Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 89 Julukan Perawan Tua


__ADS_3

Ruangan menjadi Hening. Keduanya saling menatap erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berada dalam pikiran masing-masing.


Rere sebenarnya sangat bahagia dengan apa yang diutarakan oleh pria yang selama ini dia tunggu. Ini adalah mimpi terindahnya, Menikah dengan Aditya dan memiliki putra dan putri, betapa indahnya.


Akan tetapi bayangan kematian Ayahnya membuyarkan perasaan bahagia didalam hatinya dan pengkhianatan kakak iparnya kepada Tya Kakaknya lalu Bayangan Suami Ayu yang dia lihat di Mall saat pergi bersamaku Jimmy dan Dion berputar-putar dalam ingatan juga kisah hancurnya rumah tangga Mama Sherly yang terlihat harmonis di matanya benar-benar mengusiknya.


Rere menunduk dan saat itu Tatapan Benci dan permusuhan Sisilia membayangi pikiran Rere. Aditya mengerutkan dahi bertanya di dalam hati apa yang terjadi dengan kekasihnya.


Aditya mengangkat dagu Rere menggunakan telunjuk tangannya lalu mengusap air mata Rere yang mengalir. Tangan aditya membingkai lembut pipi kekasihnya dan berkata


"Kenapa Sayang... Kenapa kamu menangis" Aditya berkata dan menatap sendu Rere.


"Rere takut Mas... " Rere melepaskan bingkaian Tangan Aditya yang ada di pipinya.


"Takut kenapa Sayang... " Aditya merasa cemas dengan keadaan Rere.


"Rere takut Mas pergi kembali dari Renia" Rere terisak mengatakannya dan membuat Aditya terdiam sejenak.


"Sayang... Mas tidak akan Pergi. Mas mencari Renia selama Delapan Belas Tahun" ucap Aditya.


"Mas berbohong... Selama ini mas tidak mencari Renia tapi disini Renia yang mencari dan menunggu mas. Menutup hati Renia untuk Pria Lain hanya untuk Mas" ucap Renia sambil menangis sendu.


"Sayang... Apa yang kamu katakan?" Aditya berkata lirih dan membingkai wajah Rere kembali.


"Banyak orang menyebut Renia Si Perawan Tua tapi hati ini... ya hati Renia berusaha kuat dengan julukan itu dan terus melangkah mencari Mas dan yakin Mas akan datang menjemput Renia... " Rere sedikit emosional saat mengatakannya.


"Mas mencari Renia selama Delapan Belas Tahun Sayang... Renia jangan meragukan Cinta Mas untuk Renia" Aditya sangat takut dengan apa yang dikatakan Rere.


Apa Renia sudah mengetahui kenyataan tentang Sisillia dan Zayn


Aditya berpikir dan berbicara dengan dirinya sendiri. Hatinya menjadi perih dan takut. Bayangan kehilangan kekasihnya membayangi pikirannya.


"Mas... Tidak Jujur dengan Renia" ucap Rere mengatakan dengan menangis kembali.


"Sayang apa yang membuat Renia berpikir seperti itu" Tangan aditya masih berada di kedua pipi Rere.


"Siapa sebenarnya Sisilia Mas" Teriak Rere


Deeeeeggggggg...


Aditya mematung dan secara perlahan melepaskan kedua tangannya yang membingkai wajah Renia.


Renia memajukan wajahnya menatap kedua mata Aditya dan mengguncang pelan bahu Aditya dan berkata


"Mas... Perasaan wanita tidak dapat di bohongi, Rere tahu ada sesuatu diantara Kalian. Lebih baik mas jujur daripada Rere mengetahuinya sendiri" Rere menangis dan memeluk Aditya.


"Sayang... Dia Psikiater Pribadi Mas, Papi dulu menunjuk untuk mendampingi Mas. Percayalah Mas berbicara jujur. Renia... Sayang Kenapa memiliki pikiran seperti ini dan apakah karena ini Renia menghindari Mas" ucap Aditya.


Kemudian memeluk erat Rere bukan hanya Rere yang takut kehilangan dirinya akan tetapi Aditya juga merasakan ketakutan yang sama dengan wanitanya.


"Mas... tidak butuh persetujuan Renia. Hari ini juga Malam ini juga Mas akan menemui Bu Inah dengan Papi dan datang untuk melamar Renia. Tidak akan ada lagi kecurigaan dan ketakutan diantara kita. Renia milik Mas dan Mas sepenuhnya Milik Renia"


Aditya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dipipi Rere dan membingkai kembali pipi wanitanya dengan penuh cinta menatap tajam Rere.


Aditya memiringkan kepalanya yang hendak mencium bibir Rere tapi seperti dejavu Rere menolak dan membatasi bibir mereka berdua dengan telapak tangannya.


"Mas... Jangan" Rere berucap dan membuat Aditya salah tingkah.


Aditya berdiri dan mengusap bibirnya lalu mengacak-acak rambutnya dan menatap Rere begitu juga dengan Rere yang nampak salah tingkah dan menatap Aditya.


"Maaf ya sayang" Rere hanya mengangguk.


"Ya sudah Mas, Sekarang sudah waktunya bekerja kembali. Mas harus kekantor. Kita bertemu kembali setelah pulang kerja" ucap Rere menoleh kearah lainya saat Aditya menatap dirinya dengan lekat.


Rere merasa malu dan hatinya berdebar sebentar lagi dirinya berciuman tapi dia menolak.


"Baiklah Mas Jemput Renia ya" Aditya lihat di depan Butik tidak ada Mobil milik Rere.

__ADS_1


"Iya Mas, tadi Tika jemput Rere di apartemen dan sekarang dia pulang... " Rere menyetujui perkataan Aditya dan tersenyum.


"Kemarilah Sayang" ucap Aditya dengan merentangkan tangannya tapi Rere menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas... Sekarang sudah jam dua Mas harus kembali ke kantor" usir Rere.


"Lihat saja saat kita sudah menikah Mas tidak akan berhenti untuk memeluk Sayang dan setiap saat Mas Cium Renia" ucap Aditya kesal yang mana pelukannya di tolak Rere.


"Mas... " Rere mendekati Aditya.


"Mas Belum menjawab tadi" Tangan Rere bergelayut di lengan Aditya.


"Tentang apa Sayang" Aditya bertanya balik.


"Besok bertemu Klien dari Bali jam berapa" Rere masih menyelidiki tentang itu.


"Kenapa sayang. Kamu ikut saja. Mas Tidak ingin Renia Curiga dan berpikir macam-macam" balas Aditya.


"Renia Percaya Mas Adit Maafkan Renia Mas" ucapan Renia terlihat sendu.


Aditya mendekat dan mengusap pelan Hijab Rere dan wanitanya hanya menundukan kepala, Aditya berbisik pelan


"Mas Cinta Renia selamanya Sayang" dan tidak peduli Rere memberontak Aditya tetap memeluknya dan terus mengusap bahu Rere pelan.


"Renia Takut Mas" ucap Renia Pelan.


"Mas Cinta Renia jangan ragukan perasaan Mas" Aditya berbisik pelan ditelinga Rere.


Aditya melepaskan pelukannya dan berkata


"Mas akan batalkan pertemuan itu besok jika Renia keberatan dan tidak percaya dengan Mas" Aditya menatap lekat pujaannya dan Rere menggelengkan kepala.


"Tidak Mas... Rere percaya Mas Adit dan Mas harus utamakan pekerjaan karena itu untuk masa depan... " ucapan Rere terhenti


"Anak kita juga Renia kelak" balas Aditya dengan berbisik dan Rere tersenyum mendengarnya dan mengangguk.


"Kenapa sayang, kamu selalu menundanya. Mas sudah sangat ingin menikahi Renia. Apa Sayang masih ragu dengan Mas" Rere menggeleng.


"Renia ingin mempersiapkan kedatangan Papi Aries dan..." ucapannya terhenti kala mengingat Geri yang juga melamarnya semalam.


"Pokoknya mas jangan mendadak seperti itu, Rere tidak ingin" Rere melipat tanganya diatas perut dan memajukan mulutnya tanda protes.


"Renia ingin mempersiapkan dulu kedatangan keluarga Mas Aditya dan jangan mendadak. Rere butuh bicara dengan ibu dan semua kakak Renia"


"Baiklah Sayang, Mas ikut yang penting jangan curiga dan marah lagi dengan Mas, ya Cantik" Rere mengangguk dan Aditya membelai kepala Rere pelan.


"Mas juga harus bertemu Klien besok jadi butuh istirahat nanti malamkan dan sekarang Mas harus kekantor biar mas semangat kerjanya buat Masa depan Renia dan anak Renia nanti"


Rere tersenyum saat mengatakannya dan menarik tangan kekasihnya itu untuk keluar ruangannya dan agar cepat kembali kekantor.


Riki menunggu atasannya didalam Mobil miliknya sedangkan Arief terlihat sedang mengecek stock baju yang dikirim orang gudang ke butik Rere dan kedua karyawannya tidak nampak di sekitar area butik dan saat Rere bertanya dengan Arief, Karyawannya itu mengatakan rekan kerjanya sedang istirahat dan butik ditutup sampe keduanya selesai istirahat mendengar itu Rere mengangguk dan tersenyum dan menggandeng Aditya untuk mengantarkannya kearah Mobil Sport miliknya.


"Jadi Mas di usir nih Sayang" Rere mengangguk dan tersenyum.


Arief mengintip dari kaca dan tersenyum begitu juga dengan Riki yang menatap keduanya dengan senyuman karena atasanya itu terlihat bahagia yang artinya tidak akan uring-uringan saat di kantor.


Rere melambaikan tangan saat Mobil yang dikendarai oleh Riki meninggalkan Butiknya. Rere tersenyum dan membalikan tubuhnya untuk masuk kedalam butik setelah mobil yang dikendarai oleh asisten Riki menghilang dari pandangannya.


Rere masih penasaran mengapa kekasihnya sampai memukul keras meja kasir dan nampak sangat marah tapi Arief hanya diam dan menunduk lalu berkata


"Maaf Bu Rere saya tidak bisa menjawab tanyakan ke Bella saja karena tadi Kekasih bu Renia marahnya dengan Bella. Saya tidak enak hati untuk mengatakannya Bu Rere. Maafkan Arief" ucap Arief dengan wajah sedih.


"oh... Baiklah jika begitu saya akan menemui Bella dan saya nitip Butik sebentar dan Kunci pintu agar tidak ada orang masuk karena kasir dan spg nya sedang istirahat" sahut Rere dan dibalas anggukan kepala Arief.


Rere melangkahkan kakinya ke arah Pentry disana sudah ada dua karyawan yang nampak diam tanpa ada yang berbicara. Sedangkan Arief hanya memandangi kepergian bosnya itu.


"Bella, Nia sudah makan dan sholatnya" ucap Rere yang membuat keduanya mengedikan bahu dan menatap takut kearah Rere.

__ADS_1


"Bu Renia... " Nia berkata sedikit gemetar.


Bella hanya menunduk ada rasa malu dan takut jika dirinya di berhentikan oleh Rere bagaimana dengan nasibnya sedangkan bukan hanya Nia tapi dirinya juga tulang punggung keluarga.


"Kami sudah selesai makan dan sholat Bu" ucap Nia kembali dan Rere hanya menganggukan kepala


"Baiklah Nia" Rere berkata dan menoleh kearah Bella yang hanya diam tapi matanya terlihat merah dan berkaca-kaca.


"Ada apa Bella, Saya ingin kamu jujur dengan saya, bukan karena saya ingin ikut campur tapi mungkin saya ingin tahu duduk masalahnya apa, sampai mas Aditya marah dan memukul meja" ucap Rere.


"Bu Maafin Bella...Be...Bella tidak tahu jika pria tadi pacar bu Rere" ucap Bella dan menangis.


"Hhhmm... Bella menggoda Mas Adit" Rere menaikan sebelah alisnya


"Ti... Tidak Bu Rere" sahut Bela dengan rasa takut sedangkan Nia hanya menunduk sambil melipat mukena dan memasukan ke dalam tas.


"Kenapa" ucap Rere tambah penasaran dan Bella menatap Nia yang juga menatap dirinya.


"Bu jangan pecat Bella.... Maafin Bella Bu Rere" Bella memegang erat kedua tangan Rere dan menangis.


"Jangan bikin saya bingung Bella... kamu mengenal mas Aditya atau kenapa udah terus terang aja jangan bikin saya penasaran dan bingung.


"Bu Maafin Bella" ucapnya menangis.


"Ya, Tapi kenapa? jangan buat saya jadi nething sama kalian"


Terlihat Rere marah dengan nada tinggi karena terpancing dan mengira Bella dan Aditya saling mengenal dan berbuat sesuatu dibelakang dirinya.


"Tadi Bella mengatakan Bu Rere Perawan Tua didepan pacar Bu Rere membuat pacar Bu Rere marah" ucap Nia dan membuat Rere terdiam sedih dan Bella menatap Nia marah.


"Bu Rere maafin Bella" Bella menangis dan bersimpuh di kaki Rere.


"Jangan... Bella. Jangan seperti ini. Saya tidak suka. Berdirilah" ucap Rere sambil terus menghindar saat Bella ingin menyentuh kakinya.


"Hhhmm... Saya pikir kamu menggoda Mas Aditya. Lain kali jangan bicara sembarangan ya Bella" Rere mengangkat Bella supaya berdiri dan Bella memeluk Rere dan beberapa kali meminta maaf.


"Ya sudah. Kalian lanjut kerja saya juga ingin lanjut mengecek laporan, Jangan lupa buka butiknya Nia, Bella" Rere melangkah dengan kaki panjang kearah ruangannya dan mengunci lalu menangis.


"ya ALLAH berilah hamba kekuatan untuk mendengar kata-kata yang menyakitkan itu" Rere meluruhkan tubuhnya ke lantai dan memeluk lutut dan menangis kembali.


...****************...


Jam menunjukan pukul Lima sore Rere belum ada tanda-tanda keluar dari dalam ruangannya padahal pukul dua sampai pukul lima dirinya didalam ruangan. Ketiga karyawannya tidak ada yang berani mengetuk pintu atau bertemu dengan Rere bahkan sampai pergantian Shift.


Karyawan Shift Sore masuk pukul Tiga dan pulang bekerja sampai pukul sebelas Malam sudah datang dan mengganti pekerjaan Nia, Bella dan Arief dan saat Aditya menjemput Rere pukul Lima Aditya tidak melihat ketiga karyawan Rere yang dia lihat saat siang dirinya datang ke butik milik Rere.


"Hhhmm... Dimana Bu Renia... maksud saya Bu Rere" Aditya datang sendiri tanpa Riki.


"Bu... " ucapan kasir pengganti Nia terhenti saat Rere keluar dari ruangan.


"Mas... " Rere mendekati Aditya.


"Ada apa sayang kamu seperti menangis... kenapa wajah kamu sembab begini"


Aditya berucap lalu memeluk Rere dan wanitanya hanya menggeleng dan tersenyum lalu mengajaknya pulang tapi sebelumnya ijin ke karyawannya dan dibalas anggukan dan saat mobilnya akan melaju pergi mereka melambaikan tangan kearah mobil milik Aditya.


"MasyaAllah Bagus banget ya Mobilnya... " ucap karyawan Pria pengganti Arief.


"Sepertinya itu cowoknya Bu Rere, MasyaAllah ganteng banget kaya aktor luar negeri terus Mobilnya Bagus pasti tajir bingit ya" Karyawan yang menggantikan Bella berkata sambil berdecak kagum.


"Bu Rere Cantik dia juga mirip Artis lihat aja mukan nya imut mirip berbie. Padahal usianya udah tiga puluh lebih ya" ucap pengganti Nia.


"Bu Rere itu belum nikah karena karier kalo kita belum nikah karena emang ga ada yang mau" ucap pengganti Nia kembali dan ketiganya tertawa dan kembali masuk ke dalam butik.


Sementara didalam Mobil Rere nampak diam Aditya beberapa kali mencuri pandang dan bertanya apa yang terjadi tapi Renia hanya diam dan menggeleng.


Aditya tidak ingin bertanya kembali karena dia tahu tidak akan dijawab oleh Rere. Mobil melaju kearah apartemen Rere karena saat Aditya mengajak makan sore wanitanya menolak.

__ADS_1


Perasaan Aditya tidak enak dan merasa kekasihnya menyembunyikan sesuatu dan berpikir Rere masih mencurigai hubungan dirinya dengan Sisilia. Aditya mengusap wajahnya dengan frustasi.


__ADS_2