupun apartemen karena kebanyakan orang-orang sibuk jadi memilih untuk beli yang instan tinggal makan, kadang Rere juga seperti itu misalkan dikantor banyak pekerjaan jadi males masak dan kadang pesan online" ucap Rere yang menjelaskan secara detail dan terlihat meyendokan sayur kedalam piring yang sudah ada nasinya.
"nanti teh tya masuk ke aplikasi online supaya bisa jual juga disana sambil menunggu pembeli, siapa tahu ada yang pesan online" tambah Rere penuh antusias.
"Apa Rere mendukung teh Tya" ucap Tya nampak sungkan.
__ADS_1
"ya dukung teh, Rere sudah pernah jelaskan masalah ini, Semisal teh Tya mau buka lembaran baru sebaiknya jangan jauh-jauh pergi ketimur Tengah jauh dari Dion, cukup disini saja" balas Rere.
"Tapi.... " mendadak diam
"Pake saja sisa penjualan sawah jika masih ada. dan kekurangannya nanti coba Rere lihat di tabungan siapa tahu ada" sahut Rere yang mengerti maksud ucapan Tya lalu mereka berdua tersenyum.
"oh ya Rere, saat tadi teteh membagikan masakan ke orang-orang yang ada disekitar sini dan mereka menyukai masakan teteh, semoga ya rere. Teteh bisa sukses dengan usaha rumah makan saat buka dijakarta, Teteh sudah tidak ingin pulang kesana lagi. Banyak kenangan sama mas Didit selain itu juga malu re, banyak yang membicarakan masalah teh Tya lagian juga teteh sudah capek kerja diPabrik Re, Pengen ngurus Dion dan usaha saja" ucap Tya sambil meneteskan air mata, Tya tidak meneruskan makan malamnya.
Bu Inah juga ikut menangis dua putrinya sangat malang, yang satu gagal dalam berumah tangga dan yang satu usia sudah dewasa belum juga menikah padahal kedua putrinya cantik dan pekerja keras. Bu Inah terisak merasakan pedih dengan jalan hidup anaknya.
"Sudahlah teh Tya jangan lagi menangis lihat ibu kita jadi ikut menangis dan jangan melihat lagi kebelakang apalagi mengeluh tentang jalan hidup kita karena sesungguhnya dibalik kesulitan dan kesedihan hidup. Sebenarnya Allah menitipkan pengalaman yang luar biasa untuk hidup kita kedepan. Berdoa saja semoga setelah kita ikhlas menjalaninya Allah akan mengganti yang lebih dan untuk sekarang memberikan semoga ALLAH memberikan kekuatan untuk melangkah dari badai kehidupan ini setelah kita sudah melewati insyaallah kita akan menjadi pribadi yang kuat" ucap Rere sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan hubungan teh Tya dan mas Didit selanjutnya" tambah Rere.
"Teteh sudah yakin bercerai Rere" balas Tya.
"Jangan mengambil keputusan saat marah yang nantinya akan disesali dikemudian hari pikirkan terlebih dahulu, bercerai tidak haram atau dilarang tapi bercerai dibenci ALLAH teh, bukannya Rere ingin ikut campur atau menggurui tapi teh Tya harus berpikir ulang untuk Dion" jelas Rere
"iya kamu benar Rere tapi teh Tya sudah tidak tahan diselingkuhin terus sama mas Didit, ini yang paling fatal mas Didit selingkuh dengan tetangga sendiri dan sampe seheboh ini. Teteh hanya ingin fokus membesarkan Dion sudah tidak ingin melanjutkan lagi pernikahan dengan mas didit. Sakit Rere, selama ini selalu mengalah demi keluarga dan teteh juga membantu mencari uang tapi tidak pernah dihargai sama suami dia malah balas teteh dengan berselingkuh. Bukan hanya itu mas Didit juga melakukan kekerasaan sama teteh. Baru kali ini Mas Didit melakukan ini apalagi didepan Dion. Cukup Rere teteh sudah tidak tahan" jelas Tya.
"Teh Tya sebagai istri harus mengalah mengesampingkan Arsyila dan ibu yang hanya kadang teh Tya akui hanya memberikan uang sangat sedikit dan teteh bersyukur kamu membantu ibu sedangkan dari sisi mas Didit kadang orang tua mas Didit minta transfer uang kadang satu bulan bisa dua bahkan tiga kali teh Tya hanya diam. karena teteh tahu jika seorang laki-laki tidak pernah putus tanggung jawab untuk orang tuanya dan saudara perempuannya tapi jika belum menikah tapi adik perempuan mas Didit bahkan sudah berkeluarga dan memiliki anak yang seharusnya tanggung jawab suami dia bukan lagi mas Didit. Kamu sebagai Adik teteh belum pernah meminta apapun kepada teh Tya yang ada malah teteh yang merepotkan Rere terus menerus. Bukan hanya itu, teteh berusaha berhemat untuk membeli ini dan itu supaya sama dengan yang lain, teteh ikut mencari uang sampai bekerja pada malam dan pulang pagi. Teteh tidak pernah ingin dibalas apapun hanya satu hargai keberadaan teh Tya sebagai istri, ini tidak. teteh selalu diselingkuhin, Teteh sedih dan tak percaya mas Didit yang baik dulunya bisa berubah sekarang menjadi pria yang suka berselingkuh" tambah Tya.
"Jika yakin Rere hanya bisa mengembalikan keputusan kembali kepada teh Tya dan tidak ingin masuk lebih dalam karena Rere juga belum pernah menikah jadi tidak bisa memberikan solusi hanya sebagai adik, hanya bisa memberi nasehat jika urusan rumah tangga harus disimpan rapat dikuatirkan kedepannya masih ada jodoh .jika sudah up kepada keluarga bisa kemungkinan teh Tya sudah saling memaafkan tapi keluarga belum bisa menerima karena dianggap menyakiti anggota keluarganya" balas Rere pelan tidak ingin kakak perempuannya tersinggung atas ucapan yang keluar dari bibir Rere.
"Teh Tya yakin bercerai. Rere, bantu pengajuan perceraian dipengadilan ya re, kemarin ada bahas pengacara boleh teteh minta tolong ke beliau untuk urus itu tidak?, karena teh Tya tidak tahu caranya dan nanti uang pesangon teteh untuk bayar pengacara dan proses perceraian" balas Tya dengan lantang dan Rere hanya mengangguk
"ya nanti Rere coba tanyakan karena mereka berdua pengacara pribadi keluarga Erlangga. Tapi yang utama teteh harus yakin karena teh Tya orangnya labil sekarang bilang A nanti saat mas Didit membujuk berubah pikiran, lebih baik dipikirkan dengan baik-baik dulu masalah perceraian sama halnya dengan menikah keduanya perlu matang, serius dan tenang dalam mengambil keputusannya nanti.
"ini Keputusan teh Tya. Rere dan insyaallah tidak akan berubah teteh merasa sakit hati dibuat seperti itu oleh mas Didit" tambahnya sambil menagis terisak.
"ya sudah besok kita bicara dengan pengacara buat urus ini semua" sahut Rere melanjutkan makan yang sempat terhenti
Rere menatap Dion dan mengaca rambut dion juga mencubit pipinya membuat Dion kesal dan tetap memakan roti yang dibuatkan oleh Tya.
"ini roti dapat beli dimana, boleh minta tidak Dion" ucap Rere
"Mama yang buat itu banyak ko ada didapur jangan ambil punya Dion" balas keponakannya sambil menjulurkan lidah.
"Dasar Pelit" goda Rere.
__ADS_1
"Kamu mau Rere biar teteh ambilkan" sahut Tya.
"Jangan teh, Rere kenyang makan banyak ini, nanti malam saja sambil nonton film, tadi hanya mau test Dion aja pelit atau ga ternyata pelit", males jadinya" ucap Rere menatap mengejek Dion.
"Ini Dion bagi untuk Bibi, Sudah jangan bilang pelit lagi" balas Dion.
Bu Inah dan Tya hanya menggelengkan kepala dua orang ini jika bertemu ada aja pembahasan yang membuat keduanya berdebat dan menjadi ribut.
Setelah selesai makan Rere melihat pesan masuk dan panggilan yang ada di handphone miliknya, Seharian ini Rere mengabaikan pesan dan panggilan yang masuk, Dia hanya menerima panggilan masuk dari Ria setelahnya handphone dia abaikan begitu saja.
Dan saat menatap layar handphone dirinya melihat panggilan masuk dari Geri dan beberapa pesan. Rere meminta ijin untuk masuk kedalam kamar setelah membuat panggilan telpon dengan Geri, Rere akan membantu Tya di dapur.
"Sudah jangan pikirkan itu, biar teteh yang beresin kamu selesaikan dulu urusannya" ucap Tya tersenyum dan membawa beberapa piring dan gelas kotor.
Sementara Bu Inah memasukan lauk yang terbuat dari sayur dan ikan kedalam wadah bersih untuk makan pagi besok. Menurut Bu Inah dirinya hanya menghangatkan saja tanpa memasak ulang.
Rere melangkahkan kaki menuju kedalam kamar dan melakukan panggilan telpon kepada Geri baru beberapa saat Geri langsung mengangkat panggilan telpon Rere begitu panggilan masuk Geri mengganti menjadi panggilan Video dan Rere membukanya. Nampak Geri berada di dalam kamar pribadinya begitu pula dengan Rere.
"Sayang dari mana seharian tidak bisa dihubungi apa lagi selingkuh" Geri tampak dingin dan sedikit cemberut menunjukan rasa kesalnya kepada Rere.
"Enak aja, mana ada selingkuh jangan sembarangan ngomong ya, lagian selingkuhin siapa dan selingkuh sama siapa. ga jelas banget" ucap Rere tak kalah sinis mendengar ucapan Geri.
"Ya dari mas lah siapa lagi, gimana ga dituduh selingkuh seharian ga ada kabar kirain lagi main ke mars atau pluto jadi ga bisa kasih kabar" jawab Geri sedikit mencairkan suasana melihat mimik wajah Rere yang tampak tidak suka.
"Hehehe... Lucu kali" balas Rere
"kenapa ko ditanya tapi ga jawab" ucap Geri penuh selidik yang sebenarnya dia tahu kemana Rere.
Geri hanya ingin Rere jujur kepada dirinya saja tidak ingin wanita yang dia cintai sejak remaja ini berbohong atau pun menutupi segalanya walaupun pahit, dan sejak dekat dan berteman dengan Rere tidak pernah berbohong dengan dirinya walaupun menyakitkan untuk orang lain. Rere selalu berkata sesuai dengan kenyataannya dan kali ini dia menginginkan itu dari Rere meski kejujuran Rere akan membakar dan menyakiti hatinya.
"Tadi nelpon ada apa. ada masalah penting?" balas Rere.
Bukannya menjelaskan kemana seharian dirinya tidak mengangkat atau sekedar membalas pesan nya justru Rere balik bertanya. Jelas dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya terlihat wajah kecewa Geri dari layar Handphone milik Rere.
Sama halnya dengan pertanyaan Geri untuk Rere. Pertanyaan yang baru dilontarkan oleh Rere pun tidak ada jawaban, Mereka sejenak terdiam selama Tiga menit hanya saling pandang dan tidak memulai perkataan atau perdebatan. Keduanya terlihat berada didunia masing-masing dan ntah kenapa panggilan video tidak dimatikan saja. Setelah tiga menit nampak Rere memulai pembicaraan
"Geri Terima Kasih sudah mencabut tuntutan untuk mas Aditya, gw bangga sama lu yang memilih cara damai sekali lagi Terima Kasih" ucap Rere.
"Hemmm... Terima Kasih demi dia" sahut Geri.
__ADS_1
"gw cinta damai dan tidak suka keributan dan gw ingin hidup tenang tanpa masalah" ucap Geri terlihat santai tapi hatinya jelas bergemuruh dan marah.