
Disebuah Kamar yang nampak besar terlihat ria duduk di depan cermin untuk make-up. Hari ini dirinya akan mengunjungi Aditya kembali, dia pikir bahwa putra dari sahabatnya itu sudah dipindahkan dari ruang ICU keruang VVIP rawat inap.
Ria akan menelpon Rere menanyakan perkembangan Aditya, dan Ria mengingat juga bahwa Aries dirawat disana, dia ingin tahu perkembangan dan keadaan Mantan kekasihnya yang amat membekas dan menggores luka yang sangat dalam kepada hatinya.
Dia berpikir meski Aries dirawat setelah masa kritisnya di ICU pasti ruangan nya terpisah dengan Putranya karena dia pria kaya tidak mungkin dirawat di ruangan dengan pasien lebih dari dua.
Tidak ingin berlama terkurung dalam pikirannya, segera Ria menelpon Rere untuk mengajak ke rumah sakit untuk menjenguk Aditya.
Panggilan telpon tersambung tanpa pikir panjang Rere mengangkat dan berbicara dengan Ria yang adalah nasabah Prioritas di Bank tempat dia bekerja.
Setelah sama-sama sepakat akan waktu dan juga tempat bertemu sebelum kerumah sakit menjenguk Aditya sudah di tentukan maka panggilan telpon berakhir. Rere menghembuskan nafas panjang.
Setelah Lima Menit mereka berbicara menggunakan sambungan telpon, diputuskan dirinya dan Ria akan mengunjungi Aditya bersamaan pukul sebelas siang ini.
Ria harus melakukan meeting dengan Clien dari Swedia untuk membahas kerjasama untuk menangani Brand pakaian asal negara itu.
Dan Renia sendiri harus mendatangi butik dan mengecek dan juga memantau perkembangan bisnis kecilnya itu, sudah Delapan hari dia tidak fokus untuk sekedar melihat usahanya karena mengurusi masalah yang datang bersamaan dari Perkelahian Aditya dan Geri dan juga ibunya yang harus di rawat dirumah sakit lalu masalah Tya di mana suaminya berselingkuh dengan tetangganya sendiri dan kini Tya menginginkan dirinya bercerai.
Rere harus mendampingi keluarganya yang sedang mengalami masalah serius juga geri yang adalah sahabat rere, Geri mengalami penganiayaan juga kerena dirinya, lalu Aditya yang terkena kasus huk*m juga karena di picu rasa cemburu yang juga menyeret namanya.
Belum lagi berita bohong yang menyebar diinternet dan berita televisi. Rere teringat dengan seorang wanita yang memfitnahnya yang mengatakan dirinya sering membawa pria ke apartemen dan mengaku tetangganya.
Sejenak Rere terdiam berharap dapat bertemu dan menanyakan mengapa perempuan itu berkata bohong tentang dirinya.
"Aaahhhh" suara Rere kesel sendiri di dalam kamar.
Jika dipikirkan kepala Rere serasa ingin pecah, masalah datang bertubi-tubi secara bersamaan tanpa memberi dirinya jeda hanya untuk beristirahat.
Rere berpikir dengan memiliki uang atau usia yang dewasa maka hidupnya akan sedikit ringan nyatanya masalah justru bertambah besar dan banyak.Mengingatnya saja membuat nafas Rere sesak.
Rere mempersiapkan Laptop untuk mengecek semua data yang telah dikirimkan karyawan butiknya. Satu Jam Rere memeriksa Laporan Keuangan dan juga bukti Transaksi juga Stock Barang yang ada di Butik, untuk persiapan saat dia kunjungan, Rere memiliki gambaran apa saja yang masih kurang dan perlu di perbaiki dan juga masukan untuk karyawan yang dia percayai untuk mengelola Butiknya itu.
Waktu sudah menujukan Pukul 8 Pagi ibu memanggil Rere untuk bergabung makan Pagi bersama di Meja makan, Rere bergegas merapihkan meja kerja yang ada di kamarnya dan menutup laptop yang akan dia bawa nanti nya, Lalu Rere Masuk ke kamar mandi dirinya butuh untuk membersihkan tubuhnya karena saat subuh tadi hanya mencuci muka dan gosok gigi lalu wudhu dan sholat.
__ADS_1
Setelah itu membantu Tya dan ibunya membersihkan Rumah, Saat selesai menyapu apartemennya suara handphonenya bordering sehingga Rere bergegas mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Ria nasabah Prioritasnya.
Jadi sebelum pergi ke Butik dan Rumah sakit untuk menemui Aditya, Rere butuh mandi. Setelah mandi Rere menggunakan Dress dan Blezer berwarna Peach dengan Hijab Motif bunga dengan warna sesuai dengan Blezer yang dia gunakan. Tangan nya membawa tas khusus untuk Laptop dan di bahunya sudah ada tas selempang kecil berwarna Putih dan Sepatu Hight hell berwarna Peach.
Renia keluar dari kamarnya dan bergabung dengan keluarga nya untuk Makan Pagi. Ibu mempersiapkan Lauk dan Nasi sedangkan Tya membagi piring dan gelas sesaui jumlah yang ada di meja makan 4 Orang. Saat makan selesai ibu bertanya kepada Rere
“Mau berangkat kerja atau mau jenguk Nak Adit" tanya ibu inah.
“Rere masih Cuti bu selama 10 Hari dan Minggu depan sudah mulai masuk” sahut Rere.
“Lama Sekali apa tidak masalah nak” ucap ibu inah.
“Tidak Masalah bu, kan selama Satu Tahun Rere belum pernah ambil Cuti dan sekarang Rere ambil semua sisa dua hari nanti Rere ambil untuk persiapan akhir tahun” Sahut Rere.
“Ya, Jika tidak masalah ibu tenang, Takutnya atasan kamu menilai jelek jika rere lama tidak masuk Nak”
“Tidak bu, itu Hak para pekerja tidak hanya di Bank, tempat kerja teh Tya juga pasti ada cuti juga, benarkan teh Tya?” tanya Rere.
“Yakin mau cerai teh” tanya Rere kembali yang di balas anggukan.
“Berapa Hari Cutinya teh”
“Teteh ambil semua, habisin masa cuti jadi 8 Hari” ucap Tya.
“Terus teteh jadi kerja ke timur tengahnya”
“Jadi Re… teteh mau cari uang buat sekolah Dion” sahut Tya,
“Cari uang buat sekolah Dion atau mau menjauhi Mas Didit” ucap Rere sambil mengunyah apel yang sudah di kupas sedangkan Tya hanya diam.
“Kalo ingin menghindar atau cari suasana baru jangan jauh-jauh disini aja, tinggal sama Rere, kalo teh tya sudah tidak ingin tinggal di sana lagi ya boleh tinggal di Jakarta bersama Rere nanti kita buka usaha warung makan atau teh tya kerja di butik Rere saja, sambil nenangin pikiran, Kasihan Dion kalo ditinggal jauh, Nanti kalo teh tya emang mau tinggal di jakarta, Rere bantu urus perpindah sekolah dion disini” jelas Rere panjang lebar agar Tya mengurungkan niat nya menjadi tkw di timur tengah.
“Apa Boleh Teteh tinggal disini re” ucap tya Lirih.
__ADS_1
“Ya Boleh atuh teh, masa tinggal sama saudara sendiri ga boleh”
“ya sudah nanti teteh pikirkan ya, terus uang penjualan sawah yang teteh pake buat kasus nya mas Didit gimana rere, teteh ga enak sama kamu, itu sawah tabungan untuk ibu nanti yang sudah kamu siapkan”
“Sisa nya pake aja teh buat modal teteh mau buka usaha apa disini nanti Rere bantu, semisal usahanya maju teteh boleh cicil atau ganti ke rere, tapi kalo teteh belum ada ya udah pake aja, jangan dipikirin lagi masalah uang sawah” ucap Rere santai.
Mengingat sawah yang dia beli menggunakan hasil kerja tapi harus di jual oleh ibu untuk membantu Tya, awal nya dia marah tapi sekarang ikhlas dan santai tidak ada lagi rasa marah dengan ibu dan sauadara permpuannya itu.
“Bu, Nanti Rere mau cek butik dan jam 11 mau jenguk mas Aditya bersama Bu Ria, dia nasabah Prioritas di Bank tempat rere berkerja yang juga Rekan Bisnis Mas Aditya, Dia mengajak Rere tadi tellpon”
“ya sudah rere, salam buat Aditya dan ucapkan maaf ibu belum bisa jenguk hari ini, mungkin nanti kita jenguk lagi” Rere hanya mengangguk dan tersenyum.
“Kamu pilih Siapa Re” ucap Tya.
“Maksudnya…"Rere membalsa ucapan Tya dengan ekspresi bingung.
“Geri dan Adytya keduanya suka sama kamu, terus yang mau kamu pilih buat jadi suami kamu yang mana” ucap Tya tersenyum
“Apaan sih Teh, pikirin masalah teteh aja deh, jangan urusan rere juga di pikirin nanti pusing loh”
Rere terrtawa begitu juga ibu dan tya. Sedangkan Dion tidak menanggapi ataupun tertarik dengan obrolan yang dia tidak mengerti.
“Dion ikut sama bibi tidak, ke rumah sakit nanti ketemu sama jimmy lagi disana, kamu bisa main sama Jimmy”
“Males bibi, capek Dion nunggu diluar sedangkan bibi lama keluarnya dari ruangan itu, Males Dion mau di sini aja lihat gedung-gedung dari kaca yang ada di apartemen bibi dan mau nonton tv aja”
Dion terlihat kapok ikut kerumah sakit selama dua hari dia berkata sangat jenuh dengan keaadan rumah sakit yang menurutnya membosankan.
“ya sudah bibi pergi dulu ya”
Rere mendekati Dion dan mencium pipi juga pucuk kepala keponakan nya yang menggemaskan itu lalu menghampiri ibu inah dan mencium punggung tangan ibunya dan juga Tya.
Dia berpamitan dengan keluarga nya dan melangkahkan kakinya kearah Lift lalu menuju ke Parkir untuk membawa mobilnya kearah Butik.
__ADS_1