
"Kita bisa janjian bertemu setelah ini" ucap Cantika.
"Ya. Senang bertemu dengan anda Saya Aditya Kekasih Renia tapi maaf saya harus pergi Sholat jumat. Lain kali bisa diteruskan" ucap Aditya kepada Cantika dan dibalas anggukan oleh sahabat Rere.
"Renia Sayang Mas Pergi dulu"
Dua karyawan Butik Rere tentu saja membelalakan mata dengan kaget, Mereka seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aditya dan menambah cemas dengan nasib mereka berdua.
Apalagi sebelum pergi Aditya menatap tajam dengan rasa tidak suka kepada keduanya, Hati keduanya benar-benar sangat takut sedangkan Arief dan Riki sudah berada di luar saat Aditya menyapa Cantika.
Mereka berdua nampak berbicara dan saat Aditya menghampiri mereka mendadak Arief salah tingkah dan terlihat takut, Apalagi mereka akan pergi ke Masjid Bersama-sama.
Aditya bergabung dengan mereka, Asisten Riki membuka pintu Mobil dan menyuruh Arief untuk duduk di kursi belakang yang mana sebelumnya.
Riki terlihat melipat dahulu kursi yang berada didepannya karena untuk Mobil Sport yang mereka kendarai hanya ada dua pintu untuk penumpang samping dan pengemudi.
Tapi di belakang masih ada kursi untuk dua penumpang lain, Jika ingin naik ke kursi yang ada di belakangnya memang harus melewati kursi depan.
Arief Nampak ragu tapi dia memberanikan diri duduk dibelakang pengemudi, Arief mengedarkan pandangannya dengan rasa kagum mobil milik Aditya, Pemilik mobil hanya mengamati dari kaca spion yang ada didalam mobil begitu juga dengan Riki.
“Tempatnya di mana Arief” ucap Riki yang tahu namanya saat Rere menegur Arief tadi.
“Ya… Kenapa?” Perkataan Riki membuyarkan Arief dari kekagumannya atas Mobil yang dia naiki.
“Bu Renia tadi minta dibelikan makanan, benarkan?” tanya Riki. Aditya menoleh kearah Arief
“Ehhh Bu Renia?" berpikir sejenak
"oh…. I… iya Pak tadi Bu Rere minta dibelikan Nasi dan Ayam Panggang yang ada di ujung sana” Sahut Arief mengerti Renia itu pasti Rere.
Saat melihat Aditya menatap kearahnya, Arief menundukan kepalanya. Riki hanya tersenyum mendengar jawaban Arief dan mimik wajahnya di kaca spion didalam mobil.
“Depan Pak… Yang itu, iya yang disana Ada Tenda warna Biru” Tunjuk Aries.
“Ok… Tunggu sebentar biar saya yang turun” sahut Riki.
“Biarkan saya saja Pak” balas Arief yang diabaikan begitu oleh Riki yang sudah membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya kearah warung yang ditunjuk oleh Arief.
Semua Mata yang berada disana tertuju kepada kendaraan yang terparkir di bahu jalan milik Aditya. Hanya beberapa Menit saja Riki kembali dan membawa kembali mobil menuju Masjid yang tidak jauh dari sana.
Sementara di dalam Butik Rere mendekati kedua karyawan nya dan menanyakan apa yang terjadi dan kenapa dirinya mendengar adanya keributan.
Bella menarik baju yang dikenakan Nia secara pelan dan menggeleng kepala untuk memberi kode Nia saat Rere bertanya kepada keduanya.
Rere yang tidak ingin ambil pusing lalu masuk kembali kedalam ruangannya sambil menunggu ketiga Pria itu datang, Rere membuka Laporan penjualan yang ada di Komputer.
"Makanya mulut lu tuh jangan dibiasain, Jadi bikin masalah buat semuanya, awas aja kalo gw sampe dipecat pokoknya ga terima" Nia marah kepada Bella.
"gw itu tulang punggung di keluarga, masih punya adik sekolah dan bokap gw sakit. Ngerti lu" Nia mendorong Bella sampe tersungkur.
"Di bilangin dari tadi ga bisa diem banget sih lu, itu pacarnya bu Rere . Lu parah banget ga punya pikiran banget asal ngomong" Nia berkata pelan supaya Rere tidak mendengar apa yang mereka sebarkan.
Tapi Nia salah karena Rere mengawasi keduanya melalui monitor CCTV yang ada di ruangannya. Dahi Rere mengkerut dan kedua alis nya terangkat.
"Apa yang terjadi ya" gumam Rere pelan dan mengambil remot monitor untuk memutar ulang apa yang terjadi saat Aditya datang. Rere berpikir Bella menggoda kekasihnya jadi Rere penasaran mengingat tabiat buruk karyawan satu itu yang memang genit.
Rere menjadi penasaran apa yang di lakukan Bella sampai Aditya berteriak kepadanya dan terdengar suara gaduh dan sekarang Nia marah sampai mendorong Bella sampai tersungkur ke lantai.
Rere menatap fokus kearah monitor CCTV yang memperlihatkan detik-detik Kekasihnya datang dan setelah Rere melihat dan mempelajari tidak ada tanda-tanda Bella menggoda Aditya dan yang terlihat masih normal.
Tapi ada yang membuatnya terdiam sejenak yaitu saat Arief mendekati meja kasir dan terlihat Bella mengucapkan sesuatu dan nampak Aditya sangat marah dan memukul meja dengan keras.
"Hhhmm... Part ini yang buat Mas Aditya marah tapi apa yang Bella ucapkan ya, Mas Aditya sampe semarah itu" Rere mengulang video saat Bella bicara dan Aditya memukul meja kasir dengan sangat keras dan Rere beberapa kali berbicara sendiri dan mempertanyakan apa yang terjadi.
"Aaahhh, Pusing. Nanti tanya sama mas Adit aja deh" Rere mengalihkan pandangannya ke Komputer yang ada di atas meja dan mengecek kembali Laporan keuangan yang dikirim staff adminnya.
Setengah Jam Kemudian
Aditya dan Riki keluar dari dalam mobil dan disambut oleh Rere dengan senyum manisnya, Rere mencium Punggung tangan Aditya membuat Kekasihnya tersenyum bahagia dan melupakan apa yang terjadi sebelumnya.
kekesalan kepada Rere yang tidak merespon pesan dan panggilan video dirinya juga kemarahan kepada tiga karyawan Rere.
“Mas Makanannya sudah datang Kita makan bersama, Mas Riki hayo masuk dan kita makan sama-sama” ucap Rere Ramah.
__ADS_1
“Sebaiknya saya tunggu didalam mobil” sahut Riki.
“Makan sama-sama saja biar enak, oh iya mana Arief Mas” Rere menoleh kearah Aditya dan pria itu hanya menaikan sebelah alisnya dan menatap RIki.
“Oh… iya dia masih di mobil”
Riki lari mendekati Mobil membuat Rere tertawa akan tetapi kedua karyawan yang ada didalam hanya diam tidak berani ikut tertawa. Riki membuka Mobil dan juga melipat Kursi depan untuk memberikan jalan Arief keluar.
“Arief kenapa kamu tertinggal dimobil, Betah ya disana. Hahaha….”
Rere tertawa dan menggoda karyawannya itu dan Arief juga tertawa menahan malu. Sedangkan Aditya dan Riki hanya tersenyum. Nia dan Bella hanya saling pandang tidak berani untuk ikut mengejek Arief.
Jika saja Bella tidak berkata sembarangan didepan Aditya pasti mereka berdua juga ikut mengejek teman kerjanya itu.
Rere melirik kedua karyawannya yang nampak murung dan menundukan kepala. Rere menatap fokus kembali kearah Arief dan Sambil tertawa Rere berkata
“Kalo masih betah nanti minta pulangnya dianter sama Mas Riki” sambung Rere.
“Hahaha... Jangan bu Arief bawa motor dan tadi itu gimana ya. Eeeehhh...Maklum saja bu biasa naik Motor dan ini Pertama Kali naik Mobil Mewah, Ya Allah Bagus Banget Mobilnya bu”
Aditya melihat interaksi Arief kepada Rere berbeda, terlihat sangat dekat seperti seorang teman dan lebih dari itu mereka terlihat seperti saudara.
Berbeda jauh saat Arief yang tadi bersamanya, Sepanjang jalan hanya diam dan terlihat ketakutan dan sekarang terlihat tertawa lepas bersama Rere.
Dan Wanitanya ini sejak pulang dari Mansion keluarganya tidak memberikan kabar sampai waktu makan siang juga belum ada balasan dari Rere tapi lihat sekarang.
Wanitanya seperti tidak bersalah tertawa bahagia bersama pria lain bahkan berani di depan dirinya. Ada rasa kesal tapi di dominasi rasa bahagia karena bisa melihat senyum dan tawa pujaannya kembali.
“Ya sudah Sebaiknya kita Makan dulu ya karena makanannya sudah datang, Kalian istirahat bergantian saja, tunggu Arief selesai makan nanti kalian berdua menyusul untuk makan dan sholat itu pintu sementara ditutup saja saat nia dan bella istirahat” Rere memerintahkan kepada ketiga karyawannya.
“Baik Bu” ucap Ketiganya berucap bersamaan.
Aditya berjalan menggandeng tangan Rere dan di susul oleh Riki kedua Pria itu tidak menoleh kearah Bella juga Nia.
Sementara Arief mendekati kedua rekan kerjanya dan masih terdengar ditelinga Aditya kekaguma Arief kepada Mobil Sport mewah miliknya tapi dia tidak peduli dan melangkah masuk keruangan kerja Rere bersama asisten Riki yang menoleh kearah ketiganya dengan menggelengkan kepalanya.
“Bu Renia dan Pak Aditya saya makan dipentry bersama Arief saja”
Riki tidak ingin mengganggu atasannya yang sedari pagi uring-uringan karena tidak ada respon dari Rere.
“Terima Kasih Bu Rere tapi lebih baik saya makan dipentry”sahutnya kembali.
“Oh… gitu ya sudah ini Makanannya, Selamat menikmati” ucap Rere lembut.
“Terima Kasih bu Rere”
Aditya hanya menatap kekasihnya dengan lekat mengapa wajahnya terlihat bahagia tidak seperti sebelumnya saat Aditya ingin pergi ke Masjid terlihat Rere seperti selesai menangis, mata dan wajahnya sembab dan temannya juga sama.
“Sayang kamu baik-baik sajakan” tanya Aditya yang mengkhuatirkan keadaan wanitanya setelah Riki keluar dari ruangan.
“Baik, Kenapa Mas” Rere bertanya balik.
“Tidak, Mas hanya bertanya karena mencemaskan Rere yang mendiamkan mas dari kemarin dan pesan juga panggilan telepon mas tidak di respon” Aditya menatap Rere yang sedang menyendokan makanan kemulutnya sendiri.
“Tidak, Rere Baik-Baik saja mas” Rere membalas sambil tersenyum setelah mengunyah makanan.
“Mas… Makan nanti nasinya dingin” ucap Rere
“Aaaaa….” Aditya membuka mulutnya meminta Rere menyuapi
“Mas…iiihhh Makan sendiri ya Sudah tua juga. Haaaa.....” Rere tertawa
Rere Nampak menyuapi makanan ke mulut Aditya karena pria itu tidak menutup mulutnya dan malah nasi mliknya dijadikan satu dengan milik Rere.
Dan terus memaksan makan sepiring berdua, wanitanya hanya menggelengkan kepala dengan ulah pria yang dia cintai itu.
“Mas…”Rere ragu mengatakannya
“iya sayang” Rere menyuapi Aditya.
“Besok jadi perginya” Tanya Rere dan mendadak Aditya berhenti untuk mengunyah makanannya dan menatap Rere.
“Jadi Sayang…” Aditya masih menatap mata Rere.
__ADS_1
“Kenapa, Apa sayang ingin ikut Mas” tanya Aditya kembali.
“Tidak hanya bertanya saja” Rere menjawab dan tersenyum
“Kapan ketemunya? maksud Rere jam berapa” Aditya benar-benar menghentikan makannya dan menaikan kedua alisnya dan mengerututkan dahi.
Sepertinya Rere mulai Curiga.
Aditya berbicara sendiri didalam hati, dan mengusap kepala Rere lalu tersenyum dan berkata
“Sebaiknya Sayang ikut mas. Sekalian untuk jalan-jalan sama mas, pertemuannya dengan klien itu hanya sebentar setelahnya kita punya waktu untuk bersama, Bagaimana”
Aditya berharap Rere menolak karena dirinya hanya berkata seperti itu untuk mengalihkan rasa curiga Rere kepadanya.
Aditya tahu dengan jelas Rere sudah mulai mencurigai dirinya dan Sisilia, Untuk mengulur waktu sampai Sisilia dan putranya bisa dia pindahkan ke Amerika atau Eropa sesuai tempat yang diinginkan Sisil sebagai tempat tinggal mereka yang memang sudah disiapkan setelah mengetahui kebenarannya tentang kelahiran putranya dengan Sisilia.
Maka Aditya akan sangat berhati-hati, dirinya tidak ingin wanita yang dia cintai mengetahu fakta yang terjadi antara Sisil dengan dirinya. Aditya berkata lagi untuk meyakinkan Rere
“Gimana Sayang, ikut ya” bujuk Aditya.
“Ehhhh…. Tidak Mas, Rere mau kerja dibutik saja masih banyak pekerjaan yang harus Rere selesaikan”
Aditya menghembuskan nafas pelan dia merasa lega dan terlihat tersenyum kearah Rere yang mulai menyuapi dirinya kembali.
"Mas.... "
"Hhhmm..." jawab Aditya sambil meminum air putih yang sudah Rere siapkan.
"Ada apa lagi sayang" sambung Aditya setelah selesai minum.
"Tadi didepan sebelum Mas Sholat Jumat ada ribut apa, Rere lihat di CCTV mas marah dan ternyata suara pukulan Meja kasir yang Rere dengar keras itu Mas Aditya yang pelakunya. Ada apa Mas" Tanya Rere Pelan dan Halus kepada Aditya.
"Hhhmm... itu" Aditya terdiam
"Apa Bella menggoda Mas" ucap Rere dengan menatap Aditya.
"Apa... Siapa Bella sayang"
Aditya menaikan alisnya dan menatap tajam lalu bertanya dalam hatinya dengan mengerutkan dahinya
Mungkin itu nama Salah satu Karyawan Renia.
"Siapa dia sayang" Aditya bertanya untuk memastikan.
"Hhhmmm... Bella Karyawan Rere yang didepan mas" tanya Rere sambil tersenyum dan memasukan makanan kemulutnya.
"Oh... tidak. Dia tidak menggoda Mas. Mana mungkin"
"Tapi, Kenapa Mas Terlihat Marah tadi" ucap Rere.
"Hhhhmm... " Aditya Tersenyum.
"Jadi... kemarin Sisilia yang menjadi masalah sekarang Bella" Aditya tersenyum dan tangannya mengusap lembut.
"Kita menikah saja sayang supaya tidak lagi meragukan Mas" Tangan Aditya berakhir dijari jemari Rere dan menggenggamnya.
" Mas Cinta Renia dulu sekarang dan nanti" berkata dengan menatap tajam Rere lalu mencium jari jemari kekasih hatinya.
"i Love you Renia"
Rere hanya diam, hatinya merasa terharu mendengar pengakuan Cinta Aditya kepadanya. Tapi bayangan tatapan tajam dan sinis Sisilia saat bertemu dengan dirinya hadir kembali dan membuat Rere ragu.
"Sayang... I Love You. Marry me please" Aditya tidak akan menunggu lama untuk mengutarakan ini.
Deeeegggg....
Hatinya bergetar hebat mendengar perkataan itu. Rere menarik tangannya dan menatap lekat kekasih masa lalu nya.
"Mas..."
"Apa yang kita tunggu Sayang. Apa Renia masih ragu dengan perasaan dan cinta Mas" ucap Aditya menarik kursi yang diduduki Rere agar lebih mendekat kepadanya dan menggapai kembali tangan Rere.
Bukan itu Mas Tapi Rere ingin mencari Tahu tentang Mas Aditya sebelum memutuskannya
__ADS_1
Rere bermonolog didalam hati dengan menatap Aditya tanpa terasa air mata keluar dari sudut mata Rere ketakutan akan kehilangan Pria yang dia cintai kembali mengusik pikirannya.