Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 116 Janji Renia Untuk Aditya


__ADS_3

"Rere sudah waktunya Adzan kita sholat dulu, Nak. Biarkan Nak Ayu yang menjaga nanti bisa bergantian sholatnya dan setelah sholat kita bacakan ayat suci al'quran"


"Benar Bu. Silahkan. Kita Sholat bergantian saja" Ayu mengatakannya sambil menggenggam erat Ponsel milik kakaknya.


"Baiklah. Tapi ayu Panggilan teleponnya kenapa tidak diangkat"


"Saya akan mengangkatnya"


Rere mengangguk dan tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Hallo. Ada apa"


Ayu mengangkat dan Sisilia terkejut dengan suara wanita yang mengangkat, dirinya menatap layar dan memastikan nomor yang dia panggil dan benar nomor milik Ayah dari anaknya.


"Dimana Adit"


"Kakak sakit dan sekarang tertidur"


"Apaaaaaa....... "


"Tolong katakan apa yang terjadi dengan Aditya. Apa Sakitnya kambuh" terdengar Panik dari seberang telepon.


"Jangan Khuatir kakak sekarang baik-baik saja karena sudah di berikan obat penenang oleh Renia" Ayu sengaja memberitahukan itu kepada Sisilia.


"Re.... nia... Apa sekarang Adit bersama dia"


"Iya... dan Kakak saya sepertinya nyaman bersamanya"


"Apa Maksud kamu Ayu" ucap Sisilia tersinggung.


"Biarkan kakak Bahagia bersama Renia" Suaranya sedikit pelan tanpa sadar Rere ada dibelakang Ayu saat Adik dari kekasihnya itu mengatakan hal demikian.


Ayu menoleh untuk memastikan keberadaan Rere dan ternyata Calon kakak iparnya ada dibelakangnya ntah sejak kapan dan membuat Ayu terkejut.


"Re... nia" Ayu mematikan panggilan teleponnya dan menatap dengan perasaan tidak enak kepada Rere.


"Siapa yang menelpon Ayu"


"Eeehhhhh... Mami. Ya. Mami yang telepon" Rere mengertutkan dahinya dan menyatukan kedua alisnya.


Ayu berbohong karena takut Rere mengetahui hubungan Aditya dengan Sisilia yang akan membuat Rere kecewa dan akhirnya meninggalkan Kakaknya.


Sebenarnya dia ingin menentang apa yang ingin dilakukan oleh kakaknya untuk membohongi Rere dengan menyembunyikan hubungannya dengan Sisilia juga tentang fakta kakaknya memiliki putra dari Sisilia akan tetapi karena melihat Aditya yang mengalami Depresi kembali seperti saat remaja, Ayu mengurungkan niatnya.


Dan dari Sisi Rere terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayu karena menurutnya untuk apa Mami Sambungnya menghubungi Aditya padahal hubungan keduanya terlihat tidak baik, Keraguan dan juga kecurigaan dari Rere dapat dilihat oleh Ayu karena itu dia berkata


"Mami... Memiliki hubungan kurang baik dengan kakak dan dia sering menekan kakak dibelakang Papi untuk melepaskan posisinya sebagai CEO Perusahaan keluarga kami"


Ayu sebenarnya mengatakan yang sebenarnya karena memang Lisna menentang Anak Sambungnya untuk memimpin perusahaan akan tetapi dia juga berbohong karena yang menelpon tadi bukan Maminya akan tetapi selingkuhan dari kakaknya.


Rere mengangguk tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang itu karena dirinya harus sholat juga karena tidak ingin membuat suasana jadi buruk dan lagi dirinya tidak terlalu jelas dengan apa yang dikatakan oleh Ayu dan Rere mengambil sajadahnya untuk menunaikan sholat maghrib.


Sedangkan Sisilia menjadi panik dan bingung dirinya harus berbuat apa mengingat sekarang masih dirumah sakit dan Aditya sekarang bersama Rere menambah kegelisahan juga cemburu dalam hatinya.


"Sayang..." Sisilia meneteskan air mata.


Sedangkan dikamar Rere, kini duduk Ayu sambil menatap Aditya dengan menggenggam tangan kakaknya itu dan Renia terlihat sedang melaksanakan Sholat Maghrib.


Selesai Sholat Rere menggantikan Ayu untuk menjaga Aditya dan Ayu mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat maghrib dan Rere sambil duduk dikursi yang tidak jauh dari Aditya dirinya membacakan ayat suci Al'Quran.


Riki setelah Sholat maghrib dirinya duduk bersama dengan Bu Inah dan Tya yang juga selesai melaksanakan Sholat maghrib lalu Dion duduk sambil memainkan Game yang dibelikan oleh Geri.


Selang Sepuluh Menit Rere dan Ayu keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya diruang tamu yang mana juga menjadi ruang untuk menonton televisi.

__ADS_1


"Bagaiaman keadaan Nak Aditya" Tanya Bu Inah.


"Mas Adit masih tidur dan tadi Rere cek suhu tubuhnya panas, apa sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja. Rere khuatir terjadi sesuatu"


Riki menatap Ayu seakan mencari tahu dari sorot mata apa yang akan mereka berdua lakukan karena Riki tahu jika dirumah sakit ada Sisilia juga Zayn. Jika Rere bertemu dengan keduanya maka hubungan Adit dan Rere akan berakhir.


Sedangkan Ayu khuatir Sisilia menjenguk Aditya saat Rere berada dirumah sakit dan kebenaran hubungan mereka akan terungkap. Ayu tidak ingin membohongi Rere tapi Ayu juga tidak dapat mengungkapkan kepada Rere karena Kakaknya pasti akan sangat marah. Biarkan kakaknya yang akan menjelaskan nanti kepada Rere. Ayu merasa bingung dan dilema.


Sedangkan Aditya sangat menginginkan menikah dengan Rere bahkan tidak ingin kehilangan wanitanya, Kakaknya selalu mencari keberadaan Rere meski disisi lain kakaknya juga menjalain hubungan terlarang dengan Sisilia.


"Sebaiknya tunggu bangun saja bu Rere, Jangan khuatir Pak Aditya sering seperti ini dan setelah meminum obatnya dia akan membaik" Riki mencoba menenangkan Rere dan apa yang disampaikan oleh Riki membuat ayu tersadar dari lamuannya.


"Kita tunggu kak Adit saja ya Rere. Saya minta maaf jadi merepotkan" Ayu tersenyum


"Baiklah. Mas Riki"


"Ayu saya tidak merasa repot. saya hanya mengkhuatitkan keadaan mas Adit"


Aditya perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandangan matanya diruangan yang asing bagi dirinya untuk mencari tahu keberadaannya sekarang.


Aditya ingat terakhir dirinya berada dibalik pintu meminta Rere untuk memaafkan dirinya akan tetapi Rere tidak memenuhi keinginannya.


Aditya menatap Photo Renia yang sedang tersenyum manis saat wisuda dan juga photo Renia saat menerima penghargaan dari Bank tempatnya bekerja. Aditya tersenyum dan dia mengerti bahwa dirinya berada dikamar Rere sekarang.


Aditya membalikan tubuhnya ke kiri dan kanan untuk merasakan ranjang milik kekasihnya itu dan Aditya tersenyum lalu mengambil bantal yang tidak jauh dari tempatnya lalu mencium bantal Rere, dia merasakan aroma parfum milik Rere dan Aditya memeluknya.


Dari arah luar Ayu dan Rere melangkah menuju kamar untuk memastikan keadaan Aditya, Pria yang sudah bangun mendengar suara langkah dua orang yang dia ketahui dari suaranya.


Aditya tidak ingin kekasih juga adiknya tahu jika dia sudah sadar, karena didalam hati Aditya menginginkan dirinya masih berada didalam kamar milik Rere karena itu Aditya memutuskan untuk menutup kembali matanya dan sebelumnya mengembalikan posisi bantal ketempat semula.


Rere membuka pintu dan melangkah cepat kearah Aditya dan mengecek suhu tubuh kekasihnya dengan menempelkan telapak tangan kearah dahi juga lehernya.


"Mas... Kenapa belum bangun"


Didalam hati Aditya sangat bahagia, karena merasakan sentuhan tangan Rere yang artinya wanitanya itu tidak lagi marah pada dirinya. Suara wanitanya terdengar cemas mengkuatirkan dirinya.


"Mas Adit... " Rere tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk kekasihnya didalam hati Aditya merasa senang campur sedih.


Senang karena dipeluk dan sedih karena merasakan tetesan air mata Rere dilengan. Jika dirinya bangun pasti malam ini dirinya akan disuruh pulang oleh Rere tapi jika tetap diam maka Aditya tidak tega mendengarkan tangisan Rere yang mengkhawatirkan keadaan dirinya.


"Rere... Jika Kak Adit tidak sadarkan diri malam ini, Bagaimana"


Ayu juga bingung dengan situasi saat ini, Rere menoleh kearah Ayu dan berkata


"Sebaiknya Mas Adit di bawa kerumah sakit saja"


"Kita lihat satu atau dua jam kedepan jika tidak sadarkan diri, Saya setuju untuk kak Adit dibawa saja kerumah sakit"


Rere mengangguk tanda setuju tapi tidak untuk Aditya. Situasi ini berbahaya untuk dirinya karena dirumah sakit Sisilia dan Zayn berada disana saat ini dan dirinya juga merasa malas untuk tinggal dirumah sakit.


Aditya tetap menutup matanya karena ingin bermalam didalam kamar Rere bukan dirawat dirumah sakit, Tanpa keduanya sadari Bu Inah sudah berada didalam kamar untuk melihat keadaan Aditya.


"Rere. Nak Ayu... Biarkan Nak Aditya tetap berada disini. Jika besok belum siuman kita sebaiknya bawa kerumah sakit. Biarkan sementara istirahat dikamar Rere"


"Tapi... Bu. Bagaimana Jika ada yang tahu. Mas Aditya menginap di apartemen Rere" Sahut Rere dengan wajah tidak setuju dan Aditya hanya bisa menggerutu didalam hati atas apa yang dikatakan Rere.


"Saay Ayu dan Mas Riki pulang dan Mas Aditya masih berada di apartemen kita, Nanti akan jadi Fitnah Bu" lanjut Rere.


Bu Inah terdiam sejenak dan Ayu hanya menatap Rere tidak enak karena kakaknya merepotkan Keluarga Rere.


"Sebaiknya Ayu panggil ambulans sekarang Rere. untuk membawa kak Aditya kerumah sakit" Ayu menjawab kegundahan hati Rere.


"Rere lebih setuju Mas Aditya dibawa saja ke rumah sakit karena sejak tadi tidak ada tanda-tanda Mas Aditya akan sadar. Sejujurnya Rere sangat mengkhawatirkan Mas Aditya"

__ADS_1


Rere menunduk dan menggapai tangan Aditya untuk dirinya genggam. Aditya merasa kesal atas keinginan Rere dari pada dibawa kerumah sakit lebih baik Aditya bangun.


Perlahan Aditya menggerakan jari jemarinya lalu dengan sangat pelan membuka kedua matanya. Rere sangat bahagia dan memeluk Aditya Erat lalu mendongakkan kepala untuk menatap wajah kekasihnya yang terlihat tersenyum manis kearahnya.


"Mas... Mas sudah bangun ya. Maafkan Renia. Karena Renia mas Aditya jadi begini" Air mata Rere mengalir saat mengatakannya.


"Sayang... Mas yang harusnya minta maaf. Tolong Jangan Marah dan Berjanjilah Renia tidak akan meninggalkan Mas apapun yang terjadi"


"Ya Mas. Renia berjanji"


Hati Aditya merasa lega dengan janji yang di ucapkan Rere kepada dirinya jadi saat nanti Rere lupa, Aditya akan mengingatkannya dan disaksikan oleh Ibu kandung Rere juga Adik tirinya.


"Bu Inah... Ayu... Renia ku sudah berjanji jadi saat dia ingin pergi meninggalkan Adit tolong ingatkan dia" Aditya tersenyum dan mencubit pipi Rere.


Wanitanya hanya bisa memajukan bibirnya cemberut lalu memukul pelan lengan Aditya dan Prianya berpura-pura sakit dan pada akhirnya Rere memeluknya lalu keduanya tersenyum bersama.


Bu Inah dan Ayu hanya menggelengkan kepala atas apa yang dilakukan oleh keduanya yang seperti anak kecil kadang ribut dan kadang romantis.


"Nak Adit, Ibu tunggu Minggu depan untuk melamar Rere dan bawa serta orang tua Nak Adit"


Ketiganya menatap Bu Inah dengan berbagai respon, Aditya nampak sumringah dan Rere nampak bahagia dan sedikit malu mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibunya terlihat pipinya yang merah merona. Sedangkan Ayu kaget dan bingung harus sedih atau bahagia.


Ayu tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah pernikahan ini karena dirinya sebenarnya mendukung atas pernikahan Rere dan Kakaknya akan tetapi dirinya sedih karena mendapati kenyataan jika kakaknya menyembunyikan kebenaran Sisilia juga Putranya.


Ayu hanya menundukan kepala dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dan Aditya sedari tadi menatap Adiknya yang di khuatirkan akan merusak rencananya untuk menikahi Renia yang sudah disetujui oleh orang tua Rere.


"Sebaiknya saya telepon Dokter Willy supaya datang kemari untuk memeriksa keadaan kak Adit"


"Terima Kasih Ayu"


Keduanya saling menatap dan tersenyum kemudian Ayu melangkah untuk keluar kamar dan menelpon Dokter kepala rumah sakit milik Keluarganya.


"Sayang... Mas ingin mengajak Papi untuk bertemu Ibu Inah. Apakah Renia menyetujuinya"


Aditya menatap Rere dengan menggenggam tangan wanitanya itu yang menundukan kepala lalu Rere membalas tatapan Aditya dan menganggukan kepala tanda dirinya menyetujui apa yang diinginkan oleh Aditya.


"Mas Sayang Renia... " Aditya mencium punggung tangan Rere dan tersenyum.


"Mas... Minta maaf untuk apa yang mas Adit lakukan tadi kepada Renia"


Rere hanya terdiam, dirinya masih kecewa dengan kekasihnya itu tapi semua sudah terjadi. Rasa Cemburu Aditya sangat besar membuat Rere tidak nyaman akan tetapi melihat betapa menderitanya ketika Trauma kembali muncul membuat Rere bertekat akan mendampingi Aditya dan bersama-sama akan menjalani masa sulit yang dialami oleh kekasihnya dan berharap Aditya sembuh dari rasa Trauma dan ketakutan atas apa yang pernah dialaminya saat remaja.


"Mas... Renia ingin mulai sekarang kita menjalaninya berdua tanpa rahasia dan juga tanpa saling curiga ya"


Aditya menganggukan kepala lalu menggenggam erat jari jemari Rere dan dari arah luar Ayu masuk dan memberitahukan bahwa Dokter Willy akan datang.


Setelah Empat Puluh Menit Dokter datang saat Rere sedang menjalankan ibadah Sholat Isya didalam kamarnya.


"Mohon maaf saya mengganggu" ucap Dokter Willy.


"Tidak. Dokter kebetulan Saya sudah selesai, Silahkan masuk dokter" sahut Rere dan dirinya meminta ijin untuk keluar dan kini Aditya berada dikamar Rere dengan Dokter Willy juga Riki yang mendampinginya.


Ketiga wanita duduk di ruang tamu menunggu Dokter Willy memeriksa Aditya. Ayu mendapatkan panggilan telepon dari Aries karena menanyakan keberadaannya yang sejak tadi belum pulang.


Ayu tidak bisa memberitahukan keadaan Aditya kepada Papinya karena mengkhuatitkan keadaan Papinya jika mengetahui kakaknya mengalami hal yang sama saat Remaja.


"Ayu sedang berada dirumah Renia Papi"


"Apa yang kamu lakukan disana Ayu, Jangan merusak hubungan Kakakmu dan Renia. Kakak mu akan hancur Nak"


"Tenang saja anak kesayangan Papi akan baik-baik saja"


"Ayu jangan berkata seperti itu Nak, kamu dan kakakmu sama berharganya untuk Papi"

__ADS_1


"Baiklah Papi, Ayu mengerti dan lagi kakak berada dirumah Renia" tanpa mengatakan keadaan kakaknya.


Aries merasa lega dengan apa yang diucapkan oleh Putrinya, dirinya percaya jika Ayu tidak akan menghancurkan hidup kakaknya karena dirinya juga tahu Ayu sangat menyayangi Kakaknya walaupun berbeda Ibu.


__ADS_2