
"Heeemm..." ucap Aditya saat dibangunkan oleh Rere.
"Bangun Mas... Ini sudah pagi kenapa Mas tidur disini. Pulanglah hari ini Pasti banyak orang datang untuk memberikan bela sungkawa kepada keluarga besar Mas Aditya. Ayo Bangun"
Rere memukuli pelan Punggung Aditya dan yang dibangunkan menguap lalu memandang kearah Rere dan tersenyum.
"Pagi... Sayangku" Aditya mencium pipi Rere dengan cepat.
"Mas... " Rere melotot dan mengusap pipinya Aditya hanya tersenyum.
"Pergilah banyak tamu di rumah Mas"
"Jenasah Hans disemayamkan dikediaman Alexander sayang dan disana banyak kerabat yang menjaganya"
"Mas keadaan Ayu bagaimana"
"Ayu Masih Kritis Sayang. Papi Aries dan Mami Lisna sekarang dirawat. Mami Lisna Syok dirinya terguncang dan sekarang satu ruangan dengan Papi" Rere mendengarkannya hanya terdiam.
"Sayang... Kamu tahu Ada satu hal yang ingin Mas ceritakan kepada Renia. Mas hampir lupa memberitahukan ini, Karena Renia membuat Mas kesal semalam"
Renia menatap kekasihnya yang seakan tidak mengerti jika dirinya ingin mengakhiri kisah cintanya bersama Aditya dan menyuruh Prianya untuk meninggalkan dirinya dan kembali kepada Sisilia dan putranya tapi Aditya tidak melakukannya.
"Sayang kamu tahu... Papa Rian datang mencari Mas... Dia sekarang tinggal di Hotel****. Mas semalam bahagia karena bertemu dengan Papa dan sekarang bisa menemani Renia disini" Aditya lalu mencium tangan Rere.
"Mas... Papa Rian datang..." Aditya mengangguk lalu tersenyum.
"Mas Bahagia... semua yang pernah hilang dari hidup Mas sekarang kembali. Allah mengembalikan kalian dalam hidup Mas" Aditya mengatakannya sambil memeluk Rere.
Ali bangun dan mendapati Aditya sedang memeluk Adiknya. Ali berdehem dan Aditya menarik tubuhnya dan membenarkan duduknya.
"Mas Adit... Renia ingin menjenguk Ayu dan menghadiri pemakaman suami Ayu"
"Jangan Sayang tetaplah disini Renia belum pulih, Semalam saja masih drop dan hidung mengeluarkan darah. Mas tidak ingin mengambil Resiko"
Aditya mengusap pipi Rere dan terdengar suara Ponsel berdering, Aditya menatap layar dan segera mengangkat panggilan telepon
"Kenapa Luca... "
"Tuan saya ingin menjemput Tuan dan Nyonya Alexander. Bisa bantu saya untuk menyambut para tamu yang akan berbelasungkawa disini"
"Ya Tunggu saya juga akan pergi ke Mansion Tuan Alexander. Pukul berapa orang tua Hans datang"
"Sekitar pukul 9 pagi Tuan"
"Baik... Saya akan pergi kesana sekarang"
Panggilan telepon dimatika dan Aditya berpamitan kepada Ali dan Rere tidak lupa Aditya memcium pucuk kepala Rere dan melangkahkan kaki kearah Ali dan berjabat tangan sebelum pergi.
...****************...
Riki semalaman menjaga Ayu didaalam ruangan UGD kekasihnya itu belum sadarkan diri dan hari ini sesuai infomasi yang dia dapat dari bawahanya yang berada di kediaman Hans.
Jika kedua orang tua Hans pukul 9 Pagi sampai dan pukul 2 siang Hans akan dimakamkan. Tapi Ayu belum sadar. Dirinya belum tahu jika suaminya tiada.
Riki juga mendapatkan kabar jika driver yang bertabrakan dengan mobil Hans kemarin saat Hans dibawa ke rumah duka.
Driver Truk juga tutup usia kali ini tersisa korban selamat hanya Ayu. Riki merasa sedih tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan tanpa kehadiran Ayu disampingnya.
"Ayu sayang maafkan saya tidak seharusnya saya merusak rumah tangga kamu. sudah benar saya pendam rasa cinta ini tapi kenapa dengan bodohnya saya menunjukan bahkan mengungkap perasaan saya kepada kamu juga Hans. Jika saya tetap diam mungkin kamu tidak akan seperti ini dan jimmy tidak akan kehilangan Ayah kandungnya. Ini semua karena Saya Ayu " Tangis Riki dengan menciumi punggung tangan Ayu lembut.
...****************...
__ADS_1
Rafli berhenti didepan apartemen Rere. Ntah kenapa dirinya selalu teringat dengan Tya, wanita dari kampung yang masih terlihat lugu meski sudah menikah dan dalam proses perceraian juga sudah memiliki putra yang sekarang berusia 6 tahun.
Semalam Rafli mengirimkan pesan bahwa dirinya akan datang ke pemakaman suami Ayu dan menanyakan Tya akan pergi menjenguk Rere atau tidak dan Tya menjawab dirinya tidak menjenguk Rere karena kakak pertamanya akan datang untuk membantu mendampingi Rere dirumah sakit bersama Ali sampai Renia di ijinkan pulang.
Dan Tya akan mencari sekolahan untuk Putranya Dion dan Tya mengaku belum tahu daerah jakarta karena itu Rafli mengajukan diri untuk membantu Tya untuk menemukan sekolah terbaik dengan biaya sekolah yang terjangkau oleh Tya.
Tya setuju dan mereka berdua janjian sekitar pukul 8 Pagi untuk mencari sekolahan. Rafli menyuruh Tya mengenakan Pakaian serba hitam. Tya sebenarnya merasa aneh kenapa mencari sekolah harus mengenakan pakaian serba hitam akan tetapi Tya tetap menurut dengan apa yang diminta oleh Rafli.
Saat Rafli melihat Tya keluar dari gerbang pintu Apartemen terlihat Tya mengenakan Pakaian serba hitam dan Dion juga mengenakan pakaian serba hitam. Rafli membunyikan klakson dan membuka pintu kaca mobil dan melambaikan tangan.
"Siapa mereka Pa" ucap seorang anak perempuan yang sangat cantik dan imut mengenakan pakaian Dress berwarna hitam.
"itu tante Tya dan anaknya bernama Dion. Nanti kalian bisa berkenalan karena akan sekolah di tempat yang sama" ucap Rafli tersenyum dan anak perempuan itu hanya menampakan wajah bingung.
Rafli membuka pintu mobil lalu mendekat ke arah Tya dan wanita yang di temuinya itu meminta maaf karena datang terlambat karena susah membujuk putranya untuk ikut.
"Tidak masalah... Dion... Hallo Apa kabar Nak"
Rafli mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan putra Tya itu dan Dion menatap ibunya lalu Tya menyuruh untuk mencium punggung tangan Rafli.
"Pinter ya dan nurut, Oh... ya nanti sekolahnya di sekolah yang sama dengan anak om mau ga" ucap Rafli dan Dion hanya menatap ke arah ibunya.
"Di sekolah biasa aja Mas dekat-dekat sini yang ekonomis. Saya takut tidak mampu bayar biaya sekolahnya" ucap Tya sambil tersenyum.
"Jangan pikirkan masalah itu. Di sana ada Beasiswanya juga. Tenanglah Percaya saja dengan saya"
"ya sudah saya lihat aja dulu. Soalnya saya juga masih meraba buat kedepannya" Ucap Tya sambil mengikuti Rafli yang mempersiapkan Tya untuk masuk kedalam mobil dan membuka pintu belakang di sana sudah ada gadis kecil yang cantik dan Dion duduk di sana bersama gadis kecil itu sedangkan Tya duduk di depan bersama Rafli.
"Kenalan dulu Dion, Nama anak om Bunga. Nak ini namanya Dion anaknya tante Tya" ucap Rafli.
Tya merasa sedikit bingung kenapa mereka mengenakan pakaian serba hitam dan Rafli membawa putrinya untuk menemani dirinya mencari sekolahan untuk Dion.
"Memang iya Bu Tya. Kita akan melayat ke kediaman Tuan Alexander untuk mengucapkan bela sungkawa atas wafatnya suami Bu Ayu"
"Apa... Saya ikut Pak Rafli" Sahut Tya terkejut.
"Iya... anggap saja mewakili Bu Renia" Sahut Rafli sambil tersenyum dan Tya hanya menoleh kearah Rafli.
...****************...
Rian sudah rapi dan dirinya sedang menikmati makanan yang ada di restaurant Hotel dan menatap Ponselnya yang berdering nama Aditya terlihat di layar Ponsel miliknya.
"Ya Nak... "
"Papa... Maafkan Aditya semalam berkata dan bersikap kasar terhadap papa. Aditya menyesal" Ucap Aditya yang sedang berada di dalam kamar mengenakan Pakaian serba hitam dan sedang menatap sebuah cermin.
"Papa mengerti Nak"
"Papa Aditya ingin meminta tolong... Adit minta Papa bujuk Renia agar setuju menikah dengan Aditya dan Papa sangat dekat dengan Bu Inah. Bicaralah dengan Bu Inah... Aditya Mohon Pa"
"Nak..."
"Papa dan Mama... sangat dekat dengan orang tua Renia pasti mereka akan mendengarkan papa untuk saat ini Aditya mohon Papa Bantu Adit"
"Nak... Papa akan coba bicara dengan Renia."
"Terima Kasih Pa... Aditya akan memberikan alamat rumah sakit Renia dan setelah selesai Pemakaman Hans. Aditya akan membawakan surat yang Mama tulis sebelum meninggal. Kita akan bertemu di rumah sakit tempat Renia di rawat"
"Baiklah Nak" Panggilan telepon diakhiri
...****************...
__ADS_1
Rafli dan Tia sampai di sekolahan yang sama dengan Bunga, Putri kecil Rafli. Tya menolak saat melihat bangunan sekolah yang di rekomendasikan oleh Rafli
"Pak Rafli mohon maaf sebelumnya ini terlalu mewah untuk Dion. Saya mau yang biasa aja. Saya tidak mampu menyekolahkan Dion di tempat ini"
"Dion mau sekolah disini Bu. Sekolahnya bagus sekali"
Tatapan mata Tya dan Rafli saling bertemu kemudian Tya menundukan kepalanya. Hatinya merasa malu dan sedih dengan keadaannya saat ini. Putranya ingin bersekolah di sekolahan yang mewah tapi dirinya tidak sanggup untuk membiayainya.
Jika meminta bantuan Adiknya itu tidak mungkin karena Rere membutuhkan biaya banyak untuk pengobatan dirinya yang sekarang sedang sakit kritis.
"Bu Tya sebaiknya kita urus pendaftarannya sekarang karena sebentar lagi kita akan ke tempat Tuan Hans di semayamkan. Karena info yang saya dapatkan Pak Hans akan dimakamkan pukul 2 siang ini"
"Iya Pak tapi untuk pendaftaran Dion saya tidak ingin disekolah ini. Biar anak saya nanti dicarikan yang dekat apartemen saja yang biayanya bisa saya jangkau"
"Bunga ajak Mas Dion keluar buat ketemu Bu Guru nanti Papi akan menyusul"
"Baik Papi"
Setelah kedua anak kecil keluar mobil Rafli memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang dia rasa harus diungkapan
"Bu Tya saya mohon maaf sebelumnya jika saya kurang tepat atau lancang"
"Maksudnya bagaimana ya Pak Rafli"
"Saya sekali lagi mohon maaf Bu karena mungkin lancang sudah mengutarakan ini tapi saya rasa saya harus mengungkapkan sebagai pria dewasa"
Tya mengerutkan dahinya.
"Begini Bu Tya, Bukannya saya ingin memanfaatkan situasi tapi sejujurnya jika di perbolehkan saya ingin taaruf dengan Bu Tya setelah proses perceraian Bu Tya selesai. Saya tahu Bu Tya wanita yang sangat baik dan seorang ibu yang Penyayang dan tentang perceraian adalah takdir yang harus di jalani Bu Tya" Rafli menundukkan kepala
"Istri Saya telah lama meninggal, Maminya Bunga meninggal dunia saat melahirkan Bunga dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi membuka hati untuk wanita lain. Saya Fokus membesarkan Bunga hanya berdua dengan ibu saya. Tapi saat saya bertemu dan mengenal Bu Tya saya tidak tahu kenapa hati saya merasa tenang dan saat saya berdoa dan sholat tahajut saya semakin yakin untuk meminta taaruf kepada Bu Tya" mendengar perkataan dari Rafli hati Tya berdegup kencang.
"Bu Tya tidak usah khuatir akan pendidikan dan masa depan Dion. Saya akan menyanyangi Dion sama seperti Bunga tidak akan membedakan mereka berdua. Saya juga tidak akan terburu-buru untuk melangkah ke Pernikahan. Saya akan menunggu Bu Tya setuju dan mengenal saya dan keluarga besar saya, dekat dengan Putri saya begitu juga sebaliknya. Saya tahu Bu Tya masih Trauma dengan Perselingkuhan suami Bu Tya maka dari itu saya akan menunggu Bu Tya untuk yakin dan menerima saya" Rafli menatap Tya yang masih menunduk.
"Pak Saya sejujurnya... Hanya ingin bercerai dan membesarkan Putra saya seorang diri. Hanya ingin fokus untuk masa depan Dion" Tya meneteskan air mata.
"Saya mengerti Bu Tya dan saya akan membantu untuk Prosesnya dan sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak terburu-buru Bu Tya bisa mengenal dan kita bisa Taaruf terlebih dahulu. Jika kita tidak cocok satu sama lain. Saya Terima jika Bu Tya menolak saya" ucap Rafli sambil tersenyum dan bersamaan dengan itu Tya menatap wajah teduh dari Rafli.
"Ya sudah saya merasa tenang sekarang. Mari kita turun Bu Tya, Biarkan Dion sekolah di sini bersama dengan Bunga. Saya yang akan membiayai sekolah Dion. Bu Tya jangan takut meski nanti Bu Tya menolak, saya tetap akan membiayai Dion. InsyaAllah"
"Terima Kasih Pak Rafli tapi sebaiknya jangan sekolahkan Dion di sini. Saya tidak mau merepotkan Pak Rafli"
"Dion tadi ingin sekolah di sini jangan hancurkan keinginan seorang anak. Marilah Bu Tya kita turun dan segera urus pendaftaran lalu ke rumah duka Tuan Alexander"
Tya merasa bingung, canggung dan juga bahagia di waktu yang bersamaan. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh tapi Tya tetap tenang dirinya tidak salah tingkah dengan ucapan Rafli.
Pintu Mobil dibuka oleh Rafli dan Tya keluar dan keduanya melangkahkan keruang staff administrasi dan mendaftarkan Dion untuk bersekolah di sekolah berbasis internasional yang sangat mewah membuat keringat dingin Tya keluar saat nominal yang dibayarkan oleh Rafli.
Rafli berdiri dan memberikan kartu atm berwarna hitam dan menekan tombol pin. Tya melarang awalnya dan pasrah saat Rafli tetap membayarkan biaya pendidikan Dion.
...****************...
Kedua orang Tua Hans telah kembali dari Berlin dan segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Luca.
ibu dari Hans menangis histeris saat bertemu dengan Luca yang mana asisten dan orang kepercayaan Hans selama ini.
"Luca cepatlah bawa kami pulang. Saya ingin memeluk dan melihat Hans untuk yang terakhir kali, Saya ingin melihat wajah Putra saya Luca"
"Tenanglah Sayang... Kita harus ikhlas. Ini semua sudah takdir"
Keduanya berpelukan dan Luca ikut menangis tersedu saat menatap orang tua Hans dari arah spion dalam mobil. Luca menyeka air matanya dan melajukan mobil kearah Mansion milik Alexander dan sekitar 1 jam. Meraka telah sampai di halaman Mansion. Ibu dari Hans berlari dari mobil memanggil nama Hans dengan histeris.
__ADS_1