
“Jangan mengemis Cinta dengan wanita yang tidak menginginkan untuk hidup menua bersama kamu Geri, ibu besarkan kamu dengan cinta yang sangat besar jangan cinta itu kamu berikan kepada wanita yang tidak pantas untuk kamu yang ada kamu menderita, belum terlambat nak. Berikan saja sisa cinta yang kamu miliki untuk Cantika dan buktikan kepada Rere, jika kamu bisa bahagia tanpa dirinya” Bu Sri melanjutkan perkataanya dengan menitikan air mata.
“Dimana Rere sekarang Geri, Tida ada disini benarkan Nak. Yang ada didepan mata kamu sekarang hanya Cantika. Dia tulus Cinta dengan kamu maka dari itu dia datang kemari meski sudah malam sekalipun, dan Rere tidak datang justru dirinya menghubungi Cantika untuk menggantikan untuk menjaga kamu sedangkan dirinya sekarang tidur nyenyak. Apa Wanita seperti ini yang kamu inginkan menjadi ibu dari anak-anakmu itu”
Perkataan ibunya seperti pisau yang menusuk hati dan juga pikirannya, Geri menutup matanya kembali dan meneteskan air mata. Perasaan kecewa sedih juga kehilangan membuat Geri tidak bisa menjawab apa yang dikatakan ibunya tubuh dan perasaannya sangat lelah untuk saat ini lebih baik dia menutup mata dan mencoba untuk tidur dan berharap perasaan Cintanya kepada Rere hilang besok pagi saat dirinya terbangun.
...****************...
Rere berpamitan untuk bekerja di hari senin setelah Cuti panjangnya selama Sepuluh Hari, Rere mencium punggung tangan Ibu Inah juga Tya kemudian dirinya menuju kedalam Lift dan setelah Lift terbuka dirinya segera menuju ke Parkir untuk melajukan mobilnya ke kantor untuk bekerja.
Rere mengendarai Mobilnya dengan sesekali mengecek Ponsel untuk memeriksa pesan atau panggilan dari kekasihnya tapi sampai pukul Tujuh Pagi belum menerima. Rere menarik nafas panjang dan memberanikan diri untuk menelpon Aditya terlebih dahulu.
Suara Ponsel milik Aditya berdering tidak juga dapat membangunkan Aditya yang sedang tertidur dikursi samping bangkar Putranya, Zayn menggoyang-goyangkan lengan Papinya agar mengangkat Panggilan masuk.
“Papi… Papi Bangun ada yang menelpon mungkin itu Mami yang telepon. Papi Bangun. Ayo Papi Bangun”
Aditya merasa terganggu dengan rengekan Zayn Putranya dengan masih menutup matanya, Aditya mengangkat Panggilan Telepon tanpa memastikan siapa yang menelpon nya terlebih dahulu.
“Ada Apa Zayn baik-baik saja”
“Siapa Zayn Mas” Sahut Rere yang membuat mata Aditya terbuka dengan lebar dan menatap ponsel lalu dirinya bangkit dari tempat duduk dan melangkah ke arah luar ruangan dengan terlebih dahulu memberi kode Putranya untuk diam dengan meletakkan telunjuknya di mulut dan Zayn mengangguk.
“Sayang. Eeehhh… Ada apa”
Aditya merasa bingung dengan pertanyaan Rere setelah dirinya keluar ruangan rawat inap VVIP. Zayn semalam di pindahkan ke ruangan VVIP.
Karena keadaannya sudah membaik begitu juga dengan Sisillia akan tetepi untuk ruangannya mereka dipisahkan karena tidak ingin Sisillia mengetahui Zayn sakit setelah mendapati dirinya tidak sadarkan diri didalam kamar.
Saat Cantika melihat Aditya dan Riki berbincang di Koridor dekat ruangan ICU. saat itu Sisillia dan Zayn akan di pindahkan oleh petugas rumah sakit dan Aditya saat itu meminta Riki mengurus apa yang di perlukan untuk Sisillia sedangkan dirinya menemani Putranya di ruang VVIP. Aditya baru bisa tidur pukul Empat Subuh karena itu saat Rere menelpon dirinya masih tertidur dikursi samping Bangkar Putranya dengan posisi memeluk putranya .
“Mas, Renia tanya tadi siapa Zayn dan dia kenapa?” Tanya Rere sekali lagi.
“Sayang… Dia… Putra…”
Aditya terdiam dengan menyentuh tekuk lehernya dan menatap ke arah ruangan dimana Putranya sekarang di rawat”
“Iya… Putra Siapa Mas”
Rere sedikit terganggu karena itu dia menepikan Mobilnya untuk mendapatkan Jawaban Pasti tentang Zayn.
“Dia Putra Kolega Bisnis Mas yang dari Bali. Renia ingat itukan”
Aditya terpaksa berbohong karena belum siap menjelaskan tentang Putranya sebelum dia menikahi Rere karena Aditya takut Rere akan meninggalkan dirinya.
Rere diseberang telepon hanya terdiam dan mengerutkan dahinya dan kepalanya penuh tanda tanya.
“Kenapa dengan Zayn dan Mas sekarang ada di mana”
“Mas ada dirumah sayang, Apa Mas perlu Video Call Renia supaya Renia percaya dengan apa yang Mas katakan” Aditya merasa gugup saat mengatakan nya
“Tidak Perlu Mas Renia percaya. Ya sudah jangan dibahas lagi”
Perasaan Rere merasa aneh dan tidak percaya dengan Aditya akan tetapi pagi ini dirinya sedang malas untuk berdebat atau menambah pikiran nya sendiri.
“Renia hanya ingin memastikan keadaan Mas Aditya karena dari semalam Mas tidak menelpon Renia”
“Ya. Maafkan Mas. Kemarin sepulang dari antar Renia mas ada pekerjaan sampai larut malam dan saat Sayang, telpon Mas baru bangun Tidur”
“oh… Apa Panggilan Telepon Renia membangunkan Mas Adit?”
__ADS_1
“Iya. Sayang”
“Renia mengganggu tidur Mas Adit?”
“Tidak sayang. Mas justru berterima kasih untuk Renia karena membangunkan Mas, Karena hari ini Mas memang harus bekerja melanjutkan pekerjaa semalam”
“Jangan terlalu lelah Mas”
“Ya, Sayang. Sebenarnya banyak pekerjaan yang terbengkalai akibat kasus mas kemarin. Karena Mas mendekam di penjara karena itu jadi mas harus membereskan Semuanya Sekarang. Sayang”
“Mas, Renia merasa bersalah karena Renia Mas Aditya mendapatkan masalah ini dan sekarang…”Rere mulai menangis.
“Sayang kamu kenapa” Aditya merasa khuatir.
“Sayang itu tidak jadi masalah dan kemarin bukan karena Renia tapi Mas yang salah karena tidak bisa mengontrol emosi mas saat Renia pulang dengan Geri” Aditya mengusap wajahnya
“iya tapi kerjaan mas jadi menumpuk sekarang”
“Tidak masalah sayang”
“Mas…”
“Iya Sayang”
Renia ragu mengatakannya. Jika meminta ijin untuk menemui sahabatnya. Dapat dipasti kekasihnya tidak akan mengijinkan dirinya.
“Mas… Adit hari ini Renia sudah mulai bekerja. Masa Cutinya sudah selesai” Tidak jadi memberitahu dan mengalihkan dengan Topik lainnya.
Aditya menghembuskan nafasnya sedikit lega itu artinya Rere hari ini tidak kerumah sakit karena sibuk di kantor, Setelah mereka berdua berbicara selama Sepuluh menit Rere meminta ijin untuk mematikan Panggilan Teleponnya dan kembali mengendarai Mobil menuju Bank tempat Rere bekerja.
“Semoga Renia tidak kemari, tapi apa Renia tidak mengetahui jika sahabatnya dirawat” Aditya berpikir sejenak dan masuk kembali keruangan tempat anaknya dirawat.
“Papi Apa itu Mami”
“Bukan, Nak” Aditya tersenyum dan membelai rambut Zayn yang berusia 9 Tahun.
“Apa Mami Saat ini sudah membaik Pi, Zayn ingin bertemu dengan Mami”
“Tunggu Zayn Pulih ok” Zayn mengangguk.
Suara Pintu diketuk bersamaan dengan itu Riki masuk kedalam ruangan rawat inap Putranya, Aditya menyuruhnya masuk dan meminta Riki menjaga Putranya karena Aditya akan ke kantor untuk mengurus Perusahaannya.
Memang benar apa yang dia katakan kepada Rere banyak pekerjaan yang harus dikerjakan olehnya, karena terbengkalai akibat kasusnya itu.
Riki mengangguk dan Aditya berpamitan dengan putranya untuk menjenguk Sisillia dan setelah itu Aditya akan pergi ke kantor.
Putranya tersenyum dan menganggukan kepala lalu Aditya meninggalkan ruangan rawat inap Putranya dan berjalan ke ruangan di mana Sisillia berada yang berada disamping Ruangan Putranya.
Aditya membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan mendapati wanita yang mencintainya itu masih tertidur.
Aditya duduk disamping Bangkar Sisillia dan menatap wanita yang sudah menemaninya selama Delapan Belas Tahun dan memberinya Putra yang saat ini berusia 9 Tahun.
Aditya merasa bersalah dengan wanita yang telah membantunya melewati masa sulit sampai mengorbankan masa mudanya untuk mendampingi dirinya sampai mendapatkan kesuksesan didunia Bisnis.
Dan menutup hatinya untuk Pria Lain yang ingin mendekatinya dan memilih berada di samping Aditya yang adalah seorang Pembisnis Sukses.
Meski Perusahaan itu milik keluarganya akan tetapi ditangan Aditya Perusahaan Milik keluarga Erlangga berkembang pesat saat ini.
Aditya beranjak dari kursinya untuk meninggalkan ruangan karena harus bekerja dirinya datang hanya untuk memastikan keadaan Sisillia saja.
__ADS_1
Sisillia membuka mata dan mendapati Aditya yang membalikan tubuhnya untuk melangkah kakinya menuju ke arah pintu dengan cepat Sisillia menarik tangan Aditya membuat tubuh pria itu tidak bisa menjaga keseimbang dan jatuh ke ranjang dengan posisi membelakangi sisillia.
Wanita yang melahirkan Putranya segera memeluk dari belakang dan menciumi leher juga Pipi Aditya.
“Hentikan Sisil, ini dirumah sakit”
“Saya merindukan dirimu sayang”
Hembusan nafas Sisillia membuat bulu kuduk Aditya berdiri tapi dia harus menahan godaan Sisillia saat ini selain ini masih dirumah sakit.
Dan Sisillia sedang masa pemulihan dari pendarahan karena pemasangan alat Sp*ral yang dipaksakan oleh dirinya yang mana ada luka serius di Rahim ibu dari anaknya dan lagi Aditya tidak ingin mengkhianati Rere.
Sisillia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aditya dirinya terus menggoda Aditya dan tanpa henti menci*mi Aditya dan tangannya berpindah ke bagian tubuh Aditya yang sangat penting dan dalam hatinya mengatakan
Seluruh Bagian Tubuhmu hanya milik saya dan ini tidak boleh masuk ke bagian tubuh wanita lain.
Sisillia memainkannya dengan terus menci*mi pipi Aditya. Membuat Pria itu memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya. Aditya mencoba mengehentikan Sisillia akan tetapi tubuhnya terlalu menginginkannya.
Aditya menarik kasar Tangan Sisillia dan beranjak dari duduknya tanpa menoleh ke arah sisillia dan tanpa mengeluarkan kata-kata dan saat dirinya ingin membuka knop pintu untuk keluar dari ruangannya, Aditya mengurungkan niat dan justru mengunci kamar Sisillia dan berbalik ke arah Sisillia dengan membuka Cela*a nya dan menghampiri Sisillia lalu menarik rambut ibu dari Putranya dengan kasar dan Aditya menatap Sisillia yang justru tersenyum diperlakukan seperti itu.
Aditya hanya diam dengan tatapan dingin dengan rahang yang mengeras dia memasukan miliknya kedalam mul*t Sisillia. Tentu saja itu membuat Sisillia merasa menang atas Renia.
Aditya dan Sisillia melakukannya selama Sepuluh Menit setelah dirinya p*as Aditya menarik untuk melepaskan Miliknya dan memakai kembali c*lana nya dan meninggalkan Sisillia begitu saja.
Sementara Sisillia hanya tersenyum penuh kemenangan karena Pria yang dia cintai tidak akan pernah meninggalkan dirinya meski telah bersama Rere sekalipun karena kebutuhan biol*gis nya hanya bisa dipenuhi olehnya.
“Kamu akan selalu datang kepada saya, Sayang. karena Renia hanya memiliki Hati kamu dan tubuh kamu hanya milik Saya”
Sisillia tertawa dengan memandang pintu yang tertutup lalu dirinya mengambil tissue untuk membersihkan kekacauan yang diperbuat oleh dirinya sendiri dan tubuhnya dia sandarkan di kepala ranjang dan pikiran teringat kepada Zayn.
Sedangkan di luar Cantika melihat Aditya keluar dengan ekspresi yang sulit di artikan dan Cantika menatap ruangan rawat inap VVIP yang tertutup.
Bu Sri menepuk lengan Cantika membuat dirinya mengedikan bahu dan menatap ibu dari Pria yang dia cintai dengan kaget.
“Ada apa Cantika, Seperti melihat hantu saja” Tanya Bu Sri.
“Oh Tidak ada Bu, saya hanya terkejut saja” Cantika tersenyum.
“Pasti memikirkan sesuatu karena orang terkejut biasanya karena sedang memikirkan sesuatu. Kamu tenang saja Cantika, Geri hanya menikah dengan dirimu bukan Renia” ujar Bu Sri membuat Cantika tersenyum dan menunduk karena malu.
Sedangkan Aditya merasa kesal dan sekali lagi merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan pagi ini dengan Sisillia di dalam ruangan rawat inap VVIP tempat Sisillia berada dan berpikir apa yang menjadi can*u nya dengan sisillia akan hilang jika dirinya menikahi Rere dan dirinya akan berhenti menyentuh Sisillia.
Karena kebutuhan Biol*gisnya sudah dipenuhi oleh Istrinya nanti yang juga wanita yang amat dirinya cintai dan berpikir rasanya jauh akan lebih nikm*t jika melakukannya dengan wanita yang sangat dia cinta.
Mengingat itu membuat dirinya tidak sabar untuk menikahi Rere dan memindahkan Sisillia ke Luar negeri.
Jika Sekarang Aditya meminta nya kepada Rere yang ada Aditya akan di tinggalkan oleh Rere yang tidak akan mau di ajak melakukan sebelum menikah.
Aditya mengusap wajahnya sendiri dengan kasar dan mengacak rambut nya. Tubuhnya menginginkan itu tapi wanita yang di cinta nya tidak memberikannya.
Jadi setiap Sisillia menggodanya maka Aditya dengan mudah terjebak dan terbujuk oleh sentuhan Sisillia.
...****************...
Sementara Rere sudah sampai didalam kantornya dan Rere sudah dapat menebak pasti dirinya akan menjadi bulan-bulan gunjingan dan gosip para rekan kerjanya akibat permasalahan Perkelahian Aditya dengan Geri karena itu dirinya memilih untuk masuk kedalam ruangan kerjanya dan membuka laporan seperti email terkait urusan kerja.
Rere menghubungi Riki mengingat perkataan Aries yang akan menyimpan dana dengan jumlah besar setelah Rere masuk ke kantor untuk dana yang akan disiapkan untuk Proyek besar yang akan dikerjakan Oleh Perusahaan Erlangga nantinya.
Riki mengangkat Panggilan telepon dari Rere dan memberitahu jika siang nanti Manager keuangan Perusahaan Erlangga akan mendatangi Bank**** tempat Renia bekerja. Rere mengucapkan Terima Kasih dan menutup telepon dari Geri.
__ADS_1
Terdengar Suara Pintu diketuk dan terlihat Dina sahabat yang ada dikantor merentangkan tangannya untuk menyambut Rere yang sudah mulai bekerja. Keduanya tersenyum dan berpelukan melepaskan rindu untuk bekerja sama.
Tidak lama dari kedatangan Dina Pak Edo mengetik pintu ruang kerja Rere dan Tersenyum menanyakan kabar Rere setelah basa-basi dengan Rere, Pak Edo meminta Rere untuk datang ke ruangan nya dan dijawab anggukan kepala oleh Rere.