
Mami Hans sadarkan diri dan kembali histeris mengingat kembali apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Tenanglah Sayang... Kita harus kuat, Jenasah Putra kita menunggu kita di Indonesia. Jika kamu seperti ini bagaimana kita bisa pulang dan memakamkan jenasah putra kita. Menantu kita juga sedang kritis. Jimmy butuh kita sayang. Besan kita masuk rumah sakit keduanya sedang di rawat sekarang. Kalau kita down juga siapa yang akan memakamkan Putra kita nantinya"
"Sayang... Hans. Dia Putra kita satu-satunya"
"Ini sudah takdir Allah. Kita harus ikhlas masih ada Jimmy cucu kita yang butuh support dan pelukan kita sekarang. Pasti dia sekarang merasa sedih dan sendiri di sana"
"Baiklah saya akan berusaha kuat untuk cucu kita Sayang"
Keduanya berpelukan dan menangis karena kepergian Hans yang sangat mendadak. Alexander mengajak istrinya bersiap untuk pulang ke indonesia dan juga menyuruh asistennya untuk memesan tiket pesawat agar pulang lebih cepat.
...****************...
Aditya keluar dari ruangan UGD dan mendekati ruangan rawat inap anak dan menyuruh Riki untuk mengurus jenazah Hans yang masih berada di tempat kejadian dan Aditya melihat keponakannya tertidur.
Riki mengatakan jika itu pengaruh obat yang di berikan dokter. Aditya mendekat dan duduk di dekat bankar tempat keponakannya terbaring lemas. Aditya mencium pucuk kepala Jimmy dan membelai rambut keponakannya itu.
Riki pamit untuk mengurus jenasah Hans tapi sebelumnya dia melangkah masuk ke ruangan Ayu dan menatap kekasihnya lalu menangis dengan menggenggam erat tangannya.
"Sayang berjuanglah dari situasi ini. Ada Jimmy dan saya yang butuh kamu. Maafkan saya yang tidak bisa mencegah kepergian kamu tadi. Bukannya saya menghalangi Hans membawa kamu tapi justru berlari ke ruangan Papi meminta bantuan Pak Adit" Riki berkata lalu memeluk Ayu dan menangis.
...****************...
Sedangkan Aditya masih menatap Jimmy dirinya teringat saat kedua orang tuanya mengalami masalah yang sama seperti Ayu dan Hans yaitu Perselingkuhan dan mengakibatkan Mamanya memutuskan bunuh diri.
Saat itu Aditya berusia 16 Tahun tapi keponakannya masih sangat kecil usia 5 tahun sudah kehilangan Papinya karena kecelakaan dan Jimmy melihat dengan mata kepalanya kejadian kecelakaan yang menewaskan Papinya. Aditya mencium Pipi Jimmy dan berdoa keponakannya itu tidak mengalami Trauma atau Depresi seperti dirinya.
Aditya juga mengingat putranya yang berada di Amerika, nasib putranya juga tidak jauh berbeda dengan Jimmy yang saat ini yang jauh dari dirinya.
"Semoga Renia menerima masa laluku dan Saya bisa membawa Zayn untuk tinggal bersama dengan Saya nantinya" gumam Aditya.
"Dan Jiimmy, jangan takut ya Nak... Papi juga akan merawat kamu. Kamu tidak akan pernah sendiri"
Aditya mencium tangan mungil keponakannya ini dan bertekat akan menjadi orang tua angkat untuk keponakannya dan berharap bisa membesarkan Jimmy dan Zayn bersama dengan Rere. Apapun yang terjadi dengan Adiknya nanti.
...****************...
Riki mengusap air matanya dan menciumi pipi, dahi juga pucuk kepala wanita yang di cintainya itu dan dirinya meninggalkan ruangan untuk kembali lagi ke tempat kecelakaan bersama Asep.
Riki menemui Pihak berwajib untuk mewakili keluarga Erlangga dan juga Alexander yang tidak bisa mendampingi jenasah saat dibawa dari tkp ke rumah sakit.
Pihak berwajib memberi kesempatan untuk Riki agar membuka kain yang menutup jenasah sebelum dibawa ke ambulans untuk mengetahui apakah benar Hans menantu keluarga Erlangga dan juga Putra Alexander yang menjadi korban kecelakaan.
Saat Riki membuka penutup kain yang digunakan warga untuk menutup jenasah Hans. Riki syok melihat keadaan jenasah yang sangat mengenaskan kepala bagian belakangnya hancur dan kaki dan tangannya patah.
Riki tetap bisa mengenali meski kondisi jenasah sangat mengenaskan dari pakaian yang dikenakan oleh Hans, Sama saat terakhir Riki bertemu dengan Hans saat keduanya berkelahi di rumah sakit.
Riki menutup kembali penutup kain dan menatap kosong ke arah jenasah Hans yang sudah tertutup kain kembali. Riki meneteskan air mata. Ada rasa bersalah dalam diri Riki yang menganggap apa yang terjadi memang kesalahan dirinya.
...****************...
Lisna membuka matanya dan menatap langit-langit rumah sakit lalu dirinya menoleh ke arah kiri dan mengenali pria yang sedang terbaring.
"Mas... Aries... " Lisna menangis.
"Hans... Ayu... Ya Allah mengapa ini terjadi... Bagaimana keadaan cucuku.
Terdengar pintu terbuka dan Aditya masuk ke ruangan rawat inap Aries dan Lisna. Bankar yang di gunakan oleh Lisna adalah Bankar yang sebelumnya di gunakan oleh Aditya.
"Aditya... Bagaiamana keadaan Ayu... Putriku... Aditya"
__ADS_1
"Tenanglah... Ayu berada di ruang UGD dan Hans tidak dapat di selamatkan sekarang Riki sedang mengurus jenasah Hans dan keluarga Alexander sudah di hubungi oleh asisten mereka dan sekarang sedang berada di perjalanan ke jakarta"
"Saya ingin keruangan UGD untuk melihat putri saya tolong antarkan saya ke sana"
"Tenanglah... Ayu sedang dalam penanganan Dokter"
"Bagaimana keadaan Jimmy"
"Dia di rawat dan sekarang bersama baby sister di ruangan anak. Jimmy mengalami goncangan karena melihat mobil yang di naiki kedua orang tuanya menabrak truk dia mengalami Trauma sedang. Sejak tadi histeris dan sudah di berikan obat Penenang oleh Dokter"
Lisna menangis mendengarkannya. Aries perlahan membuka matanya samar-samar dirinya mendengarkan percakapan putranya dengan Lisna.
"Nak... Putraku... Aditya. Bahagaimana dengan keadaan Adikmu. Ayu..."
Aries menangis histeris lalu Lisna melepaskan selang infus yang berada di tangan kirinya dan turun dari bankar kemudian memeluk Aries keduanya menangis bersamaan.
"Tenanglah Sayang Putri kita masih hidup dan sekarang berada di ruang UGD tapi Hans... meninggal Sayang"
"Apaaa..."
Aries merasa sedih hatinya sangat terpukul mendengarkan berita yang mengejutkan ini. Dirinya harus berjuang dari rasa sakit yang di rasakan dadanya.
Aries merasakan perih dan kemudian Lisna menarik tubuhnya dan memberikan obat kepada Aries dan juga segelas air untuk di minum.
"Keluarga Alexander sedang menuju ke jakarta mereka masih berada di jerman" ucap Aditya dan Aries hanya menganggukan kepala.
Lisna menggenggam erat tangan Aries dan menangis penuh penyesalan karena dirinya Hans mengalami kecelakaan, Yang menyeruh Hans datang ke rumah sakit untuk membawa Ayu dan Jimmy untuk memperbaiki rumah tangga mereka adalah Lisna.
"Aaaaaaahhhh... Maafkan Mami Hans... Maafkan Mami Ayu. Tidakkkk... Ya Allah. Putri dan menantu saya... Ya Allah Maafkan saya. Hans ini karena Mami" Lisna menangis menyalahkan diri.
"Tenanglah... Mami ini sudah takdir" Aditya menarik Lisna dan memeluk Mami sambungnya yang sejak dulu menyiksa dirinya secara psikis.
"Lisna memeluk Aditya dan berteriak histeris terus meminta maaf kepada Hans dan Ayu. Aries menantap istrinya penuh dengan pertanyaan.
Lisna menoleh ke arah suaminya dan menarik diri dari dekapan Putra sambungnya dan menyentuh kaki suaminya dan memohon maaf dengan menangkupkan wajahnya di kaki suaminya.
"Mas... Saya minta maaf saya bukan ibu yang baik untuk anak-anak kita. Maaasss Ampuni saya"
Aries mengangkat wajah Lisna yang berada di kakinya dan menatap lekat wajah istrinya dan menanyakan kembali apa yang di perbuat oleh Lisna tapi istrinya tidak menjawab.
Aditya menarik tubuh Mami sambungnya dan meminta semuanya tenang, Keluarganya sedang mengalami musibah besar jadi jangan memikirkan hal lain Fokusnya sekarang adalah kesembuhan Ayu, Pendamping untuk Jimmy dan juga pemakaman Hans.
Lisna menarik tubuhnya dari dekapan Aditya dan melangkahkan kaki dengan tatapan kosong dan langkah gontai lalu membuka pintu ruangan rawat inap dan berjalan ke arah ruangan UGD.
"Aditya ikuti Mami kamu... Dia sedang Syok sekarang, Nak. Dampingi Mami kamu. Papi Mohon Lisna juga Mami kamu. Pergilah"
Aditya menatap Aries dan terdiam sejenak kemudian dirinya melangkahkan kaki untuk mengikuti Lisna.
"Ayu... Hans... Maafkan Mami karena keegoisan Mami kalian mengalami ini semua... Jimmy maafkan Oma sayang"
Aditya berdiri di belakang Lisna hanya menatap Mami sambungnya itu. Lisna melangkahkan kaki kembali dengan memegang dinding rumah sakit.
Kakinya lemas tidak mampu melangkah tapi dirinya ingin menemui putrinya yang sedang berada di ruangan UGD. Aditya terus mengikuti dari belakang.
Lisna yang terus menangis menyusuri koridor rumah sakit dengan bertopang pada dinding sampai pada ruangan UGD dan Lisna dengan berat hati melangkahkan kakinya ke ruangan itu dan berteriak
"Aaaaaaa..... Putriku.... Ayuuuu.... Naaaakkkk"
Lisna lemas dan terjatuh dari belakang Aditya sigap menangkap tubuh Lisna yang hampir terjatuh.
"Aditya... Putriku... Lihatlah dia... Hanya Ayu yang saya miliki... dia semangat hidup saya selama ini. Jika Ayu mati saya juga ingin menyusulnya... Aaaaahhhh"
__ADS_1
Lisna menangis histeris di dalam pelukan Putra sambungnya yang selama ini dia musuhi hanya karena membenci Sherly yang menjadi cinta sejati suaminya.
"Ayuuu... Ini Mami nak bangunlah" Ucap Lisna dengan suara lirih menatap Ayu yang berbaring tidak sadarkan diri dengan alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Tenanglah Mi... Ayu membutuhkan dukungan dan semangat dari kita. Mami harus kuat masih ada Jimmy yang harus kita pikirkan. Jika Mami lemah bagaimana dengan Jimmy nanti"
Lisna menatap Aditya dan bayangan atas kejahatannya kembali berputar di kepalanya...
Flasback
"Ampun Opa... Ampunnn... "
Aditya di pukul dengan kayu karena di tuduh mengintip dirinya yang sedang mandi. tidak ada yang memberitahukan kepada Aries.
Lisna dan Mertuanya yang mana Kakek kandung Aditya sendiri yang menyiksa pada saat Aries berada diluar untuk bekerja.
Meski usia Aditya 16 Tahun tapi Aditya tidak pernah melawan atau membela dirinya saat Opanya itu menyiksa.
Aditya hanya menangis dan saat dirinya ingin kabur pengawal Keluarga Erlangga berhasil menangkapnya dan kembali Aditya mendapatkan siksaan.
Mereka menekan Aditya secara mental dan fisik. Omanya tidak dapat berbuat banyak untuk melindungi Aditya karena itu Omanya sering sakit karena tidak tahan dengan apa yang di lakukan oleh suaminya kepada cucunya.
Memang Ibu Aries tidak menyukai Sherly dan apa yang di lakukan Putranya adalah aib bagi keluarganya tapi menyiksa cucu kandungnya sendiri itu adalah sesuatu yang membuatnya tidak bisa menerima.
Meski tidak ditampakan dari luar karena suaminya akan marah jika mengetahui dirinya membela Aditya tapi di hatinya merasa bersalah.
...****************...
Lisna ingat dengan jelas dirinya yang sering menghasut orang tuanya juga mertuanya untuk melakukan tindakan kasar kepada Aditya dan ayah Aries harus tega karena ancaman dari Papi Lisna kepada orang tua Aries.
Lisna juga ingat betul ketika dirinya memberikan obat yang membuat Aditya menjadi sulit di kendalikan dan Putra sambungnya itu menjadi sosok yang tempramental dan sering mengamuk dan berteriak tidak jelas.
Lisna juga memberikan obat itu kepada Sisilia agar diberikan kepada Aditya, awalnya menolak tapi kemudian menerima demi beasiswa S2 juga demi renovasi panti asuhan tempat dirinya tumbuh besar dan setelah renovasi itulah Lisna menekan Sisilia agar mengikuti apa yang dirinya inginkan kepada Aditya agar Sisilia menurutinya. Jika tidak menurut maka Panti asuhan tempat dirinya dibesarkan akan dihancurkan oleh Lisna.
Flasback Selesai
"Aditya..."
Lisna menyentuh pipi Putra sambungnya itu dan menarik dirinya kemudian masuk keruangan UGD lalu menghampiri putrinya dan berkata dengan menangis
"Ini Karena Mami... Nak... ini Karma yang Mami Terima... Ya Allah saya meminta maaf atas dosa-dosa yang selama ini saya lakukan. Saya ingin bertaubat tapi tolong selamatkan Putri saya. Hanya dia yang menjadi semangat bagi hidup saya. Jangan ambil Putri Saya ya Allah"
Bersamaan dengan itu alat untuk mendeteksi detak jantung dan ventilator pasien menunjukan aktifitas yang menurun. Lisna menatap alat tersebut lalu berteriak meminta tolong.
"Dokter... Suster... Aditya... Tolong Putri Saya... Saya mohon" Lisna merasa lemas dan dirinya terjatuh kemudian lisna merangkak untuk meminta tolong karena kakinya tidak mampu untuk berdiri.
Lisna meraung dalam tangisannya. Aditya membuka pintu ruangan UGD dan menantap Lisna yang tampak sangat terpukul atas apa yang terjadi dan Ayu yang terlihat kondisinya menurun.
Aditya menyuruh pengawalnya yang menunggu Ayu didepan ruangan UGD untuk memanggilkan Dokter dan suster sedangkan dirinya menghampiri Lisna yang sangat terpukul dengan keadaan Ayu dan Aditya menggendong Mami sambungnya untuk menjauhi ruangan UGD dan kembali keruangan rawat inap yang mana Aries berada.
Lisna meronta dan terus memanggil nama Putrinya yang sedang ditangani oleh dokter. Lisna menagis histeris. Dan untuk jenasah Hans sudah dibawa ambulans ke rumah sakit, jenasahnya sekarang berada dikamar mayat.
Aditya sedang menenangkan Lisna. Kemudian Ponselnya berdering dan ternyata dari Riki yang menghubungi Aditya untuk meminta Aditya datang ke administrasi untuk persetujuan otopsi.
Aditya mengatakan akan menemui Riki untuk mengurus jenasah Hans dirumah sakit dan meminta agar menunggu perwakilan dari keluarga Hans sebelum menyetujui otopsi.
Riki mengerti dan dirinya duduk di depan kamar mayat bersama dengan pihak berwajib. Riki mengatakan apa yang disampaikan oleh atasannya. Suster mengerti dan meninggalkan Riki yang sekarang duduk bersama pihak berwajib.
Asisten keluarga Hans memberitahukan bahwa kedua orang tua Hans menolak Otopsi dan meminta agar jenasah Hans bisa diurus dan dibawa pulang untuk di semayamkan di Mansion Alexander.
Riki mengangguk dan menghubungi kembali Aditya untuk menyampaikan apa yang di katakan oleh asisten keluarga Hans. Aditya setuju dan panggilan telepon dimatikan.
__ADS_1
Aditya menyampaikan apa yang di katakan oleh Riki kepada Aries dan Lisna. Aditya meminta Lisna tenang dan ikhlas menerima takdir yang di berikan Allah kepada keluarganya.