
Mobil Aditya memasuki apartemen Rere dan memarkirkan dan Aditya melepaskan seat belt dan keluar mobil dengan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu agar Rere dapat keluar dari dalam mobil dan mereka berdua berjalan bergandengan tangan memasuki lobby apartemen.
Aditya sudah meminta ijin kepada Rere untuk bertemu Bu Inah dan Rere menyetujuinya tapi melarang Aditya membahas tentang pertunangan.
Rere ingin melibatkan keluarga besarnya dan Rere ingin menyambut keluarga Aditya secara Formal dengan Rere memanggil kedua kakak laki-laki Rere yang ada di kampung atau Aditya melamarnya dikampung orang tuanya dan didepan keluarga besar melamar dirinya dia tentu saja Aditya setuju.
Keduanya sudah ada didalam lift yang membawanya ke lantai atas. Tepat dilantai 6 unit apartemen Rere, lift terbuka dan Aditya menggandeng tangan Rere dan mengetuk pintu unit apartement milik kekasihnya.
Rere membiarkan Aditya melakukan itu padahal dirinya membawa kunci cadangan, dari arah dalam terdengar knop pintu diputar dan pintu unit apartemen milik Rere terbuka dan yang menyambutnya adalah Bu Inah.
Saat keduanya masuk Aditya menaikan satu alisnya saat melihat Ayu dan Jimmy ada diunit apartemen Rere dan keponakannya itu bermain dengan Dion.
"Hi... Kak Adit. Hi... Rere" Ayu menyapa dengan sedikit canggung.
"Ayu kenapa tidak memberitahu saya jika kalian ada disini, Saya pulang jam tiga" Rere membalas dan Aditya hanya tersenyum kepada adiknya.
Aditya Duduk didepan TV sedangkan Rere menghampiri Jimmy dan keponakannya itu lalu menciumi mereka dengan gemas Rere juga mencubit pipi mereka secara bergantian.
"Papa kenapa tidak ajak Jimmy ke kebun binatang kemarin bersama Dion. Papa curang Jimmy tidak ingin berbicara dengan papa juga mama. kalian tidak sayang Jimmy" Rere dan Aditya hanya saling pandang sedangkan Ayu menghampiri Jimmy.
"Kemarin kita jemput Opa dengan mobil terpisah dan juga Papi Hans pulang jadi mana mungkin Jimmy bisa ikut" Ayu berusaha menjelaskan kepada putranya yang cemberut.
"Ya sudah sebagai gantinya Sabtu besok Mama, Dion dan Mami pergi kebun binatang bagaimana?" ucap Rere.
"Papa Aditya ga ikut Ma" tanya Jimmy.
"Papa sibuk ada pekerjaan besok jadi kita bertiga saja" balas Rere sambil menoleh kearah Aditya lalu menoleh kembali kearah Jimmy kemudian tersenyum dan meminta maaf kemarin tidak mengajak Jimmy.
"Bibi kita tidak boleh pergi berempat, Jika nanti kita ke kebun binatang dan masuk ke kandang macan atau harimau terus mereka menyerang gimana. Dion takut kemarin ada paman jadi kita selamat. Dion tidak ingin pergi kesana kalo tidak ada Paman" ucap Dion.
"Tapi Paman sibuk sayang, ya sudah kita pergi ke taman bermain yang ada di jakarta utara aja bagaimana Ayu"
Pertanyaan Rere membuyarkan pikiran Ayu yang sedang memikirkan hubungan Rere dan Kakaknya jika mengetahui fakta sebenarnya jika kakaknya sudah memiliki anak diluar nikah dengan Psikiater pribadinya bagaimana dengan perasaan Rere.
"ehhh... ide bagus dan ke kebun binatangnya nanti kita bisa pergi bersama Papi Hans. Hari minggu Papi Jimmy, libur bekerja. Bagaimana nak" Ayu tersenyum kearah putra satu-satunya itu yang membalas ucapan Rere. Putranya hanya menganggukan kepala.
Sekitar setengah jam mereka berbincang dan Ketiga Tamu Rere undur diri dan berpamitan dengan keluarga Rere dan mencium punggung tangan ibu dan kakak Rere.
Terlihat Rere dan Dion mengantarkan ketiga tamu nya kearah parkir lalu melambaikan tanganya saat ketiga nya sampai di dalam mobil milik Aditya.
Ayu sengaja datang diantarkan supir karena tahu Aditya akan mengantarkan pulang Rere dari asisten Riki jadi dia bisa pulang bersama dengan kakaknya.
"Ka Adit" ucap Ayu
"Kenapa yu" sahut Aditya.
"Hhhmm... T... Tidak" Ayu bingung cara untuk menyampaikannya.
"Ada apa, apakah kamu memiliki masalah dengan Hans" balas Aditya memandang sekilas Adiknya yang menunduk.
Ayu diam dalam kepalanya berkata belum saatnya dia menanyakan masalah serius ini dan dia juga butuh bukti untuk apa yang dia dengar meski pembahasan yang dia dengar saat diruang kerja Papinya pasti benar karena yang mengatakan itu tentu orang yang terlibat dan tahu jelas jika apa yang dia dengar itu benar.
"Kak Adit besok kerja tadi Rere bilang begitu memangnya hari sabtu kalian sibuk juga mas Hans bilang ada kerja Proyek baru dan sekarang kak Adit juga sama, Hhhmm... seorang CEO Perusahaan ternyata sangat sibuk juga ya" ucap Ayu menoleh kearah Aditya yang hanya diam dengan wajah yang tidak dapat Ayu artikan.
...****************...
__ADS_1
Pukul Delapan Malam
Bagaimana pun Cara nya Saya harus bisa mengikuti mas Aditya. Hhhmm... Saya akan tanya Ayu jam berapa mas Aditya keluar tapi apa tidak membuat curiga dan Ahhh... Besok janji sama Jimmy ketempat taman bermain
Rere bermonolog didalam hati pikirannya selalu memaksa Rere untuk tidak percaya dengan pria yang dia cintai apalagi bayangan wajah Sisilia yang sangat sinis saat menatapnya.
Rere masih mencoba untuk menutup mata setelah seharian beraktivitas dan diakhiri dengan sholat isya, Rere tidak keluar kamar walau hanya untuk makan malam.
Sebelumnya Rere mendapatkan panggilan telepon sekitar pukul tujuh malam dari Geri yang mengajaknya keluar atau memperbolehkan dirinya ke unit apartemen milik Rere tapi wanitanya menolak dengan alasan lelah setelah bekerja di butik dan akan digantikan dengan bertemu pada hari minggu.
Rere masih membuka mata dengan menatap Langit kamarnya dan mengingat ucapan Cantika tentang perasaan sahabatnya itu kepada Geri lalu mengingat kemarahan Aditya kepada karyawan yang menyebut dirinya Perawan Tua.
Rere mendengkus pahit mengingat kelakuan Bella yang tidak sopan tapi menurut Rere apa yang dikatakan Bella memang benar. Rere kembali bersedih dan menangis didalam kamar jika mengingat kata-kata Perawan Tua untuk dirinya.
Memang banyak teman dan tetangga rumah di kampung Rere yang menjuluki dirinya Perawan tua dan sekarang karyawan yang dia pekerjakan juga menyebutnya seperti itu.
Rere akhirnya tertidur setelah lelah menangisi nasibnya yang menurut dirinya malang dan kurang beruntung tapi harus tetap disyukuri dan tersenyum karena itu adalah takdirnya.
...****************...
Pukul Enam Pagi
Pagi hari sinar matahari masuk kedalam kamar Mansion milik Aditya. Pria yang terlihat bertubuh kekar dengan dada bidang dan juga perut sixpack nya itu telihat tidak mengenakan pakaian hanya mengenakan boxer dan terlihat selimut yang tidak menutupi tubuhnya.
Perlahan Aditya membuka mata dan merentangkan tangannya kala ponselnya berdering dengan mata yang tertutup kembali Aditya mengangkat panggilan masuk tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hhmmm... " Aditya memulai.
"Sayang kamu sudah bangun kita harus menemui anak kita Zayn, kemarin saya sudah memberitahukan kepada Zayn dan dia sangat bahagia sampai loncat-loncat kegirangan" ucap Sisilia.
"iya kemarin saya menjenguk putra kita Zayn" balas Sisil.
"Berarti dia ada di Jakarta bukan di Sragen" Aditya berkata pelan yang masih terdengar oleh wanita yang ada diseberang ponselnya.
"Saya sudah memindahkan Putra kita di jakarta Empat Tahun yang lalu, Saya tidak ingin jauh dari Zayn dan dia tinggal bersama dengan saya disini" jelas Sisillia.
Aditya membulatkan matanya mendengar itu berarti anaknya sangat dekat dengan dirinya tapi dimana.
Saat dirinya ke apartemen Sisillia dan terakhir tidur bersama dengannya sebelum penangkapan dirinya tidak mendapati anak kecil di apartemen Sisillia.
"Dimana dia Sisillia" ucap Aditya sedikit keras dan beranjak dari tidurnya.
"Bukankah kita akan menemuinya Sayang tenanglah, Zayn merindukan Papinya, Saya menunggumu Sayang datanglah ke apartemen, Saya sudah lama menantikan hari ini" ucap Sisilia mematikan panggilan telponnya secara sepihak.
Aditya merasa kesal dan tertekan dengan keadaan ini, ketakutan kehilangan Rere membayangi dirinya kembali dengan kesal melemparkan ponselnya di ranjang tempat tidurnya.
Aditya beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan diri dan bertemu dengan putra kandungnya bersama Sisillia.
Aditya menutup matanya dan mengusap rambutnya dengan sedikit kasar dengan terus mengingat Rere yang bersedih dan menangis saat dirinya bertemu Rere di butik milik kekasihnya itu.
"Maafkan Mas, Renia... Maaf Sayang"Aditya menangis dibawah shower yang terus mengalir.
Aditya mengepalkan tanganya dan menempelkan ke tembok yang ada didekat shower dan menutup wajahnya dengan lengan. Aditya terus menangis meratapi kebodohan dirinya dan merasa bersalah terhadap Rere kekasihnya yang setia menunggu dirinya datang dan juga kepada Zayn Putranya yang bersama Sisillia, seorang anak yang tumbuh tanpa belai kasih sayang dari dirinya
"Mama... Mengapa Aditya seperti Papi. Aditya... Mengapa Tidak seperti Papa Rian. Aditya tidak bertanggung Jawab dan menyakiti putra Adit sendiri" Aditya menangis tersedu masih ditempat dan posisi yang sama.
__ADS_1
"Sayang... Renia Maafkan Mas. Renia Jangan tinggalkan Mas. Renia Sayang" Aditya berkata sambil memukuli kepalanya sendiri,
Sudah hampir Satu Jam Setengah Aditya berada didalam kamar mandi dan ponsel Aditya berdering beberapa kali dan diabaikan oleh dirinya.
Sedangkan tidak jauh dari kediaman Erlangga sebuah Mobil berhenti tidak jauh dari gerbang Mansion keluarga tersebut.
"Saya akan ikuti kemanapun Mas Aditya pergi hari ini, Hati saya tidak tenang sebelum mengetahui fakta sebenarnya" Rere bergumam pelan didalam mobil tidak jauh dari Mansion Aditya.
Untuk menyelidiki Kekasihnya itu, Rere sampai meminta ijin kepada ibunya untuk keluar pagi jam Setengah Enam dan berkata akan pergi Joging.
"Mas Adit kenapa tidak keluar, Ya Allah bagaimana jika nanti Mas Aditya benar-benar menemui Sisilia" gumam Rere pelan.
"Apakah sampai hari ini mas Aditya masih membutuhkan pendampingan Psikiater" sambungnya.
Rere berada diarea yang menjadi kediaman keluarga Erlangga sudah hampir dua jam hanya untuk mengikuti Pria yang dicintai, Dalam hati Rere dia masih curiga jika yang akan ditemui oleh Aditya adalah Sisilia.
Sementara didalam kamar Aditya sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian dan rapi. Saat akan keluar dalam kamarnya Aditya mengecek ponselnya ada banyak pesan dan panggilan masuk dari Sisilia untuk dirinya tapi tidak ada dari Rere bahkan saat Aditya melakukan panggilan untuk Rere ponsel wanita yang dia sayangi tidak aktif dan pesannya juga hanya ceklis satu. Aditya mengerutkan dahinya dan bertanya lirih
"Kenapa Ponsel Renia tidak aktif apa Dia masih tidur dan apa mungkin Batrey Ponselnya habis" Aditya menggelengkan kepala lalu melemparkan kembali Ponselnya diatas ranjang.
Aditya berjalan kearah Jendela yang ada didalam kamarnya dan menghadap kearah jalan dan tanpa sengaja matanya menangkap mobil yang mirip dengan milik pujaannya.
"Renia... Apa itu Renia" Aditya bergumam dan terus menatap mobil yang mirip dengan milik Rere.
Aditya bergegas berjalan kembali kearah ranjang dan mengambil ponsel untuk menelpon Riki, untuk memastikan dan memantau mobil yang ada didekat gerbang Mansion milik keluarga Papinya.
Setelah menelpon asisten pribadinya, Aditya melangkah kearah Lift yang akan membawanya kelantai bawah dan akan bergabung dengan keluarganya untuk makan.
Disana sudah duduk Ayu berserta keluarga kecilnya juga Aries dan Lisna. Aditya terakhir turun dan menyapa semuanya. Ayu dan Hans hanya menatap dan tersenyum.
Ayu merasa perasaan aneh menyelimuti hatinya seakan rasa respect dan bangga untuk kakaknya hilang yang ada rasa kecewa tapi dirinya tidak dapat mengungkapkannya.
Apalagi saat kejadian dirinya dan Hans mendengar fakta yang terjadi antara Aditya dan juga Sisilia Hans dan Ayu terlibat perdebatan kecil.
Sebenarnya saat pertemuan keluarga Hans merasa tersinggung dengan ucapan Aditya yang mengancam dirinya, Jika berani berkhianat atau menyakiti Ayu yang mana adalah adik Tirinya maka Aditya sebagai kakak tidak akan tinggal diam.
Tapi nyatanya menurut Hans Kakak ipar tirinya itu yang ternyata Pria tidak bertanggung Jawab dan toxic. Ayu awalnya diam tapi Hans membahas tentang Papinya yang juga berperilaku sama seperti Aditya, itu yang menyulut emosi Ayu yang merasa keluarganya diintimidasi dan dihina.
Sedangkan Ayu juga tidak tahu apa yang dia lakukan selama pindah ke Jakarta Menurut Ayu Hans juga berubah dan mempertanyakan apa suaminya itu melakukan hal yang sama seperti Papi dan Kakak tirinya.
Hans hanya diam dan pergi dari kamarnya dia tidak pulang dan baru pulang pagi ini saat mereka berkumpul.
Ayu hanya diam mendapati suaminya berubah sejak pindah ke Jakarta menurutnya selama di Berlin suaminya tidak bersikap seperti ini.
"Mami Telepon Mama Rere kita jadi tidak pergi ke taman bermainnya" tanya Jimmy yang membuyarkan pikiran Ayu saat menatap Kakak tirinya yang mengingatkan perdebatannya dengan Hans.
"Tadi mama Rere sudahb menelepon tapi tidak dijawab, Nak" sahut Ayu.
"Rere tidak menjawab panggilan dari kak Aditya juga apa dia baik-baik saja Ayu" tanya Aditya lirih dan sambil mengingat mobil yang terparkir dibahu jalan dekat mansion kediaman keluarganya.
"Ayu tidak tahu kak" Aditya mengangguk kemudian meminta ijin kepada semua yang makan untuk pergi
"Habiskan dulu makannya, Nak" ucap Aries dan Aditya hanya mengabaikan dan terus berjalan meninggalkan meja makan dan menuju ke mobil miliknya.
Saat Gerbang terbuka, Aditya tidak melihat Mobil milik Rere. Apa mungkin dirinya salah melihat dan kemudian Aditya menelpon assisten Pribadinya yang juga tidak melihat mobil mirip dengan milik Rere disana.
__ADS_1
Mobil Aditya keluar dari Gerbang dan menatap kekiri dan kekanan sebelum menjalankan mobilnya kearah apartemen Sisilia dan dipastikan kendaraan yang terlihat seperti milik Rere tidak ada di depan rumahnya.