
Surat Wasiat Nenek Elisabeth
"Neneeeek, bangun nek, please! Come on, Nek! Hiks hiks hiks,"
Sementara Vitalia hanya terdiam terpaku menatap adiknya yang menangis sesenggukan mengguncang tubuh Nenek Elisabeth yang sudah tak bernyawa dengan ditutupi kain putih.
"Nek, kenapa kau begitu cepat meninggalkan kami? Bukankah nenek telah berjanji kepadaku jika Nenek akan menemani kami bersama dengan cicit-cicitmu? Nenek, aku masih penasaran dengan apa yang sudah kau katakan waktu itu, Nek." batin Vitalia dengan menatap ke arah kain putih yang menutupi sang Nenek.
Tak terasa air mata dari Vitalia pun lolos dengan begitu saja, tanpa mengeluarkan suara isak tangis sedikit pun.
"Ya Tuhan, ampuni aku, apa salahku sehingga kau menghukumku dengan musibah yang berturut-turut seperti ini?" Lagi-lagi Vitalia berbicara dalam hati dengan tatapan mata kosong.
"Vitalia, maafkan aku, aku tak dapat..." belum sampai Erlin menyelesaikan ucapannya, Vitalia membuyarkan lamunannya dan menghentikan ucapan sahabatnya itu dengan mengangkat tangan kanannya memberi kode agar Erlin tak meneruskan ucapannya.
"Kau tak perlu menjelaskan kepadaku lagi, Er! Maafkan aku, jika aku selama ini ada salah." ucap Vitalia dingin tanpa mengeluarkan ekspresi, sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Mungkin kali ini aku gagal, namun aku yakin di balik semua musibah yang menimpa diriku beserta keluargaku akan ada hikmahnya," sambung Vitalia lagi berbicara pada Erlin.
"Aku tak perasaanmu, Vit. Aku benar-benar tak tahu," balas Erlin.
"Sudah, jangan merasa bersalah. Ini semua salahku," ujar Vitalia menatap Erlin dengan penuh ketulusan hati.
Greeep..
Erlin memeluk Vitalia dengan tiba-tiba, dan berkata, "Terima kasih, Vit. Kau telah hadir kembali di kehidupan kami, hiks hiks hiks," Namun Vitalia hanya terdiam sambil membalas pelukan dari sahabat sekaligus kakak ipar angkatnya.
"Kau mungkin senang mendengar berita ini, Hans. Tapi aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku yakin kau dalang dibalik sebuah kecelakaan yang menimpa suamiku, dan kau lah dalang dibalik penembakan itu," batin Vitalia dengan pemikirannya.
Sementara keluarga yang lainnya masih menunggu di luar ruangan, termasuk dengan Arnold yang baru saja datang dengan terengah-engah.
"Arnold, bagaimana? apakah putraku sudah diketemukan?" tanya Mama Dhea pada Arnold.
"Belum Nyonya, maafkan saya, tapi saya akan berjanji pada anda bahwa saya membawa putra anda kembali," balas Arnold menjawab pertanyaan dari Nyonya Dhea.
"Tidak perlu repot-repot membantuku, Ar," sahut seseorang yang datang dari dalam ruang NICU.
"Vitalia, kau?" ucap Arnold begitu terkejut melihat Vitalia yang berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Ya, ini aku. Kau tak perlu terkejut melihatku, karena aku tau dibalik semua musibah ini ada orang yang berusaha menyingkirkanku dengan suamiku." ujar Vitalia.
"Maksudmu? Apakah kau menuduhku?" tanya Arnold mengernyit bingung
"Tidak Ar, justru hanya kau lah yang bisa ku andalkan saat ini, aku percaya bahwa kau akan bisa melindungi keluarga kami, kumohon menikahlah dengan Amelia secepatnya," ujar Vitalia dingin sambil menghaous air matanya.
"Cukup kak! Apa yang kau katakan, ha?" tanya Amelia dengan nada meninggi.
"Kakak tau kan, ini bukan waktunya untuk membahas pernikahan? Lagi pula atas dasar apa kakak berkata seperti itu? Bukankah kakak tidak setuju dengan perjodohan itu?" sambung Amelia lagi melontarkan berbagai pertanyaan kepada Vitalia.
"Mungkin kemarin kakak tak setuju, Amelia. Tapi setelah melihat kondisi kita yang sekarang, apa kau tak pernah terpikirkan bahwa kita perlu penjagaan yang tepat?" jawab Vitalia dengan berbalik tanya.
"Heh, hanya perlu penjagaan yang ketat saja kan kak? Kalau hanya penjagaan yang ketat, kenapa kakak sampai tega sama aku untuk menikah dengan Arnold?
"Apa kau lupa dengan permintaan nenek waktu itu? Apa kau lupa Amelia?
"Heh, permintaan yang nggak masuk akal!" ujar Amelia dengan tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Vitalia.
"Hmmm, kau tau, suster Dina menitipkan aku sebuah secarik kertas yang berisikan tentang permintaan maaf Nenek dan keinginan Nenek yang belum tercapai, salah satunya adalah kau harus menikah dengan Arnold."
"Tidak kak, aku tidak mau menikah dengan Arnold! Hiks hiks.. sampai kapanpun aku tak mau menikahi seorang pengkhianat seperti dia!" seru Amelia sambil menunjuk ke arah Arnold.
"Cukup kak, aku tak butuh surat itu!" seru Amelia, kemudian pergi dengan begitu saja meninggalkan Vitalia dan semua orang yang sedang menunggu jenazah di ruang tunggu pasien.
"Maafkan aku, Dad. Aku terpaksa lebih keras kepada Amelia, karena ini semua demi kebaikannya," ucap Vitalia meminta maaf pada sang Daddy.
Vitalia pun kemudian mengarahkan pandangan ke arah Arnold.
"Dan untukmu Ar, aku percayakan Amelia kepadamu, jaga dia baik-baik. Terima kasih sudah membantuku untuk mencari ayah dari kedua buah hatiku," ucap Vitalia dingin.
"Kau tidak perlu berterimakasih kepadaku, kakak ipar," jawab Arnold seadanya.
"Kakak ipar?" tanya Vitalia pada Arnold dengan tatapan heran.
"Bukankah kau setuju dengan perjodohan ini? Kalau memang kau setuju, kau tak perlu terkejut jika aku memanggilmu dengan sebutan kakak ipar,"
"Kau benar Ar, tapi satu yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah, kenapa Nenek bisa menjodohkanmu dengan Amelia? Ada hubungan apa dirimu dengan Nenek Elisabeth?"
__ADS_1
"Sebenarnya bukan aku yang ada hubungannya, tapi, aku rasa belum waktunya saja kau mengetahui alasannya, kakak ipar, tapi yang jelas ini ada kaitannya dengan Kakekku,"
"Kakekmu?"
"Hmm, kakekku. Kau akan tau semua nya setelah Amelia menikah denganku, karena kakekku akan kubawa ke Jepang hidup bersama denganku dan juga Amelia,"
"Hmm, baiklah. Kalau begitu aku akan berusaha membujuk Amelia agar mau menikah denganmu, tapi dengan satu syarat,"
"Syarat?
"Hmmm,
"Bantu aku mencari seseorang untuk melatihku karate,"
"Vitalia.." ucap semua orang yang berada di situ dengan nada keterkejutannya.
"Sekuat dan sehebat apapun musuh, jika melawan aku atau suamiku, mereka tidak akan bisa menang dengan begitu saja," ucap Vitalia kemudian pergi dengan begitu saja meninggalkan semua orang yang berada di situ dengan tatapan mata tak percaya mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Vitalia.
"Maafkan anak-anakku, Ar. Mereka memang seperti itu,"
"Tidak apa-apa Dad, aku..." belum sampai Arnold menyelesaikan ucapannya. seorang perawat datang memberitahu mereka bahwa kepulangan jenazah dari Nenek Elisabeth sudah selesai diurus.
"Maaf Tuan-tuan... saya ingin menyampaikan bahwa kepulangan jenazah Nyonya Elisabeth sudah selesai diurus oleh Tuan Erick,"
"Erick.." ucap semua orang yang berada di situ dengan nada keterkejutannya.
Sementara Chan Hirata terlihat mengepalkan tangannya geram mendengar info tersebut.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Erick mendekati Vitalia, aku yakin ini semua sebuah jebakan dari pria brengsek itu!" batin Chan Hirata, kakak dari si kembar Amelia dan Vitalia.
Sedangkan Arnold tersadar bahwa Chan Hirata kini sedang mengepalkan tangannya geram.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Erick? Sepertinya aku harus cari tau, aku tidak ingin mengecewakan pesan Nenek dan Kakek," ucap Arnold berbicara dalam hati.
***
Vitalia POV :
__ADS_1
Saat kau tidak di sampingku aku merasa sepi, aku tak tau harus berbuat apa setelah ini. Apakah aku mampu melihat kedua anakku tumbuh besar tanpa adanya seorang Daddy?
Bersambung...