
Belum Tua Sudah Pikun
Sedangkan Vitalia dan juga Chandra, kini sudah sampai di sebuah ruangan. Dimana lagi kalau bukan ruangan Vitalia. 'Ya, Chandra sendiri memilih membawa sang Istri pergi ke ruang periksanya, daripada membawanya ke ruangan kebesarannya, Karena baginya ruangan sang Istri jauh lebih nyaman dan tenang dibanding ruangan direktur miliknya.
Sesampainya di ruangan tersebut, Vitalia dengan cepat segera menutup pintunya rapat-rapat, sampai-sampai Chandra yang melihat gelagat dari sang Istri pun mengernyit heran dengan sikap sang Istri yang tak seperti biasanya.
Braaakkk...
Vitalia menutup pintunya dengan keras lalu menguncinya dengan rapat-rapat.
"Honey, kenapa kau tiba-tiba..." belum sampai Chandra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sang Istri memeluknya dengan begitu saja.
Greeepppp...
"Hiks... hiks.. Bee..." ucap Vitalia sambil menangis sesenggukan memeluk Chandra.
Betapa terkejutnya Chandra ketika Vitalia dengan tiba-tiba memeluknya sambil menangis sesenggukan.
Tanpa berpikir panjang, Chandra pun lalu menerima pelukan sang Istri dengan senang hati, walaupun ia sendiri bingung dengan sikap sang Istri. Chandra pun lalu memberanikan diri untuk bertanya pada sang Istri.
"Honey, kenapa kau menangis, hmmm??" tanya Chandra pada sang Istri sambil memeluknya.
"Mas ..., hiks ... hiks ... Ak .. Aku ..., tak tega melihat Mama terbaring lemah tak berdaya, Mas!Hiks ... hiks ..., ini semua salahku Mas ... ini semua salahku ...!!" ucap Vitalia dengan manangis histeris.
"Hey..., come on Honey..., kau kenapa sih, ha? Bukankah Honey sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Mama Renita? Lalu apa yang membuatmu menangis?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Chandra sambil melepas pelukan dari sang Istri dan beralih menatap sang Istri yang menunduk lemah dengan memegang kedua pundak Istrinya.
"Honey, please, tatap mataku! Lihatlah ke depan, Honey. Jangan menunduk...!" perintah Chandra pada Vitalia agar memandangnya. Seketika saja Vitalia pun menuruti perintah dari Chandra. Ia pun lalu mendongakkan kepala menatap sang Suami yang berbicara tepat di depannya.
Greeepppp...
__ADS_1
Seketika itu pula Vitalia kembali memeluk Chandra.
"Hiks... hiks.. Mas, benar apa kata Mas tadi, tapi Vitalia sedih Mas, karena Mama Renita hingga saat ini masih belum sadarkan diri, Aku takut jika terjadi sesuatu sama Mama, Mas! Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Vitalia sambil menangis sesenggukan.
"Sayang.. dengarkan Aku, jangan berpikir yang tidak-tidak mengenai kondisi Mama Renita, apalagi kau adalah seorang dokter, jadi kau tidak boleh berkata seperti itu, karena apa? karena jika Honey berkata seperti itu, sama halnya dengan Honey mendoakan yang buruk buat Mama Renita, dan selain itu Honey juga sudah tak percaya lagi dengan profesi Honey," ucap Chandra berusaha memberi pengertian kepada Vitalia.
Namun Vitalia yang sedang berputus asa pun lalu menyahutnya dengan berkata, "Tapi Mas, bagaimana jika terjadi sesuatu sama Mama? Dan jika sesuatu itu benar-benar terjadi pada Mama, Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri!" serunya dengan nada penuh penekanan.
Chandra yang melihat sang Istri tampak rapuh pun segera menarik kembali Istrinya ke dalam pelukannya.
"Sssssttt... Sayang, jangan pernah berkata seperti itu, Mama Renita melakukan semua itu karena dia begitu menyayangimu. Makanya dia rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi menyelamatkan Putrinya, meskipun Honey bukanlah Putri kandung Mama Renita, tapi baginya Kau sudah dianggap seperti Putrinya sendiri," ucap Chandra panjang lebar berusaha memberi pengertian lagi kepada sang Istri.
Sementara Vitalia pun mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan oleh sang Suami, lalu berkata, "Iya Mas, Aku tau itu!" ucapnya.
"Namun entah mengapa Aku kenapa bersalah Mas, seharusnya yang terkena tembakan itu Aku, bukan Mama! Hiks... hiks... " sambungnya lantang sambil menangis sesenggukan, dengan memukul-mukul dada bidang milik Chandra yang berbalutkan kemeja, berusaha melepas pelukan sang Suami, tapi sayangnya kekuatannya kalah kuat dibanding dengan Chandra.
Sayangnya ucapan dari Chandra tak digubris oleh Vitalia yang justru malah melepas pelukannya, dan berjalan menuju ke arah sofa untuk duduk. Seketika itu pula Vitalia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Aku tak menyangka jika Mama Renita akan menyelamatkanku dari insiden itu. Maka dari itu Aku berjanji, setelah ini akan membahagiakan Mama, Mas! Aku juga tidak ingin membuatnya kecewa ..." ucap Vitalia sambil menghapus air matanya yang sudah berjatuhan membasahi pipi.
"Hmmm, keputusan yang sangat bagus Istriku, Kau Harus bisa membahagiakan Mama Renita, dan itu berarti Kau Harus membalas budinya dengan menyadarkan Putrinya!" pinta Chandra pada sang Istri.
Seketika itu pula Vitalia yang mendengarkan penuturan sang Suami pun berdiri dari tempat duduknya dengan mengernyit bingung.
"Maksud Mas, apa??" tanya Vitalia menatap Chandra bingung dengan apa yang dimaksud oleh sang Suami.
"Maksud Mas, Kau Harus bisa merubah sifat Sherlyn yang sangatlah licik dan jahat menjadi seseorang yang baik dan pemberani, seperti halnya Kau merubah sifat Mama Renita yang tadinya jahat menjadi baik, dan juga Amelia yang tadinya lemah, sekarang menjadi lebih berani dalam menghadapi berbagai masalah semenjak mengenalmu," jelas Chandra panjang lebar.
"Tapi tak semudah itu Mas! Bahkan Mas tau sendiri bukan jika Sherlyn itu licik dan juga ikut andil dalam penghancuran perusahaan Kita?"
"Kau benar Sayang,"
__ADS_1
"Hmmm, perlu Mas ketahui jika dia juga senang bergonta-ganti pasangan, bahkan dia juga suka bermain dengan Arnold akhir-akhir ini, padahal Mas tau sendiri bukan jika Sherlyn dulu benci banget sama Arnold karena dia iri dengan Amelia,"
"Iya Sayang, Mas tau itu.., dan Sherlyn adalah Wanita menjijikkan yang pernah Aku temui selama ini," Imbuh Chandra.
"Dan Mas tau tidak lebih parahnya lagi ternyata Arnold adalah kekasih dari Kak Risa.."
"Apaaa? Risa? Risa siapa maksudmu?"
"Ya Tuhaann ampunilah Akuuu," ucap Vitalia sambil menepuk jidatnya. Ia pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Astagaaa, Mas ini bagaimana, sih! masa' Mas lupa sama Risa Putrinya Tuan Long Ai, yang juga Ayah tiri Amelia!" sambungnya dengan nada meninggi.
"Haaa, apaaa?? Astaganaga Honey, maafkan Aku, karena Mas sudah melupakannya... hehehe.. pisss..." ucap Chandra dengan menjulurkan kedua jarinya membentuk angka dua, sambil nyengir kuda seperti orang yang tak bersalah. Sementara Vitalia yang melihat tingkah laku dari sang Suami pun memutar bola matanya jengah dan menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya heran,lalu berkata,
"Ya Tuhaann, punya Suami Mafia tapi kok pelupa sih ya, eh... belum tua, sudah pikun ..." gumamnya pelan masih terdengar di telinga Chandra.
"Apa Kau bilang??" sahut Chandra bertanya.
"Tidak..., tidak ada... !! ucap Vitalia sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Mas mungkin salah dengar kali." imbuhnya sambil menahan tawa yang hampir saja meledak karena melihat muka Chandra yang kini berubah menjadi seperti kepiting rebus.
...****************...
...----------------...
Mohon maaf jika Author telat update, karena Author sedang jenuh 🙃 ahh entahlah.....
Gimanakah kisah selanjutnya??
Jangan lupa tinggalkan jejak Vote, Like, Komen Dan Favorite Yaaaa.... Terima kasih.... 🥰🥰🙏🙏
Sehat selalu buat kalian semua.... 😘🥰🥰
__ADS_1