
Tertembaknya Nyonya Renita
Dooorrrr...
Sebuah tembakan dilontarkan oleh Hans begitu saja mengarah ke arah Vitalia, namun peluru itu ternyata melesat ke arah seseorang yang berusaha melindungi Vitalia.
Seketika itu pula semua orang pun terkejut melihatnya, bahkan Vitalia yang ada tepat di depan orang yang menyelamatkannya pun tak menyangka jika ada seseorang yang sangat ia kenal datang hanya demi melindungi dirinya.
"Mamaaa ... !!" seru Vitalia, Amelia, dan Tuan Hirata secara bersamaan dengan nada keterkejutannya. Begitu pula dengan Mirna dan juga Chandra yang tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Mama tiri Amelia Hirata yang datang menyelamatkan Vitalia.
"Tanteee," ucapnya.
"Sss... sampai kk-kapan pun kk-kau tak ak a-kan pernah bi-bisa mem-membunuh Putrikuu...!!" ucap Mama Renita dengan terbata berusaha menahan tubuh ya agar tidak terjatuh ke lantai, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hans yang hanya diam di tempat karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia bahkan sama sekali tak menyangka bahwa akan ada seseorang lagi yang akan menghalangi aksinya untuk melenyapkan anak dari Chandra Zhu yang berada dalam kandungan Vitalia, pikirnya. Dan...
Bruuuukkkk ....
Seketika itu pula Mama Renita jatuh tersungkur di lantai tepat di depan Vitalia.
"Mamaaaa ... !!" teriak Tuan Hirata dan Amelia berjalan menghampiri sang Mama yang tersungkur di lantai, dengan diikuti yang lainnya. Sementara Vitalia kini berjongkok berusaha menahan tubuh Nyonya Renita, ia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Ma .., kenapa Mama menyelamatkanku, Ma .., kenapa?!" ucap Vitalia sambil meletakkan kepala Nyonya Renita di pangkuannya.
"Nak .., meskipun Mama bb bu-kan Mmm Mama kk-kandungmu, tapi Ma-maa su-sudah menganggapmu se-seperti pu-tri-ku.. sendiri.."
"Ya, tapi bukan berarti harus mengorbankan nyawa Mama seperti ini Ma! hiks hiks..." ucap Vitalia dengan menangis sesenggukan.
"Tidak Nak, Ma-maa akan ber ber-usaha, melindungi pu putri-putriku, dan se-setidaknya kk kau ss sudah bb-berhasil mm meluluhkan hat-hatiku, Nak.., jaga .." ucapan Mama Renita yang terbata pun tiba-tiba terhenti begitu saja karena Mama Renita sudah tak sadarkan diri.
Sontak saja membuat Tuan Hirata, Vitalia, Amelia membelalakkan matanya dan berteriak histeris.
"Mamaaa .... !!" teriak Tuan Hirata, Vitalia dan juga Amelia secara bersamaan.
"Hiks .. hiks .. hiks .., Ma, bangun Ma .., please .... ku mohon .., hiks.. hiks.." ucap Amelia dengan menangis sesenggukan melihat Mama tirinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Mama bangun Maa .." ucap Tuan Hirata.
Dan disaat itu pula Vitalia tak bisa berkata apa-apa selain terdiam mematung di tempat dengan meneteskan air matanya karena melihat Nyonya Renita yang sudah tak sadarkan diri. Ia pun lalu mengecek denyut nadinya.
"Masih ada ..." gumam Vitalia pelan, dengan menangis tertahan.
"Pak, cepat panggil ambulance untuk ke sini!" titah Vitalia berteriak memanggil salah satu petugas keamanan dengan mimik wajah yang tampak panik, marah, sedih, bercampur menjadi satu.
"Baik Nyonya.." ucap salah satu pihak keamanan yang masih stand by di tempat kejadian.
Entah mengapa perasaan Vitalia saat ini begitu hancur. Meskipun Nyonya Renita bukan Mama kandungnya, namun ia sudah menganggapnya seperti Mamanya sendiri. Bahkan semenjak ia menjadi Amelia, Mama Tiri Amelia selalu memperlakukan baik terhadapnya. Ia tak bisa melupakan kebaikan dari Nyonya Renita dengan begitu saja.
Vitalia pun lalu mendongakkan kepalanya menatap Hans dengan tatapan mata membunuh dan mengepalkan tangannya geram. Ia pun lalu bangun dan berkata, "Kurang ajar kau Hans ... !!" ucap Vitalia penuh amarah yang menggebu-gebu dan juga diiringi dengan sorot mata tajamnya.
"Heh .., itu akibatnya jika berani melawanku!" ucap Hans dengan tersenyum sinis berbalik menatap Vitalia.
__ADS_1
Melihat sang Istri yang mulai tersulut emosi, Chandra pun lalu menghampiri sang Istri berniat untuk menenangkannya.
"Sayang, tenangkan dirimu! biar Aku saja yang akan menghabisinya," sahutnya.
"Tapi Mas, dia sudah mencoba membunuh Mama .." balas Vitalia dengan amarah yang sudah memuncak.
Hans yang mendengar obrolan di antara sepasang Suami Istri tersebut pun lagi-lagi tersenyum sinis, lalu menyahutnya dengan berkata, "Hah, Mama?? Vitalia, kau itu buta atau bagaimana? Mamamu itu ada di Indonesia, dia orang lain!" sahutnya dengan nada meninggi.
"Ya, kau mungkin benar Mamaku ada di Indonesia, namun Dia adalah wanita yang sudah melindungiku dan mengurusku selama Aku mengalami amnesia, jadi kau tak perlu ikut campur urusanku, Hans!" tegas Vitalia membalasnya pernyataan dari Hans, dengan menatap tajamnya.
"Cihh ... dasar pembohong...!!" sahut Hans menjawab pernyataan dari Vitalia. Seketika itu pula Chandra yang mendengar ucapan dari Hans pun tak terima, dan..
Doorrr...
Sebuah tembakan yang dilontarkan oleh Chandra, mengenai kaki dari Hans, yang seketika saja membuat Hans tersungkur di lantai.
"Arrrggghh..., kurang ajar, brengsek kau Chandra!" umpat Hans kesal sambil memegangi kakinya yang sakit karena terkena tembakan.
"Rasakan pembalasan dariku, Hans!" ucap Chandra dengan penuh penekanan sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kalian, cepat bawa Dia ke markas! gabungkan Dia dengan si brengsek Arnold dan juga perempuan ****** itu!" sambung Chandra memerintah kedua anak buah geng Kalajengking agar membawa ke markas kebesarannya yang ada di kota Sydney, Australia.
Seketika itu pula Vitalia terbelalak mendengar nama perempuan ****** yang disebut oleh sang Suami. "Siapa perempuan ****** yang di maksud Mas Chandra??" Vitalia bertanya-tanya dalam hati. Namun ia sesegera mungkin untuk menepis pikiran buruknya itu.
"Baik Tuan..." balas kedua anak buah geng Kalajengking tersebut mengiyakan perintah dari Chandra.
"Tunggu...!!" ucap Vitalia berhasil menghentikan langkah dari kedua anak buahnya yang berniat akan membawanya pergi.
Sreegghhh...
Buuukkk...
Pukulan bogem mentah dilayangkan oleh Vitalia dengan begitu saja ke arah perut Hans.
Arrghhhh...
Hans pun mengerang kesakitan.
"Dasar wanita tak tahu di untung," ucapan Hans lolos dengan begitu saja. Sayangnya ucapannya tak dihiraukan oleh Vitalia yang menatapnya dingin.
"Bawa dia pergi dari sini, Aku sudah muak melihatnya!" titah Vitalia dingin pada kedua anak buahnya.
...🥰****************🥰...
Setelah kedua anak buahnya pergi membawa Hans ke markas kebesaran sang Suami, Mobil ambulance pun akhirnya datang untuk membawa Nyonya Renita ke rumah sakit terdekat, dimana lagi kalau bukan membawanya ke FireField Hospital.
Dengan penuh rasa cemas, sedih menjadi satu di pikiran Tuan Hirata, Vitalia, dan Amelia yang kini sedang berada di dalam mobil Ambulance.
"Ma bangun Ma... hiks.. hiks.." ucap Tuan Hirata sambil menangis sesenggukan lalu mengecup sahut sang Istri yang terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Ma, ku mohon bertahanlah, demi Aku Ma, Aku belum sempat membalas kebaikanmu selama ini," ucap Vitalia dengan meneteskan air matanya, sambil menggenggam tangan Nyonya Renita yang sudah ia anggap seperti Mama kandungnya sendiri.
"Ini semua gara-gara Aku, Vit.., jika saja Aku tak datang menemui Hans, ini semua tak mungkin terjadi Vitalia, hiks... hiks... hiks..." ucap Amelia menimpalinya dengan menangis sesenggukan.
"Nasi sudah menjadi bubur, Mel! Semua sudah terjadi. Sudahlah, lebih baik jangan menyalahkan dirimu sendiri, kita doakan saja yang terbaik buat Mama," sahut Vitalia berusaha menenangkan Amelia.
Sementara Chandra, kini kembali ke mobilnya bersama dengan Frans, dan juga Mirna. Mereka memutuskan untuk mengikuti mobil ambulance yang sedang membawa Nyonya Renita ke rumah sakit.
Sesampainya di tempat parkir, Chandra pun melihat kedua orangtuanya yang sudah lama menunggu.
"Kalian, kemana saja sih? lama sekali!" ucap Mama Dhea pada Chandra yang baru saja datang bersama dengan Frans dan juga dokter Mirna Feriska.
"Loh, dokter Mirna kau kenapa di sini??" sahut Tuan Zhu bertanya pada dokter Mirna yang entah mengapa dia berada di bandara bersama dengan Putranya.
"Sudah Ma, Pa.. kita tidak punya waktu lagi untuk berbicara, nanti saja kami akan menjelaskan pada kalian. Oh ya satu lagi, Mbak Mirna juga akan ikut ke mobil kita," balas Chandra memberi pengertian pada kedua orangtuanya.
Tanpa mengulur waktu Frans pun segera menancapkan gasnya mengikuti ambulance yang kini tampak sudah cukup jauh membawa Nyonya Renita ke FireField Hospital untuk mendapatkan pelayanan intensive.
Bersambung...
...****************...
...----------------...
Gimanakah kelanjutan ceritanya??? akankah Vitalia tetap akan melanjutkan niatnya untuk kembali ke Indonesia? tunggu ya kelanjutannya, dan yang pasti di jamin seru dong...
Sambil menunggu up dari Author, yuk gas ke novel Bestie Aku kak Tyatul di jamin bikin baperr...
Berikut Cuplikannya :
DADDY LUCAS
(Tyatul)
Menjadi seorang duda saat anaknya baru terlahir ke dunia membuat seorang Lucas Abraham harus menjadi single parents untuk putrinya diusia baru menginjak 23 tahun.
Istri tercintanya meninggal saat melahirkan putri cantiknya ke dunia. Diketahui sang istri terkena racun yang sudah menyebar ditubuhnya selams ini.
Bayi bermata biru itu Lucas namai, Laura Abrahan agar nama istrinya selalu melekat dalam diri Laura.
"Daddy janji akan selalu menyayangimu sayang."
Hingga saat dimana Laura kecil selalu menanyakan dimana Mommynya? Apa Mommy akan pulang?
Dengan kedatangan seorang wanita yang mirip dengan mendiang istrinya membuat Lucas goyah akan pendiriannya untuk terus mencintai sang istri.
__ADS_1
Apalagi Laura selalu memanggil wanita itu Mommy.