Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 122 Memendam Rindu


__ADS_3

Sisillia duduk dengan keadaan yang serba salah, Aditya hanya diam sepanjang jalan menuju Airport dan Putranya banyak bertanya tetapi Aditya tidak juga menjawab.


Sisillia memberikan tanda untuk Putranya diam dengan meletakan jari telunjuknya di atas mulut. Melihat diamnya Aditya tentu saja menjadi petanda tidak baik untuk Zayn jika terus bertanya kepada Papinya untuk mencegah sesuatu yang akan menyulut amarah Aditya Sisilia menyuruh Putranya berhenti untuk berbicara dan bertanya kepada Papinya dengan Alasan Papinya Lelah.


Hanya Butuh Waktu Tiga Puluh Lima Menit agar samapai ke Airport. Aditya keluar diikuti oleh Sisillia lalu Zayn dan Susi yang mana keduanya duduk dikursi belakang.


"Tunggu sebentar saja dulu Sisillia saya akan menelpon Renia" Ucap Aditya apa adanya justru membuat rasa sakit untuk Sisillia.


Aditya melangkah menjauhi Sisillia yang merasa Baik-baik saja akan tetapi hatinya seakan dibakar api cemburu.


Aditya Menelpon Rere sebelum memasuki Pesawat Pribadi Miliknya. Aditya sengaja tidak menggunakan Pesawat Komersial karena memang tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada didalam pesawat dan nantinya akan terekspos oleh publik.


Sambungan Telepon masuk setelah tiga kali Rere tidak mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo Mas Adit"


"Sayang, Mas sudah sampai Bandara dan sebentar lagi masuk ke pesawat. Mas... Kangen Renia" ucap Aditya dengan suara yang terdengar sedih.


"Renia juga kangen Mas Adit. ya sudah sabtu Mas pulang ke jakarta benarkan?"


"Tentu saja, sayang. Mas Hari minggu ingin melamar Renia, Sayang tidak lupa akan hal itu bukan?"


"iya... Mas. Teh Tya hari ini pulang dan saat kembali ke Jakarta nanti mengajak dua kakak Renia juga adik Renia Arsyila. Mas Aditya belum kenal Arsyila karena saat kita pindah dulu ibu dalam keadaan hamil, Sekalian hari minggu Renia kenalkan dengan keluarga besar Renia ke mas Adit"


"Baiklah Sayang. Mas Adit sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga Renia" Aditya berkata dengan suara yang nampak masih sedih karena perkataan dari Cantika.


"Mas, Baik-baik saja bukan?" Tanya Rere.


"Iya... Mas Baik. hanya Mas masih berat meninggalkan Renia disini sendiri"


"iiiihhh... Apaan Mas Adit nih Lebay. orang Renia sama ibu juga Dion. Jangan bicara seperti itu kalo ingin pergi jauh. Banyakin Doa" Tegur Rere yang juga cemas dengan perkataan Aditya tapi masih mengucapkan hal positif agar kekasihnya menjadi tenang.


"Sayang Mas tutup dulu panggilan telepon nya nanti jika sudah sampai Airport diNYC, Mas Telepon kembali"


"Iya... Mas Be Carefull and safe Flight. Jangan lupa kabari Renia jika sudah sampai"


"Baiklah, Sayang"


Panggilan Telepon di matikan dan rombongan Aditya masuk berjalan menuju tempat boarding Pass dengan Aditya menggendong Zayn dan Susi mendorong Sisilia menggunakan Kursi Roda. Aditya juga membawa Perawat untuk mengurus dan mendampingi Sisilia selama di perjalanan dan juga di Amerika nantinya.


Saat sampai di Tangga Pesawat Sisilia di luar dugaan meminta di gendong untuk menaiki Pesawat. Aditya menolak dan meminta Pengawal yang melakukannya untuk mengurangi Perhatian orang-orang yang ada disana.


Sisilia merajuk dengan manja karena ingin memperlihatkan kepada kedua wanita yang adalah baby sister juga perawat pribadi untuk menjaga dirinya juga Putranya agar tahu jika Tuan sangat mencintai dirinya dan tidak ada kesempatan untuk mereka menggoda Aditya nantinya.


Aditya merasa risih dengan kelakuan Sisilia yang terlihat sangat manja dengannya, Zayn meminta Papinya untuk menurunkan dirinya dan beralih menggendong Maminya untuk naik Pesawat sedangkan Zayn naik bersama dengan baby sisternya yang menggandeng tangannya,

__ADS_1


Mereka sampai di dalam pesawat Aditya duduk di dekat Zayn dan Sisilia duduk di depan kursi Aditya bersama Perawat dan juga Pengawal Aditya yang bernama Bryan.


Hanya menunggu Dua Puluh Menit untuk mempersiapkan pemberangkatan, Kemudian Pilot yang membawa Pesawat Pribadi Aditya memasuki Pesawat dan menyapa Aditya yang duduk didekat Putranya lalu melangkah ke Cockpit bersama dengan Co-Pilot dan terdengar Pramugari menyampaikan apa yang mesti dilakukan saat pesawat akan lepas landas meski pesawat Pribadi akan tetapi untuk Safety aturannya sama dengan Pesawat Komersial.


...****************...


Sedangkan Rere di tempat kerja sedang menatap beberapa Dokumen yang harus dia kerjakan karena selama sepuluh hari Rere Cuti dan pekerjaan yang ditinggalkan selama Sepuluh hari jadi menumpuk.


Pak Edo mengetuk Pintu ruangan Rere dan yang memiliki ruangan hanya menatap sekilas tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena terlalu fokus dengan Dokumen Pending dan urgent yang menumpuk di depannya dan juga dirinya masih kesal dengan Atasannya itu yang mencampur adukan urusan pribadi dengan urusan kantor.


Tanpa Ada Bukti atasannya ini memberikan SP1 padahal sudah dijelaskan, Pak Edo mendekati Rere lalu meminta ijin untuk duduk didepannya dengan wajah yang menampakan rasa tidak enak hati kepada Rere.


"Bu Rere, Terima Kasih untuk dana masuk kemarin"


Rere hanya menatap sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya dengan mengetik dokumen yang menumpuk dimeja kerja miliknya. Rere beberapa kali membubuhi Tanda tangan di dalam Dokumen.


"Bu Rere, Saya Mohon maaf mengenai kejadian kemarin" ucap Pak Edo.


"Jangan di pikirkan Pak Edo. sudah menjadi tugas Pak Edo sebagai atasan untuk menegur bawahan seperti saya Jika melakukan kesalahan" Rere menatap sekilas lalu mengetik data yang ada dikomputernya kembali.


"Maaf Pak Edo saya sibuk, Banyak Dokumen yang harus saya tangani dan siang ini saya akan mendatangi Perusahan Erlangga kembali untuk ikut meeting menjelaskan Program yang sedang berjalan diBank"


"Baiklah Bu Rere, Terima Kasih dan maaf mengganggu waktunya" Rere menoleh dan hanya mengangguk tanpa tersenyum lalu Rere mengambil Dokumen yang ada dimejanya lalu dia baca dan pelajari dokumen tersebut.


...****************...


Cantika Sebenarnya merasa kasihan dengan Rere ingin mengatakan sebenarnya dengan menelpon Sahabatnya itu akan tetapi dirinya khuatir Rere akan membatalkan niatnya untuk kembali bersama Aditya dan lebih memilih Geri.


Apalagi kemarin Rere ingin menemui Geri, Cantika tidak ingin Geri bersama dengan Rere meski dimulut dia berkata menyerah dan melepaskan Geri asal Pria yang dia cintai itu Bahagia akan tetapi kenyataannya Cantika tidak bisa menerima kenyataan seperti itu nantinya.


Melihat Rere datang saja hatinya seperti terbakar, Apalagi jika benar Geri menikah dengan Rere. Cantika nampak menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas kasar. Geri hanya menautkan kedua alisnya saat melihat Cantika seperti menyimpan Rahasia Penting yang di sembunyikan kepada dirinya.


"Ada apa Cantika sepertinya kamu menyimpan sesuatu, Apa ini Tentang Rere, saya yakin Renia kemari dan ibu melarang Rere masuk" Tebak Geri.


"Eehhh... Bukan... ini masalah pribadi saya sendiri" Cantika Berbohong tapi salah tingkah dan juga gugupnya Cantika dapat di lihat oleh Geri.


"Heeeemm... Pulanglah Jika kamu memang perlu menyelesaika masalah kamu Tika dan Terima Kasih sudah menunggu dan menemani saya disini" akan tetapi saya hari ini ingin pulang kerumah karena saya sangat lelah dan suntuk berada disini" Geri berkata dengan wajah datar


"Saya juga sudah sembuh" sambungnya lagi.


"Geri kenapa kamu bicara seperti itu, Apa kamu tidak bisa memperlakukan saya seperti kamu bersikap dengan baik kepada Rere" Cantika tidak bisa menahan kekesalannya dengan ucapan Geri.


"Pulanglah Cantika saya ingin istirahat dan sekali lagi saya ucapkan Terima Kasih karena sudah menemani saya sampai hari ini"


"Geri... Kapan Kamu bisa sadar Renia tidak mencintai kamu. Kenapa kamu menyiksa diri kamu sendiri seperti ini Ha... " Teriak Cantika.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu" Tatapan Mata Geri sangat tajam saat mengatakannya.


Dari arah pintu BU Sri dan pak yanto masuk dan mendekati keduanya yang nampak sedang berdebat dan Bu Sri menatap Geri dengan kesal karena membuat Cantika Menangis.


"Apa yang kamu lakukan dengan wanita yang rela menunggu kamu semalam dan mengkhawatirkan kamu Nak, kenapa kamu buat Cantika Menangis" ucap Bu Sri menatap tajam ke arah Putranya.


"Sudahlah Bu jangan ikut campur dengan masalah kami dan saya lelah ingin istirahat" Sahut Geri.


"Jangan Keras Kepala Geri Cantika sangat mencintai kamu dan kenapa kamu tidak membuka hati kamu Nak untuk Cantika, Pernikahan tidak harus dengan cinta, suatu saat nanti dengan berjalan nya waktu Kamu dapat belajar untuk mencintai Cantika Percaya dengan ibu, Nak. Jangan menunggu wanita yang tidak mencintai kamu dan jangan siksa diri kamu karena wanita yang mencintai Pria lain dalam hidup nya" Bu Sri Menangis dan Cantika memeluk ibu dari Pria yang dia cinta itu.


Pak Yanto hanya menatap ketiganya tanpa berkomentar, Geri diam dengan menatap ke arah dinding ruangan yang ada di sampingnya. Pikiran Geri di liputi kenangan bersama wanita yang sangat dia cintai bahkan tidak ada wanita lain selain Rere yang berlabuh di hatinya selama ini.


Geri hanya mencintai Renia sejak Remaja saat Rere pergi meninggalkan kota yang sama dengan dirinya saat itu Geri sangat terpuruk yang menjadi nya bahagia hanya photo yang menampakan wajah Renia yang dia selipkan di dalam buku tapi ntah bagaimana photo itu juga hilang.


Meski Geri sudah mencarinya tapi photo dengan wajah Rere tidak dapat dia temukan karena photo itu terjatuh dan berada di tangan Cantika. Wanita yang juga sahabat Rere dan Geri itu sengaja menyimpan photo Rere dan tidak memberikan kembali kepada Geri dengan harapan Geri bisa melupakan Rere.


Akan Tetapi Justru Cinta dan Rindu Geri bertambah Besar dan Photo yang di temukan oleh Cantika saat tidak sengaja terjatuh dari buku Geri dan Photo itu sekarang sudah Cantika serahkan kepada Pemiliknya yaitu Rere saat keduanya berbicara di butik milik Rere.


Meski Photo itu hilang tapi tidak dengan cinta Geri dan sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kembali Geri dengan Rere saat Geri datang di Bank tempat Rere bekerja untuk mengurus ATM miliknya di sana.


Geri sangat bahagia melihat Rere yang meski sudah berselang Delapan tahun tapi cinta Geri sama besar nya seperti saat dirinya masih remaja. Tanpa Terasa air mata Geri mengalir mengingat kebersamaan juga kenangan dirinya saat menemani Rere selama sepuluh tahun setelah kedua nya bertemu kembali.


Cantika menangis berpelukan dengan Bu Sri sedangkan Geri menangis dalam diam menatao dinding yang ada di sampingnya dan Pak yanto berkata


"Buka hati kamu untuk wanita lain Geri dan Jika kamu sangat mencintai Rere biarkan dia bahagia bersama Pria yang dia pilih, mencintai seseorang tidak boleh meminta balasan, Yakinlah Nak Ali Bin Abi Thalib pernah berkata Jika kamu mencintai seseorang biarkan dia pergi jika suatu saat dia kembali dia berarti milikmu dan jika dia tidak kembali maka dia tidak ditakdirkan untuk kamu" ucap Pak Yanto yang hanya awalnya diam dan sekarang mencoba menasehati Putra satu-satunya itu.


"Nak itu yang dinamakan Takdir, Pak Ustadz Adi Hidayat pernah berkata Bahwa Allah akan memberikan apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan"


"Saya lelah dan saya ingin beristirahat" sahut Geri dengan membaringkan dirinya lalu menyelimuti dirinya sendiri.


"Dengarkan Ayah kamu Geri jika ucapan ibumu ini tidak juga bisa sampai ditelinga kamu" ketus Bu Sri.


Cantika diam dan mengajak Bu Sri dan Pak Yanto untuk meninggalkan ruangan rawat inap Geri karena menurutnya Geri butuh waktu untuk sendiri untuk menerima putusan Rere dan juga menenangkan dirinya sendiri.


...****************...


Tya sudah sampai di kampung Bu Inah dan kakak laki-lakinya yang bernama Ali menjemput dirinya di Stasiun menggunakan motor dan keduanya menuju ke Rumah Tya untuk mengambil dokumen dan berkas yang dibutuhkan untuk proses perceraian.


Tya membuka pintu rumahnya dan nampak rumah yang sudah dia tinggalkan sekitar Tiga Minggu terlihat Kotor dan Tya membersihkan terlebih dahulu agar terlihat bersih dan rapi. Kemudian dirinya menuju ke kamar Pribadinya dengan suaminya. Tya menangis sendiri di dalam kamar mengingat Kenangan Pernikahannya bersama Didit, Suaminya yang selingkuh dengan tetangganya.


Dan akibat apa yang di lakukan suaminya itu, membuat Tya dengan di perintah ibu Inah menjual tanah berupa sawah Simpanan yang Rere siapkan untuk sang ibu jika Adiknya itu menikah.


Tya melangkah kedinding kamar yang menyimpan photo dirinya juga suami dari Pernikahan sampai lahirnya Dion ditengah kebahagian keluarga kecil mereka dan semuanya hancur karena sikap dan tindakan yang dilakukan suaminya dengan menghianati dirinya dengan tetangga nya sendiri yang juga memiliki suami.


Tampak Tya Memendam rindu kepada suaminya yang akan dia ceraikan itu, dirinya merindukan sosok suami yang juga cinta pertamanya agar baik dan bertanggung jawab seperti yang ada di mata dan pikiran juga hatinya meski banyak yang melihat Didit sosok yang berbeda dimata orang lain akan tetapi di mata Tya Didit sosok pria yang menjadi suami terbaiknya sebelum berselingkuh.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda tampa Rere yang memandangi photo Aditya juga Geri dengan perasaan yang sulit di artikan dirinya memendam rindu kepada kekasihnya yang sekarang pergi ke Amerika juga kepada sahabatnya yang sekarang marah terhadap keputusan dirinya.


Begitu Juga dengan Aditya yang memedam rindu Rere dan ketakutan jika kekasihnya itu mengetahui akan apa yang dia lakukan dibelakang Rere.


__ADS_2