Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 200


__ADS_3

Nenek Elisabeth Terkena Tembakan Misterius.


Setelah mereka semua masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya seluruh anggota keluarga Wijaya yang datang ke rumah Chandra, karena melihat se-isi rumah tersebut yang tampak tertata rapi dan mewah. Bahkan, lebih mewah dari kediaman keluarga Wijaya. Dan tentunya rumah tersebut juga sudah menjadi milik Vitalia.


“Ma, Pa, Kak, maafkan Vitalia, seharusnya aku tidak ...” Belum sempat Vitalia menyelesaikan ucapannya Tuan Wijaya memotongnya dengan berkata, “Kau tak perlu meminta maaf kepada kami, Nak. Justru kamilah yang harus meminta maaf kepadamu. Apalagi setelah Papa telusuri baik-baik, Chandra tidak bersalah, dia hanya salah paham saja kepada keluarga Wijaya,”


“Apa?” ucap Aditya dengan nada keterkejutannya. Sementara yang lain hanya biasa saja menanggapinya.


“Sudah Aditya, kau tak perlu terkejut mendengarnya, karena memang kebenarannya seperti itu.” Ucap Tuan Wijaya menegur putranya yang tampak terkejut mendengar pernyataan darinya.


Tuan Wijaya kemudian mengalihkan pandangan pada Vitalia dan berkata, “Dan untuk kau, Nak. Lebih baik jangan memikirkan itu lagi, sekarang lebih baik beristirahatlah di kamar, biar kami semua menunggu kabar mengenai suamimu dari pihak kepolisian, dan tim SAR yang sedang turun tangan dalam pencarian!” sambungnya memberi nasehat kepada Vitalia yang masih ia anggap sebagai putrinya sendiri.


“Tapi Pa, hiks .. hiks .. Mana mungkin aku bisa bertahan hidup tanpa mas Chandra? Sedangkan ..” Lagi-lagi ucapan Vitalia harus terhenti karena dipotong oleh Mama Renita.


“Vitalia Sayang, benar apa kata Papa Wijaya, lebih baik beristirahatlah, kasihanilah dirimu sendiri dan baby twins, kalau kau terlalu stres memikirkan semua itu, bisa berpengaruh pada asimu loh,” ujar Mama Renita berusaha menasehati Vitalia.


“Benar Vitalia, sebaiknya beristirahatlah! Apa perlu aku yang menemanimu?” sahut Erlin menawarkan diri.


Mendengar desakan dari berbagai pihak, Vitalia menjawabnya dengan berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan ke atas sekarang juga, tolong kabari aku jika ada kabar ..” belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja, Mama Dhea datang dari lantai atas menuruni anak tangga dengan terburu-buru, dan diikuti oleh Tuan Zhu yang memanggilnya.


“Vitalia,” panggilnya. Seketika saja Vitalia mendongakkan ke atas melihat kedatangan Mama dan Papa mertuanya yang terlihat berlari menuruni anak tangga.


“Ada apa, Ma, Pa? Kenapa kalian seperti mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Vitalia mengerutkan keningnya bingung menatap kedua mertuanya.


“Aaw ..” Mama Dhea mengaduh kesakitan karena tersandung karpet saat menuruni tangga. “Pelan-pelan, Ma!” tegur Vitalia mencemaskan Mama mertuanya.


“Nenekmu Vitalia, hiks .. hiks ..” ucap Mama Dhea sambil menangis sesenggukan menghampiri Vitalia.


“Nenek, Nenek kenapa, Ma?” tanya Vitalia mengernyit bingung. Begitu pula dengan yang lainnya yang hanya diam dan saling pandang satu sama lain.


“Hiks .. hiks ..., Nenekmu di tembak oleh orang tak di kenal,” ucap Mama Dhea menjelaskan dengan nafas tersengal-sengal sambil menangis sesenggukan.


Duuaaar, bagai petir menyambar di siang hari, Vitalia dan seluruh keluarga yang berada di situ sangat terkejut mendengarnya, apalagi kejadian itu bertepatan dengan kecelakaan pesawat milik suaminya.


“Tidak, tidak, ini tidak mungkin!” seru Vitalia menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


“Salah satu anak buahmu menghubungi Papa, Nak. Jika Nenek Elisabeth, terkena tembakan dan dia ..” Belum sampai tuan Zhu menyelesaikan ada seseorang yang menyahutnya.

__ADS_1


“Aku tidak akan kenapa-napa, Zhu.” sahut seseorang yang tiba-tiba datang tepat berada di depan pintu, bahkan Nenek Elisabeth dengan keadaan terluka di bagian dadanya yang terkena luka tembak. ‘Ya, seseorang itu adalah Nenek Elisabeth.’


Seketika saja semua orang mengarahkan pandangan ke arah sumber suara dengan membelalakkan matanya terkejut.


“Nenek,” ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya, begitu pula dengan anggota keluarga yang lain yang tak kalah terkejutnya melihat Nenek Elisabeth.


Dengan berjalan cepat Vitalia dan seluruh anggota keluarga yang lainnya menghampiri Nenek Elisabeth, “Yaa Tuhan, Nek. Nenek tidak apa-apa kan, Nek? Hiks .. hiks ..” ucap Vitalia sambil menangis sesenggukan melihat kondisi sang Nenek yang berlumuran darah.


“Jangan menangis cucuku,”


“Bagaimana Vitalia tidak nangis, Nek? Nenek harus Vitalia bawa ke rumah sakit sekarang juga!” ucap Vitalia hendak menarik tangan sang Nenek. Sayangnya Nenek Elisabeth malah terhuyung jatuh di atas lantai.


Bruuk ...


“Neneeek!” teriak Vitalia dan Chan Hirata secara bersamaan. Untung saja, Nenek Elisabeth terjatuh tepat berada di pangkuan Chan Hirata.


“Vitalia cucuku, kau tidak boleh pergi ke mana-mana sebelum suamimu diketemukan. Nenek hanya ingin berpesan kepadamu, jaga diri dan anak-anakmu baik-baik, Nenek tidak mau jika kalian terluka.” Ujar Nenek Elisabeth pada Vitalia.


“Jangan berkata seperti itu, Nek. Kumohon! Hiks .. Hiks ..” ucap Vitalia dengan menangis sesenggukan.


“Tapi Nek ..” Belum sampai Nenek Elisabeth menjawab ucapan dari Vitalia dan Chan Hirata, di saat itu juga Nenek Elisabeth jatuh pingsan.


Melihat sang Nenek taksadarkan diri, Vitalia berteriak keras. “Tidak Nek, bangun! Nenek pasti kuat, Nek! Hiks ..” ucap Vitalia dengan air mata bercucuran.


“Kalian? Kalian semua kenapa hanya diam saja? Dan kau Kakak Ipar, cepat bantu Nenek!” sambung Vitalia memerintahkan Erlin untuk membantunya.


“Iya, Vit. Sepertinya kita harus membawanya ke RS,” jawab Erlin.


“Baiklah, ayo!” sahut Vitalia.


Sayangnya saat Vitalia hendak membantu sang kakak untuk membangunkan Nenek Elisabeth, Mommy Gabby angkat bicara, “Tunggu dulu, Vitalia. Kau tidak boleh ikut!” seru Mommy Gabby melarang Vitalia untuk ikut.


“Benar apa kata Mommymu, Vit. Kau harus di rumah, apalagi ada baby twins, apa kau tak kasihan pada mereka,” sahut Erlin seuju dengan perkataan Mommy Gabby.


“Baiklah, aku tidak akan ikut, tapi cepatlah sedikit! Nenek sudah banyak kehilangan darah,” pinta Vitalia. 'Ya, kebetulan kediaman Chandra berjarak tidak cukup jauh dari RS.Wijaya, dan akhirnya Nenek Eisabeth dibawa ke RS tersebut untuk mendapatkan perawatan yang intensif.'


Dengan menatap sang Nenek Elisabeth yang di bawa pergi, Vitalia terdiam terpaku dengan pemikirannya. “Ya, Tuhan, kenapa semua ini terjadi pada diriku dan keluargaku? Sampai kapan masalah yang bertubi-tubi ini akan cepat terselesaikan?” Batin Vitalia dengan tatapan mata kosong, dan tak terasa air matanya menetes setelah melepas sang Nenek untuk di bawa ke RS oleh Aditya bersama sang istri, serta Chan Hirata (kakak kandungnya).

__ADS_1


“Nyonya Muda, baby twins menangis, sepertinya dia sedang kehausan Nyonya, kebetulan stok asi di kulkas habis, Nyonya.”


“Baik, Mbak. Saya akan segera ke atas,” sahut Vitalia membalas ucapan dari baby sisternya.


***


Sementara di lain tempat tampak seorang wanita cantik yang bernama Ratih tampak sedang mencuci pakaiannya di tepian sungai, tanpa ia duga, saat ia sedang mencuci pakaiannya tiba-tiba ia melihat seseorang yang berjenis kelamin pria tampak mengapung di bantaran sungai tersebut.


Dengan cepat Ratih segera mencari sebuah bilah kayu untuk menepikan seseorang tersebut. Namun, tak mudah bagi Ratih untuk menepikan orang tersebut, ia sampai berkali-kali mencari sebilah bambu yang bisa menjangkau orang tersebut namun, tak ada yang bisa menjangkau orang tersebut.


Sampai akhirnya ia mempunyai ide untuk berenang di tengah derasnya aliran sungai yang begitu dalam, demi menyelamatkan pria tersebut. Saat ia sudah berhasil membawa seorang pria ke tepian sungai, tiba-tiba saja ia tersentak kaget melihat siapa yang ia temukan.


“Mas Revan ..” ucap Ratih tersentak dengan siapa yang ia lihat saat ini. ‘Ya, padahal seseorang itu adalah Chandra Zhu, yang ia kira adalah suaminya yang sudah lama menghilang entah ke mana perginya.’


“Mas Revan, bangun Mas!” serunya sambil menepuk-nepuk pipi Chandra. Sayangnya Chandra yang di kira Revan itu tak kunjung bangun.


Pada akhirnya Ratih memutuskan untuk berteriak meminta tolong warga sekitar, agar membantunya untuk membawa Chandra yang ia kira suaminya untuk pulang ke rumah.


“Ratih, ada apa teriak-teriak?” tanya seseorang yang bernama Mang Umar pada Ratih.


“Mang, tolongin saya, suamiku .. Hiks .. Hiks ...” Jawab Ratih dengan menangis sesenggukan menatap Chandra yang ia kira adalah suaminya.


“Yaa Tuhan, bukankah itu Tuan Chandra?” ucap Mang Umar tanpa sengaja menyebut nama Chandra ketika melihat seseorang yang berada di pangkuan Ratih.


Sementara Ratih yang mendengar pernyataan dari Mang Umar pun tak terima, ia kemudian membalasnya dengan berkata, “Chandra siapa, Mang? Jelas-jelas ini suamiku. Lihatlah baik-baik, dia suamiku!” serunya tak terima, karena ia yakin bahwa pria itu adalah suaminya yang selama ini menghilang.


Mang Umar pun berpikir dalam diam, “Iya sih, dia begitu mirip sama suaminya Ratih, tapi kok aneh, ya. Aku nggak yakin kalau dia adalah Revan, tapi dia adalah Tuan Chandra yang di berita tadi,” batinnya dengan pemikirannya.


Melihat Mang Umar hanya diam saja, Ratih pun kemudian membuka suaranya dengan berkata, “Mang Umar, kenapa diam saja, sih? Ayo bantu dong, Mang!” pintanya pada mang Umar.


Dengan cepat Mang Umar membantu Ratih untuk membopong seorang pria itu ke rumah Ratih. ‘Ya, Ratih sendiri hanya hidup bersama dengan seorang Neneknya yang diketahui sebagai seorang mantan Mafia yang menguasai kota S yang berada di Indonesia.’


***


Vitalia POV :


***Di saat hidup sudah tak ada lagi permasalahan, di saat itulah datang permasalahan baru yang membuatku hancur berkeping-keping. Aku tak tahu, apakah aku akan sanggup bertahan hidup tanpamu? ***

__ADS_1


__ADS_2