Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 206


__ADS_3

Dia Masih Hidup dan Aku Tak Akan Pernah Melupakannya.


Di lain tempat, tampak Vitalia sedang membersihkan berkas-berkasnya yang berceceran di atas meja kerjanya, setelah itu dia bergegas keluar ruangan menuju ke sebuah cafe terdekat untuk menemui seseorang.


"Untuk apa kau memintaku ke sini?" tanya Vitalia menatap Erick dengan tatapan penuh selidik.


"Vitalia, bukankah kau sudah berjanji padaku, jika kamu akan menjawab pertanyaanku padamu dikemudian hari?"


Deg...


Sontak saja pertanyaan dari Erick membuat Vitalia membulatkan matanya sempurna. Dia tak percaya ternyata Erick masih saja mengingatnya sampai detik ini.


"Pertanyaan yang mana?" Vitalia berpura-pura lupa.


"Jangan pura-pura tak mengingatnya, Vit! Please, kumohon, ini semua demi anak-anakmu!" ucap Erick yang kali ini sambil memegang tangan Vitalia.


Seketika saja tangan Vitalia menghindar, tak mau dipegang oleh Erick.


"Tak usah pegang-pegang! Bukankah sudah ku jelaskan kepadamu, kalau statusku dengan Chandra itu masih sah suami-istri? Jika kau mengetahui itu, kenapa kau sangat berambisi memilikiku? sedangkan aku saja sama sekali tak mempunyai perasaan sedikit pun denganmu!"


"Tapi Vitalia, aku mencintaimu. Ini demi anak-anakmu, Vitalia! Lagi pula sampai kapan kau akan terus seperti ini? Chandra itu sudah mati, Vitalia!"


Deg...


Mendengar pernyataan Erick, seketika saja Vitalia mengepalkan tangannya geram, dan-


Plaak...


Tamparan keras dilayangkan oleh Vitalia, melayang tepat di rahang tegas milik Erick.


"Tutup mulutmu, Erick!"


Sontak saja mata Erick membulat sempurna sambil memegangi pipinya ketika mengetahui Vitalia menamparnya.


"Vitalia, kau!"


"Kau apa, Erick? Asal kau tau, Chandraku tak akan pernah mati! Dia masih hidup dan aku tak akan melupakannya. Ingat itu!" ujar Vitalia dengan nada penuh penekanan, kemudian beranjak pergi dari cafe meninggalkan Erick seorang diri.


"Vitalia, tunggu!"


Sayangnya teriakan dari Erick diabaikan oleh Vitalia yang tetap melangkahkan kakinya pergi meninggalkannya.


"Arrrghhh, sialan, brengsek!" umpat Erick sambil mengacak-acak rambutnya menyesali perlakuannya terhadap Vitalia.


"Benar-benar susah sekali mendekatinya! Aku harus memakai cara lain agar dia mau menikah denganku." sambung Erick yang kali ini berbicara dalam hati.


***


Di sisi lain, Chandra tampak berada di pinggiran sungai sedang memikirkan bagaimana cara agar kembali menemui istrinya yang sudah satu tahun ia tinggalkan seorang diri.

__ADS_1


"Aku tau kamu pasti sedang menungguku, istriku. Tapi aku bingung harus bagaimana?"


"Anak muda, apa yang sedang kau pikirkan? Aku tau kau pasti memikirkan nasibmu selama satu tahun ini bukan?"


"Nek, apakah aku harus seperti ini? Bahkan kau sudah mengetahui jati diriku, kenapa kau tak memperbolehkan aku untuk meninggalkannya, Nek?"


"Karena kau millrip dengan suaminya, Nak. Kalau kau memang ingin pergi dari sini, pergilah! Aku akan mengatakan pada Ratih kalau kau pergi ke kota untuk bekerja."


"Apa kau serius, Nek?"


"Saya serius. Lagi pula hanya dengan alasan itulah Ratih akan mengizinkanmu pergi. Itupun kau juga tak harus berpamitan dengannya. Berbeda jika kau berpamitan dengannya, dia pasti tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi. Apalagi setelah kejadian kau hanyut di sungai."


"Lalu, apakah aku boleh pergi dari sini sekarang juga, Nek? Aku mempunyai anak istri yang harus aku temui, Nek. Aku merindukan mereka!"


"Boleh. Dengan satu syarat!"


"Apa itu?!"


"Apa, Nek?"


"Kau harus kembali lagi ke sini, selama Revan belum diketemukan."


"What?! Bagaimana mungkin?!"


"Kalau kau tak mau dengan perjanjian ini, kau tidak boleh pergi, tapi jika kau menerima perjanjian dariku, maka pergilah sekarang juga!"


Tanpa berpikir panjang, Chandra kemudian beranjak pergi meninggalkan Nenek Daren dengan penuh semangat. Dia bahkan lupa dengan resiko yang akan dirinya tanggung.


Nenek Daren yang melihat semua itu pun, tersenyum senang. Namun, dia juga merasa sedih, karena pemuda yang menemani cucunya selama ini adalah orang lain.


Nenek Daren kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah tua miliknya.


"Ratih!" seru Nenek Daren memanggil sang cucu.


Ratih yang merasa terpanggil pun segera bergegas keluar dari dapur.


"Nenek, ada apa sih? Kok teriak-teriak?"


"Ratih, maafkan Nenek."


"Loh, kok minta maaf sih? Nenek kenapa?"


"Ratih, dengan berat hati Nenek harus memberitahumu, bahwa suamimu pergi dari sini."


Betapa terkejutnya Ratih yang mendengar pernyataan dari sang Nenek.


"Apa?!"


"Nenek, kenapa Nenek tak bercerita kepadaku? Lalu kenapa Mas Revan tak bilang padaku jika-"

__ADS_1


"Maafkanlah dia, Ratih. Suamimu juga butuh pekerjaan, dia juga harus bekerja. Kau tau, kalau dia lama-lama di sini, bagaimana dengan anak bayimu? Apa kau sama sekali tak memikirkan kebutuhan bayimu?"


"Nek, tapi bagaimana jika Mas Revan kenapa-kenapa? Nenek tau kan, di luar sana banyak orang yang sedang mengincar kita?"


"Iya, Nenek tau itu. Tenanglah! Suamimu sudah cukup kuat untuk menghadapi semua itu. Yakinlah pada Nenek, dia tidak akan kenapa-kenapa."


Sayangnya penuturan dari sang Nenek hanya membuat Ratih terdiam dan merasa cemas.


"Apakah yang ku takutkan akan terjadi? Yaa Tuhan, ku mohon, berikan kebahagiaan kepadaku dan buah hatiku."


Di lain tempat, tepatnya di rumah sakit Cahaya, tampak Vitalia sudah berangkat melaksanakan tugas ke luar kota, tepatnya di sebuah pedesaan yang jauh dari keramaian.


"Vitalia, apa kau sudah menyiapkan berbagai macam obat-obatan yang sudah kau racik?"


"Sudah, Mel. Kau tak perlu khawatir! Lagi pula kita juga tidak hanya berdua saja. Masih ada teman sejawat lainnya di mobil yang lain."


"Hmm, baiklah. Vitalia, aku hanya ingin memberitahu sesuatu kepadamu, berhati-hatilah pada Erick. Dia sangat berbahaya bagimu!"


"Heh, berbahaya? Aku bahkan tak takut dengannya. Kau tenang saja, Mel. Aku akan baik-baik saja. Dia tak akan berani menggangguku lagi."


"Lagi pula dia tadi juga menemui ku tapi tak semudah itu aku terbujuk oleh rayuannya." ujarnya dingin, kemudian menancapkan gasnya dengan menambah kecepatan mobil yang dia tumpangi. Bahkan, hingga membuat Melihat tersentak kaget karena perilaku sahabatnya.


"Vitalia! Apa yang kau lakukan, ha?! Pelankan mobilnya!"


"Tenanglah, Mel. Kau cukup pegangan, dan kencangkan sabuk pengamanmu!"


Vitalia semakin menambah kecepatannya,mengingat dirinya sudah tertinggal jauh dengan rombongan tenaga medis lainnya.


Di sisi lain, kini Chandra sudah berada di pinggiran jalan yang membelah hutan belantara, untuk mencari tumpangan.


"Yaa Tuhan, ku harap Istri dan anak-anakku baik-baik saja. Aku harus segera pulang sampai rumah sebelum matahari tenggelam."


Dengan penuh keyakinan, Chandra kemudian berjalan kaki menyusuri jalanan yang membelah hutan sambil mencari sebuah tumpangan untuk ke kota.


Bahkan, dia sudah tidak mempunyai ponsel, setelah insiden kecelakaan mobil itu.


Dengan nafas yang terengah-engah, Chandra tampak kelelahan, tetesan keringat pun membasahi tubuhnya. Dirinya bahkan tak kunjung mendapatkan tumpangan dari berbagai kendaraan yang lewat di depannya.


Di saat yang bersamaan, Vitalia mengendarai mobilnya masih dengan kecepatan tinggi.


"Vitalia, tolong turunkan kecepatannya! Please,Vit! Kita juga sebentar lagi mau sampai! Apa kau ingin mati ha?!"


"Kalau iya memangnya kenapa?"


"Vitalia!"


Saat Vitalia akan melewati sebuah tikungan ke bawah, dia dikejutkan dengan seorang pria yang berjalan di tengah jalan, dan


Ciit!

__ADS_1


"Awaas!"


__ADS_2