
“Tidak Dion, bibi rere dan paman Aditya tidak seperti mama dan papa karena mereka belum menikah dan sudahlah jangan bahas itu anak kecil lebih baik makan roti ya.
Untung mama bawakan Roti didalam kamar untuk Dion, dimakan ya” Dion menganggukan kepala lalu mengambil rotinya untuk dimakan dengan wajah tampak bingung.
“Mama besok pulang kerumah, Dion tetap disini tunggu nenek ya dan jangan nakal nanti mama datang lagi ke Jakarta bersama Bibi Arsyila” Sambung Tya
Dan Dion hanya menganggukan kepalanya kembali dan memasukan makanan kedalam mulutnya. Sedangakan diruang tamu Aditya masih berdebat.
"Sudahlah mas Renia lelah sebaiknya Mas Aditya Pulang saja"
Rere berbalik ingin masuk kedalam kamarnya dengan cepat Aditya menarik lengan Rere dengan kasar sampai Tubuh Renia menempel dengan keras di dada bidang Aditya.
Aditya mendongakan kepala Rere untuk menatapnya secara paksa dan Aditya menyatukan bib*rnya dengan bib*r wanita yang dia cintai.
Dengan Kasar Aditya menc*um Rere membuat wanitanya meronta ingin melepaskan diri tapi gagal karena tubuh Aditya yang kekar tidak sebanding dengan Rere.
Sekitar Lima Menit Aditya mencium Rere sampai akhirnya dirinya juga yang melepaskan ciuman di bib*r Rere agar wanitanya dapat bernafas setelah apa yang dia lakukan.
Setelah Aditya melepaskan b"birnya dengan keras Rere menampar pipi Aditya lalu memukul dada bidang Aditya dan meninggalkan ruang tamu dan berlari menuju kamar kemudian menguncinya.
Tubuhmya luruh ke bawah lantai dan melingkarkan tangan pada kedua kakinya. Rere tidak menyangka kekasihnya melakukan tindakan pele*ehan terhadap dirinya.
Aditya mencuri c*uman Pertamanya yang dia harapkan hanya diberikan untuk suaminya nanti saat dirinya menikah. Walaupun Suami yang dirinya harapkan memang Aditya tapi Rere tidak ingin melakukan sebelum menikah.
"Renia buka maafkan Mas... Sayang"
Aditya Panik dan merasa bersalah dengan tindakan bodohnya dan berharap Rere membukakan pintu agar dirinya dapat meminta maaf kepada Rere yang terlihat marah dan kecewa kepada dirinya.
"Sayang... Maafin Mas. Tolong buka"
Aditya mengetuk pintu lalu dirinya luruh di atas lantai dengan tangannya menyentuh pintu kamar Rere. Aditya meneteskan air mata dirinya sangat menyesal melakukan tindakan kasar kepada Rere.
Beberapa kali Aditya membentur-benturkan kepalanya di pintu kamar, dirinya merasa sangat bersedih bayangan kematian Mamanya berputar didalam kepanya dan juga mimpi tentang kematian Rere yang mengalami kecelakaan lalu keadaan Zayn yang lemah dan Sisillia yang mengalami pendarahan silih berganti membuat dirinya merasa bersalah, bingung kemudian ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat.
"Aaaaaaaaaa.... "
Aditya berteriak histeris membuat Rere terkejut begitu juga dengan Ibu Inah dan Tya. Dion menarik kembali tangannya yang akan memasukan roti kedalam mulutnya. Ibu Inah juga Tya saling pandang.
"Tidaaakkkk"
Kenangan Masalalu saat penyiksaan yang dialami oleh Aditya yang di lakukan oleh kakek nya sendiri dan juga orang tua Lisna membayangi Aditya juga kematian Sherly membuat kesadaran Aditya hilang, dirinya berteriak Histeris.
Rere yang berada didalam kamar merasa takut saat ingin membuka pintu mendengar teriakan Aditya, tapi dirinya merasa tidak tega dan bertanya apa yang terjadi dengan kekasihnya di luar sana.
"Mas... Jangan Buat kegaduhan pulanglah Mas, Renia takut"
Rere dari balik pintu meminta Aditya untuk pulang karena teriakannya sangat keras membuat Rere takut dan tidak Enak hati dengan tetangganya Jika mendengarkan teriakan Aditya yang terdengar kencang, segera Rere mengambil Ponsel yang ada didalam tasnya untuk menghubungi Riki atau Ayu.
Sedangkan Bu Inah dan Tya memberanikan diri untuk keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Bu Inah membelalakan matanya begitu juga dengan Tya menyaksikan keadaan Aditya yang terlihat sangat menyedihkan dan mengerikan sedangkan Dion bersembunyi di belakang Tya.
"Ya Allah Nak Adit, Kenapa ini. Rere... Tolong... "
Rere yang mendengarkan teriakan ibunya memutuskan untuk menutup telepon saat dirinya sedang tersambung panggilan telepon dengan Riki dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya.
"Hallo Bu Renia... Hallo" Riki memastikan dan sempat mendengar teriakan Bu Inah yang meminta tolong.
Riki bergegas ke arah mobil sport yang di miliki keluarga Aditya dan meninggalkan kopernya yang mana dirinya sedang mempersiapkan keperluan untuk besok pergi ke Bali untuk keperluan Kerja karena sebelumnya dirinya mendapatkan tugas itu dari Aditya.
Saat dirinya berlari kearah mobil bersamaan dengan Mobil ayu memasuki halaman Mansion dan melihat Riki nampak Panik. Ayu mematikan mesin mobil dan membuka pintu lalu berlari kearah Riki.
"Ada apa Riki"
"Eeehhh... Saya... dapat telepon dari Bu Renia yang menyuruh saya cepat ke apartemen nya dan mendengar terikan Pak Aditya dan suara minta tolong dari Bu Inah"
"Apa... Apa yang terjadi Riki" Ayu lalu menutup mulutnya
__ADS_1
'Saya tidak tahu. Maaf Nona saya harus segera ke apartemen Bu Renia. Permisi"
"Tunggu Riki saya ikut"
Ayu masuk ke mobil dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Untung saja tidak ada jimmy di mobilnya karena Jimmy bersama dengan Aries dan Lisna ke Mall untuk ke tempat permainan sedangkan Ayu pulang dari dokter kecantikan yang rutin di kunjungi.
"Sebenarnya kakak saya kenapa Riki" asistennya hanya menatap Ayu dan menggeleng.
"Sebaiknya saya telepon Rere saja" Ayu mengambil Ponselnya dan melakukan panggilan telepon tapi tidak di angkat oleh Rere.
Rere tidak menghiraukan panggilan masuk yang ada di ponselnya karena mendapati tubuh Aditya kejang-kejang dengan bola mata membelalak ke atas. Nafas Aditya terlihat tercekal di tenggorokan.
Rere memeluk Aditya dan menangis sambil membelai wajah kekasihnya. Rere sesekali memeluk tubuh Aditya.
"Mas... Kenapa... Mas sadar mas... Bu... Teh Tya Tolong mas Aditya"
"Tya lari keluar dan berteriak meminta tolong kepada unit yang berada di samping Rere tapi tidak ada yang membukanya. Tya mengetuk pintu setiap unit dan tidak ada yang keluar.
Tya memutuskan untuk masuk kedalam Lift untuk keluar ke lantai dasar. keadaan saat itu sangat mencekam.
"Mas Adit... Mas... Kenapa"
Rere mengecek saku jas juga celana yang dikenakan oleh Aditya mencari sesuatu ntah kenapa hatinya menginginkan untuk melakukannya dan benar saja Rere menemukan botol yang mana berisi obat.
"Bu apa ini... " Ibu inah menggeleng dan tidak mengerti.
"Coba di minumkan saja mungkin ini obat milik Aditya"
"Tapi Rere... kita tidak tahu ini obat apa bu" berpikir sejenak
"Tapi Mas Adit membawa obat ini... Bu minta tolong ambilkan minum" memutuskan untuk memberikan obatnya.
Bu Inah mengambil gelas yang berisi air untuk Aditya. Tubuh penuh peluh dan gemetar terlihat membaik setelah meminun obat yang ditemukan dari balik katung celana milik Aditya.
"Mas... Mas Aditya kenapa"
"Aditya hanya menatap Rere yang sedang menopang kepalanya diatas pangkuannya.
'Sayang Maafkan Mas... " Aditya menutup matanya.
"Mas... Mas.. Bu... "
Rere mengecek hidung dan juga denyut nadinya yang masih terasa. Rere dan Bu Inah bersyukur itu tandanya Aditya hanya tertidur.
"Mungkin efek dari obatnya Rere" ucap bu Inah.
"Bu Mas Adit kenapa ya... "
"Ntahlah dia seperti orang ketakutan Rere dan tadi kenapa tubuhnya kejang-kejang ya" tanya Bu Inah.
Rere hanya diam dirinya tidak mengerti apa yang terjadi dengan kekasihnya. Rere mengusap kepala Aditya dan ingatannya kembali saat pertama kali bertemu Ayu yang mengatakan Aditya mengalami
Prolonged grief Disorder dan Trauma yang berakibat Depresi.
"Mas... Maafkan Renia seharusnya tadi Renia tidak bersikap kasar dan meninggalkan Mas Aditya begitu saja"
Rere menangis dan tetesan air matanya yang menempel di pipi Aditya yang tertidur karena pengaruh obat.
Tya berlari ke bawah dan mendapati seorang Pria di lantai bawah lalu Tya meminta tolong akan tetapi permintaan nya diabaikan karena dia mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk.
Beberapa kali meminta selalu di tolak dan Tya memutuskan untuk keluar Lobby gedung apartemen dan dirinya melihat mobil mewah yang pernah dipakai oleh Aditya.
Tya berlari untuk memastikan dan saat di dekati benar terlihat Riki dari arah depan kaca mobil dan duduk berdampingan dengan Ayu.
Riki memarkirkan asal Mobilnya dan keduanya keluar lalu Riki mengunci mobilnya sedangkan Ayu menghampiri Tya.
__ADS_1
"Teteh... Apa yang terjadi"
"Aditya... tubuh nya kejang-kejang dan Ayo...cepatlah kita tolong Aditya kasihan dia"
Riki mendengar itu langsung berlari meninggalkan Ayu dan Tya yang juga ikut berlari. Riki masuk kedalam lift terlebih dahulu baru setelah Riki sampai di lantai tempat unit apartement Rere berada Tya dan Ayu masuk kedalam Lift.
Pintu unit Apartemen Rere tidak di tutup dan Riki mendengar Rere yang sedang menangis membuat dirinya masuk begitu saja.
Dan dirinya mendapati atasannya tidak sadarkan diri di pangkuan Rere. Ibu inah dan Rere menatap Riki dan merasa lega dengan kedatangan asisten pribadi Aditya.
"Mas Riki... Tolong Mas Aditya kenapa"
Riki mengecek keadaan Aditya dan tidak lama Tya dan Ayu sampai di unit apartemen Rere. Semua membantu memindahkan Aditya di dalam kamar milik Rere atas permintaan Rere sendiri.
Ibu inah tidak bisa menolak permintaan Rere melihat keadaan Aditya. Awalnya Ibu inah meminta di bawa ke rumah sakit saja akan tetapi Riki berkata Atasan nya akan membaik setelah meminum obat yang sudah di berikan oleh Rere tadi.
"itu obat apa sebenarnya Mas Riki. Ayu dan kenapa Mas Aditya seperti tadi. Apa sejak dulu Mas Aditya seperti ini" Ayu dan Riki mengangguk.
"Kak Aditya sering histeris dan tubuh nya kejang jika merasa Panik dan Marah" Sahut Ayu.
"Ya Allah Kasihan sekali kamu nak, Pasti Sherly jika masih hidup akan sedih melihat putra nya seperti ini"
Ibu Inah menangis dan mengusap pelan rambut Aditya. Semua yang mendengarkan hanya diam dan menunduk.
"Aditya anak paling di manja oleh Mama dan Papa nya dulu apapun yang diminta selalu dituruti karena dia anak satu-satunya Pak Rian, Beliau yang paling memanjakan Aditya"
Rere memeluk ibunya dan menyandarkan dagunya di atas bahu Bu Inah yang sedang menceritakan tentang kedua orang tua Aditya.
"Nak Adit belum menerima kepergian Mamanya dan juga Perceraian Orang Tuanya. Rere ibu mohon kurangi sikap keras kamu dan ibu minta dampingi Aditya melewati masa sulitnya. ya Nak"
Mendengar perkataan Ibu Inah membuat Ayu dan Riki saling pandang sedangkan Dion hanya mengintip dari balik pintu, Dion masih merasa takut dengan apa yang terjadi dengan Aditya.
"Renia... Anak ibu. Mungkin Allah membuat Renia belum menikah karena ingin mempertemukan kalian berdua. Aditya membutuhkan Renia, untuk melewati rasa trauma nya. Mungkin Renia obat untuk Aditya melewati masa sulitnya Nak" Rere semakin kencang memeluk ibunya.
"Menikahlah kalian berdua juga sudah waktunya menikah. Jalani masalah yang ada berdua. Hidup tidak ada yang namanya tidak ada masalah dan saat Renia sudah memutuskannya jangan pernah menoleh ke belakang atau menyesali apa yang telah dipilih" Ibu Inah mengusap punggung Rere.
"Aditya lebih membutuhkan Renia dari pada Geri. Sahabat kamu itu akan menemukan wanita yang akan mencintai nya dan berjalan nya waktu Geri akan memaafkan dan menerima pilihan Renia"
Rere mengangguk lalu dirinya mendekati Aditya dan mengusap pelan pipi Aditya lalu memeluk tubuh Aditya dan menangis pilu mendapati kekasihnya seperti ini.
"Mas pasti selama ini kesepian dan ketakutan. Maafkan Renia ya Mas"
Rere menangis mengingat cerita Aditya yang mendapatkan perlakuan kasar dari keluarga Papi Kandungnya sendiri.
"Mas... Jangan takut lagi sekarang ada Renia di samping Mas. Maafkan Renia ya"
Rere mengingat ciuman pertama yang dia dapatkan dari Aditya. Rere menyandarkan kepalanya di dada bidang Aditya yang nampak tertidur karena pengaruh obat yang dia minum.
Rere hanya diam dengan meneteskan air matanya. Dua Pria yang mencintainya sama-sama menderita. Meski ibu nya mengatakan Aditya lebih membutuhkan dirinya dibandingkan Geri akan tetapi tetap saja sebagai sahabat Rere merasa tidak boleh mengabaikan Geri begitu saja.
Apalagi Geri sakit saat ini dan penyebabnya adalah dirinya. Rere menutup mata dan tetesan air mata mengenai punggung tangan Aditya. Kini di kamarnya hanya tinggal Aditya, Rere juga Bu Inah.
Ibu nya tidak akan meninggalkan Rere dan juga Aditya di dalam kamar berdua maka dari itu Bu Inah menunggu Aditya terbangun.
Saat Aditya tertidur karena pengaruh obat Penenang yang ada di saku celananya. Suara Ponsel berdering dari saku celana Aditya. Rere ingin mengambil Ponselnya akan tetapi merasa tidak enak karena pemiliknya sedang tertidur.
Suara Panggilan Telepon berdering selama Tiga Kali bersamaan dengan itu Ayu mengetuk pintu kamar Rere yang sebenarnya tidak di tutup.
"Ayu Ponsel mas Aditya berdering sejak tadi. Saya tidak berani mengangkat karena di takutkan itu penting dari klien bisnis Mas Adit"
Ayu tersenyum mendengarnya dan Rere meminta Ayu untuk melihat siapa yang telepon atau mungkin mengangkat nya.
Ayu mengikuti apa yang di katakan oleh Rere. Suara Ponsel berdering kembali dan Ayu memberanikan diri untuk mengambil Ponsel Kakaknya dan saat dia melihat nama Sisillia yang menghubungi Aditya membuat Ayu terlihat bingung dan gugup di hadapan Rere.
"Angkat saja Ayu"
__ADS_1