
Rere membuka pintu dan tersenyum menyambut Riki dan mempersilahkan Masuk. Riki masuk dan meminta maaf karena sudah mengganggu Rere malam hari.
"Tidak masalah. Silahkan duduk Mas Riki" Rere mempersilahkan tamunya untuk duduk diruangan Tamu.
"Ada Masalah apa ya Mas Riki datang kemari" Rere bertanya seakan tidak tahu apa yang terjadi.
"Saya ingin menanyakan keberadaan Ayu"
Riki bertanya dengan menatap lekat Rere dan memperlihatkan gerak gerik Rere yang terlihat tidak tenang.
"oh... Ayu sudah pulang tadi, Mas Riki memang tidak bertemu didepan tadi" ucap Rere yang terlihat gugup karena harus berbohong.
"Bu Renia Saya tahu anda berbohong, Jadi Tolong panggilkan Ayu untuk menemui saya sekarang"
"eeehhhh... eeee... eeee itu saya tidak berbohong untuk apa saya berbohong" Rere terlihat kesal medapatkan ucapan seperti itu dari Riki.
"Bu Renia saya ingin bertemu dengan Ayu dan tadi Pak Aditya menelpon saya. Menyampaikan kenapa Bu Renia tidak menjawab panggilan teleponnya dan sekarang Pak Aditya merasa tidak tenang saat dirinya bekerja di Amerika. Maaf sekali lagi saya hanya menyampaikan pesan Pak Aditya kepada saya"
Rere berpikir sejenak dan ingin menanyakan perihal Aditya dan apa yang di sampaikan oleh Wenny tentang Aditya kepadanya.
"Saya... Hanya sibuk hari ini. Nanti saya akan menghubungi Mas Aditya" Jawab Rere yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang terjadi Bu Renia seperti memikirkan sesuatu mungkin saya bisa bantu karena pesan Pak Aditya sebelum ke Amerika untuk membantu dan juga menjaga Bu Rere selama Pak Aditya belum kembali ke jakarta" ucap Riki kembali.
"Benarkah lalu... kapan Mas Aditya kembali ke Jakarta" sahut Rere.
'Sekitar 3 hari lagi. Apa Pak Aditya tidak memberitahukan kepulangan Pak Aditya kepada Bu Renia"
"Dia memberitahu dan saya hanya memastikan saja" balas Rere dan tersenyum kepada Riki.
"Baiklah, Apa ada yang bisa saya bantu Bu Renia, tentang permasalahan Bu Renia"
"Dari mana kamu tahu saya memiliki masalah" Rere mengerutkan dahinya.
"Dari tatapan mata Bu Renia yang seakan memiliki sesuatu yang butuh jawaban" Balas Riki yang terlihat santai agar Rere tidak curiga.
"Apa ada kaitannya dengan Pak Aditya. Jika iya saya bisa membantu memberi jawaban jika itu saya tahu dan jika tidak akan saya sampaikan kepada Pak Aditya agar nanti Pak Aditya yang akan menghubungi Bu Rere sendiri" Riki berusaha memberi solusi.
Rere terdiam dan memikirkan apa harus bertanya kepada Riki. Cukup lama Rere terdiam dan akhirnya mengatakan apa yang diceritakan oleh Wenny tanpa menyebutkan namanya.
"Bu Renia tahu dari mana"
"Dari seseorang yang bertemu dengan Mas Aditya di Rumah sakit"
"oh... iya memang benar itu Pak Aditya" Riki menjawab santai dan membuat Rere kaget.
"Siapa wanita dan anak itu apa Mereka istri dan anak Mas Aditya atau siapa" tanya Rere dengan suara bergetar.
"Mereka Klien kami dari Bali. Sama halnya dengan Bu Ria yang juga Klien di Perusahaan kami. wanita itu juga Klien dari Bali yang mana anaknya sakit dan harus dirawat dirumah sakit"
"Tapi Wanitanya juga sakit dan kenapa Mas Aditya yang harus menjemputnya bukan Suaminya" Rere merasa aneh dan bingung.
"Masalah itu biar nanti Pak Aditya yang akan menjawab yang pasti Pak Aditya belum menikah dan Bu Renia bisa menanyakan itu kepada Ayu yang sekarang ada dikamar" sambil menunjuk kamar Rere dan pemilik kamar menoleh kearah yang ditunjuk oleh Riki.
Rere terdiam sambil menatap Kamarnya sendiri lalu Riki meminta Rere untuk memanggilkan Ayu dan saat itu Ayu sedang menempelkan telinganya dipintu kamar Rere. Ayu merasa kesal tapi tetap diam didalam kamar.
"Mami... Mami kenapa disitu. Mami tidak tidur" Ucap Jimmy dengan suara sedikit keras.
Rere menoleh kearah Riki dan Pria itu hanya tersenyum membuat Rere salah tingkah dan merasa tidak enak karena sudah berbohong kepada Riki.
__ADS_1
Rere menundukan kepala dan bingung harus berkata apa karena ketahuan berbohong karena permintaan Ayu yang tidak ingin menemui Riki.
"Bu Renia tolong panggilkan Ayu karena saya ingin berbicara dengan Ayu ini sangat Penting"
"Baiklah tunggu sebentar" Rere berjalan kearah kamarnya dan mendapati Ayu sedang memeluk Putranya di atas ranjang.
"Ayu... Mas Riki sudah tahu kamu ada disini dan meminta supaya Ayu keluar dia ingin berbicara hal Penting. Saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan kamu untuk merahasiakan keberadaan Ayu disini" Rere menunduk penuh rasa bersalah"
"Sudahlah Rere tidak ada masalah. Saya akan menemui Riki setelah menidurkan kembali Jimmy. Dia sempat terbangun tadi" Ayu tersenyum kearah Rere yang berdiri menatap ketiga orang yang berada diatas ranjang tempat tidurnya.
"Baiklah saya akan menyampaikan apa yang kamu katakan tadi kepada Mas Riki" Rere berkata lalu melangkah keluar kamar dan menutup kembali pintu kamarnya dan mendekati Riki.
"Mas Riki... tunggu sebentar Ayu akan menemui Mas Riki setelah menidurkan Jimmy tadi dia terbangun" ucap Rere sambil tersenyum.
"Baiklah Bu Rere tidak ada masalah saya mengerti" Riki membalas senyum Rere dan kekasih bosnya itu duduk kembali di ruang tamu.
"Sebelumnya maaf saya menganggu Bu Rere ini sudah malam tapi saya bertamu di kediaman Bu Rere.
"Tidak ada masalah tunggu sebentar ya saya ambilkan Pisang Goreng dan Kopi atau Teh" tanya Rere lupa untuk menghidangkan sesuatu kepada tamu.
"Jangan Repot Bu Rere"
"Tidak Repot. oh... iya Kopi atau Teh" bertanya lagi.
"Teh saja jika begitu Bu Rere"
"Baiklah dan tunggu sebentar" ucap Rere dengan menatap Riki dan dibalas anggukan kepala.
Rere menuju dapur untuk membuatkan Teh dan mengambil pisang goreng yang sudah di masak oleh Bu Inah.
Setelah Rere berada di dapur dari arah Kamar Bu Inah Keluar lalu menyapa Riki dan yang di sapa bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki ke arah Bu Inah untuk mencium punggung tangan Bu Inah.
"iya Bu Benar" Bu inah mempersilahakan Riki untuk duduk kembali.
"Nak Aditya belum pulang dari Amerika"
"Belum Bu... oh ya saya minta maaf mengganggu waktunya sudah malam tapi bertamu" ucap Riki sebenarnya merasa tidak enak hati tapi demi Ayu akan dia lakukan apapun.
"iya... tidak apa. Mungkin ingin menyampaikan pesan dari Nak Aditya atau ada hal lainnya" Tanya Bu Inah yang belum tahu apa yang terjadi dan berpikir Riki ingin menyampaikan pesan mengenai Lamaran yang akan di lakukan hari Minggu.
"oh... Bukan Bu, Saya hanya ingin bertemu dengan Nona Ayu untuk berbicara sesuatu yang penting" ucap Riki merasa canggung dan tersenyum malu ke arah Bu Inah.
"Oh... iya Nak Ayu ada di sini. Sebentar ibu Panggilkan"
Riki ingin membuka mulut untuk mengatakan Jangan tapi Bu Inah sudah berdiri dan melangkahkan kaki ke arah kamar Rere. Bersamaan dengan itu kamar Rere terbuka dan Ayu keluar dari kamar dan tersenyum kepada Bu Inah.
"Oh... itu Nak Ayu. Tadi ibu ingin panggilkan karena Nak Siapa ibu Lupa" mendadak Bu Inah Lupa nama teman dari Calon menantunya itu.
"Nama Saya Riki Bu"
"iya Nak Riki ingin bertemu dengan Nak Ayu" sambung Bu Inah.
"Iya... Bu" Ayu tersenyum ke arah Bu Inah dan kemudian menatap tajam ke arah Riki.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja. Bu Inah. Kami ijin untuk keluar sebentar tolong sampaikan kepada Rere dan Maaf Ayu menitipkan Jimmy sebentar ya Bu" ucap Ayu merasa tidak enak.
"iya... Baiklah Silahkan Nak. Tidak Perlu Sungkan" balas Bu Inah Ramah.
Kemudian keduanya melangkah dan dari arah dapur Rere membawa nampan dan menatap keduanya yang ingin keluar dari unit apartement dan Rere juga Bu Inah saling pandang.
__ADS_1
"Mereka ingin bicara diluar katanya Nak" ucap Bu Inah dan Rere mengangguk.
Sementara Riki membuka knop Pintu unit Apartement dan betapa terkejutnya keduanya saat terbuka dari arah luar berdiri Hans dengan Raut wajah yang sangat mengerikan dan penuh dengan amarah. Terlihat Jelas Rahangnya mengeras dan langsung memukul Riki saat Riki bangkit Hans memukul kembali.
Ayu berteriak dan meminta suaminya untuk menghentikan apa yang dia lakukan kepada asistennya. Hans menatap penuh amarah kepada Ayu lalu menampar istrinya keras dan membuat Rere juga Bu Inah terperangah menyaksikan itu.
Bu Inah dan Rere berlari saat mendengar Ayu berteriak lalu saat mendekat kearah pintu melihat Pria yang manampar Ayu.
"Oh... Jadi Calon Kakak Ipar Juga mendukung Perselingkuhan mereka berdua. Apa Apartement ini menjadi tempat para pezi*a berkumpul untuk berbuat dosa di sini" Teriak Hans.
"Jaga ucapan anda" Rere dengan wajah marah mengatakan itu karena merasa tersinggung.
"Hans jaga ucapan kamu ini rumah orang dan apa yang kamu tuduhkan itu tidak benar dan dari mana kamu tahu saya berada di apartement Renia" ucap Ayu sambil menangis sedangkan Riki hanya terdiam menahan sakit dipipinya bahkan bibirnya sampai pecah dan mengeluarkan darah.
"itu Tidak penting. Kamu wanita Kotor menuduh saya berselingkuh ternyata kamu berdua yang berkhianat dibelakang saya" Hans menatap penuh amarah pada Ayu lalu beralih kearah Riki yang masih tersungkur diatas lantai.
Kemudian ayu membantu Riki untuk berdiri dan menatap tajam ke arah suaminya dan merasa tidak Terima atas tuduhan kepada dirinya.
"Bukan saya yang kotor tapi kamu Hans. Jika kamu berpikir saya kotor maka ceraikan saja saya" Teriak Ayu dengan mata yang membesar menatap suaminya dan seperti menantang.
Hans mendengar itu merasa sangat marah dan menarik lengan istrinya dan membawanya keluar dari unit apartemen Rere dan di luar mencekik Ayu dan menyudutkannya di dinding yang ada di belakang Ayu.
Riki mengejar mereka dan mendapati itu Riki tersulut emosinya dan menarik baju Hans dan memukuli tanpa ampun dan Hans membalasnya Kemudian Riki menendang Perut Hans lalu memukul wajah Hans bertubi-tubi.
Mendapati itu Ayu berteriak agar Riki melepaskan suaminya dan Rere menyuruh ibunya untuk tidak keluar dari apartemen miliknya dan Rere melangkah keluar lalu menutup pintu dan mengunci dari luar. Rere tidak ingin ibunya melihat dan akan berakibat penyakit jantung ibunya kambuh dan masuk ke rumah sakit kembali.
"Cukuppp... " Rere berteriak dan beberapa tetangga yang ada di dekat unit apartemen Rere keluar mendengar keributan yang terjadi.
Biasanya Apartemen Rere sepi tapi kali ini beberapa tetangganya berada didalam apartemen mereka masing-masing dan saat mendengar keributan mereka beberapa ada yang keluar.
"Hentikan Pak Hans dan Mas Riki. Tolong jangan buat keributan disini. Jika ada masalah sebaiknya kalian selesaikan diluar. Kalian sudah mengganggu ketenangan dan istirahat orang-orang yang tinggal disini" ucap Rere marah karena apa yang terjadi.
Ayu menatap Rere merasa tidak enak dan menangis karena merasa bersalah tidak seharusnya berada di kediaman Rere dan mengundang keributan seperti ini.
"Rere maafkan saya ini semua karena saya seharusnya saya tidak kesini maaf" Rere hanya menoleh ke arah Ayu.
"Masuklah Ayu. Jimmy dan Dion ada dikamar sedang tidur jangan sampai anak-anak terbangun karena kegaduhan mereka berdua"
Ayu mengangguk dan Rere menyerahkan kunci apartemennya dan Rere menyuruh Ayu untuk mengunci kembali dari dalam dan jangan membuka selain dirinya yang meminta untuk dibukakan pintunya.
"Sebaiknya kalian berdua pulang ini sudah malam, besok baru selesaikan baik-baik. Biarkan Ayu menenangkan dirinya terlebih dahulu jangan membuat beban pikiran Ayu jika kalian peduli dengan dirinya dan satu hal lagi Ibu saya ada sakit jantung jangan sampai karena kalian jantung ibu kambuh. Mas Riki dan Pak Hans pulanglah" Pinta Rere dengan suara halus tapi tegas.
"Oh... Calon kakak ipar saya ternyata selain menjadi pelakor dan merebut seorang Pria dari wanita lain sekarang melindungi orang yang mengikuti jejak kamu juga ya... Hahahaha...." Hans tertawa dan bertepuk tangan.
"Apa Maksud kamu Pak Hans" Rere merasa bingung dan menatap Riki yang hanya diam dengan menatap kesal ke arah Hans.
"ooohhh... Drama apa ini Nona Renia... Apa kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu" Tatapan Hans tajam dengan mengusap sudut mulutnya yang berdarah karena ulah Riki.
"Tutup Mulutmu Ber*ngsek. Hanya kamu Pria Pengkhianat disini. Jangan banyak bicara kamu" Riki menghentikan ucapan Hans sebelum Hans mengatakan hal-hal bodoh kembali kepada Rere.
"Pelakor dan Pembinor saling membela dan bekerja sama untuk masuk di keluarga Erlangga. Dasar kalian orang Miskin memanfaatkan orang kaya dan menjeratnya dengan cinta hanya untuk merubah nasib kalian"
"Hentikan Bre*gsek" Teriak Riki Marah dengan ucapan Hans yang sangat menyakitkan untuk dirinya juga Rere.
Riki memukul wajah Hans kembali dan Rere meminta para tetangga apartemen untuk menghentikan perkelahian mereka berdua dan ada juga penghuni apartemen yang menghubungi pihak keamanan apartemen agar datang untuk melerai mereka berdua.
Beberapa penghuni memisahkan mereka berdua dan tidak lama kemudian pihak keamanan keluar dari lift dan berlari kearah mereka lalu membawa keduanya turun ke Lobby.
Hans marah diperlakukan tidak baik dan mengancam akan menutup Apartemen yang menurutnya kumuh dan dari jauh ada yang mengambil gambar juga mengambil video keributan yang terjadi disana dan mengirimkannya kepada seseorang.
__ADS_1