
"Kakak... Kenapa Kak Aditya melakukan itu" Ayu terlihat marah dan berkata dengan nada sedikit tinggi.
"Kakak Harus tahu... Apa yang Kak Aditya lakukan ini bisa membuat Papi Meninggal karena serangan Jantung dan itu tidak lucu. Kak Aditya tahu Papi Masuk ke rumah sakit setelah mendengar kakak mencoba bunuh diri"
Aditya hanya terdiam karena memang dirinya salah telah membuat rencana yang salah dan Ayu mengatakan jika kakaknya sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain dan dampak yang di akibatkan atas apa yang dia lakukan.
Riki hanya terdiam mendengar wanita yang dicintainya itu marah dan menegur atasanya yang sedang berbaring di rumah sakit.
"Renia sakit... Bagaimana keadaannya dan Papi... Biarkan kakak menghubungi Papi dan meminta untuk jangan mengkhawatirkan Kakak" Jawab Aditya dengan membenarkan duduknya.
"Riki Hubungi Papi dan katakan saya baik-baik saja" Aditya melepaskan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Ayu menatap dengan kesal kepada kakaknya yang merencanakan ini semua dengan harapan Renia mengkhawatirkan dirinya dan juga kembali kepada Aditya.
Melihat wajah kesal Ayu Riki menoleh kembali ke arah Aditya dan melangkahkan kakinya ke arah Bosnya agar lebih dekata dan berkata pelan
"Pak... Adit. cepatlah sembuh dan kembali ke jakarta karena Nona Renia membutuhkan dukungan dan kekuatan dari Pak Adit" ucap Riki pelan
"Apa yang terjadi Riki. Jangan membuat Saya cemas"
"Tidak ingin cemas tapi membuat orang lain cemas dengan ulahmu" Ayu menggerutu kembali dengan wajah masam.
"Bu Renia di diagnosis Leukimia Pak"
"Apaaaaaa..." Teriak Aditya dan menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang. Aditya terdiam dan tatapannya kosong kearah depan lalu meneteskan air mata.
"Tidak mungkin... Renia... Sayang"
"Bagaiamana ini bisa terjadi Riki, kamu pasti mengatakan lelucon untuk saya bukan" sambung Aditya
"Bu Ria mengatakan ada indikasi Bu Renia mengidap kanker karena gen dari ayahnya yang juga terkena cancer sebelum meninggal. Bu Ria mendapatkan info ini dari saudara laki-laki Bu Renia yang mendampingi Bu Renia dan sampai sekarang Bu Renia belum sadarkan diri" Riki menjelaskan dan membuat Aditya bertambah sakit saat mendengarnya.
"Sebaiknya kakak cepat memulihkan diri setelahnya kita pulang jika urusan kak Aditya di Amerika sudah selesai" sahut Ayu mengusap lengan Aditya dengan pelan.
"Riki urus kepulangan saya hari ini"
"Tapi Pak" sahut Riki
"Kak Adit... Kakak belum benar-benar sembuh tunggu dua atau tiga hari" ucap Ayu kesal
"Lakukan yang saya perintahkan Riki, Saya akan pulang hari ini dan kalian jangan khuatir. Peluru itu tidak terlalu dalam masuk kedalam tubuh saya. Meski masih sakit dan nyeri tapi saya bisa menahannya. Renia membutuhkan saya jadi jangan kalian tunda-tunda atau kalian akan menanggung akibatnya. Jika terjadi sesuatu terhadap Renia" Ucap Aditya dengan tatapan tajam mengarah ke Riki lalu beralih ke arah Ayu bergantian.
"Baik Pak. Tapi Apakah Pak Adit yakin mampu melakukan perjalanan jauh ke Jakarta hari ini"
"Jangan khuatir Riki lakukan saja apa yang saya perintahkan"
"Baik Pak"
Riki melangkah untuk meninggalkan ruangan dan Sisillia dari pintu mendengar semua yang dikatakan oleh ketiga orang yang berada dalam ruangan.
Karena telinganya di dekatkan pada pintu dan suara yang mereka katakan keras jadi Sisillia mengetahui isi pembicaraan yang ketiganya bicarakan.
Ada rasa bahagia mendengar Rere mengidap Kanker dan juga ada rasa kesal dan kecewa kepada Aditya karena mengetahui jika pria yang dia cintai sengaja melakukan percobaan bunuh diri hanya untuk menguji cinta Rere dan mengharapkan Rere kembali kepadanya. Pria yang sangat dicintai itu tidak bisa melepaskan Rere.
Sisillia mundur kebelakang saat suara knop pintu terdengar dan pintu terbuka. Riki menatap Sisillia yang berada di depannya. Kemudian Riki melangkahkan kaki ke samping dan menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di sana menunggu Ayu keluar.
Tidak lama Ayu keluar dari ruangan rawat inap dan menatap Sisillia kemudian menoleh ke arah Riki dan mengajak untuk menemui dokter karena sesuai permintaan Kakaknya untuk pulang ke Jakarta.
__ADS_1
Setelah Keduanya menjauh dan memasuki ruangan dokter, Sisillia masuk dan menemui Aditya. Hati Sisillia merasa sangat sedih dan terluka karena tidak di anggap oleh Adik tiri prianya.
"Kenapa harus pulang sekarang, Sayang. Kamu belum sehat dan bagaimana dengan Zayn, Dia masih membutuhkan Papinya"
Aditya hanya diam dengan menutup matanya tidak berniat berbicara dengan Sisillia karena dirinya yakin justru akan berdebat dan Aditya lelah untuk itu.
Tenaganya harus dia simpan untuk merawat dan menjaga Rere setelah sampai di jakarta. itu yang ada dalam pikiran Aditya.
"Saya tahu kamu tidak tidur Sayang"
"Keluarlah Sisillia, Saya lelah dan tidak ingin berdebat" Aditya membuka matanya.
"Kenapa kamu sejahat ini ... Saya ibu dari anak kamu dan saya juga sama sakit kamu tahu itu. Rahim saya luka dan itu karena salah kamu dan Anak kita juga sedang sakit dia butuh kamu, Sayang dan kamu pulang meninggalkan Zayn demi Renia itu tidak adil Sayang" Teriak Sisillia dan Aditya hanya diam.
"Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan saya Aditya, Sudah saya katakan kamu adalah rumah, sahabat, cinta juga hidup saya tanpa kamu bagaimana saya bisa menjalani ini semua. Saya seakan kamu buang begitu saja di New York. Saya dan Anak kita harus mengalah hanya demi Renia. Apakah kamu tidak memiliki hati dan sedikit saja memikirkan Zayn. Jika kamu tidak bisa mencintai Saya kamu bisa melakukan ini demi Putra kita Zayn, Sayang" Sambung Sisillia penuh emosional saat mengatakannya Sisillia juga menangis.
"Saya menerima dan mengakui Zayn sebagai anak saya dan Saya memberikan aset yang saya miliki, mengganti menjadi nama Zayn. Itu Saya lakukan demi masa depan Zayn karena saya sayang dengan putra kita tapi jangan paksa saya untuk meninggalkan Renia dan menggantikannya dengan Sisillia karena itu tidak akan pernah terjadi. Jangan lupa kamu setuju untuk menjadi bayangan Renia jadi jangan meminta lebih dari itu. Mengerti" Ucap Aditya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Zayn akan membenci kamu jika dia mengetahui apa yang kamu lakukan kepada Maminya. Ingat Zayn akan membenci kamu Aditya" Teriak Sisillia lalu berlari meninggalkan ruangan rawat inap.
Aditya menghembuskan nafas panjang dan berat matanya menutup kembali lalu menyentuh bagian dada yang sakit karena luka tembak dan karena banyak bergerak luka itu menjadi sakit dan mengeluarkan darah.
...****************...
Sisillia berlari dan meninggalkan rumah sakit menggunakan taxi dan menuju ke Mansion yang diberikan Aditya untuk Putranya.
Setelah sampai di gerbang, Sisillia keluar dari taxi dan berlari ke arah Mansion, Walaupun Perutnya sakit tapi dia tidak perduli dia terus berlari kecil sampai di dalam Mansion dia menekan tombol lift yang akan membawa ke dalam kamar.
Setelah Pintu Lift terbuka dia berlari kecil dan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Sisillia menangis dengan sangat sedih.
Mendapati penolakan bukan hanya dari Aditya akan tetapi Ayu yang terlihat lebih mendukung kakaknya untuk bersama Rere dibanding dengan dirinya.
Kemudian dirinya melangkah ke sebuah Lemari yang ada di kamar dan mengeluarkan sebuah Pistol di dalam laci dan Tersenyum sinis menatap ke arah Pistol.
"Renia. Kanker tidak akan membunuh kamu terlalu cepat tapi dengan ini kamu tidak akan merasakan sakit dan kamu akan terbebas dari penderitaan. Tunggu kedatangan saya. Karena Saya yang akan membantu membebaskan kamu dari Kanker"
Sisillia tersenyum dan menyimpan Pistol ke sebuah wadah dan menggulungnya dengan kain dan menyimpan di dalam koper. Kemudian Sisillia mengambil beberapa Helai pakaiannya yang ada di dalam lemari dan menyimpan ke dalam Koper miliknya.
"Mami... Mami" Zayn berteriak dan mengetuk pintu
Sisillia mengusap air matanya dan berjalan untuk membuka pintu dan tersenyum dan mencium Zayn. Putraya menanyakan keadaan Papinya karena sudah hampir dua hari tidak bertemu.
"Papi sibuk Zayn, Dia harus bekerja untuk kita. Makanya nanti saat Zayn besar, Kamu harus bantu Papi ya Nak, untuk bekerja di kantor Papi"
Mendengar apa yang di katakan oleh Maminya Zayn menganggukan kepala dan Zayn mengajak Maminya untuk bermain Game yang di belikan oleh Papinya sebelum insiden percobaan bunuh diri.
Sisillia menurut dan keduanya kearah ruangan khusus untuk Zayn bermain game dan di ruangan itu juga banyak mainan milik Zayn.
Setelah beberapa saat Sisilia mendekatkan diri dan memeluk Zayn erat lalu mengecup pipi Zayn dan berkata
"Sayang tadi Papi telepon Mami katanya Papi akan pulang ke jakarta besok. Zayn nanti bujuk Papi supaya cepat pulang ke NYC ya nak. Bilang ke Papi untuk segera kembali ke sini setelah urusan Papi selesai ya" Zayn hanya mengangguk dan Sisillia tersenyum dan mencium pipi Putranya kembali.
...****************...
Sedangkan di rumah sakit, Dokter dan Suster harus membantu menjahit kembali luka yang terbuka yang mengeluarkan darah akibat Aditya banyak bergerak. Kemudian luka ditutup kembali dengan perban.
Awalnya pihak rumah sakit menolak akan tetapi Aditya tetap memaksa kepada Dokter yang menanganinya dan dirinya berkata bahwa kekasihnya di indonesia sedang sakit karena itu dirinya ingin segera pulang.
__ADS_1
Negosiasi terlihat sulit, Akan tetapi Ayu menerima semua konsekuensi jika terjadi nantinya terhadap kakaknya karena meminta untuk pulang. Dan Ayu berkata bahwa Setelah sampai di jakarta.
Rumah sakit miliki Keluarganya akan segera menjemput di bandara dan Kakaknya akan menjalani pengobatan di rumah sakit sampai lukanya sembuh.
Akhirnya pihak Dokter menyetujuinya untuk memindahkan Pasien dari Amerika ke Jakarta menggunakan rekomendasi.
Riki dan Ayu yang sudah mengurus semua urusan administrasi juga ijin Kepulangan Aditya termasuk Rekomendasi Medis Aditya.
Setelah itu Ayu akan membawa Aditya ke Mansion milik Keluarganya dan menjemput Jimmy akan tetapi Aditya meminta untuk mengantarkan dirinya ke Mansion miliknya untuk bertemu dengan Putra semata wayangnya.
Karena Aditya akan pulang ke jakarta, Maka dia ingin bertemu terlebih dahulu dengan Putranya. Dan Ayu menjawab
"Kakak yakin akan bertemu dengan Zayn saya dengar Putra Kak Aditya sakit Lemah Jantung, Jika melihat keadaan kak Aditya seperti ini. Apa tidak akan mempengaruhi kesehatannya"
"Saya akan mengenakan kemeja dan akan menutupi luka ini. Saya rasa Zayn tidak akan melihatnya. Saya ingin bertemu dengannya dan mengenalkan kamu kepada Zayn"
"Baik, Jika begitu tapi hati-hati dengan luka kakak nantinya jangan banyak bergerak dan Riki saya minta tolong untuk menurut Jimmy di Mansion dan kita bertemu di Bandara saja"
"Baiklah Sayang"
Aditya menoleh ke arah Riki dan juga Ayu. Aditya tersenyum mendengarnya, Ayu manatap tajam kearah Riki sedangkan Riki terlihat acuh karena memang sengaja ingin menunjukan kepada Aditya tentang kedekatannya dengan Ayu.
"Baiklah Bantu saya ke Kursi Roda Riki"
"Baik Pak Aditya"
Ketiganya meninggalkan Rumah Sakit dengan Dua Mobil yang mana Mobil pertama untuk Ayu dan Aditya dan Mobil kedua untuk Riki.
Kedua Mobil tersebut terpisah ke tempat yang berbeda. Mobil pertama yang membawa Aditya dan Ayu telah sampai di sebuah Mansion mewah dan pintu gerbang terbuka dan Mobil melaju ke area halaman Mansion dan Bryan yang berdiri tidak jauh dari Mobil mencoba untuk mendekat.
Pintu Mobil terbuka dan Ayu membantu kakaknya untuk berdiri tidak menggunakan kursi Roda meski merasa sakit akan tetapi Aditya mencoba untuk berjalan agar anaknya tidak curiga dengan keadaannya.
Dibantu oleh Bryan. Aditya duduk di ruang tamu dan menyuruh Rita untuk memanggil Zayn putranya. Rita mengangguk dan Bryan kembali ke halaman depan Mansion.
Ayu duduk di dekat kakaknya dan mengedarkan matanya kesegala arah dan melihat beberapa photo Zayn yang terlihat sangat tampan seperti Photo yang pernah dirinya lihat saat kakaknya seusia Zayn dan memang keduanya mirip.
"Apa itu Photo Putra Kak Aditya"
"iya"
"Hehhh... Saya tidak menyangka Besarnya Cinta kak Aditya kepada Renia tapi ternyata bisa juga meniduri wanita lain sampai hamil"
Aditya hanya melirik ke arah Ayu dan dirinya terdiam tidak berkata. Apa yang di katakan Ayu benar jadi dirinya tidak bisa marah, Apalagi Ayu adik satu-satunya yang sangat Aditya sayang.
Pintu Lift terbuka dan melihat Zayn berlari dari arah Lift memanggil-manggil dirinya.
"Papi... "
"Kemarilah Sayangku"
Zayn memeluk dan Aditya melindungi luka yang ada di dada agar tidak terkena tekanan dari pelukan Zayn
"Papi... Papi dari mana dua hari tidak pulang"
"Papi!!!... oh ya ini kenalin Aunty Ayu. Adik Papi datang dari Indonesia untuk bertemu dengan Zayn" Aditya mencoba mengalihkan pertanyaan putranya.
"Hai... Tante nama Saya Zayn" Ayu hanya tersenyum ke arah Zayn.
__ADS_1
"Sayang Papi akan pulang ke jakarta karena Opa sakit. Opa masuk rumah sakit, Jadi Papi harus menemani Opa di sana"
"Ya... Baik tapi Papi cepat pulang ke NYC lagi ya. Zayn ga mau tinggal disini tanpa Papi"