
Kedatangan Nenek Bernadeth.
Melihat Vitalia menuju ke dapur, Mirna pun lalu memberanikan diri untuk membuka suaranya dengan berkata, “Kalau Kalian ingin membuktikan kebenarannya dihadapan Vitalia secara langsung, Kalian harus membawa barang buktinya sendiri, karena Vitalia bukan tipe orang yang mudah untuk mempercayai orang dengan begitu saja, namun Aku percaya pada Kalian jika Vitalia adalah Putri Tiri Anda dan Saudari kembar mu Amelia ..” ucap Mirna dengan penuh percaya diri.
Sementara Nyonya Renita dan Amelia pun tersentak mendengarkan penuturan dari Mirna, dan Nyonya Renita pun lalu berkata, “Jadi selama ini dokter Mirna telah mengetahuinya .. ??” tanya Nyonya Renita bertanya pada dokter Mirna.
Dokter Mirna pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Ya Saya sebenarnya sudah mengetahuinya sejak dulu, meskipun Saya tidak tahu siapa orang yang membuangnya, namun Aku tahu jika Vitalia hanya anak yang di adopsi oleh keluarga Wijaya karena Mereka tak tega melihat bayi kecil mungil berumur sekitar 1 tahun berada di tempat sampah .., Kami seluruh Keluarga besar Wijaya sengaja menyembunyikan semuanya dari Vitalia, maka dari itu Ku mohon kerjasamanya agar Kalian tidak membuat Dia kecewa jika mengetahui kebenarannya nanti,” ucapnya.
“Terutama dengan Anda Nyonya Renita, jika benar Vitalia adalah Putri Tiri Anda, maka bersiaplah untuk menerima konsekuensinya dari Vitalia ..., akan tetapi sepertinya Vitalia tidak akan menghukum Anda Nyonya Renita, karena Dia sudah menganggap mu seperti Mamanya sendiri, Aku tahu semuanya karena Aku kakak sepupunya, yang selalu di ajaknya untuk curhat,” sambung Mirna.
Ketika Mereka bertiga sedang berdiskusi di ruang tamu, tiba-tiba saja ada seseorang mengetuk pintu rumah kontrakan Vitalia,
Tuk ... tuk .. tuk ..
Seketika saja Mereka bertiga menghentikan diskusinya, Mirna pun lalu berdiri dari tempat duduknya dan segera membukakan pintu.
Ceklek ...
Dilihatnya adalah seorang Nenek yang datang ke rumah kontrakan milik Vitalia.
“Apakah ada yang bisa Saya bantu, Nek .. ??” tanya Mirna Feriska sopan. Nenek itu pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Oh Anda siapa .. ?? dokter Lia mana .. ??” balas Nenek tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan, sambil melihat ke arah belakang Mirna mencari seseorang yang Ia cari.
Sementara Mirna mengernyit bingung karena tak tahu dengan siapa yang dimaksud oleh Nenek tersebut. Mirna pun lalu membalasnya dengan berkata, “Dokter Lia siapa, Nek .. ??” tanyanya bingung. Belum sampai Nenek tersebut menjawabnya, Vitalia muncul dari arah belakang Mirna, dengan berkata, “Siapa Mbak .. ??” tanya Vitalia bertanya pada Mirna sambil berjalan ke arah pintu. Seketika saja Ia begitu terkejut ketika melihat Nenek Bernadeth yang datang ke rumah kontrakannya.
“Nenek ..” ucap Vitalia(Lia) terkejut melihat Nenek Bernadeth. Nenek Bernadeth pun lalu membalasnya dengan berkata, “Dokter Lia, bisakah Anda membantuku untuk membuka rumah ..??” tanyanya untuk meminta bantuan pada Lia. Sementara Mirna yang ada di sebelah Vitalia hanya diam dengan pemikirannya sendiri dengan bergumam dalam hati, “Jadi Vitalia, beneran nyamar nih .. ??, aduhh nih anak bikin pusing saja .., masalah kecil saja dibikin rumit ..” batinnya sambil memijit pelipisnya.
“Loh ..., memangnya Nenek nggak ada kunci .. ??” tanya Vitalia pada Nenek Bernadeth.
“Kunci yang Nenek bawa hilang, waktu di bawah lampu merah tadi, Nak dokter .., sementara Tiara belum pulang,” jawab Nenek Bernadeth yang terlihat kebingungan untuk menjelaskan pada Lia. ‘Ya Tiara sendiri merupakan gadis yang tinggal satu atap dengan Nenek Bernadeth, yang bersebelahan dengan rumah kontrakan Vitalia, yang juga merupakan milik Nenek Bernadeth.'
Vitalia yang kini sedang berperan sebagai Lia pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Apa .. ??, lalu Tuan Andreas dimana, Nek .. ??” tanya Lia mengerutkan dahinya bingung mengapa Andreas yang mengaku cucu dari Nenek Bernadeth tak bersamanya, apalagi jelas-jelas Vitalia sendiri mendengarkan jika Suaminya yang sedang menyamar sebagai Andreas berjanji pada Nenek Bernadeth jika akan menganggap Nenek Bernadeth seperti Neneknya sendiri, bahkan Dia juga berjanji akan menjaganya dan merawatnya dengan baik. Namun pada kenyataannya Andreas justru meninggalkan Nenek Bernadeth di rumah sendirian.
“Entahlah Nak dokter, Saya tidak tahu cucuku itu dimana, katanya Dia mau menjemput ku di depan gang tadi, tapi nyatanya cucuku tidak datang-datang, jadi terpaksa Nenek di bawah lampu merah lagi menjual koran ..” jawab Nenek Bernadeth beralasan.
“Aduh, Nek ..., sudah berapa kali Lia bilang jangan bekerja lagi di bawah lampu merah, itu bahaya buat Nenek .. !!, ya .., meskipun Andreas tidak tahu jika Nenek menjadikan rumah Nenek untuk rumah kontrakan, tapi setidaknya Nenek jangan menjual koran lagi dong, Nek .., kan Nenek bisa ke sini jika tidak ada Tiara ..” ucap Vitalia sedang berperan sebagai Lia, memberi peringatan pada sang Nenek.
“Sekarang lebih baik Nenek masuk ke dalam, biar Lia yang menghubungi cucu Nenek ..” sambung Lia memberi pengertian pada Nenek Bernadeth.
Saat Nenek itu masuk ke dalam rumah kontrakan milik Vitalia, betapa terkejutnya Nenek Bernadeth yang melihat Renita dan juga Amelia yang sedang berada di rumah kontrakan Vitalia. Begitu juga dengan Nenek Bernadeth yang tak kalah terkejut melihat Mereka.
“Nenek ..” gumam Amelia dan Nyonya Renita pelan, akan tetapi gumaman Mereka masih terdengar di telinga Vitalia, seketika saja Vitalia mengernyit bingung, lalu bertanya pada Nenek Bernadeth, “Nenek mengenal Mereka .. ??” tanyanya. Sedetik dua detik Nenek Bernadeth pun tak bisa menjawabnya, “Ada apa ini .. ??, mengapa keluarga Hirata semuanya ada di sini ??” batin Nenek Bernadeth.
“Emmhh, tidak Nak dokter, memangnya Mereka siapa ... ??” bohong Nenek Bernadeth dengan berbalik tanya. Seketika saja Vitalia hanya menganggukkan kepalanya paham sambil berkata, “Oh ..., kirain Nenek kenal dengan Mereka ..”
__ADS_1
“Lalu kenapa Mama dan Amelia terkejut melihat Nenek Bernadeth .. ??” tanya Vitalia menatap penuh curiga. Seketika saja Nyonya Renita dan juga Amelia justru bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Vitalia. Merasa Ibu dan anak tersebut tidak menjawab pertanyaan dari Vitalia, Nenek Bernadeth yang bersebelahan dengan Vitalia pun melirik ke arah Nyonya Renita dan Amelia seperti memberi kode agar menjawabnya.
“Emmhh .., Kami nggak kenal Nenek ini kok, Nak ..., memangnya Nenek ini siapa .. ??’ tanyanya bersandiwara. Sementara Vitalia hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Mama Renita, Ia justru malah menatap gelagat dari Mama Renita dan Amelia yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Melihat Vitalia yang hanya diam tak menjawab pertanyaan dari sang Mama, Amelia pun membuka suaranya dengan berkata, “Vitalia, kenapa Kau malah diam sih .., Mama bertanya padamu loh .. ??” ucapnya sambil menyenggol lengan Vitalia terdiam mematung. Seketika saja lamunan Vitalia buyar, lalu berkata, “Eh .., Nek .., kenalin ini Amelia, dan yang ini adalah Nyonya Renita, yang kebetulan sudah Vitalia anggap seperti Mama Vitalia sendiri, Nek ..” ucap Lia memberi tahu pada Nenek Bernadeth, namun Nenek Bernadeth hanya mengangguk paham dan bersalaman dengan keduanya tanpa bersuara.
“Emmh Nek, kalau begitu Nenek duduk dulu disini ya, Lia akan ...” Belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, ponsel miliknya yang berada di atas meja tamu pun berbunyi.
Dreett ... drettt .. dreett ..
Vitalia pun lalu segera mengangkatnya.
“Halo ...” ucap Lia menerima telepon dari Sahabatnya.
“Lia .., Kau sedang dicari Tuan Andreas sekarang nih, di FireField Hospital ...” ucap Suster Oca Sahabat dari Lia memberitahu Lia, Lia pun lalu membalasnya dengan berkata, “Tapi Oca ..., Aku tidak bisa ke sana sekarang, Aku masih sibuk, kerabat ku dari Jepang datang semua ini ...” ucapnya beralasan.
“Ah iya Ca .., kalau begitu mana orangnya, Ca ..., Aku ingin bicara padanya ..., enak saja nyuruh-nyuruh ke rumah sakit ... !!” sambungnya memerintah Sahabatnya agar memberikan ponselnya pada Andreas si pemilik saham terbesar FireField Hospital.
“Eh ... tapi Li ..” ucap Oca terhenti karena dipotong oleh Lia (Vitalia).
“Sudah nggak usah tapi tapian, kasih saja ke orangnya, nggak usah takut ... !!” balas Lia. Sementara Suster Oca yang berada di seberang sana pun segera memberikan ponselnya kepada Tuan Andreas sesuai perintah dari Sahabatnya.
“Halo ..” ucap seseorang bersuara bariton membuka obrolannya.
“Aku mau dimana saja itu urusanku, Tuan Andreas ..., dan satu lagi Kau itu katanya Cucu dari Nenek Bernadeth, bukannya menemani Nenek, eh Anda malah pergi, memangnya sesibuk itu kah urusanmu, hingga Nenekmu saja tidak Kau urus .. ?!” ucap Lia dengan nada penuh penekanan.
“Kau tahu tidak Nenek sekarang berada di kontrakan ku, dan Nenek tadi juga sempat balik ke lampu merah karena Kau tak kunjung datang .. !!” sambungnya lagi memberitahu.
“Astaga ...”
“Nggak usah sok terkejut deh Tuan ..., Itu semua juga karena ulah mu .., jadi Ku mohon jemput Nenek Bernadeth atau Aku akan ..” ucap Lia (Vitalia) terhenti karena Tuan Andreas memotongnya dengan berkata, “Ok .., ok .., Aku akan menjemputnya sekarang, Kau jangan khawatir ..” ucapnya.
Mendengar jawaban dari Andreas yang akan datang ke rumah kontrakannya, Ia pun lalu berkata, “Ehh emmm tidak tidak .., Kau tidak boleh ke sini,” balas Lia cepat, melarang Andreas untuk menjemput ke rumah kontrakannya.
“Kau itu bagaimana sih, dok ..., katanya Kau menyuruhku untuk menjemputnya, tapi sekarang ..” ucap Andreas terhenti seketika karena Lia menyahutnya dengan berkata, “Biarkan dokter Bella yang mengantarkan nenek ke FireField Hospital.” ucap Lia dingin.
“Ck banyak alasan ..” ucap Tuan Andreas berdecak kesal.
“Ku bilang tidak ya tidak Tuan Andreas ... !!” lantang Lia berdebat dalam telepon. Sementara semua orang yang mendengarkan Vitalia yang sedang berdebat lewat ponsel pun tak berani membuka suaranya. Tanpa banyak bicara Lia pun langsung mematikan ponselnya sebelah pihak.
Tut ..
Nenek Bernadeth yang melihat Lia seperti sedang kesal pun lalu membuka suaranya untuk bertanya pada Lia, “Nak ..., sudah jangan dimasukkan ke dalam hati, Cucuku itu memang seperti itu,” ucapnya.
__ADS_1
“Tapi Nek ...”
“Sudah Kau tenang saja, biar Nenek diantar sama dokter Bella saja, mumpung dokter Bella ada di sini.” ucap Nenek Bernadeth, yan g mengetahui jika Bella juga sedang berada di rumah kontrakan Vitalia.
“Iya ..., Li .., benar apa kata Nenek .., biar Aku saja yang mengantarnya, Kau masih ingat kan rencanamu .. !!” sambung Bella memperingatkan Vitalia.
“Kau benar La .., thanks ya sudah mengingatkan,” balas Lia, dan mendapatkan anggukan dari Sahabatnya. Ia pun lalu segera keluar untuk bersiap mengantar Nenek Bernadeth. Lia pun lalu mengarahkan pandangan menatap Nenek Bernadeth yang hendak berdiri untuk bersiap keluar dari dalam rumah.
“Nenek ..., hati-hati ya, Nek ..., jika Tuan Andreas macam-macam sama Nenek, bilang sama Saya, Nek ... !!” ucap Lia sambil tersenyum semanis mungkin dihadapan Nenek Bernadeth, lalu memeluknya. Dengan senang hati Nenek Bernadeth pun membalas pelukannya dan berkata, “Kau itu bisa saja Nak dokter ..., maafkan Cucu Nenek yang satu itu ya ..., Dia memang seperti itu,” balasnya.
“Iya .., Nek .., nggak apa-apa ..”
Skippp ...
*****
Tahan dulu Bestie ...
Jangan lupa Vote, Like, dan Komennya Ya ...
Terma kasih ... ^-^
Oh ya ..., jangan lupa mampir di Novel teman Author yang satu ini dijamin seru ...
336 HOURS
(Triple.1)
David Walker tewas di tangan paman dan sepupunya sendiri yang serakah akan peninggalan harta kekayaan keluarga Benjamin dari pihak ibu.
David tewas di tepi danau Ray Hubbard, Dallas. Karena kesalahan Brayan, David kembali hidup ke 336 jam sebelumnya.
Ada harga yang harus di bayar oleh David untuk kehidupan keduanya. Dia harus menjaga Elaina, yang tak lain adalah salah seorang maid di mansion miliknya.
Apa kaitannya Elaina dengan kehidupan kedua David?
Akankah David kembali tewas jika gagal melindungi Elaina?
__ADS_1