Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 135 Hans Mengancam


__ADS_3

"Apa yang Hans lakukan kepada Renia. Sia*an dia. Apa dia ingin menggali lobangnya sendiri. Riki Buat Perusahaan Alexander Goyah. Dia mengusik kehidupan Saya. Apa dia merasa ada diatas awan dengan menikahi Ayu" Aditya berkata dengan Nada yang keras dan tinggi.


"Baik Pak Adit akan saya lakukan segera" Riki menutup teleponnya dan menatap kembali kearah luar jendela.


Joni menelan ludahnya secara kasar dan sesekali menatap spion yang ada didalam mobil hatinya berkata


Bagaimana Jika Pak Aditya tahu siapa yang memberitahukan alamatnya Bu Renia kepada Tuan Hans.


Tanpa terasa Mobil yang di kendarai oleh Joni sudah sampai di Lobby Gedung Apartemen Riki. Segera Riki keluar dari mobil dan menuju Lobby dan melangkahkan kaki dengan langkah cepat kearah Lift.


Tidak lama Lift terbuka kembali dan Riki berjalan memasuki Apartemen mewahnya yang mana berada di bawah Lantai Apartemen milik Aditya. Sesampainya di kamar Riki yang telah mengambil beberapa ice dan kain untuk mengompres luka supaya tidak membengkak.


"Sialan kamu Hans, Auuuhh" Riki menahan rasa sakit yang ada di pipinya.


Riki menatap Ponsel miliknya dan menatap photo Ayu yang dia simpan di Galery Ponsel miliknya. Riki mengusap layar Ponsel dan berkata pelan


Seharusnya dulu saya nekat untuk memperjuangkan cinta ini Ayu. Sayang maafkan Saya yang tidak berani menyatakan perasaan saya kepadamu. Maafkan Saya Sayang karena tidak gentleman yang membuat kamu menikah dengan orang yang salah. Tidak seharusnya saya membiarkan kamu menikah dengan Hans. Pria Bren*sek itu telah berani menyakiti kamu baik fisik dan batin kamu Sayang.


Riki menaruh kain dan juga mangkok yang berisi ice batu diatas Nakas lalu dirinya melangkahkan kaki kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...****************...


Suara Ponsel Hans Berdering tapi Hans tidak peduli kini dirinya berada di sebuah Bar dengan tangan yang memegang sebuah Botol alkohol untuk dapat menenangkan diri dari semua yang terjadi.


Ini kebodohannya tidak seharusnya dia menjalin sebuah hubungan terlarang dengan sekertarisnya. Hans akui Lita memang terlihat **** dan menggoda akan tetapi dirinya hanya mencintai Ayu sejak dirinya sama-sama menempuh pendidikan di Berlin.


Hans mengusap wajahnya kasar dan meneguk kembali botol yang berisi alkohol. Hans mengingat masa indah bersama dengan Ayu. Wanita lembut yang baik hati dan terlihat ceria. Wanita yang sudah melahirkan Putranya dan saat mereka tinggal di Berlin Ayu orang yang mendukung Kariernya saat itu.


Ini Baru satu Bulan Hans sudah tergoda dengan wanita lain dan bukan hanya itu dirinya juga tidur bersama dengan Lita beberapa kali bahkan Hans memberikan sebuah Apartemen mewah untuk selingkuhannya itu. Hans seakan lupa diri dan tergoda dengan wanita muda yang sengaja menggoda dirinya saat berada di kantor,


Suara Ponsel kembali berdering dan saat Hans lihat ternyata kakak iparnya yang sekarang berada di Amerika. Hans terdiam sejenak dan tersenyum dalam hatinya memaki Riki yang dengan cepat mengadukan dirinya kepada Kakak iparnya dengan begitu cepat.


"Hallo Kak Adit" Hans menerima Telepon dengan sedikit mabuk.


"Ada dimana sekarang kamu Hans" Nada Aditya terdengar berat di telinga Hans karena kakak iparnya itu sedang menahan amarahnya.


"Ada Apa Kakak ipar sepertinya kamu sangat ingin tahu keberadaan Saya Sekarang" Hans terdengar terkekeh.


"Hans... Jangan menguji kesabaran Saya mengerti kamu"


"Wow... Kenapa Saya menguji Kesabaran Kakak Ipar Apa kesalahan Saya"


"Apa yang kamu lakukan kepada Ayu... Berani kamu menyentuh dan melukai Adik saya satu-satunya. Dan berani kamu mengatakan hal buruk kepada Renia. Apa kamu bosan Hidup Hans" Teriak Aditya.


"Sepertinya Asisten Keluarga kalian yang si*lan itu sudah mengadu kepada Bosnya... Dasar Penjil*t"


"Jangan banyak bicara kamu Hans. Sekali lagi kamu mengusik Ayu dan Renia akan saya bunuh kamu dan Saya tidak akan peduli siapa kamu dan Walaupun Ayu memohon untuk mengampuni kamu tetap Saya akan kejar kamu sampai ujung dunia kamu mengerti Hans" Teriak Aditya sangat Marah.


"Wow... Ternyata Kakak Ipar lebih peduli dengan Selingkuhnya dari ibu dari Putra Kamu ya.... Hahaha"


"Apa yang kamu katakan Hans... Berani Sekali kamu" Aditya berdiri dari duduknya dan berbicara dengan suara bergetar menahan amarahnya.


"Saya Tahu semua rahasia Kakak ipar dan Jika Kakak ipar tidak mendukung saya untuk tetap bersama Ayu Saya Akan membongkar semua rahasia tentang anak haram yang kakak ipar sembunyikan dari calon istri kakak ipar yang sangat dicintai yang bernama RENIA...Hahahaha..." Hans tertawa dengan suara yang sangat lantang.


"Breng*ek Kamu. Berani sekali mengancam Saya"

__ADS_1


"Tentu saja saya berani karena saya menantu Sah dari keluarga Erlangga dan sorry kamu hanya anak haram Papi Aries, Pilihan ada pada diri kamu kakak ipar, Jika kamu menentang saya untuk kembali bersama dengan Ayu atau mendukung Asisten si*lan itu untuk menikah dengan Ayu. Maka saya akan katakan semuanya kepada Calon istri kakak ipar yang sangat cantik dan sholehah itu " Hans tertawa dan menutup panggilan telepon Aditya untuknya.


Dan dari seberang telepon sana Aditya hanya menatap kesal Ponselnya dan ingin rasanya kembali ke indonesia dan bertemu dengan Hans untuk memberinya pelajaran tapi Aditya harus sedikit bersabar untuk mengurus Dokumen Putranya juga mengurus sekolah Zayn saat tinggal di Amerika nantinya.


Aditya mengusap wajahnya kasar dan meletakan Ponselnya dengan sembarang diatas meja kerjanya.


"Dari mana Hans Tahu Rahasia saya. Kenapa ada orang lain yang tahu. dan ini tidak bisa dibiarkan... Renia tidak boleh tahu tentang Hans sebelum kami menikah. Saya akan menjelaskan kepada Renia tapi untuk saat ini tidak mungkin untuk Renia tahu yang ada dia akan membatalkan Lamaran saya dan Saya yakin tidak akan ada lagi Lamaran setelahnya. Dan Renia akan lebih memilih Geri dari pada saya" Aditya menggerutu pelan dan memukul keras meja kerjanya.


Aditay terdiam sejenak dan mengatur nafasnya lalu mengambil kembali Ponselnya dan melakukan panggilan telepon dengan Ayu. Perlu dua kali panggilan telepon baru Ayu bisa mengangkat panggilan teleponnya.


"Ada Apa Kak..."


Rere masih menangis dengan menutup wajahnya dengan Bantal, Sengaja Ayu tidak menjauh dari tempat Rere berbaring yang dalam keadaan membelakangi Ayu. Suara tangisan Renia terdengar ditelinga Aditya.


"Berikan Ponselnya kepada Renia"


"Kak sebaiknya besok kakak telepon kembali, kami ingin beristirahat. Malam ini kami cukup lelah. Kakak Pasti sudah mendapatkan informasinya dari Riki. Untuk saat ini biarkan Kami tidur" Ayu merasa sangat lelah dan juga merasa iba dan tidak enak dengan Renia malam ini.


"Berikan saja Ponselnya Ayu..." Aditya berteriak dan Ayu hanya menghembuskan nafas kasar.


"Rere... Kak Aditya ingin berbicara" Ayu mengatakan Pelan.


Rere mengulurkan tangannya dan mengambil Ponsel lalu beranjak dari tempat tidurnya yang saat ini berada di Carpet di samping ranjang. Rere membuka pintu lalu melangkahkan kaki keluar Unit Apartemen dan Ayu sempat bertanya ingin kemana akan tetapi Rere hanya terdiam.


Rere melangkahkan kakinya kearah Lift dan dari belakang Ayu mengikuti Rere karena mengkhawatirkan temannya itu. Rere keluar dari Lift dan menuju keluar Lobby dan kemudian mengangkat teleponnya.


"Mas... "


"Sayang... Renia"


"Anak Siapa dan Anak yang mana Sayang..."


"Jangan lagi Bohong dengan Renia Mas... Cukup Renia tidak ingin lagi ada kebohongan. Cukup Mas... Renia Sakit. Mas Aditya Jahat. Renia menunggu Mas Aditya karena Renia percaya dengan janji Mas Aditya untuk Renia tetapi ternyata semua hanya kebohongan dan Renia sangat bodoh Mas... Kenapa Renia begitu percaya dengan apa yang Mas Aditya katakan kepada Renia"


"Cukup Sayang... Cukup Jangan katakan lagi. Kamu salah paham dan Mas akan pulang ke jakarta... Mas akan katakan apa yang terjadi. dan semua itu bohong. Kamu tahu tuduhan itu dari mana Sayang. Siapa orang yang sudah membuat berita bohong dan membuat Sayang tidak lagi percaya dengan Mas Adit. Siapa Orangnya Sayang. Siapa katakan kepada Mas Aditya Sekarang" Teriak Aditya yang juga menangis saat mengatakan itu.


"Mas Cukup... Saya tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan Mas Aditya. Kisah kita sudah lama berakhir. Dan Renia melepaskan Mas Aditya Sekarang. Renia membebaskan Mas Aditya dan Renia tidak ingin Mas Aditya terus berbohong dengan Renia kembali" Rere menutup Ponselnya dan menangis dengan menatap langit yang di penuhi bintang dan bulan.


"Rere... "


Ayu berkata pelan dengan posisi dirinya sedikit jauh tapi masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Rere karena kekasih kakaknya itu berbicara dengan nada tinggi.


"Maafkan Kami Renia..." Mengatakan sambil mengusap air matanya yang mengalir dipipinya.


Ayu melangkahkan kakinya kearah Rere dan memeluknya dari belakang dan meminta maaf atas keributan yang terjadi malam ini juga meminta maaf untuk kakaknya.


"Sebaiknya kita masuk Rere kita harus tidur dan besok kamu harus kerja bukan"


Rere terdiam dan berlalu begitu saja dari Ayu dirinya berjalan dengan langkah kaki gontai lalu masuk ke Lobby dan untuk kali ini tidak menaiki Lift akan tetapi menggunakan tangga. Ayu menatap dari kejauhan dan mengikuti Rere dari belakang.


Sedangkan Ponsel Ayu masih didalam genggaman Rere. Saat Aditya menelpon kembali Rere tidak menjawab. Suara Dering Ponsel dapat Ayu dengar yang mana dirinya berjalan di belakang Rere yang berjalan pelan dan terlihat lemas.


...****************...


"Aaaaahhhhh"

__ADS_1


Teriak Aditya keras dengan memukul meja kerjanya dengan keras lalu menarik rambutnya dengan keras. Aditya mengusap wajahnya dan menangis.


Penyesalan tidak dapat mengembalikan waktu, Meski dirinya ingin memperbaiki keadaan yang terjadi sekarang tapi waktu akan tetap berputar dan tidak akan pernah bisa kembali seperti harapannya.


Aditya ingin pulang ke jakarta juga tidak bisa dilakukan karena banyak hal yang harus dia kerjakan di Amerika untuk Perusahaannya juga untuk Putranya. Dirinya Hanya bisa marah dan kesal yang dapat dia lakukan untuk saat ini.


"Sayang Maafkan Mas... Renia. Maaf Sayang" Ucapan itu terus di katakan Aditya dengan Pelan.


Sementara di luar ruangan dimana Aditya berada saat ini para Staff hanya saling pandang satu sama lainnya dan bingung kenapa Atasanya itu terdengar Berteriak dengan suara Marah didalam ruangannya.


...****************...


Sementara Hans yang berada di dalam Bar dan masih meneguk Botol Alkohol sampai Mabuk berat. Bartender yang bekerja di sana hanya menatap Hans yang terlihat kacau dan beberapa kali terdengar meracau tidak jelas.


"Pak... Sebaiknya Saya bantu untuk menghubungi keluarga Anda karena telihat anda Mabuk Berat"


"Haiiii... Kamu Jangan Cerewet ya... Saya akan membayar semuanya. Kamu tahu saya Hans Alexander saya bisa membeli Bar ini dan juga kamu. Jadi jangan berisik. Berikan Saya minum kembali" Teriak Hans.


"Saya Tahu anda memiliki banyak uang Pak. Tapi Masalahnya anda sudah Mabuk berat Pak. Boleh saya pinjam Ponselnya, Saya akan membantu Anda menghubungi keluarga anda Pak" Jelas Bartender kepada Hans.


"Kamu Tahu, Istri saya meminta Ceraiiii... dan dia akan menikah dengan pilihan Papinya yang seorang Pelayan S*alan" Teriak Hans


"Kamu ingin tahu keluarga saya akan hancur... dan keluarga mana yang ingin kamu hubungi... " Hans tertawa lalu menangis.


"Baiklah Pak tapi ijinkan Saya menghubungi orang tua Anda"


"Heeemmm Orang Tua saya ada dj luarrrr negeri" Suara Hans terdengar parau.


Bartender memberanikan diri mengambil Ponsel yang ada di dekat lengan Hans yang tidak sadarkan diri karena Mabuk.


"Hallo... Ada apa lagi Brengs*k"


Aditya mengangkat panggilan dan Bartender menjauhkan Ponsel dari telinganya karena mendengar Teriakan dari Aditya.


"Maaf Pak Saya Jerry Pegawai Bar dimana keluarga anda yang adalah pemilik Ponsel yang saat ini sedang Mabuk di Bar tempat saya bekerja, Saya tidak tahu harus menghubungi siapa, dan saat saya cek Ponselnya tidak terkunci karena itu saya melihat nomor telpon terakhir yang di hubungi adalah nomor anda" Bartender itu berusaha menjelaskan.


"oh... iya dia Adik Ipar saya. Apakah dia Mabuk sekarang"


"Benar Pak" ucap Bartender tersebut.


"Saya akan mengirimkan Driver untuk menjemputnya sekarang, Tolong kirimkan Lokasinya ada dimana dan Terima Kasih telah menghubungi Saya"


"Baik Pak dan Sama-sama" ucap Bartender dan segera menutup panggilan telepon.


"Oh... Pantas dia berani manantang Saya ternyata dia Mabuk" ucap Aditya Pelah


Kemudian menelpon Asep untuk menjemput Hans di Bar yang sebelumnya sudah mendapatkan Lokasi dari pesan yang dikirim Bartender itu kepada dirinya.


Aditya menelpon Asep dan yang di telepon tentu ketakutan dirinya tidak langsung mengangkat Panggilan dari Aditya. Dirinya yang berada di kamar Mesh yang berada di Mansion Aries menjadi takut.


Asep Berpikir jika Aditya akan memarahinya atau bahkan sampai memecat dirinya karena meminta Joni untuk memberitahukan kepada Hans tentang Lokasi Apartemen Kekasihnya.


"Hallo Pak" akhirnya memberanikan diri untuk menjawab panggilan Telepon Aditya.


"Asep Jemput Hans sekarang di Bar yang Ada di Jakarta Pusat untuk lokasi sudah saya kirim lewat pesan"

__ADS_1


"Baik Pak Adit" Asep bernafas lega karena yang terjadi tidak seperti yang dia pikirkan.


__ADS_2