Aku Si Perawan Tua

Aku Si Perawan Tua
Bab. 26 Masalah Baru


__ADS_3

Rere menemui ibu yang di rawat di rumah sakit umum dan bertemu adik nya yang berdiri di depan ruangan rawat inap. Rere segera memanggil untuk menanyakan kabar sang ibu kepada Arsyila.


"Bagaimana keadaan ibu neng dan kenapa ibu bisa kambuh jantung nya" Selidik Rere.


"Arsyila juga tidak tahu teh saat itu masih jaga toko bakery dapat telephone kata nya ibu masuk rumah sakit karena jantung nya kambuh setelah nonton tv kata teh tya itu ada berita tentang teh Rere" jelas adik nya.


Rere menunduk dan menyandarkan tubuh di tembok rumah sakit, ingin masuk kedalam ruang rawat ibu nya tapi tidak ada keberanian menghadapi pertanyaan dan tatapan kecewa ibu tentang berita bohong diri nya.


"Teh masuk, mau lihat ibu ga?"


Rere hanya diam memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan untuk sang ibu, sudah pasti ibu kecewa dengan diri nya. Perlahan tya saudara perempuan Rere datang bersama putranya yang bernama dion.


"Bibi sudah datang" Rere menoleh dan tersenyum mendapati keponakan nya yang chubby.


"Re baru datang" tanya tya


"iya teh" sambil mencium punggung tangan tya dan mencium keponakan laki-laki nya yang menggemaskan.


"Kenapa masih di sini, ayo masuk re" sambil menepuk lengan Rere.


"iya teh dulu aja, nanti Rere menyusul"


Rere masih duduk di depan ruang rawat inap dan memangku keponakan yang berusia 6 tahun, menciumi dan mencubit pipi nya yang tembem.


Rere selalu menuruti apapun yang keponakan nya minta padahal hubungan dengan saudara perempuan nya tidak dekat hal ini terjadi karena Rere dan 3 kakak nya terpisah saat masih kecil.


Rere tinggal bersama orang tua nya di Jawa Tengah sedangkan 3 kakak nya tinggal bersama kedua orang tua dari ibu di Jawa Barat. Faktor ekonomi yang membuat berpisah.


Tya keluar dan memanggil Rere karena ibu ingin berbicara dengan nya mendengar itu siap atau tidak tetap harus bertemu dan melihat keadaan ibu akhirnya Rere memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap yang tepat di depan mata nya.


Saat Rere melangkahkan kaki melewati pintu kamar ruang anggrek, Rere melihat ibu nya berbaring di ranjang inap rumah sakit dengan tangan di infus dan tidur dengan menggunakan selimut dan wajah ibu pucat.


"Renia... " ibu memanggil.


Dengan sedih Rere melangkah kaki ke arah ibu lalu memeluk dan menangis bersama. Tya dan Arsyila melihat hanya menunduk. Ibu mengusap punggung putri nya lalu membelai rambut penuh kasih sayang kepada putri yang membantu perekonomian keluarga sehingga dapat hidup layak


"Renia... " sekali lagi ibu memanggil nama panjang Rere yang berarti ada hal penting yang ingin di sampaikan, Rere mendongakkan wajah nya menghadap sang ibu.


"ya bu" sahut Rere.


"Apa yang terjadi nak" ibu ingin meminta penjelasan tentang berita yang viral itu.


"Mereka menuduh Rere bu, itu semua fitnah" jawab Rere.


"walaupun kita ini orang miskin nak, tapi hiduplah dengan penuh kehormatan. Jangan karena uang melangkah ke jalan yang salah. Ibu percaya dengan Renia anak ibu, kamu anak baik dan sholeha sayang" suara pelan yang di selingi tangis sendu karena nasib anak nya.


"Rere tidak pernah membawa pria manapun bu Tuhan kita menjadi saksi biarlah mereka menyebarkan berita bohong itu, Cukup Rere bersama ALLAH Tuhan yang Maha Besar" Rere pun ikut menangis.

__ADS_1


"Kenapa mereka melakukan itu dan siapa pria yang melakukan pemukulan dan siapa yang di pukul di depan apartemen kamu itu nak, apa hubungan kalian" Selidik sang ibu.


"Mereka teman Rere bu, sudahlah bu nanti Rere jelaskan tapi sekarang ibu tidurlah dulu ibu harus istirahat supaya cepat sembuh dan bisa cepat pulang" Rere mencium dan memeluk kembali ibu tercinta nya dengan meneteskan air mata.


Ibu mengusap kembali punggung serta rambut anak perempuan nya itu dengan penuh kasih sayang dan rasa sedih di hati nya masih menggelayut membuat air mata nya jatuh berguguran.


"Nak, menikah lah usia kamu sudah melewati 30 tahun, mungkin ini terjadi karena kamu belum menikah jadi banyak yang menuduh macam-macam" Rere hanya diam.


"Teteh kamu akan bercerai karena suami tya berselingkuh dengan tetangga rumah nya dan ketahuan warga lalu di sidang pihak desa" Rere mendongak dan menatap Tya dan yang di tatap hanya menunduk.


"Benarkah itu teh" Rere kaget karena memang tidak tahu tentang hal ini dan Tya hanya menggangguk.


"Kapan" tanya lagi.


"Dua hari yang lalu, ibu kaget. Mendengar itu di tambah melihat berita kamu, nak di televisi" Bukan Tya tapi ibu yang menjawab lalu menangis.


Rere menoleh ke arah Tya yang juga menangis lalu kembali menatap ke arah ibu nya.


Seperti tersambar petir di siang hari mungkin ini yang di rasakan ibu karena kedua putri nya mendapatkan masalah besar bersamaan dan mungkin penyebab penyakit jantung nya kambuh


Rere bermonolog di dalam hati meski begitu Rere masih beruntung karena ibu masih selamat dan tidak terjadi hal yang fatal.


"Kenapa tidak ada yang memberitahu Rere"


"Kita semua kalut re, teteh juga tidak menyangka dan saat itu kita sedang membereskan masalah yang di sini karena suami dari selingkuhan mas Didit marah dan meminta denda dan juga melaporkan ke pihak berwajib" jawab Tya


"Lalu sekarang ada di mana dia" selidik Rere.


"Teteh sudah mengajukan ke pengadilan" Rere bertanya.


"Sudah Re dan teteh juga sudah membayar denda yang di minta suami selingkuhan mas Didit sebesar 100 Juta" jawab Tya.


Rere membelalakkan mata nya dan sangat kaget dengan apa yang terjadi, Rere tahu jika saudara ipar nya itu memang mata keranjang dan suka main perempuan, tidak menyangka sampai masalah nya seperti ini.


Pernah suatu hari Rere berkunjung ke rumah ibu dan Keluarga Tya juga sedang berkunjung tanpa sengaja rere mendapati saudara ipar nya itu menatap diri nya lekat yang membuat Rere tidak nyaman dan juga pernah mengirim pesan yang menurut nya aneh. Rere memang tidak terlalu menyukai dan risih dengan ipar nya itu tapi tidak di tunjukan di depan keluarga dan lagi Rere tidak juga dekat dengan tya atau dengan ipar nya itu.


"Uang dari mana 100 juta nya teh" tanya Rere.


"Dari tabungan teteh" jawab Tya lalu menatap mata sang ibu dengan tatapan penuh arti.


"Uang dari ibu kan" Rere menebak.


Rere tahu jika Tya tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu karena hanya bekerja sebagai buruh pabrik. Ibu Inah memiliki tabungan karena Rere sering memberi nya uang dan Rere memberikan uang bonus untuk ibu pergi haji tahun kemarin.


"Uang ibu yang di pake buat pergi haji" Rere menjawab dengan tatapan kesal menatap tya dan beralih menatap ibu Inah.


"Bukan nak, ibu sudah mendaftarkan diri mengikuti ibadah haji dan ibu juga ingin melihat makkah rumah ALLAH, tidak mungkin ibu mengambil uang nya dan memberikan kepada Tya itu hadiah dari Rere buat ibu" Jelas ibu Inah

__ADS_1


"Lalu dari mana bu, teh tya. itu uang sangat besar" Rere merasa pusing dengan masalah baru yang dia ketahui ini.


"Ibu Jual sawah yang Dua tahun lalu Rere beli" Jawab ibu.


"Apa" Rere berdiri dan menatap ke arah Tya.


"Kenapa di jual bu, itu sawah tabungan ibu nanti saat Rere menikah ibu memiliki penghasilan dari sawah" lalu menatap ibu.


"Kakak ipar mu melakukan kesalahan, warga dan pihak berwajib datang dan suami dari wanita selingkuhan kakak ipar mu meminta ganti rugi" ibu menjelaskan.


"Terus hubungan nya sama kita apa, harus nya keluarga dia yang keluar uang bukan kita. Anak ibu itu Tya bukan suami nya" jawab Rere sedikit kesal.


"Nak, maafkan ibu tapi ibu tidak mau ada keributan, nanti insyaallah kalo Tya ada uang pasti dia ganti"


Rere menatap langit ruang inap ibu nya dan meneteskan air mata, Rere mengingat kembali jika uang untuk membeli sawah itu adalah hasil kerja keras nya selama 8 Tahun kerja di bank.


Dia menabung dari gaji dan bonus sebagian dia sisihkan dan hasil usaha jual pakaian dan hijab. Dia membeli sawah agar hasil nya untuk ibu dan diri nya kedepan. Sekarang di jual hanya untuk mengganti kesalahan orang lain.


Rere melangkahkan kaki nya keluar ruangan tanpa sepatah katapun hati nya kecewa dan hancur, bukan masalah uang tapi setidaknya libatkan dan minta pendapat nya juga, Rere tulang punggung keluarga padahal memiliki dua saudara laki-laki, tapi selalu yang di andalkan adalah Rere.


Rere berjalan di Koridor rumah sakit dengan langkah pelan dia bermonolog dalam hati kenapa dia seperti ini, saat usia nya 17 tahun dia sudah bekerja di pabrik selama satu tahun dan pindah ke minimarket dan akhir nya bekerja di Bank untuk menghidupi ibu dan adik nya sedangkan ketiga saudara nya hanya sibuk dengan urusan pribadi dan juga keluarga nya.


Tapi setiap ada masalah selalu meminta uang dengan mudah nya kepada ibu, dan yang membuat hati Rere sedih ibu menuruti nya, apa mungkin untuk menebus kesalahan nya karena menitipkan ketiga anak nya kepada orang tua ibu dulu.


Rere sering membayar hutang kakak nya. Setiap hari dia bekerja dari pagi sampai malam tetapi saat menerima gaji justru dia pergunakan untuk membayar hutang kakak kedua nya.


Untung Rere mendapatkan beasiswa saat melanjutkan S2 dan S3 karena memang Rere mendaftarkan diri di program Beasiswa Karyawan Berprestasi di tempat nya bekerja meski hanya 50% tapi bisa membantu untuk membayar Biaya pendidikan nya.


Dari kecil Rere sudah sangat mandiri bekerja dan sekolah adalah rutinitas nya. Pulang sekolah membantu ibu dan ikut mencari uang dengan cara berjual gorengan keliling milik ibu dan setelah selesai Rere membantu tetangga nya menjual nasi uduk keliling juga dan mendapatkan upah dari sana.


Saat masih bersekolah di tingkat Atas, Rere bekerja di rumah tetangga untuk membersihkan rumah dan di kerjakan dua kali dalam seminggu dan mendapatkan upah 150 Ribu setiap bulan.


Rere membersihkan di hari Rabu dan Minggu, Hidup nya lebih sulit karena hidup bersama ibu dan adik nya setelah ayah Rere meninggal dan ibu Rere bekerja hanya sebagai buruh cuci dan penjual gorengan keliling.


Sedangkan Ketiga kakak nya ikut bersama orang tua ibu meski rumah nya berdampingan tapi tidak mungkin semua menjadi tanggung jawab kakek dan nenek nya. Apalagi anak nya bukan hanya ibu inah. Jika semua menjadi tanggung jawab mereka pasti anak yang lain akan marah.


Karena hidup yang sulit di masa remaja itu yang membuat Rere tumbuh bukan hanya menjadi wanita karier yang mandiri tapi juga keras kepala juga pekerja keras tidak seperti ketiga kakak nya yang manja, hanya bisa merengek kepada ibu dan memandang sepele setiap ada permasalah dan setelah masalah nya besar baru Mereka mencari ibu dan meminta Rere adik nya yang membantu.


Rere mengingat semua kepedihan dalam hidup dan tanpa sadar menangis, apa mungkin bukan masalah rere yang membuat ibu sakit justru masalah Tya tanpa sadar Rere sudah keluar dari lobby rumah sakit dan mengabaikan Arsyila yang terus memanggil nya saat keluar kamar rawat inap ruang anggrek tadi.


Rere ingin marah tapi ibu nya sedang sakit dan tidak mungkin berdebat tentang materi dan memarahi Tya yang ada ibu nya akan tambah sedih dan sakit nya bertambah parah.


Rere ingin menenangkan diri tidak tersulut emosi karena itu dia keluar dari ruangan yang ibunya berada kemudian memilih duduk di taman rumah sakit untuk sejenak meredam emosi dan mengalihkan pikiran yang ruwet ke handphone untuk melihat pesan dan sosial media mencari tahu tentang berita yang menyangkut permasalahan dirinya


Setelah Rere membuka handphone ada banyak pesan masuk salah satu nya dari pegawai butik milik nya yang menanyakan tentang stock baju import yang di kirim dari China yang belum sampai, lalu dari Pak Edo yang menanyakan pekerjaan dan beberapa dari nasabah yang menanyakan Rere kapan masuk cuti, karena sebelum nya Rere memposting pemberitahuan jika dirinya sedang cuti di story aplikasi percakapan.


Setelah selesai semua Rere membuka aplikasi yang bergambar kamera yang banyak di gunakan untuk memposting segala berita dan juga kegiatan baik foto atau pun video para pengguna nya.

__ADS_1


"Apa.... " Rere sangat terkejut


Saat dia melihat salah satu akun gosip, Rere mendapati video dan photo yang beredar di sana lalu mata nya terbelalak dan menutup mulut nya dengan satu tangan.


__ADS_2