
Setelah sholat subuh selesai Rere mencium punggung tangan suaminya, Kemudian Aditya memeluk istrinya dengan mengucapkan syukur kepada Allah karena mengabulkan doanya.
Keduanya berpelukan setelah Sholat Rere mengajak suaminya keluar dan makan dimeja makan bersama dengan yang lainya tapi berbeda dengan Mansion Erlangga yang memiliki Meja Panjang dan besar sehingga anggota keluarga bisa makan bersama.
Di kediaman Bu Inah Meja hanya cukup untuk 4 Orang sehingga yang lain makam dikarpet karena Rere tidak ingin terlihat tidak sopan maka dirinya mengajak Aditya bergabung dengan keluarga yang lainnya untuk makan bersama dikarpet yang disediakan oleh Ibunya. Meja Makan tidak digunakan, semua yang ada dirumah ibu inah makam diatas karpet
"Heeemmm Pengantin Baru ko pagi-pagi sudah bangun..." Goda Arsyila.
"Emang biasa bangun pagi. Masalahnya dimana" ketus Rere yang tahu arah ucapan Adiknya itu
"Ya Soalnya terlalu semangat sampai berisik banget. Kalian tidak tahu saja banyak yang nguping jadi kita kira teteh bangun siang... Hahaha" Balasnya
"Maksudnya" Rere sedikit malu tapi Aditya terlihat santai.
"Papi... Zayn semalam tidur dengan Opa. Benarkan Opa" Zayn melangkah untuk duduk dipangkuan Aditya.
"Zayn duduk disini dengan Tante" Ucap Ayu.
"Tidak apa Ayu"
Rere membelai rambut Zayn dan mengambilkan makanan dan juga minum untuk suami juga anak sambungnya.
"Zayn ini makanannya kalo kurang bisa nambah ya nak"
Zayn hanya diam dan menatap opanya. Rian hanya menganggukan kepala dengan tatapan yang dapat dipahami oleh cucunya.
"Terima Kasih Tante"
"Panggil Mama Zayn" Tegur Aditya.
"Jangan dipaksa Mas... Zayn Ayo makan nanti kita pergi kemakam kakek sama Opa Aries juga Oma Sherly ya" Terang Rere.
"Ketemu mami kapan" Tanya Zayn dengan menoleh kearah Rere dan Aditya tersendak.
"Pelan-pelan makannya Mas"
"Iya... Nanti kita ketemu Mami kamu ya. tapi sekarang Zayn makan dulu ya nak" Rere bergeser dan menepuk tempat kosong antara dirinya juga Aditya.
"Tante Janjikan" Tuntut Zayn.
"InsyaAllah Nak. Tante akan bawa Zayn bertemu Mami Sisil ya" Ucap Rere dengan mengusap rambut Zayn.
"Sayang... " Tegur Aditya dengan tatapan tidak suka.
"Kita makam Mas" Rere tersenyum.
Semua yang ada disana hanya mendengarkan drama keluarga baru itu dengan sesekali menatap kearah mereka.
Setelah Makan Rere mengajak suaminya dan juga keluarga besarnya untuk berziarah kemakam ayahnya yang telah tiada 16 Tahun yang lalu.
...****************...
Rere menangis dipusaran Ayahnya lalu berkata
"Ayah Rere sudah melaksanakan janji Rere dengan menjaga ibu dan Arsyila. Membesarkan dan merawat Arsyila dan seharusnya meminta ijin menikah tapi baru hari ini setelah menikah Rere datang menemui Ayah. Rere sekarang sudah menikah dan akan tinggal bersama dengan suami Rere yang Pasti Ayah tahu siapa suami Rere. Iya... Ayah dia Mas Aditya Putra Pak Rian dan Bu Sherly tetangga kita di jogja. Ayah jangan takut Rere sudah menabung selama ini dan juga memiliki rumah yang layak untuk ibu dan Arsyila jadi saat Rere menikah Ibu dan Adik tidak terlantar dan Rere meminta Restu Ayah untuk pernikahan Rere. Semoga Ayah Ridho dengan pilihan Rere"
Kemudian Rere menangis dan tentu saja ibu dan keluarga Rere yang ada ikut kemakam ikut menangis.
Aditya memeluk Rere dan berjanji diatas makam Ayah mertuanya bahwa dia tidak akan menyakiti dan akan selalu menjaga istrinya.
__ADS_1
****************
Setelahnya Aditya dan rombongan keluarga Rere beranjak untuk pulang dan mereka berpamitan kepada Bu inahh untuk kembali ke Jakarta. Keluarga Aditya dan Saudara Rere ikut ke Jakarta tapi tidak dengan ibunya.
Karena Aditya sengaja tidak mengajak ibu Heni karena tidak ingin mertuanya mengetahui jika kepulangan mereka ke jakarta hanya untuk mengambil test tentang sumsum tukang belakang yang cocok untuk Rere.
Dan sepanjang Jalan Rere menunjukan kepada Aditya layaknya anak kecil dengan semangat sambil menceritakan kenangan dirinya selama tinggal dikampung orang tuanya.
Arah ke jakarta dirinya melewati sekolah menengah atas yang pernah membantunya mendapatkan ijasah dengan memberikan bantuan beasiswa lalu jalan dimana dia pernah membantu ibunya berjualan dan juga rumah tempat Rere bekerja hanya untuk menyapu dan merawat rumah itu lalu mendapatkan gaji.
Beberapa pabrik yang jika lebaran selalu memberikan sumbangan untuk anak-anak yatim dan dirinya juga bagian dari warga masyarakat yang diberikan sumbangan.
Kemudian minimarket pertama yang menerima Rere bekerja sambil kuliah dulu saat usianya masih 18 tahun. Mengingat perjuangan hidupnya membuat Rere tanpa sadar menangis.
Zayn dari kursi penumpang yang ada dibelakang Papinyanhanya bisa memandangi dan mendengarkan ibu sambungnya bercerita lalu beralih ke papinya yang juga sesekali tersenyum dan mengusap kepala dan mengecup punggung tangan wanita yang telah dinikahi oleh papinya.
"Semuanya sudah selesai sayang kesedihan kita sebelum bertemu akan menjadi bagian dari hidup kita dan sekarang kita akan melangkah bersama dengan anak-anak kita nanti juga dengan zayn putra Mas Aditya" Rere menganggukan kepala lalu Rere menoleh kearah Putra sambungnya.
"Nanti Zayn sekolahnya kita pindahkan ke Jogja juga Mas" Aditya menganggukan kepala.
Zayn ingin protes karena dirinya hanya ingin tinggal dengan Papi dan maminya akan tetapi dirinya tidak ingin papinya marah.
Usia Zayn 9 tahun dan akan memasuki usia 10 tahun jadi bukan anak kecil yang tidak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Zayn dulu tinggal dipanti Asuhan dan hanya beberapa kali bertemu dengan Mami kandungnya sebulan 1 sampai 3 kali Sisilia mengunjungi dirinya dan kadang tidak datang dan Papinya sama sekali tidak mengunjungi dirinya dipanti.
Baru 2 minggu bertemu Papi kandungnya selama 9 tahun dan 3 sampai 4 kali bertemu dan sekarang dari ucapan kedua orang dewasa yang ada didepannya itu Zayn menangkap jika dirinya akan tinggal bersama dengan Papi kandungnya juga dengan istri papinya.
Zayn lebih baik diam daripada tinggal dipanti asuhan lebih baik menurut hanya satu harapanya bertemu dengan Mami kandungnya karena dirinya sangat merindukannya.
"Zayn sayang mau tante belikan es krim tidak kita akan makan direstoran kita mampir kesana Mas"
"Baiklah Sayang"
Zayn bisa melihat tatapan tidak suka dari Aditya dengan sikap dirinya.
"Tante Zayn sakit jadi tidak boleh makan es krim"
"Oh... Sama tante juga sakit. Ya sudah kita makan nasi dan sayur saja ya Nak" Zayn menganggukan kepala.
"Anak Papi pinter" Sahut Aditya tersenyum dan Zayn ikut tersenyum meski dipaksakan.
****************
Dimobil yang lain Ayu menangis karena Mertuanya memberitahukan bahwa mereka terbang kemarin tanpa memberitahukan ke Ayu dengan alasan tidak ingin Jimmy menangis dan terbayang berpisah dengan Ayu saat dibandara dan sekarang sudah sampai di Jerman.
Alasan itu Ayu tidak diberitahu waktu keberangkatan mereka walaupun Aditya dan Riki juga sudah mengetahui dari Alexander tapi sengaja tidak memberitahukan agar Ayu tidak memaksa ke bandara yang ada justru Jimmy dan Ayu akan berat untuk saling melepas. Dan itu hanya akan menjadi rahasia Riki dan Aditya.
"Sudahlah Sayang kita makan ya. Keluarga Hans sudah berjanji saat mengunjungi kamu kemarin saat dirumah sakit dan meminta ijin merawat Jimmy sebagai pengganti Hans yang tiada. Mereka berjanji memperbolehkan kita mengunjungi Jimmy saat satu tahun setelah mereka pindah ke Jerman"
"Kenapa semua terasa kejam dengan saya Riki. Saya tidak sanggup menjalani ini semua"
"Nak Apa yang kamu katakan jangan bicara seperti itu. Tante mohon. Ingat ucapan tante Ria kemarin kamu harus semangat dan jangan menyerah. Papi kamu akan sedih melihat Putrinya seperti ini. Kita semua ada untuk kamu sayang" Sahut Ria yang ikut didalam mobil Riki
Karena mobil Rian disana ada Abbas dan Ali dan untuk Arsyila juga ikut dalam mobil yang sama dengan Riki yang menatap kasihan dengan keadan Ayu.
"Ya sudah kita keluar untuk makan itu Pak Aditya dan Bu Renia sudah keluar. Arsyila kita makan siang dulu sebelum sampai ke jakarta" Adik Rere hanya menganggukan kepala.
Ayu tidak menggunakan Kursi Roda karena Riki menggendong Ayu meski wanitanya menolak tapi Riki tidak peduli dia tetap menggendong tanpa rasa berat.
__ADS_1
Keluarga Rere menatap Ayu dan Riki akan dan untuk Rere juga Aditya hanya santai dengan apa yang dilakukan oleh Riki.
Mereka makan dan sesekali berbincang lalu Rian menanyakan tentang bulan madu dan Aditya mengatakan akan berbulan madu di Swiss tapi Rere menolak karena dirinya tidak ingin jauh dari keluarga.
"Mas lebih baik bulan madunya dipuncak saja sama-sama dingin. Kita kerumah Papa Rian boleh tidak. Kata Mas Aditya, papa tinggal disana. Boleh tidak pah kita Honeymoon disana" Rere berkata dengan tersenyum.
"Tentu saja boleh Nak dan asal Kalian berdua tahu. Disana banyak bunga lili dan beberapa bunga yang papa tanam. Sebagian papa jual sebagian hanya untuk hiasan rumah. Awalnya Papa menanam itu karena Mama Sherly ingin diusia tuanya nanti tinggal dirumah yang dipenuhi kebun lili dan papa wujudkan dan memang benar merasakan hidup diusia tua dengan hamparan bunga yang indah saat kita membuka jendela membuat kita tenang nak"
"Mas... Renia ingin kesana jadi penasaran"
Rengek Rere yang sangat manja ternyata jika berada didekat Aditya dan suaminya terlihat sangat mencintai Rere.
Keluarga Rere baru tahu kenyataan itu yang selama ini sikap Rere terlihat tegas dan mandiri tapi ternyata ada sisi manjanya sedangkan untuk Rian hal yang dia lihat sekarang tidak ada yang berubah saat mereka masih kecil sampai remaja.
Rere memang manja dengan Putranya yang awalnya dia pikir hanya karena tetangga dan karena biasa bersama meski Sherly dan dirinya juga ingin mereka menikah tapi tidak menyangka ternyata Putranya mencintai Rere sejak kecil.
"Pantas kamu selalu merengek agar Papi selalu membelikan ini dan itu saat kalian masih kecil sampai remaja tenyata ini jawabanya" Ucap Rian sambil menggelengkan kepala dan Aditya hanya tersenyum dan Rere menjadi malu.
"Papa Jika Renia menyukai rumah dan perkebunan bunga Papa, terpaksa Papa harus jual ke Aditya. Tidak boleh ada penolakan. Papa bisa tinggal bersama kami atau menikah dengan Bu Ria" goda putranya.
Ria yang sedang makan jadi tersendak begitu juga dengan Ayu dan yang lainnya juga kaget dengan ucapan Aditya sedangkan Rere hanya tertawa mendengar suaminya menggoda mertuanya yang nampak canggung dan Ria yang salah tingkah.
"Kamu bukan anak kecil yang apapun harus papa turuti, Sekarang kamu sudah memiliki Istri dan anak. Aditya"
"Tidak... Jika Renia menginginkan rumah papa maka Aditya akan membeli rumah itu" tatapan Aditya tampak serius
"Kamu boleh memilih tinggal di jogja atau dipuncak sayang" sambung Aditya sambil menatap istrinya.
"Semoga Renia menolak tinggal dipuncak" canda Rian.
"Renia ingin lihat dulu tempatnya papa. Bolehkan" Rian mengangguk dan tersenyum.
****************
Sementara Rafli yang sudah datang ke Jakarta sejak Pagi bersama Tya juga dengan kedua anak masing-masing. Mengantarkan terlebih dahulu Tya ke apartemen Rere dan mengantarkan kedua anak mereka ke sekolah.
Setelahnya dirinya yang sudah janji bertemu dengan Wisnu untuk mengurus pencabutan laporan dan atas tuntutan Aditya yang ingin membebaskan keduanya
"Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah menunggu" Ucap Riki yang datang 20 Menit terlambat karena harus mengantar kesana kemari dan mereka memaklumi.
"Kita membahas inti permasalahanya ya Bu Lisna dan Bu Sisillia" sahut pak Wisnu.
"Pak Aditya sudah menandatangani surat pencabutan laporan kepada Bu Lisna dan Bu Sisillia dengan syarat kalian berdua dilarang mendekati keluarga Pak Aditya dimana sekarang Pak Aditya sudah menikah dengan Bu Renia. Maka dari itu istri Pak Aditya juga masuk dalam surat perjanjian yang mengikat yang harus kalian hindari atau jauhi. Jika suatu saat kalian menemui keluarganya maka Pak Aditya berhak untuk melaporkan kembali dengan tuduhan Pemufakatan Jahat kepada keluarga Pak Aditya termasuk didalamnya Zayn Putra Pak Aditya"
Wisnu menjelaskan dan Rafli manatap Sisillia yang terlihat terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh wisnu
"Apa... Aditya dan Renia mereka menikah"
"Benar Bu" Sahut Wisnu
"Kenapa Aditya merebut putra saya Zayn. Dia jahat merencanakan ini untuk memisahkan saya dari putra saya. Ini tidak adil" Teriak Sisillia
"Tenanglah Sisil" Bryan yang ada disampingnya berusaha menenangkan Sisillia.
"Bryan tolong bawa Zayn kepada saya. Katakan kepada Aditya untuk mengembalikan Putra saya. Dia marah saya mengerti itu tapi jangan pisahkan saya dan Zayn. Hanya dia yang saya miliki..." Tangis Sisillia didalam pelukan Bryan.
"Bu Tolong tanda tangani ini dan kalian bisa bebas" Sahut Rafli yang menunggu Sisillia tenang.
"Tidakkk... Saya tidak ingin menandatangani kesepakatan jahat Aditya... Tidak akan... Bryan tolong saya. Pak Polisi tolong saya... Saya ingin bertemu dengan Putra saya" Teriak Sisillia Histeris dan Lisna hanya diam duduk dikursi dekat Sisillia.
__ADS_1
"Ini semua karena kamu Lisna... Dulu saat saya melahirkan Zayn saya ingin pergi dan hidup berdua hanya dengan Putra saya tapi kamu memaksa saya melakukan kejahatan yang kamu rencanakan dan sekarang Aditya mengambil Putra saya dan memisahkan kami. Ini semua ulah kamu" Sisillia menangis Histeris.
Dan kejadian yang terjadi terekam dan dikirimkan kepada Aditya.