
Setelah mendatangi Makam Sherly Rian memutuskan untuk menemui Aries di Perusahan Erlangga Group.
Rian membawa Mobilnya melaju ke arah, sesuai yang ada di internet dan hatinya merasa berat dan belum bisa sepenuhnya memaafkan dan bertatap muka dengan Pria yang merusak rumah tangganya dan menghancurkan kebahagiaan keluarga kecilnya dulu.
Tapi demi menemui Aditya, dirinya rela membuang ego yang ada di dalam hatinya. Rian merasa ada banyak yang ingin di ketahui tentang Putra sambungnya dan di dalam lubuk hatinya mengatakan keadaan Aditya tidak baik-baik saja.
Tanpa terasa Mobil yang dia kendarai sampai di sebuah Tower Megah milik Erlangga Group Company.
Rian memarkirkan mobilnya di Bassment dan melangkahkan kaki ke arah Lift untuk naik ke lantai 1 dan bertemu Receptionist untuk menanyakan keberadaan Aries.
Lift terbuka di lantai yang dirinya inginkan segera Rian melangkahkan kakinya ke arah seorang wanita yang bekerja sebagai seorang receptionist di Perusahaan tersebut.
"Selamat Pagi Pak dengan saya Ani, Ada yang bisa saya bantu" Sapa Receptionist yang ditemui oleh Rian.
"Saya ingin bertemu dengan Aries Presdir Perusahaan ini" Balas Rian dengan tegas.
"Apa Sebelumnya sudah memiliki Janji"
Ani berusaha tenang dan Ramah saat bertanya dengan tamu yang ada didepannya yang tampak masih tampan meski rambutnya sudah memutih.
"Katakan kepada Aries, Rian Mantan Suami Sherly ingin bertemu untuk membicarakan tentang Aditya"
Ani hanya menatap bingung tamunya kali ini lalu menoleh ke arah security dan yang berada di sampingnya. Dia mengerti lalu menghampiri Rian dan berkata dengan Sopan
"Maaf Pak yang bisa bertemu dengan Presdir hanya orang-orang yang sudah memiliki Janji saja. Jika belum memiliki Janji tidak di ijinkan untuk bertemu dengan Presdir atau CEO Perusahaan ini"
"Kamu yakin Aries tidak ingin bertemu dengan Saya. Kamu hubungi Aries dan katakan saya ingin bertemu dan ini Urgent"
"Maaf Pak saya tidak bisa menerima orang asing yang belum memiliki janji untuk bertemu dengan Petinggi perusahaan ini. Maaf sekali lagi kami hanya menjalankan SOP saja Pak" Ani menjelaskan dengan halus dan sopan
"Baiklah ini tanda pengenal saya. Tolong Sampaikan kepada Aries jika saya mencari dirinya dan berikan ini kepada Aries jika dirinya datang"
"Baik Pak"
Rian kecewa tidak dapat menemui Aries di Perusahaan akan tetapi dirinya sudah bertekat untuk menemui Aries dan tidak akan menghindar lagi. Dirinya lakukan hanya untuk Putra sambungnya yang sedang berjuang dengan maut, itu yang Rian pikirkan.
Aries melangkah ke arah Lift dan mendengar dengan Jelas seseorang mengatakan.
"Kasihan ya Pak Aditya katanya dia mencoba bunuh diri, Ntah apa yang terjadi dengan Pak Adit sampai nekat melakukan hal seperti itu"
"iya padahal hidup bergelimpangan harta dan wajah tampan, sukses pula. Padahal banyak yang mau sama dia tapi kenapa mencoba bunuh diri ya"
"Katanya Presdir juga di rawat di rumah sakit karena syok mendengar kabar tentang Putra kesayangan"
"Masa sih ko kita tidak tahu kabarnya ga ada di berita"
"Biasa di tutup"
"Lu tahu dari mana"
"Saudara gw ada yang kerja di rumah sakit dan tahu karena kemarin dirawat, katanya istrinya Presdir ribut gitu sama wanita lain, mungkin istri keduanya Presdir sampai tarik-tarik rambut katanya sih gitu. Terus Presdir di pindahin rumah sakitnya ke rumah sakit milik Erlangga Group"
"Husssttt... Kalian ini pengen di pecat ya, Bisa-bisanya ghibahin Bos besar di kantor" Bisik wanita yang mengenakan pakaian Dress mini dengan dipadukan dengan Blezeer berwarna hitam.
Wanita tersebut menoleh ke arah Rian yang berdiri terdiam mendengar ghibahan staff perusahaan Erlangga dan mengerti apa yang mereka katakan.
"Apa kalian tahu di mana rumah sakit Milik Erlangga Group"
"Eeeehhh... " wanita yang berbisik itu menatap ke arah Rian dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Saya kerabat Aditya Putra Hermawan... Maksud saya Erlangga. Saya ingin menemui Aries akan tetapi Receptionist tadi menyampaikan Jika Aries tidak datang ke Perusahaan" Aries sedikit berbohong.
"Maaf Pak Kami tidak tahu" ucap wanita yang mengenakan Pakaian kemeja putih dengan Dress mini berwarna hitam.
"Tolonglah beritahukan di mana Aries berada saya ingin menanyakan kabar Putra saya Aditya yang sedang kritis"
Tiga Staff yang tadi membicarakan Aries terdiam dan saling tatap lalu salah satunya berkata
__ADS_1
"Maaf Pak maksudnya Apakah Pak Aditya CEO Erlangga yang di maksud tadi"
"Benar" Rian menangis mengatakannya.
"Maaf Pak kami tidak tahu dan sekarang harus masuk untuk berkerja. Maaf Sebelumnya" Ucap salah satu wanita yang mengenakan dress hitam dan kemeja putih tersebut.
"Tolonglah Nak, anggap jika ayah kalian ingin bertemu dengan kalian dari kampung lalu di persulit bagaimana perasaan kalian"
Ketiganya terdiam dan saling menatap dan salah satunya mengangguk dan melangkahkan kaki ke arah Rian.
"Apa yang bisa Anda tunjukan jika apa yang Anda katakan itu benar"
Rian menunjukan photo dirinya bersama Aditya dan juga Sherly yang selalu dia bawa kemanapun. Aditya yang berusia 15 tahun terlihat tampan dan meski sudah beberapa tahun yang lalu akan tetapi wajah tampan CEO itu tidak jauh berbeda.
"Dia Putra saya yang di rebut oleh Aries begitu juga dengan istri saya yang dia rampas dan sekarang sudah tiada" Rian kembali menangis
Ketiganya menutup mulut lalu saling pandang dan menjauhi Aries untuk saling bicara satu sama lainya karena khuatir akan menjadi masalah nantinya. Salah satu dari mereka berkata
"Anggi, Wanda gw pernah denger sih dari tante gw yang dulu juga kerja di sini kerja di bagian Marketing, Benar sih katanya Pak Aditya itu anak tidak sah nya Presdir dan ibunya bunuh diri karena katanya Presdir mengusir ibu nya Pak Aditya saat kantor pusatnya masih di semarang dan waktu itu tante gw lihat sendiri sama mata kepalanya. Bahwa Selingkuhan Pak Aditya di tarik dari ruangan Pak Aries dan disuruh pulang sama Pak Aries terus ga lama kabar bunuh diri itu muncul"
"Apa mungkin ini suami dari selingkuhan Presdir"
"Husstts... lu parah banget jangan keras-keras ngomongnya Anggi"
"Apa sebaiknya kita kasih tahu aja gw ga tega inget bokap gw wanda, citra" ucap Anggi.
"iya tapi jangan bawa-bawa kita gitu"
"Ada CCTV nanti ketahuan gimana" ucap citra
"gw yang tanggung jawab deh. Serius gw ga tega sama yang ginian, Hati gw lamah" Balas Anggi
"Lu aja kali gitu yang ngomong" ucap Wanda dengan anggi menganggukan kepala pelan dan menemui Rian.
"Pak nama anda siapa"
"Baiklah Pak Rian saya tidak tahu Anda benar orang baik atau tidak tapi jika anda berbohong yang anda hadapi Allah karena saya bisa jadi di keluarkan dalam pekerjaan, Saya hanya membantu Anda dalam kemanusiaan. Semoga Anda orang baik"
"Tenanglah sebagai jaminan, ini nama saya dan tanda pengenal saya juga alamat. Jika saya melakukan kejahatan. Anda bisa menghubungi pihak berwajib dan datangi kediaman saya. Maka janganlah takut, Nak. Saya hanya ingin menanyakan tentang Aditya"
"Iya Pak. Yang saya tahu dari kerabat saya jika Pak Aries sudah di pindahkam di rumah sakit Milik Erlangga Group dan alamat nya berada di Jakarta Barat dekat denga Universitas***** tapi saya tidak tahu kebenarannya. Silahkan Pak Rian Hermawan bertemu dengan receptionist rumah sakitnya untuk menanyakan ruangan inap Pak Aries"
"Terima Kasih sekali lagi. Bapak berharap kalian menjadi orang yang sukses dan selalu di berkahi rezeki oleh Alllah" Rian tersenyum dan menyerahkan tanda pengenalnya dan undur diri dari hadapan ketiganya.
"Gila Lu Anggi. Kalo nanti terjadi sesuatu gimana, yang lu lakukan salah karena mengganggu privasi orang. Siap-siap lu di pecat"
Anggi hanya terdiam dan menoleh untuk melangkahkan kaki menuju ke Lift yang terbuka yang berada di sisi sebelah kanan.
Anggi memasuki Lift untuk menuju ke tempatnya bekerja tanpa kedua Rekan itu. Dirinya merasa khuatir jika nanti apa yang di katakan sahabatnya menjadi kenyataan tapi hati kecilnya menginginkan menolong Aries.
Untuk itu Anggi berdoa semoga tidak ada kejadian buruk yang akan terjadi di rumah sakit yang merawat Presdirnya.
...****************...
Sedangkan di dalam kamar milik Ayu. Kedua manusia yang tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun masih tertidur dalam keadaan saling memeluk.
Riki menggeliat dan menatap Ayu yang tampak selalu cantik di mata dirinya lalu mencium bibir mungil Ayu dan berbisik lirih
"Sayang Bangun katanya ingin jenguk Pak Aditya"
"Hans Jangan ganggu ini masih pagi"
Degggg
Rasa sakit menghantam hati Riki. Apakah Ayu belum terbiasa dengan kehadiran dirinya atau karena Ayu masih mencintai Hans dan alam bawah sadarnya masih merindukan suaminya meski sudah di khianati.
"Apa Saya hanya pelampiasan kemarahan kamu sayang" gumam Riki yang menggelengkan kepalanya pelan sambil membelai lembut pipi Ayu.
__ADS_1
"Saya tidak peduli apa yang kamu rasakan dan ucapkan Ayu. Saya bahagia kita bisa bersama dan berbagi ranjang seperti ini"
Kemudian Riki mencium mulut, pipi dan dahi wanita yang dia cintai lalu beranjak kearah kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.
Suara pintu kamar mandi membangunkan Ayu dan menoleh kearah kamar mandi dan suara shower terdengar.
Ayu kembali menutup matanya karena sangat lelah harus melayani Riki bahkan saat bersama dengan Hans dirinya hanya melakukan satu sampai dua kali.
Ayu merasa seluruh tubuhnya remuk dan lemas karena ulah Riki. Ayu tersenyum mengingat apa yang dirinya lakukan bersama dengan Riki semalam.
Pintu Kamar Mandi terbuka Ayu setengah terbuka matanya dapat melihat tubuh Riki yang sangat proporsional dan menggoda dengan otot-otot yang terawat karena olahraga.
Pantas dia kuat sekali... Heeemmm apa mungkin karena puasa terlalu lama atau benar kata Riki melakukan dengan orang yang dicintai rasanya berbeda
Ayu bermonolog didalam hati saat melihat tubuh Riki yang hanya mengenakan handu yang menutupi pinggangnya dan bagian atas yang terbuka dengan air yang masih mengalir.
Ayu menutup kembali matanya saat Riki mendekatinya lalu mencium pipi Ayu dan membelainya lembut.
"Bangun Sayang katanya ingin jenguk Pak Aditya, Apa Masih mau bercinta Heeemmm... "
"Apa kamu ingin membunuh Saya Riki" Ayu membuka matanya.
"Kenapa tentu tidak, Sayang" ucap Riki dengan dahi yang berkerut.
"Tulang Saya Seperti remuk dan tubuh saya lemas sekali" ucap Ayu kembali dengan suara manja.
"Maafkan Saya sayang, Saya terlalu bersemangat. Saya ingin kamu Hamil Sayang" Riki menciumi Ayu pelan.
"Saya tidak dapat bergerak, Kamu membuat saya tidak berdaya Riki"
"Apa kita harus ke Rumah sakit sayang"
Ayu menoleh dan menggelengkan kepala. Ayu mengatakan mungkin karena sudah hampir 1 bulan tidak disentuh Hans jadi dirinya kembali menjadi perawan.
Maka dari itu saat melakukan dengan Riki, Tubuh Ayu merasa sakit dan tulangnya seperti remuk. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayu membuat Riki kesal dan berkata
"Bisakah saat bersama dengan Saya. Tidak menyebutkan nama Pria Brengs*k itu Sayang. Dan dalam Proses Perceraian jangan kamu biarkan tubuh ini disentuh oleh Hans" Sambil menunjuk ke tubuh Ayu dan menciuminya.
Ayu hanya pasrah dengan tidur berbaring diatas Ranjang. Riki menawarkan diri untuk menggendong Ayu ke kamar mandi saat Ayu beranjak dari ranjang tanpa mengenakan apapun
"Tidak Terima Kasih Riki, Jika kamu ikut ke kamar mandi yang ada kita akan melupakan kak Aditya karena sibuk memberikan Adek untuk Jimmy"
"Itu Benar sayang. Cepatlah mandi Jika tidak Saya akan menarik kamu di atas ranjang kembali"
"Ternyata kami Me*sum juga Riki. Saya tidak menyangka" Ayu berkata sambil menoleh ke arah Riki.
"Kamu yang mengajari itu Sayang"
Riki terkekeh saat mengatakan itu dan Ayu hanya menarik bibir bagian atasnya dan melangkah ke kamar mandi lalu menutup pintu kamar mandinya dan tidak lama suara air shower terdengar.
Riki membuka Koper miliknya dan mengenakan Celana Jeans dan t-shirt yang berkerah dan menyisir rambutnya lalu melangkahkan kakinya keluar kamar dan di sana Riki melihat Jimmy yang sudah bangun dan duduk dengan melamun.
"Haiiii... Jagoan sedang apa? Sudah mandi belum ko melamun pagi-pagi begini"
"Uncle Papi dan mami berantem kenapa ya. Apa karena perempuan yang kita temui di Mall malam itu ya" Tanya Jimmy bertanya serius kepada Riki.
Riki hanya tersenyum dan memeluk Putra dari wanita yang dia cintai yang membuat hatinya berbunga-bunga saat ini.
"Jangan Pikirkan itu, Nak. Bagaimana jika kita memasak sambil menunggu Mami selesai mandi. Ok!!!" ucap Riki dan di balas anggukan Jimmy.
Ayu keluar dari dalam kamar yang sama dengan Riki saat keluar dahi jimmy mengerut dan bertanya kepada Ayu
"Mami kenapa keluar dari dalam kamar uncle, memangnya mami tidur dengan uncle semalam. Pantas saja Jimmy cari Mammy tidak ada didalam kamar jimmy" Muka Jimmy Cemberut.
Ayu dan Riki saling menatap tanpa menjawab. Riki memberikan omlet kesukaan Jimmy untuk mengalihkan perhatian jimny dari apa yang ditanyakan tadi.
"Nak, Makan yang banyak kita akan jenguk Papa Adit hari ini"
__ADS_1
Jimmy menoleh ke arah Riki dan mengangguk Dan Ayu duduk disamping Riki lalu tangannya di genggam kuat oleh Riki.