Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 135


__ADS_3

Mama Renita Kritis


Saat Mereka berdua sedang asyik berpelukan, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang ke ruangan Vitalia dengan menggebrak-gebrak pintu ruangan tersebut.


Brakk... brakk.. brakk...


"Vitalia, buka pintunya ...." teriak seseorang tersebut dari luar.


Seketika saja sepasang Suami Istri tersebut tersentak kaget dengan mengarahkan pandangan ke arah pintu lalu segera melepaskan pelukannya. Tanpa menunggu lama Vitalia pun segera melangkahkan kakinya untuk membukakan pintunya karena ia sudah menguncinya dari dalam.


Klekk...


Vitalia membuka kenop pintunya, dan dilihatnya ternyata dokter Bella yang datang dengan ngos-ngosan.


"Bella? Ada apa? kenapa dengan kau??


"Hosh... hoshh.. hosh..., Astaga Liq, gawaaat!" seru dokter Bella memberi tau dengan nafas tersengal-sengal.


"Gawat kenapa sih, La??" tanya Vitalia pada Sahabatnya tersebut.


"Huhh..., Mama mu Li, Mamamu.." ucap dokter Bella bingung menjelaskannya.


"Mama?? Mama kenapa La, kalau ngomong yang jelas!" balas Vitalia meminta Bella agar berbicara yang jelas.


"Mamamu kritis, tadi dokter Rico sempet bilang katanya..." belum sampai dokter Bella menyelesaikan ucapannya, Vitalia justru malah melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dokter Bella sendirian, diikuti dengan Chandra yang berjalan di belakang sang Istri.


Dengan berjalan secepat mungkin Vitalia menyusuri lorong rumah sakit dengan diikuti sang Suami yang berjalan cepat di belakangnya. Bahkan ketika para tenaga medis banyak yang menyapanya pun tak dihiraukannya.


"Mama, ku mohon bertahanlah, Ma! Please!" ucap Vitalia sambil berjalan cepat dengan berlinangkan air mata yang jatuh membasahi pipi. Ia tak peduli banyak orang memandangnya dengan pandangan aneh.


Sementara Chandra kini masih berusaha mengejar sang Istri yang sudah agak menjauh.


"Honey, tunggu Aku ... !!" lantang Chandra berteriak memanggil sang Istri yang berjalan semakin menjauh. Namun teriakan dari sang Suami tidak membuatnya menghentikan langkahnya, tapi malah mempercepat jalannya.


Tak berselang lama akhirnya Vitalia pun sampai ruang NICU, dilihatnya Keluarga Hirata dan juga keluarga Zhu yang sedang berkumpul di depan pintu ruang NICU. Sementara Amelia yang melihat kedatangan Vitalia pun lalu menghampirinya dengan berkata, "Vitalia, cepat tolong Mama! Mama kritis, Vit! hiks ... hiks ... hiks ..." ucapnya sambil menangis sesenggukan.


"Nak, tolong Mamamu, ku mohon." ucap Tuan Hirata menimpalinya, sambil menangkupkan kedua telapak tangannya seraya memohon pada Vitalia. Sayangnya ucapan dari Amelia dan juga Tuan Hirata diabaikan oleh Vitalia yang justru melangkahkan kakinya m masuk ke dalam ruang NICU.


Sesampainya ia di dalam ruang NICU, Vitalia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke brankar tempat Mama Renita terbaring lemah tak berdaya.


Vitalia pun lalu mengambil stetoskop yang digantung di tempat infus pasien untuk memeriksa Mama Renita. Dengan telaten Vitalia memeriksa denyut jantung pasien.


"Yaa Tuhan, detak jantung Mama berdetak tak beraturan,"


"Oca, cepat panggil dokter Rico, katakan kepadanya jika kita perlu melakukan EKG!"


"Ok Li ..."


"Dokter Rara, cepat bantu Aku untuk memasang alat EKG sekarang juga!"


"Baik dok ..."


"Mama ku mohon, bertahanlah.., please Ma demi Aku," ucap Vitalia dengan raut muka yang tampak gusar sambil memasang alat EKG dengan di bantu dua orang perawat.


"Sus, suntikkan obat penurun panas, ya!" titah Vitalia pada seorang Suster yang mendampinginya.


"Baik dok .."


"Bella, cepat bantu Aku untuk mengambil ramuan yang ada di lab!" titah Vitalia pada Bella dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"Tapi Vitalia, ramuan yang kau berikan malah berefek samping,"


"Sudah cepat turuti perintahku, bilang sama Mbak Mirna dan Amelia agar membantu kita, karena kita butuh waktu yang lumayan lama,"


"Isshhh ..., ok .. ok.. Aku segera ke sana untuk menyuruh Mereka .." balas Bella.


"Dokter Lia, nampaknya detak jantung pasien sudah mulai normal kembali," ucap salah seorang the man sejawat dari Vitalia menimpalinya.


"Huh..., syukurlah kalau begitu, pantau terus perkembangan Pasien ya dok..., Aku akan membuatkan ramuan terbaru untuknya terlebih dahulu," ucap Vitalia bernapas lega, setelah tadi membuat dirinya khawatir.


"Baik dok!"


Tanpa mengulur waktu Vitalia pun segera melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan tersebut menuju ke ruang laboratorium untuk meracik ramuan khusus untuk Mama Renita. Sementara di sisi lain dokter Bella sedang melaksanakan perintah Vitalia untuk memberitahu dokter Mirna Feriska dan Amelia agar ke ruang laboratorium secepatnya.


"Dokter Bella, sebenarnya ada apa kau menyuruh kami untuk ke ruang laboratorium?" tanya Amelia pada dokter Bella.


"Iya, sebenarnya ada apa dok??" tanya Mirna Feriska menimpali.


"Sudahlah kalian jangan banyak bertanya, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," balas dokter Bella dengan terus berjalan cepat dengan diikuti Amelia dan Mirna di belakangnya.


Sesampainya di ruang laboratorium, Mereka pun segera menuju ke sebuah ruangan khusus untuk meramu obat-obatan. Dokter Bella lalu membuka pintu ruangan tersebut,


Ceklek...


Seketika saja Vitalia mengarahkan pandangan menatap kedatangan mereka bertiga.


"Kalian, cepat bantu Aku .. !!" titah Vitalia pada Amelia, Mirna dan Bella.


"Tunggu Li, apakah kau yakin ingin membuat ramuan lagi?? ramuan yang kau berikan tadi saja berefek samping seperti itu, Li," celetuk Bella. Belum sampai Vitalia menjawabnya, Amelia justru terlebih dahulu menyahutnya dengan berkata, "Apaaa???" tanya Amelia dengan mengerutkan keningnya bingung.


"Berefek samping?? maksudmu apa dokter Bella?" sambung Amelia lagi bertanya pada dokter Bella dengan tatapan mengintrogasi.


"Haa, Astagaaa... !!" ucap Amelia dengan memelototkan matanya lebar-lebar dengan nada keterkejutannya.


Amelia pun lalu beralih mengarahkan pandangan dengan menatap Vitalia, "Vitalia, apa yang kau lakukan, ha?" tanyanya dengan nada tersulut emosi.


"Mel, please ..., dengarkan penjelasanku dulu!" ucap Vitalia sambil menangkupkan kedua tangannya seraya memohon.


Bukannya merespon Vitalia dengan baik, tapi Amelia malah semakin geram dengan Vitalia yang sudah membuat Mama Renita kritis, pikirnya.


"Dengarkan apalagi sih, Vit! Jelas-jelas kau membuat Mama kritis, kau jahat Vitalia kau jahat! Kau benar-benar tega Vitalia! Hiks ... hiks ... hiks ..." ucap Amelia sambil menangis sesenggukan.


"Astaga, bukan begitu Mel, tapi tadi salah satu tenaga medis salah mengambil ramuan," sahut Vitalia berusaha menjelaskan. Namun siapa sangka, Amelia justru tak percaya dengan omongan Vitalia.


"Alah, sudah jangan banyak alasan! Bilang saja kau mau membalaskan dendam mu pada Mama karena Sherlyn!" seru Amelia tak mau kalah.


Plaaakkkk...


Tamparan keras dilayangkan Vitalia di pipi mulus milik Amelia.


"Cukup Mel! Berhenti menuduhku atau kau pergi dari sini sekarang juga!" usir Vitalia pada Amelia dengan sorot mata tajamnya.


"Ok, kalau itu maumu, Aku akan pergi dari sini! Ingat Vita, Aku akan memberitahu Daddy soal ini!" balas Amelia dengan penuh penekanan, tanpa ada perlawanan dari Vitalia, dan ia pun lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut. Namun saat Amelia baru sampai di ambang pintu, Mirna pun menghentikan langkah Amelia.


"Berhenti, Mel! Jangan pergi dari sini!" seru Mirna sambil mencekal tangan Amelia agar tidak pergi dari ruangan tersebut. Sementara Vitalia hanya diam tak mempedulikan Amelia.


"Mel, please dengarkan ucapanku! jangan mementingkan egomu, ingat nyawa Mamamu sedang menjadi taruhannya!" ucap Mirna Feriska memberi peringatan Kerala Amelia.


"Tapi Mbak ..." ucapan Amelia terhenti seketika karena dipotong oleh Mirna Feriska yang berkata, "Tak ada tapi-tapian, Mel! Ini demi Mamamu, kau tau itu!" tegasnya.

__ADS_1


"Hmmmm, baiklah Aku akan membantu kalian," balas Amelia pasrah.


"Bagusss, sekarang kalian minta maaf!" Titah Mirna Feriska pada Vitalia dan Amelia. Seketika itu pula, keduanya pun menuruti perintah Mirna untuk saling memaafkan. Vitalia dan Amelia lalu berjabat tangan dengan tatapan dingin.


"Kau tenang saja Mel, kali ini Aku tidak akan salah lagi, ramuan ini adalah ramuan langka yang ku buat dengan menggunakan bunga yang hanya ada di pegunungan," ucap Vitalia dingin lalu melepaskan jabatan tangan tersebut dengan Amelia.


"Hmm, baiklah..., kalau begitu ayo kita mulai membuat," balas Amelia. Tanpa menunggu lama mereka pun segera membuat ramuan tersebut dengan penuh ketelitian.


...****************...


Setelah sekian jam berlalu, kini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu Australia. Vitalia, Amelia, Mirna, dan dokter Bella telah menyelesaikan misinya untuk membuat ramuan yang telah memakan banyak waktu. Dan kini tiba waktunya untuk menyuntikkan ramuan itu pada Mama Renita.


Saat Mereka berempat melangkahkan kakinya menuju ruang NICU, tiba-tiba saja Vitalia menghentikan langkahnya yang membuat Mirna, Amelia dan juga Bella yang berjalan di belakang Vitalia mengerutkan keningnya bingung.


"Vit, kenapa berhenti sih?" tanya Amelia heran. Seketika itu pula Vitalia pun menoleh ke belakang lalu berkata, "Mel, ku serahkan tugas ini kepadamu, berikan suntikan ramuan ini pada Mama!" titah Vitalia pada Amelia, sambil menyodorkan sebuah alat suntik pada Amelia.


"Apa kau yakin, Vit??" tanya Amelia mencoba meyakinkan Vitalia.


"Hmmm, Aku menyerahkan semuanya kepadamu, Mel! Masih ingat bukan jika kau ingin menjadi dokter hebat sepertiku??" ucap Vitalia malah berbalik tanya.


"Kau benar Vit, tapi seharusnya kaulah yang memberikannya!" jawab Amelia mencoba menolak permintaan Vitalia.


"Amelia, please kali ini saja turuti perintahku! Aku hanya ingin membuktikan kepadamu jika ramuan ini benar-benar manjur untuk kesembuhan Mama,"


"Vitalia, itu tak perlu kau buktikan lagi! Bahkan kita telah membuat nya bersama bukan?" tanya Amelia masih berusaha meyakinkan Vitalia.


"Hmm, kau benar Mel.., tapi Aku ..." ucapan Vitalia terhenti seketika karena kepala Vitalia mendadak pusing.


Awwsshh...


rintih Vitalia kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Vitaliaaa..., kau kenapa??" tanya Amelia, Mirna dan Bella secara bersamaan. Namun sayangnya Vitalia mengabaikannya dengan berkata, "Mel, ku mohon jangan hiraukan Aku, cepat berikan ramuan itu pada Mama!" titah Vitalia pada Amelia.


"Tapi Vit, kau ..." ucap Amelia belum juga yakin dengan keputusan Vitalia.


"Mel, benar apa kata Vitalia, cepat turuti saja perintah Vitalia!" ucap dokter Bella menimpali.


"Ok kalau begitu ..., Aku segera ke sana!" balas Amelia menuruti perintah dokter Bella.


"Mbak cepat bawa Aku ke mobil! Aku ingin pulang!" pinta Vitalia pada Mirna.


"Tapi Vit, sepertinya kondisimu tak memungkinkan," sahut Mirna.


"Hubungi Mas Chandra, Mbak ..., please..!!" ucap Vitalia dengan muka pucatnya dan suara melemah.


"Baiklah kalau itu maumu, Aku akan menghubungi Chandra," jawab Mirna dengan terpaksa menuruti perintah dari Vitalia.


"Lebih baik kau duduk dulu di kursi sebelah sana Vit, biar Mbak Mirna yang menghubungi Suamimu!" titah dokter Bella, menimpali.


...****************...


Bagaimana seru kan....


Hmmmm jangan lupa tinggalkan Vote, Like, Favorite, dan Komen yaaaa.... Terima kasih... 🥰🥰🙏🙏


Oh ya... sebelum lanjut di episode berikutnya, yuk mampir ke novel temen Author yang kece badai... karya dari kak RiJE di jamin seruuuuu!!!


Berikut Cuplikannya :

__ADS_1



__ADS_2