
"udah sholat belum Geri" ucap Rere
"ya udah dong berjamaah malah sama calon mertua sama calon kakak ipar yakan bu, teh Tya" Geri mencoba meminta dukungan.
"iya... " mereka menyahut bersamaan dan membuat semua ketawa.
"ya sudah Rere sholat dulu dan juga mandi. lu balik deh besok kita ketemu lagi. karena ini sudah malam" Rere tersenyum kearah Geri sambil mengambil minum dilemari pendingin.
" ya kalo mau mau sholat sama mandi ya silahkan saja tapi jangan usir gitu dong" balas Geri sambil memajukan mulutnya tanda protes.
"Kita main game yukkk Dion. Males Paman sama Bibi Rere yang nyebelin itu" sambung Geri dan menggandeng Dion kedepan TV.
"yeee... ga jelas banget" Teriak Rere tampak kesal.
Satu Jam sudah berlalu sejak rere masuk kedalam kamarnya. Geri yang berada didepan tv beberapa kali menatap jam yang ada didinding rumah Rere, Benarkah Rere mengusirnya, Apa Rere tidak keluar kamar lagi, Apa dia tertidur seperti itu yang ada didalam hatinya.
Geri Nampak canggung dengan Kakak dan Ibu dari wanita yang dia cintai ini, walau bagaimana pun mereka baru mengenalnya dan sekarang sudah malam. Geri bahkan sampai numpang sholat isya dikediaman rere.
“Bu dan Teh Tya, Geri Pamit pulang ya sudah malam, sepertinya Rere memang sudah tidur atau mandinya masih lama” Geri Nampak canggung saat mengatakannya.
“Tunggu sebentar Nak Geri, jangan diambil hati ucapan Renia tahu sendiri anak itu sedikit Jutek tapi hatinya tidak seperti yang ditampakan. Haaaa…” ucap Bu Inah menghibur Geri yang Nampak tidak tenang dan canggung.
“Palingan lanjut Sholat Isya, Tunggu aja. Setengah jam belum keluar kamar berarti Rere tidur. Mungkin lelah seharian keluar rumah sama Dion. Biasanya juga Rere kalo udah ketemu Dion ya gitu kecapean soalnya aktif banget anaknya, Lihat aja tuh udah Tidur, Mana belum mandi lagi…. Haduh” Sahut Tya Nampak kesal dengan Putranya yang malah tertidur dipangkuan Geri.
“iya teh Tya, Santai aja. sepertinya Dion kecapean" Balas Geri yang tersenyum membelai rambut Geri.
Dion Tertidur dipangkuan Geri saat bermain game yang baru dibelikan Geri. Sebelumnya Terlihat Dion bahagia sampai Loncat-Loncat karena memiliki Game yang sering dia lihat di Sosial media milik salah satu artis terkenal, dan sering meminta ke mamanya tapi tidak dibelikan.
“Terima Kasih Geri, sampai repot membelikan Geri Game, Pasti mahal jadi tidak enak hati menerimanya” ucap Tya memecah keheningan Karena Game sudah dimatikan oleh Geri dan mereka menunggu Rere keluar dari kamarnya.
“Jangan sungkan Teh Tya, Santai aja. Ya… Sudah saya pulang saja sepertinya Nyonya Ratu ketiduran deh ini” Geri mengucapkan itu seraya berdiri dari tempat duduknya dan memberikan Dion kepada Tya.
Ibu Inah hanya tersenyum mendengarkan ucapan Geri, memang sepertinya Rere dan Geri terlihat sangat dekat.
Sedang tya menerima Dion dan membopongnya kearah kamar tidur dan bertepatan dengan itu Rere keluar dari kamarnya menggunakan Piyama bermotif Kartun kesukaannya.
“Ini Nona P*oh udah keluar, lama banget mandinya. lu pingsan apa gimana sih" ucap Geri duduk kembali.
“Dih… Lu masih disini” Sahut Rere berjalan kearah meja makan dan mengambil buah apel lalu memakannya dengan sangat santai.
“Iya dong gw masih setia nunggu Nyonya Ratu selesai Mandi, Kayanya ngabisin stock air tetangga deh” goda Geri yang dibalas tatapan tajam.
“Gemes banget sih bu sama anaknya, Boleh dihalalil sekarang ga” ucap Geri kepada Bu Inah.
“Ihhhh… Apaan sih ga sopan banget ngomong gitu, kesel deh sono pulang udah malem, ganggu rumah orang aja” sahut Rere melirik sinis.
“Hahaha…” Geri tertawa puas.
“Rere… bicaranya jangan dibiasakan seperti itu, Nak” Tegur Bu inah dan Geri menjulurkan lidahnya untuk mengejek karena Rere dimarahi ibunya seperti anak kecil sedangkan rere menarik sudut bibirnya dan membuang pandangan kearah lain.
“Ya sudah sini Mas Geri minta maaf. Rere sayang, mas mau ngomong hal penting malam ini bolehkan bu” jelas Geri
“Masalah apa nak”balas Ibu Inah.
__ADS_1
Rere mendekati sahabatnya yang sudah mengerti apa yang akan di katakana Geri tapi dia juga ingin memastikan kembali.
“Begini Ibu dan Rere, Hari ini atasan saya memberikan kepercayaan menjadi Brand Manager dan Alhamdulillah juga bengkel usaha milik Geri buka cabang lagi di daerang Bandung, dan doakan kerja dan usaha geri lancer” Geri menjelaskan yang ingin disampaikan.
“Jika Rere percaya dengan mas Geri begitupun dengan ibu, Saya ingin melamar Rere menjadi istri, mengingat kedekatan kami juga karena Geri merasa nyaman dengan Rere, Jika diperbolehkan Geri ingin secepatnya melamar Rere dan Hari minggu ini ibu dan bapak Geri bawa menemui ibu dan Teh Tya atau Kak Ali dan Kak Abbas nantinya” sambung Geri berhati-hati dalam setiap ucapannya karena sedang berbicara dengan orang tua wanita yang dia cintai.
Deeeeggggg….
Benar dugaan Rere, Kenekatan Geri memang sudah Rere duga sebelumnya, Perkataan Geri sebenarnya dapat Rere pahami akan tetapi terasa sangat terburu-buru.
Langsung berbicara dengan ibunya meski ini yang kedua setelah pertemuan dirumah sakit saat menjenguk Geri.
Sahabatnya itu pun mengutarakan keinginannya tapi yang ini nampaknya sangat serius dari cara bicara dan tatapan mata Geri saat mengutarakan kepada ibunya tapi ada yang membuat Rere kecewa yaitu mengapa sahabat nya ini tidak mengatakan terlebih dahulu kepadanya.
Geri menatap Mata Rere jelas wanita yang dia cintai ini kaget dan Geri tahu apa yang dikatakan hati Rere.
Tentu saja Geri tidak akan mau karena sudah beberapa kali bicara hanya diabaikan dan semakin lama kedekatan Rere dan mantan kekasih masa lalunya itu sudah sangat membahayakan posisi dirinya.
Maka dari itu dia harus gerak cepat, tidak ingin lagi kecolongan dengan bersantai ria apalagi usia mereka sudah sama-sama matang.
“Bu… Geri tidak bisa menjanjikan harta seperti para konglomerat tapi Geri akan menjanjikan tanggung jawab penuh baik materi maupun batin untuk Rere, Geri akan bekerja keras untuk membahagiakan Rere juga insyaallah jika ALLAH mengijinkan memiliki anak tentu Geri juga akan bertanggung jawab untuk anak kami nantinya” Geri tenang dalam berbicara tapi bu inah dan Rere mengerti maksud ucapan Geri.
“Ibu tidak pernah memandang seseorang dari materi, Nak Geri. Yang terpenting cinta dan keseriusan juga tanggung jawab membahagiakan Putri ibu, itu yang terpenting. Kembali lagi ibu serahkan kepada Rere apakah menerima atau menolak, karena yang ingin menjalani kalian berdua. Ibu hanya ingin mengingatkan jika Jodoh sudah di tulis di lahul mahfuz. Manusia hanya bisa berusaha Takdir yang menentukan” sahut bu Inah dan mencoba menjelaskan.
“Rere bagaimana, Nak. Sebaiknya Rere berikan jawaban yang pasti untuk memutuskan menerima atau menolak Geri, supaya nak geri bisa mengetahui jawaban kamu, Jika diterima cepatlah kalian menikah jika menolak geri tidak berharap lebih dan dia bisa mencarai wanita yang lebih baik dari Rere, kasihan jangan digantung perasaan seseorang, Nak. Itu tidak baik untuk rere dan juga Geri kedepannya. Dan menurut agama jika sudah ada calonnya maka ibu sebagai orang tua harus mensegerakan pernikahan karena itu sesuai ajaran agama kita. Tidak boleh namanya berduaan dengan yang bukan muhrim nanti jadi fitnah seperti yang viral di tv tentang kamu itu” ucap Bu Inah dan rere hanya menunduk merasa sedih jika harus mengutarakan apa yang sudah dia pilih saat ini.
“Viral tentang Rere bagaimana maksudnya bu” tanya Geri tidak mengerti.
“ya sudah jangan dipikirkan itu sudah lewat, Nak” balas Bu Inah dan Geri menoleh kearah Rere sedangkan rere masih menunduk.
Viral Tentang Rere masuk TV. Kira-kira tentang apa ya. Dan sebelumnya ibu juga berdebat dengan Ayah tentang berita Rere, Apa yang terjadi sebenarnya.
Geri bermonolog didalam hati dan keadaan menjadi sunyi Dua menit mereka hening tanpa ada yang memulai pembicaraan sampai Tya keluar dari kamar dan berkata kepada rere
“Rere, itu Dion dibelikan Game mahal sama Geri” ucap Tya polos sambil menunjuk game yang dibelikan Geri kepada anaknya dan Rere mengikuti arah telunjuk Tya.
“Santai aja teh…iiihhh… Geri udah janji waktu Dion jenguk Geri mau beliin Game ini” sahut Geri sambil menggaruk kepalanya nampak salah tingkah.
“Kenapa beliin game itu Geri” tanya Rere.
“Dibilang sudah janji, bukan nyogok bibinya ya jangan salah sangka” balas Geri dan Nampak Rere menarik sudut bibi bagian atasnya dan menatap sinis seperti biasa nya.
“Gimana jawabanya sayang” ucap Geri
“Harus dipikirkan dulu Geri” balas Rere
“Perasaan dari dulu mikir terus sampai sekarang ga dijawab deh, kita sahabat apapun keputusan Rere, mas Geri terima dengan ikhlas yang penting Mas Geri sudah berusaha dan mengutarakan keinginan mas yang ada didalam hati agar tidak menyesal kedepanya tinggal nunggu keputusan dari Rere Mas Geri terima apapun”
"Terima Kasih lu memang Pria yang sangat baik. ijinkan Rere memikirkannya dan insyaallah kali ini Rere akan jawab" Rere tersenyum begitu juga dengan Geri.
"Dan juga Terima Kasih sudah baik sama Dion sampai repot beliin ini semua" tambahnya lagi dengan raut bingung apa yang harus dia lakukan.
"Dan selamat atas kenaikan jabatan lu yang baru dan gw selalu berdoa yang terbaik untuk lu dan semoga selalu sukses" doa tulus Rere untuk Geri dan dibalas senyuman manis oleh Geri.
__ADS_1
"Terima Kasih Sayang dan jawaban dari Renia yang mas tunggu dan itu kebahagian dan kesuksesan Mas yang paling besar" ungkap Geri yakin.
Hening
"Tadi sudah pamit tapi saya belum juga pergi ya" nampak Geri terlihat canggung dan salah tingkah karena ibu Inah menatap lekat wajahnya.
"Saya Pamit Pulang dulu Bu, Terima Kasih tadi makanannya enak dan Rere harus belajar dengan ibu untuk persiapan nanti jadi istri, soalnya masakan Rere kalo ga asin.ya hambar bu...Hehehe...ya kan sayang" Goda Geri dengan menaik turunkan kedua alisnya membuat Rere kesal dan mencubit lengan Geri.
"Haduhhhh.... Auwww... Sakit ih Rere"
Geri kesakitan dan mata Rere nampak membulat menatap tajam pria yang melamarnya dan segera membuang muka.
Sebenarnya Rere masih kesal dengan Aditya yang sepertinya memiliki sesuatu rahasia penting dan besar bersama Sisilia tapi dia tidak tahu cara agar bisa mengetahui tentang rahasia itu.
Bertanya dengan Ayu itu sangat tidak mungkin, Apalagi Riki dan yang pasti Aditya akan menutupinya.
Sekarang ditambah dengan Geri yang melamar di waktu yang tidak tepat menurutnya dan tentu Rere kesal karena Rere tidak dimintai pendapat yang malah Geri meminta itu didepan ibu nya yang sudah lama menginginkan putrinya segera menikah sebelum Arsyila yang rencananya ingin menikah tahun depan.
Rere berpikir setelah Geri pulang pasti dirinya dipaksa untuk cepat memutuskan siapa yang akan dipilihnya untuk segera menikah.
Setelah ketegangan tadi, Akhirnya Geri pamit undur diri dan kini tersisa ibu inah, Tya dan juga Rere dan sesuai yang Rere pikirkan ibu inah langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan dan juga tekanan untuk menikah.
"Kamu pilih yang mana Rere"
"Sudah Sholat istikharoh nya, Nak"
"Selagi ada yang melamar Rere ga boleh ragu harus mau itu jodoh dari Allah, Nak"
"Sepertinya Pria tadi siapa nama teman kamu"
Tanya Bu Inah.
"Geri Bu" Tya yang justru menjawabnya
"Geri Anak yang baik dan dia terlihat tulus dan sepertinya sama dengan kita secara derajat" ucap Bu inah,
"Memang Aditya juga baik dan keluarganya baik tapi... Dia ternyata anak orang kaya yang derajatnya jauh dari kita" Bu inah nampak sedih.
"Tapi Bu Orang Tua Geri seperti tidak menyukai Rere" sahut Tya membuat Rere menoleh kearah Tya.
Ternyata apa yang dirasakan Tya sama dengan yang dirasakan dan dipikirkan oleh dirinya. Dia hanya diam mendengarkan masukan dan perkataan ibu dan juga kakaknya.
"Sulit rumah tangga jika orang tua salah satunya tidak menyukai menantunya yang ada malah nanti pernikahan terjadi konflik karena pengaruh orang tua, tapi itu tidak semua" ungkap Tya.
"Dan mendampingi dari Nol setelah sukses selingkuh sakitnya tidak bisa dijelaskan. Tapi menikah dengan orang yang sama-sama memiliki segalanya jika salah satunya berselingkuh ya sudah jalani masing-masing kembali tanpa ada orang yang merasa berkorban. meski sakit kadar nya tidak terlalu besar" ucap Tya dengan tatapan sendu.
"Langit bisa berubah apalagi hati manusia tapi jika kita tidak berkorban banyak setidaknya rasa sakitnya tidak parah" sambung Tya dengan tatapan kosong menatap kamar dimana anaknya tertidur disana.
"Rere menikah bukan hanya dengan cinta saja tapi juga harus memiliki materi yang banyak karena saat kita memiliki anak kebutuhannya harus terpenuhi" Tya menambahkan masukan lagi dengan memandang serius adiknya.
"Sehebat apapun wanita dan setinggi apapun kariernya terkadang wanita akan merasa lelah dengan rutinitasnya dan ingin hanya dirumah bersama anak melihat tumbuh kembang anak dan berharap suaminya memberikan perhatian dan materi yang cukup"
Tya memberikan pandangannya dan Rere mendengarkan apa yang dikatakan Tya kepada dirinya. jarang Tya dan Rere terlibat percakapan serius seperti ini.
__ADS_1