
Ketidakpercayaan Vitalia
Sementara Chandra pun akhirnya memilih menyusul sang istri yang berjalan keluar untuk mengejarnya.
Mama Renita yang dari tadi hanya diam menyimak sambil mengelus dada, kini akhirnya membuka suaranya dengan berkata, "Kalian itu keterlaluan ya! Sudah tau baru datang, sudah pada main ribut. Sekarang lihatlah, Vitalia tiba-tiba pergi dengan begitu saja. Puas kalian sudah menyakiti hati putriku? Kalau kalian ingin mengungkap sebuah kebenaran bukan begitu caranya! Datang-datang kok sudah bikin nangis orang!" Omel Mama Renita pada Amelia dan Chan Hirata.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang melihat keributan diantara mereka.
Sedangkan Amelia hanya terdiam membisu ketika mama Renita memarahinya. Berbeda dengan Chan Hirata yang tersenyum sinis, lalu menyahutnya dengan berkata, "Heh, air mata buaya! Jika benar wanita itu adalah adik kandungku, maka yang patut disalahkan adalah kau Renita! Karena kau lah dalang di balik hilangnya adikku!" ujarnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah mama Renita dengan tatapan mata tajamnya.
"Cukup kak! Jangan..." belum selesai Amelia menyelesaikan ucapannya, mama Renita pun menyerobotnya dengan berkata, "Sudah Amelia, jangan membela mama, karena yang dikatakan kakakmu benar adanya.." ucapnya dengan nada melemah, karena mama Renita menyadari jika dirinya telah bersalah.
"Tapi ma, Amelia sama Daddy sudah memaafkan mama..., walaupun itu menyakitkan bagi kami, bukankah mama juga sudah berjanji, jika kita akan mencarinya bersama-sama?" tanya Amelia memastikan kepada sang mama.
Mama Renita kemudian menjawabnya dengan berkata, "Kau benar, Nak. Tapi mama merasa tak pantas berada di keluarga Hirata.., setelah tes DNA itu keluar hasilnya, maka mama dan Sherlyn akan pergi dari kediaman Hirata..." sambil mendekat ke arah Amelia.
"Tidak akan ada seorang pun yang boleh pergi dari keluarga Hirata!" tegas seseorang yang menyahutnya dari balik pintu.
"Vitalia kau?" ucap semua orang yang berada di dalam kamar hotel tersebut, membelalakka matanya terkejut melihat kedatangan Vitalia. 'Ya, seseorang yang datang dengan tiba-tiba adalah Vitalia yang datang kembali ke kamar hotel dengan diikuti Chandra, karena ingin mengambil barangnya yang ketinggalan.'
"Aku sudah mendengar kalian berbicara, sekarang mama katakan kepadaku, apa maksudmu, ma? Kenapa mama mau meninggalkan keluarga Hirata?" tanya Vitalia dengan menautkan kedua alisnya menatap mama Renita dengan tatapan menyelidik.
Belum sampai mama Renita menjawab pertanyaan dari Vitalia, Chan Hirata pun memotongnya. "Hey wanita pembohong, jangan ikut campur urusan kami!" tegasnya menatap Vitalia dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa katamu? Jangan ikut campur katamu? Aku berhak ikut campur urusanmu, karena tanpa kalian sadari aku sudah menjadi bagian keluarga Hirata!" sahut Vitalia penuh penekanan.
Vitalia pun lalu beralih menatap mama Renita, lalu berkata, "Ma, bisakah mama jujur kepadaku, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah benar yang dikatakan kak Chan tadi?" tanya Vitalia baik-baik dengan mendekat ke arah mama Renita
Mirna justru malah menimpalinya dengan berkata, "Vitalia, jangan memaksa tante untuk mengatakannya Vitalia! Kau tau kan ini sudah malam? Sekarang lebih baik beristirahatlah, besok kau akan melakukan tes DNA, bukan? Jaga kondisi badanmu dan kandunganmu, kau tidak boleh terlalu stress Vitalia!" ujarnya memperingati Vitalia.
Vitalia pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Ok .., baiklah, karena kakak sepupuku yang menyuruh, aku menurut saja. Dan untuk mama, setelah tes DNA, aku mau mama berkata jujur kepadaku..., apa maksud mama menyetujui kata kak Chan, jika mama adalah dalang dari hilangnya saudari Amelia?"
"Tapi Vitalia..., mama sudah meminta maaf, dia sudah mengakui kesalahannya..." serobot Amelia menyela pernyataan Vitalia.
"Cukup Amelia! Aku bilang begini karena aku tidak percaya dengan ucapan kalian! Mama Renita tidak sejahat itu Amelia! Dia tidak mungkin membuang kembaranmu!" tegas Vitalia berbalik melawan Amelia.
Mendengar penuturan Vitalia, Chan Hirata pun tak terima, "Hey, kau! Jangan ikut campur masalah keluarga kami...! Lagi pula jika kau bukan kembaran Amelia lantas kenapa kau begitu getolnya membela Renita itu?"
Belum sampai Vitalia menjawab pertanyaan dari Chan Hirata, Chandra mengepalkan tangannya geram sambil berkata, "Chan Hirata, beraninya kau ... !" ujarnya dengan menatap Chan Hirata dengan sorot mata mematikan.
__ADS_1
"Bee..., sudahlah tak ada gunanya melawan pengecut seperti dia! Sampai kapanpun aku tetap tidak akan pernah percaya jika mama Renita yang membuang kembaran Amelia, dan sampai kapanpun aku juga tidak akan pernah percaya jika aku putri kandung dari keluarga Hirata! Camkan itu!" ujar Vitalia dengan penuh penegasan.
"Ya, Tuhan..., apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar pusing. Apakah aku harus mengatakannya sekarang? Vitalia sudah marah-marah lagi? Sudah kondisinya lagi hamil masih saja ribut... " batin Mirna Feriska yang berada di pojokan.
Vitalia pun lalu berbalik menatap mama Renita yang tertunduk lesu sambil menangis sesenggukan. "Ma, lebih baik mama beristirahat, jangan hiraukan kak Chan dan Amelia..., terima kasih sudah membela Vitalia, maafkan Vitalia jika berkata kasar pada mama.. " ujar Vitalia dingin.
Vitalia pun lalu berbalik menatap Amelia dan Chan Hirata, "Sekarang kalian pergi dari sini, kebetulan aku sudah menyewa apartment sebelah, kalian bisa pakai apartment itu sepuasnya..., dan satu lagi jangan pernah menghubungkan mama Renita dengan hilangnya kembaran mu itu Amelia! Karena mama Renita tak mungkin melakukan itu!" tegas Vitalia dengan tatapan mata yang mematikan.
Amelia hanya diam tak bisa berkata-kata karena ia sudah tak tega melihat mama Renita yang tampak sedih.
Sementara mama Renita sejak tadi hanya bisa menangis sesenggukan karena ia sungguh tak menyangka, Vitalia justru membelanya habis-habisan. Ia pun akhirnya membuka suaranya.
"Sudah Vitalia, jangan membela mama! Mama memang bersalah dalam hal ini, sebelum kau melakukan tes DNA, mama mau bilang pada mu, benar kau adalah saudari kembar Amelia, hiks... hikss..." ungkap mama Renita dengan menangis sesenggukan.
Sementara semua orang yang mendengar penuturan mana Renita terperangah mendengarnya termasuk dengan Vitalia.
"Mama, kenapa mama berkata seperti itu? Bukankah mama tau sendiri jika aku putri dari keluarga Wijaya?" sahut Vitalia bertanya.
"Justru itu Nak, hiks... hiks.. kau di buang ke tempat sampah dekat dengan kediaman keluarga Wijaya, dan mama lah yang menyuruh Matsugi dan Arnold untuk menculikmu, dan satu lagi mama lah yang menyuruh mereka untuk membuangmu, dan mama pastikan jika kau lah yang di adopsi oleh keluarga Wijaya..." jawab mama Renita.
Vitalia yang mendengarkan penuturan dari mama Renita pun terbelalak dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Percayalah sama mama, Nak, itu memang benar adanya! Maafin mama ... hiks... hiks..." balas mama Renita dengan menangis sesenggukan.
Vitalia yang tak bisa menerima kenyataan pun, dengan cepat menggelengkan kepalanya lagi, lalu berkata, "Tidak..., Vitalia tidak akan pernah percaya sebelum ada bukti yang akurat! Aku benci kalian, aku benci! " lantang Vitalia sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Dan untuk mama, kenapa mama membuang bayi tak bersalah itu ma? kenapa?" sambung Vitalia lagi, menghujani banyak pertanyaan pada mama Renita dengan nada meninggi bahkan Vitalia sampai menahan rasa sakitnya di bagian perut.
"Honey tenang kan dirimu.." sahut Chandra berusaha menenangkan sang istri yang terlihat menahan sakit di perutnya. Namun justru Vitalia tak mengindahkan perkataan sang suami.
"Ma, meskipun Vitalia yakin bayi itu bukanlah aku, tapi aku kecewa sama mama, kenapa mama melakukan semua itu? Bagaimana jika bayi itu adalah aku? Apa mama nggak mikirin perasaanku? Hiks... hiks..." sambung Vitalia dengan menangis histeris dihadapan mama Renita.
"Maafin mama sayang... hiks ... hiks..." ujar mama Renita menjawab pertanyaan Vitalia.
Bukannya menjawab pertanyaan Mama Renita, Vitalia justru malah mengambil tasnya, lalu pergi dengan menarik tangan sang suami.
"Aku benci mama! Aku benci kalian semua!" ucap Vitalia lalu pergi meninggalkan semua orang yang berada disitu.
"Vitalia, tunggu, Nak! Kau mau kemana? Maafkan mama, Nak... hiks ... hiks... " ucap mama Renita sambil berlari mengejar Vitalia, namun langkah kakinya kalah cepat dengan Vitalia.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kalian!" seru mama Renita dengan mental Chan Hirata dan Amelia secara bergantian.
"Ma... maafkan kami ma, kami tadi..." belum sampai Amelia menyelesaikan ucapannya mama Renita memotongnya.
"Cukup Mel! Mama mau pergi saja dari sini, karena mama tau mama yang salah.."
"Ayo Sherlyn kita pergi!" ajak mama Renita pada Sherlyn agar pergi dari hotel.
"Tapi ma, bagaimana dengan kak Amel?" sahut Sherlyn bertanya pada sang mama.
"Sudah jangan hiraukan dia! Dia sudah egois, tak mementingkan perasaan kakakmu Vitalia, sudah tau kakakmu Vitalia itu orangnya keras dan berprinsip, tapi ternyata kakakmu Amelia tak mengindahkan perkataan mama!" tegasnya sambil menarik tangan Sherlyn keluar dari kamar hotel.
****
Sementara di luar hotel tampak Vitalia Dan Chandra sedang duduk di taman depan hotel yang mereka sewa untuk menginap.
"Hiks... hiks... itu tidak mungkin! Yaa Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua malah bilang aku bukan anak kandung Papa? Hiks.. hiks..." ujar Vitalia sambil menangis sesenggukan
"Honey..., honey ku mohon kendalikan dirimu, kau tau kan kau sedang hamil?" ucap Chandra mencemaskan sang istri.
"Cukup Bee! Ku mohon pergilah dari sini! Kau bilang aku adalah kembaran Amelia bukan? Itu tidak mungkin Bee..., kenapa kau mengatakan seperti itu? hiks.. hiks..., ya, aku yakin kau pasti mengatakan seperti itu karena terhasut oleh mereka bukan? Iya kan? Hiks... hiks..." ucap Vitalia dengan menangis sesenggukan di hadapan Chandra.
"Honey, cukup! Dengarkan aku!" bentak Chandra pada Vitalia. Seketika saja Vitalia yang merasa dirinya dibentak oleh sang suami pun malah menangis histeris berada di pelukan sang suami.
"Hiks... hiks.... Yaa Tuhan..., kenapa kau bilang seperti itu Mas, kenapa? Hiks... hiks... hiks..." Vitalia menangis histeris sambil memukuli dada bidang Chandra.
"Maafkan aku Honey..., maafkan aku..." ujar Chandra memeluk tubuh sang istri berusaha menenangkannya.
***
^^^Vitalia POV :^^^
^^^Aku benar-benar tak bisa menerima kenyataan, aku tau, ini semua belum cukup bukti, tapi entah mengapa hatiku mengatakan lain dengan apa yang ku ucapkan..., tapi bagaimana mungkin? Sangat mustahil jika aku putri kandung dari keluarga Hirata.^^^
Bersambung....
...****************...
...----------------...
__ADS_1