Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 165 Menemani Renia


__ADS_3

Aditya mengetuk pintu ruangan Renia dan terdengar suara pintu yang terbuka. Ada seorang Pria di dalam ruangan. Aditya menyipitkan mata lalu menoleh ke arah papan nama ruangan yang ada di pintu.


"Cari siapa Pak"


Aditya terdiam dan menatap seorang wanita yang terbaring lemas dengan wajah pucat dan mata tertutup di atas bankar rumah sakit"


"Renia... " wanita yang di sebut namanya tidur


"Maaf anda siapa ya" Tanya Ali lembut


"Saya Aditya. Maaf apa ini Mas Ali. kakaknya Renia"


Saat menyebutkan nama Aditya wajah Ali terlihat berubah menjadi tidak menyenangkan dan Aditya tahu apa alasannya.


"Iya... Benar. Ada keperluan apa Aditya kemari. Ini sudah malam dan Adik Saya sedang beristirahat. Kembali besok saja" Ali mengusir Aditya dengan halus.


Suara kedua pria itu membangunkan Rere yang sedang tidur. Rere menatap ke arah Aditya dan bersamaan dengan itu Aditya menoleh ke arah Rere.


Darah di dada Aditya telihat oleh Rere dan wajah sedih dari kekasihnya juga nampak disana. Rere juga ikut bersedih dan meneteskan air mata lalu dirinya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ijinkan Saya menemui Renia walau hanya sebentar saja. Saya mohon mas Ali. Hanya sebentar saya janji saya hanya ingin menjenguk dan memastikan Rere baik-baik saja"


"Besok saja Mas. Ini sudah malam sebaiknya Mas pulang, Jangan ganggu Adik saya yang sedang tidur dan saya juga mengantuk ingin tidur"


"Saya Mohon. Saya tahu ini tidak sopan datang malam-malam dan berita yang ada di televisi juga pasti membuat Mas Ali kecewa. Tapi saya akan jelaskan semuanya untuk sekarang ijinkan saya masuk Mas... Saya Mohon. Saya hanya ingin bertemu dengan Renia"


Ali menoleh ke arah Adiknya yang menangis dan tetap tidak mengijinkan Aditya menemui Adiknya. Tapi Aditya memaksa membuat Ali mendorong Aditya tepat di luka tembak yang membuat Aditya berteriak kesakitan. Renia menoleh bertepatan dengan Ali yang menutup pintu ruangan rawat inap.


"Kang Ali... " Rere menangis


"Sudahlah Rere jangan menangis untuk Pria bren*sek seperti itu. Lupakan saja dia Fokus untuk penyembuhan kamu saja" Sahut Ali.


"Kang Biarkan Mas Aditya masuk"


Ali yang ingin merebahkan diri di atas karpet kecil yang ada di lantai ruangan rawat inap jadi berdiri kembali dan menatap Adiknya.


"Rere... ini sudah malam tidurlah"


"Rere Mohon kang"


Ali terdiam dan akhirnya setuju untuk memberikan kesempatan kepada Aditya menemui Adiknya.


"Silahkan Mas... Rere mau bicara sama Mas tapi ingat jangan lama-lama ini sudah malam" Aditya mengucapakan Terima kasih dan melangkahkan tubuhnya untuk masuk dan mendekati Rere kemudian pintu di tutup oleh Aditya dan Ali keluar dari ruangan.


"Sayang... " Aditya terhenti karena tangan Rere terangkat untuk memberi kode diam.


"Jangan jelaskan apapun Renia sudah memberitahukan sebelumnya. Hubungan kita sudah berakhir"


Aditya membuka bajunya yang di kenakan yang mana ada bercak darah. Di dada Aditya terdapat bekas luka yang terlihat darah yang terlihat di perban yang melilit di dadanya.


"Hubungan kita berakhir hanya jika Mas mati seperti Hans Renia... Lihat ini... Lihat Renia. Mas tidak akan berpikir dua kali jika kamu tetap memutuskan hubungan kita. Mas tidak hanya akan menggertak kamu sayang tapi Mas akan melakukannya ini serius"


Aditya membuka perbanyanya dan terlihat bekas jahitan yang mana masih ada sisa luka di sana.


"Mas Hentikan apa Mas sudah gila" Ucap Renia saat Aditya mengambil pisau dan hendak mengarahkan pisau ke dadanya sendiri.

__ADS_1


"Ya... Mas Gila. Sayang... Mas juga sedih kenapa bukan Mas saja yang mati kenapa harus Hans. Tapi kamu jangan takut Renia Mas kali ini akan mati di depan kamu Sayang supaya hubungan kita benar-benar berakhir"


"Mas Jangan"


Mata Renia tertutup dan berteriak saat Aditya ingin mengayunkan Pisau ke arah Jantungnya sendiri.


"Jangan... Mas Jangan... Hentikan"


"Buat apa Mas hidup tanpa Renia... Sayang. Aditya melepaskan Pisau dan berlutut kearah kaki Renia dan meminta maaf. Darah di dadanya mengalir karena gerakan yang Aditya lakukan. Pisau yang di pegang jatuh ke lantai Aditya menangis tersedu di atas kaki Rere.


Wanitanya hanya terdiam dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya dengan tingkah Aditya yang terasa aneh. Aditya menangis membuat Rere merasa takut apalagi dirinya hanya berdua. Rere khuatir Aditya akan bertingkah di luar kendali dan Rere teringat ucapan Cindy sahabat dina saat mereka bertiga di Mall bertemu dan membahas obat yang sering di konsumsi Aditya sebagai obat penenang.


Aditya bisa menjadi sangat frustasi yang tidak terkendali bahkan bisa menjadi gila karena efek obat yang dia konsumsi dalam waktu lama. Jantung Rere berdebar dan tubuhnya bergetar.


"Mas... Pulanglah Renia pusing dan mengantuk"


"Apa Renia mengusir mas"


Rere menggelengkan kepalanya. Aditya beranjak dari tempatnya dan mendekati Rere dan menggenggam tangan Rere yang terasa dingin dan gemetar. Tubuh Rere bergeser ke arah dinding.


"Renia takut dengan Mas Aditya" tanya Aditya dan Rere tidak berani menatap ke arah Aditya tapi tetap menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Sayang maafkan Mas Aditya... Jangan takut sayang. Mas Janji tidak akan pernah menyakiti Renia lagi. Mas datang hanya ingin meminta Rencana kita untuk menikah tetap terlaksana agar Mas bisa membawa Renia berobat Ke Eropa. Mas punya banyak teman yang akan membantu menangani sakitnya Renia"


"Tidak mas. Renia ingin tetap disini bersama ibu dan keluarga Renia"


"Sayang... Kamu harus sembuh Renia" Aditya mencium telapak tangan Renia.


"Renia sudah ikhlas mungkin dengan Renia sakit ini jalan terbaik untuk kita semua. Mas kembalilah kepada Putra kamu besarkan dia dengan kasih sayang. Renia tidak ingin menjadi penghalang seorang anak untuk mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya"


"Meski Renia Perawan Tua tapi Renia tidak akan merebut dan mengambil seorang Ayah dari anaknya hanya untuk status Menikah. Renia tidak bisa mas mengertilah. Pulanglah mas jangan pikirkan Renia apalagi keluarga mas sedang tertimpa musibah sekarang. Fokuslah dengan Ayu dan Putra Mas saat ini. Renia akan berjuang untuk sembuh, jadi jangan khuatir dengan Renia. Bu Ria juga akan membantu penyembuhan Renia juga Ibu Inah akan menjadi kekuatan Renia untuk sembuh. Keluarga Renia masih membutuhkan Renia jadi Renia akan baik-baik saja Mas Aditya jangan lagi memikirkan Renia dan untuk masa lalu kita sebenarnya semua sudah selesai. Kita sama-sama menepati janji. Mas mencari Renia dan Renia menunggu Mas. Tidak ada yang salah ini sudah takdir. Ikhlaskan semuanya Mas, kita tidak berjodoh. kembalilah kepada Sisilia dan rawatlah anak kalian dengan baik dan penuh cinta"


Aditya kemudian meneteskan air mata dan menunduk lalu tertawa. Jantung Rere berdegub dengan kencang dan ekor matanya menatap ke arah pintu berharap kakanya membuka pintu dan masuk.


Aditya tahu kemana mata Renia menatap lalu dengan cepatnya Aditya menarik tubuh Rere dan memeluk Rere lalu menangis.


"Renia jangan tinggalkan Mas... Bunuhlah Mas jika Renia ingin melepaskan Mas. Hanya Renia alasan Mas masih bertahan hidup sekarang"


"Benarkah... Tapi sayangnya tubuh Mas sudah pernah menyentuh wanita lain bahkan wanita itu memiliki seorang anak hasil hubungan terlarang Mas dengannya. Apa seperti itu cinta Mas ke Renia. Apa seperti itu yang namanya Mas tidak bisa hidup tanpa Renia" Rere berkata sambil terkekeh merasa lucu.


"Katakan apa saja yang membuat Renia dapat meluapkan kemarahan dan kekesalan Renia kepada Mas tapi jangan tinggalkan Mas. Renia Mas sangat mencintai kamu. Mas benar-benar tidak bisa hidup tanpa Renia"


"Pergilah Mas Renia lelah dan mengantuk"


"Sayang... "


"Cukup Mas... Renia lelah. Jangan ganggu Renia lagi. Renia tidak ingin kita bicara lagi. Mengertilah ini sulit untuk Renia dan kenapa Mas masih berada di sini. Ayu membutuhkan Mas sekarang dan pastinya Putra Mas Aditya juga Sisillia ibu anak itu sedang menunggu telepon dari Mas Aditya. Pergilah tinggalkan Renia sendiri" ucap Rere sambil mendorong tubuh Aditya.


Rere menoleh ke arah dinding dan menangis. Aditya merasa sakit bukan hanya di bekas luka tembak tapi juga hatinya. Aditya mendekat dan menyentuh tangan Rere lalu di tepis.


"Sayang... Maafkan Mas. Sisillia baru mengatakan dirinya melahirkan Zayn saat Mas berada di rumah sakit mendapatkan perawatan saat mas terkena kasus pemukulan Geri. Jika Mas tahu Sisillia melahirkan Zayn. Pastiii... Mas akan jujur dengan Renia dari awal. Mas bukan ingin menutupi masa lalu mas akan tetapi mas hanya takut Renia akan meninggalkan Mas dan memilih Geri. itu yang membuat mas tidak jujur. Sayang Maafkan Mas... Renia "


"Mas sangat Egois sekali. Kenapa mas lakukan ini kepada Renia... Haaaa... Lepaskan Renia dan kembalilah kepada mereka berdua maka semua masalah kita selesai" Teriak Renia.


Rere menarik nafas menahan sakit dan dari hidung keluar darah membuat Aditya Panik dan Rere menyentuh hidungnya yang mengeluarkan darah. Aditya mengambil Tissue dan memberikan kepada Rere.

__ADS_1


"Sudahlah Mas Aditya... Pulanglah keluarga Mas Aditya sedang menunggu Mas. Besok pasti akan sibuk banyak yang datang untuk memberikan bela sungkawa kepada keluarga Mas. Istirahatlah ini sudah malam simpan energi mas untuk besok Mas dan jangan cemaskan Renia"


Rere masih tampak tenang dan tersenyum agar Aditya tidak melihat rasa sakit yang dia alami. Aditya menyentuh pipi Rere.


"Mas... Terima kasih sudah menjenguk Rere sekarang pulang ya" Rere berkata dengan halus agar Aditya menurutinya.


"Saya akan panggilkan Dokter agar memeriksa keadaan Renia setelah memastikan keadaan Renia. Mas akan pulang" sahut Aditya sambil meneteskan air mata dan Rere menganggukan kepalanya.


"Mas minta diobati luka Mas Aditya terbuka lagi... takut ada virus dan bakteri masuk nanti lukanya akan bertambah parah" ucap Rere saat Aditya memunguti Pakaiannya dan dikenakan kembali dan Aditya tidak merespon ucapan Renia.


Sebelum meninggalkan ruangan Aditya menatap kembali Renia, dirinya melihat wajah sendu Rere yang sedang menyeka darah di hidungnya sambil menatap Aditya.


"Sayang Maafkan Mas Aditya" Ucap Aditya dan menutup pintu ruangan tempat Rere dirawat dan menoleh kearah kursi tunggu tidak ada Ali.


Aditya melangkahkan keruangan Dokter dan memberitahukan apa yang terjadi pada kekasihnya. Kemudian Dokter dan suster mengambil alat medis untuk memeriksa Rere dan melangkahkan kaki mereka keruangan Rere dan disusul oleh Aditya yang berjalan dibelakang Rere.


...****************...


Aditya masuk dan melihat Renia berbaring lemas dan mendapat penanganan Dokter dan Renia diberikan obat.


Pintu ruangan Renia terbuka kembali dan Ali masuk. Dahi alis mengerut dengan adanya Dokter dan suster yang memeriksa Rere.


"Apa yang terjadi Adit" Tanya Ali dan berdiri disamping Aditya.


"Renia mengeluarkan darah di hidung Mas" Ali hanya terdiam.


"Tadi Mas Ali dari mana saya cari di depan tidak ada"


"Saya beli kopi di Cafe" Aditya menganggukkan kepala.


"Ibu Inah sudah tahu keadaan Rere belum Mas"


"Belum... Kita takut memberitahukan keadaan Rere takut keadaan ibu jadi Drop... dengar suami Adik kamu meninggal aja tadi siang ibu kambuh untung ada Arsyila. Ibu langsung di kasih obat makanya Rere menyuruh Tya pulang dan Saya minta kang Abbas untuk datang dari kampung supaya bisa bergantian jaga. kalo sendirian Saya juga bingung kalo terjadi hal seperti ini" Bisik Ali kepada Aditya yang mulai mencair.


"Saya akan ikut menjaga Renia disini mas jangan khuatir"


"Jangan Mas... bukannya keluarga Mas lagi berduka pasti keluarga Mas lagi sibuk. Biarkan saya yang tunggu Renia. Dan Besok Kang Abbas datang dari kampung. Bukanya mengusir Maaf sekali lagi"


"Tidak apa tapi Mas Ali jangan khuatir. Disana banyak pekerja yang akan mengurus pemakaman Adik ipar saya. Besok saya hanya akan menghadiri Pemakaman Hans"


Renia melihat keakraban antara kakaknya dengan Pria yang dicintainya. Hati Renia tenang karena kakaknya sudah datang keruangan dan Aditya tadi juga tidak menyerang dirinya saat berdebat tadi.


"Tidurlah Sayang Mas akan menjaga kamu disini bersama Mas Ali" Rere hanya mengangguk.


Sulit berdebat dengan Aditya Jika Pria itu menginginkan sesuatu akan sulit melarangnya dan Aditya ingin menjaga dirinya. Rere hanya bisa menganggukan kepala tanda setuju tidak ingin berdebat dirinya memilih tidur.


Aditya meminta ijin kepada Ali untuk mengobati luka yang ada di dadanya dan Ali menyetujui. Kemudian Aditya melangkahkan kaki keruangan dokter untuk meminta di obati luka tembak yang mengeluarkan darah. Setelah selesai di tangani Dokter Aditya melangkahkan kaki kembali ke ruangan Rere dan mengetuk pintu.


Setelah dibuka oleh Ali, Aditya duduk di hadapan Rere yang tertidur. Aditya menjaga di dekat Rere sedangkan Ali tidur di karpet sebelumnya pintu telah di tutup oleh Ali saat Aditya sudah masuk.


Aditya menggenggam tangan Rere erat dan dirinya tidur dengan menelungkup wajahnya di bankar Rere.


...****************...


Saat Pagi Hari Rere bangun dirinya menoleh kearah samping kiri dan menatap Pria yang tertidur dengan menelungkup wajahnya sambil menggenggam erat tanganya.

__ADS_1


Rere membelai rambut pria yang dia ketahui dari pakaiannya bahwa pria ini yang berdebat dengannya semalam.


Aditya di bangunkan oleh Rere karena harus menghadiri pemakaman Adik iparnya.


__ADS_2