Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 129 Hati Renia Hancur


__ADS_3

Setelah mengirimkan laporan hasil kunjungannya ke Hotel yang ada di Bali. Riki segera menuju ke Airport tanpa menunggu malam. Riki tidak bisa tenang mendengar kabar Jika Ayu melihat suaminya berselingkuh di Mall.


Riki segera membereskan Pakaian juga Laptop kerjanya kedalam koper dan Tas. Riki bergegas menuju ke arah Pesawat setelah selesai pengecekan tiket dan kini dirinya duduk dan menatap ke luar jendela pesawat.


...****************...


Sementara Rere kini sudah berada di dalam ruangan rawat inap VVIP yang mana Ria sudah bersiap untuk pulang saat Rere datang.


"Renia kenapa wajah kamu terlihat murung Nak" Tanya Ria yang melihat Rere masuk dengan wajah masam.


"Renia kamu Lelah. Nak, Jika lelah kenapa kamu paksaan datang kemari Nak, Biarkan Ibu Pulang bersama Desi dan Wenny" ucap Ria pelan sambil mengukurkan tangannya ke arah Rere.


"Maaf... Bu Renia tidak bermaksud bermuka masam dan bukan karena lelah juga tapi Renia kesal dengan sahabat Renia yang pulang dari Rumah Sakit tidak memberitahu" Rere kembali cemberut.


"Renia kesana ruangannya sudah terisi orang lain" Sambung Rere.


"ohhh... Siapa. Pria yang sering bantuin kamu itu Siapa namanya ibu Lupa... yang pernah bertemu ibu juga saat di Bank" Ria bertanya sambil tersenyum, mengerti karakter Rere.


"iya... namanya Geri. kemarin Renia berdebat. Renia kira dia akan kembali seperti biasanya tapi sepertinya Geri marah dengan Renia Bu" Rere memajukan Mulutnya sambil membuka Ponsel miliknya dan berusaha menelpon Geri akan tetapi tidak ada respon.


"Ya Sudah sebaiknya kita pulang saja bu. Maaf membuat Bu Ria menunggu lama" ucap Rere sambil memasukam kembali Ponselnya kedalam Tas.


"Ya, Sudah Ayo... ke Rumah ibu ya nak. Terima Kasih sudah datang" sahut Ria dan Rere hanya menganggukan kepalanya.


"Bu, Naik Mobil Renia saja" Rere menawarkan mobilnya.


"Ya, Baiklah Rere. Desi kamu dan Wenny bersama Prayoga dan saya akan ikut mobil Rere" ucap Ria dan mendapatkan anggukan dari kedua kerabatnya.


Keduanya melangkahkan kaki kearah parkir setelah Desi selesai merapihkan semua barang milik Ria yang di bawa pulang.


Ria duduk di depan bersama Rere yang mengendarai Mobil miliknya dan meninggalkan rumah sakit dan menuju kediamannya.


Sepanjang Jalan Rere hanya diam begitu juga dengan Ria. Tidak ada yang memulai obrolan karena sibuk dengan pikirannya masing-masing dan terdengar Ponsel berdering beberapa kali dan saat Rere lihat ternyata dari Aditya kekasihnya.


Rere hanya melihat sekilas kemudian menaruh kembali di dalam tas miliknya. Melihat itu Ria berkata


"Nak, sebaiknya di tepikan dahulu mobilnya supaya Nak Renia bisa mengangkat Panggilan Teleponnya siapa tahu penting, dan benar jika sedang mengemudi sebaiknya jangan mengangkat telepon atau membalas pesan itu sangat berbahaya" ucap Ria sambil tersenyum dan Rere membalas senyuman Ria yang sudah dia anggap sebagai ibu amgkatnya.


"itu Mas Aditya Bu, Renia malas mengangkatnya"


"Loh... Kenapa malas. Apa ada masalah. inikan mau lamaran ko Nak Renia berbicara seperti itu. Sebaiknya Nak Renia bicarakan baik-baik jika ada masalah. ingat menuju hari bahagia memang biasanya ada masalah yang mengganggu pikira kita itu sudah biasa Nak" berkata dengan menatap ke arah Rere yang terlihat sedih.


"Makanya banyak pasangan yang membatalkan acara Pernikahan padahal rencana sudah matang. Jangan sampai itu terjadi. Ayo... Tepikan dulu Mobilnya dan Bicara dulu dengan Nak Aditya, Dia pasti cemas menunggu Panggilannya bisa di respon Nak Renia" sambungnya sambil menepuk lengan Rere.

__ADS_1


"Tidak Bu... Biarkan Saja. Renia ingin bicara dengan Wenny sebelum merespon panggilan dari Mas Aditya"


"Nak Renia... Apa ini tentang perkataan Wenny kemarin. Jangan dipikirkan kemungkinan dia salah lihat. Sudahlah telepon balik saja dan tanyakan saja langsung kepada Aditya. Jangan terlalu banyak bertanya kepada orang lain. Kita harus percaya dengan pasangan kita terkecuali kita melihat langsung dia berkhianat kepada kita. Mungkin ini salah Paham"


"Bu... Mas Aditya Bohong sama Renia. Dan Allah membukakan itu semua sebelum Renia jauh melangkah"


"Apa Maksud kamu Renia. Kita bicara dulu. Ayo tepikan mobilnya Nak" Ucap Ria yang melihat Rere menangis.


"Renia... Jangan seperti ini Nak Kamu tidak boleh menangis, Kamu sedang mengendarai Mobil tenangkan dulu ini bahaya Nak, Tepikan Mobilnya Renia" ucap Ria sedikit membentak.


Renia menurut dan menepikan mobilnya lalu memeluk Ria lalu menangis tersedu. Ria hanya diam dan mengusap punggung Rere.


"Bu Mas Aditya tidak jujur hati Renia berkata ada yang Mas Aditya sembunyikan. Dia berubah dia bukan Mas Aditya yang dulu pernah Renia Cintai. Mas Aditya berubah bu... Waktu yang merubah Mas Adit Bu... " Rere mengatakan dengan Menangis.


"Tenangkan diri kamu Nak dan jangan berpikir macam-macam dahulu Nak. Kamu bisa bicara dari hati ke hati dengan Aditya. Mungkin ini Kolega Bisnis Aditya. Sudahlah Renia Jangan menangis Nak" Berulang kali Ria menasehati dan juga memenangkan juga mensupport Renia agar lebih tenang menghadapi masalah yang terjadi sebelum acara lamaran.


"Bu Mas Aditya datang ke Rumah Sakit dan ada anak kecil yang memanggiknya Papi tapi tadi siang saat Renia minta bertemu dengan Ayu untuk Makan siang. Ayu bertanya perihal itu dan Ayu nampak bingung dan Ayu memutuskan untuk bertanya kepada Anaknya yang bernama Jimmy dan katanya Maminya berdebat dengan Papinya dan sejak kemarin hanya berada di dalam kamar itu tandanya bukan Mas Aditya tidak menemui Adiknya di rumah sakit lalu siapa Bu... Mas Aditya bersama Perempuan dan seorang Anak laki-laki dan dia siapa Bu... Apa ini Jawaban dari doa Renia. Sepertinya Allah membukakan semua sebelum acara Lamaran. Apa seperti itu Bu... Renia sakit Bu..." Ria juga menangis karena dia juga kaget dengan apa yang di katakan Rere kepada dirinya.


"Tenanglah Nak, Kita tunggu penjelasan dari Aditya, Kamu harus percaya kepada dirinya meski hanya 1% saja. Jangan mengambil keputusan saat kita marah Renia. Ibu Minta tenang ya" Renia mengangguk.


"kamu masih bisa menyetir atau biarkan ibu yang menyetir. Keadaan kamu tidak baik-baik saja Nak. Biarkan ibu yang menyetir Renia" Berkata sambil Memeluk Punggung Rere dan segera di balaskan gelengan kepala.


"Tidak Bu Biarkan Renia yang tetap menyetir. Bu Ria masih belum sehat. Renia masih bisa menguasai diri Bu" Rere menarik tubuhnya dari pelukan ibu angkatnya dan menarik nafas lalu mengusap pelan air mata yang menempel di pipi lalu dia mengendarainya kembali,


Setelah menempuh perjalanan sekitar 35 Menit mereka sampai di Kediaman Ria yang minimalis tapi terlihat sangat mewah dan asri.


Untuk Barang Milik Ria di bawa oleh Desi dan sudah di bawa kedalam kamar Ria untuk di rapihkan. Mereka sudah sampai sekitar 20 Menit sebelum mobil Rere masuk ke halaman Rumah Ria. Dan Desi bertanya kenapa sampainya lama karena sebelumnya mobil Rere berada di belakang mobil yang di kendarai oleh Prayoga, Driver dari Bu Ria.


"oh... Tidak tadi kita mampir di tempat pengisian bahan bakar" Bohong Ria yang tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Wenny bisa kita bicara sebentar ada yang ingin saya tanyakan kepada kamu"


Ria dan Desi saling pandang dan bergantian ke arah Wenny. Ria mengangguk dan Wenny berkata dengan pelan


"Baiklah apa yang ingin dibicarakan dengan saya Kak Renia" Sahut Wenny


"kita bisa bicara di kursi taman sajakan" Rere menoleh ke arah Ria meminta persetujuan dan dijawab anggukan.


Keduanya menuju taman yang tidak jauh dari rumah Ria. Desi mendekat Kearah Ria dan bertanya


"Sepertinya dia ingin menanyakan masalah tunangannya ya Mba. Saya harap Wenny tidak jauh untuk ikut campur"


"Saya harap juga begitu dan semoga ini hanya salah paham dan Tidak ada sesuatu yang terjadi pada hubungan mereka. Renia akan sangat hancur Jika tahu Aditya berkhianat. Wanita Malang itu sampai belum menikah menunggu kekasihnya Masa lalunya datang. Banyak Lamaran yang dia Tolak hanya demi Aditya" Ria meneteskan air mata mengingat kisah cinta Rere juga kisah cinta dirinya dengan Aries yang mana Papi dari Aditya.

__ADS_1


"Jika benar Aditya berselingkuh. Memang darah itu lebih kental dari air. Dia memang anak Aries"


Ria berkata dengan menghela nafas panjang dan Desi hanya menoleh menatap dengan bingung apa yang maksud dari Ria sesungguhnya.


...****************...


Di Taman Rere duduk berhadapan dengan Wenny dan Rere terdiam sejenak sebelum bertanya dengan serius kepada Wenny dirinya harus mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk dirinya menutup mata dan membaca basmalah sambil menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan.


"Wenny bisa kamu ceritakan secara detail apa yang kamu lihat di Rumah Sakit dan Saya harap kamu mengatakan yang sebenarnya. Saya tahu kamu orang baik. Mungkin Allah memilih kamu untuk menceritakannya kepada Saya"


"Maksudnya Kak Renia apa ya saya kurang mengerti" Wenny nampak bingung harus menjawab apa karena tadi Ria di rumah sakit tidak boleh dirinya membuka apa yang dia dengar dan dia lihat.


"Saya mohon katakan saja" Dengan air mata Rere menggenggam tangan Wenny.


Wenny merasa kasihan dengan Rere, dirinya memang menyukai ketampanan Aditya akan tetapi hatinya bergetar saat melihat air mata Rere dan merasa tidak tega. Maka dari itu dia memutuskan untuk menceritakan semuanya dari awal dia mengikuti Aditya sampai Aditya bertemu dengan wanita yang dia dengar dengan Tika.


Wenny mendengar dengan Jelas Apa yang dikatakan Oleh Cantika yang mana dia akan menyaksikan Rere menderita karena mengetahui orang yang dia pilih ternyata tidak seperti yang di harapkan. Rere mendengar itu membuat dirinya menutup mulutnya sendiri menggunakan tangannya.


"Tika... Maksud kamu Cantika ya"


"Ntah lah Kak saya hanya tahu Pria yang datang dengan Kak Renia memanggil namanya dengan panggilan Tika" Wenny berkata dengan bola matanya menatap ke atas, dirinya mencoba mengingat kembali.


"Ya... Dia Cantika... Pasti dia Cantika. Geri dirawat di rumah sakit yang sama dengan Bu Ria dan Mas Aditya menemui seseorang wanita lalu beralih ke kamar yang ada disamping sambil membawa Seorang anak dan diikuti oleh Wenny. Tentu saja itu Geri. Saya yakin" Rere kembali menutup wajahnya menggunakan tangannya dan menangis dengan sangat sedih membuat Wenny menjadi tidak enak hati.


"Maafkan Wenny kak Renia, sudah mengatakan ini semua. Maaf Tapi Wenny tidak tahu jelas wanita dan anak kecil itu hungunah nya apa dengan Pria yang bersama dengan Kak Renia yang mengaku akan menikah dengan Kak Renia"


"Kamu tidak salah Wenny. Justru saya sangat berterima Kasih. Kepada kamu karena mau membuka semuanya" Sahut Rere yang masih menangis.


Ria menatap dari kejauhan dia sudah menebak. Jika Wenny mengatakan semua yang dia lihat dan sudah dia ceritaka juga kepada dirinya juga kepada ibunya sebelum Rere datang menjemput Ria dirumah sakit.


Ria melangkahkan kaki ketempat Wenny dan Rere berbicara dan bersamamu dengan itu suara telepon miliknya berdering di dalam tas miliknya.


Rere melihat siapa yang menelpon dan ternyata Aditya Rere langsung mematikan dan beberapa kali tetap sama Rere tidak mau menerima pa ggilan telepon dari kekasihnya itu.


"Renia... Nak. Jika itu dari Aditya angkatlah tanyakan kepada dia siapa wanita itu dan siapa juga anak yang ada dalam gendongannya saat Wenny melihat mereka. Siapa Tahu ini kesalahpahaman"


"Ini bukan kesalahpahaman Bu Ria akan tetapi kebohongan Mas Aditya... Rere... Bodoh Harusnya tahu bahwa jarak pertemuan kami itu cukup lama saat Renia kehilangan Mas Aditya umur Renia masih 14 Tahun dan itu Cinta Anak Kecil usia kita belum matang, dan kami bertemu kembali setelah 18 tahun. Tentu saja sudah banyak berubah dan kemungkinan perasaan Mas Aditya sudah bercabang kepada wanita lain... Renia bodoh Bu"


Rere menangis dan menutup wajahnya di dalam lengannya yang menempel di atas meja. Rere sangat terluka meski itu hanya pemikirannya saja akan tetapi rasa sakitnya sangat dalam.


"Mas Aditya Bagaimana Jika memang kamu sudah memiliki seorang Anak... Mas Aditya. Kenapa begini... Renia sedih Mas. Hati Renia Hancur" Rere menangis sambil berbicara sendiri.


Suara Telepon terus berdering, Pria yang berada di ujung telepon ini merasa khuatir karena Rere tidak mengangkat teleponnya dan justru mematikannya dengan sengaja.

__ADS_1


"Renia kenapa kamu mematikan Teleponnya sayang... " Aditya nampak kesal didalam kamarnya semalaman dia tidak dapat tidur memikirkan Renia dan saat pagi dia telepon Rere tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Riki juga tidak dapat di hubungi. Aditya benar-benar Frustasi dan dia memukul dinding menggunakan kepalan tangannya dan mengeraskan rahangnya menahan kesal dan amarah.


__ADS_2