
Memata-matai Amelia dan Hans
Setelah mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Hans, Amelia pun tersentak dan ingin melangkahkan kakinya pergi. Sayangnya niatnya yang ingin pergi meninggalkan Hans pun terhenti karena Hans menjegal kaki dari Amelia Hirata.
Sreettt
Bruukkk...
"Aaaa ..."
Seketika saja Amelia tersungkur di atas lantai. Sontak saja membuat Vitalia yang baru sampai di depan pintu cafe tersebut terkejut melihat Amelia yang tersungkur di lantai. Ia pun lalu berteriak.
"Am ..."
Sayangnya teriakannya terhenti karena ia berpikir jika dirinya menghampirinya, ia tidak akan bisa mengetahui apa tujuan Hans yang sebenarnya. Sementara Vitalia pun lalu memutuskan untuk bersembunyi di balik pintu cafe tersebut.
Sedangkan Amelia yang berada di seberang sana tepatnya di dalam cafe tersebut, memelototkan matanya sambil mengepalkan tangannya geram melihat perlakuan tak terduga dari Hans.
"Dasar pria brengsek.." umpat Amelia.
Sementara Hans hanya tersenyum sinis menatap Amelia yang kini berada tepat di bawahnya. Dengan cepat Hans pun lalu mengulurkan tangannya berniat membantu Amelia untuk berdiri dari lantai. Ia tak peduli jika banyak orang yang memandang ke arahnya.
"Ayo berdirilah, tadi Aku hanya bercanda!" tegasnya sambil mengulurkan tangannya tepat di wajah Amelia.
"Terima kasih, Aku tidak butuh bantuanmu!" lantang Amelia menolak uluran tangan Hans yang justru malah tersenyum sinis mendengar jawaban dari Amelia.
Sementara di balik pintu cafe tersebut nampak Vitalia sangat serius menyimak perdebatan diantara Amelia dan juga Hans. Ia bahkan tak menyangka jika Hans berniat seburuk itu pada Amelia.
"Tunggu dulu, kenapa Hans bisa mengenal Amelia, ya? padahal kan Aku belum sempat mengenalkan Amelia padanya? lantas kalau dia mengenal Amelia, kenapa dia bisa berbuat sekasar itu pada Amelia?" banyak pertanyaan yang berputar dalam otak Vitalia sambil mencermati gerak gerik dari Hans dan Amelia yang sedang berdebat di dalam cafe.
Tak berselang lama datanglah Mirna yang menyusul Vitalia yang mengintip di balik pintu cafe.
"Vitalia ..." panggilnya dengan menepuk bahu Vitalia dari arah belakang.
"Ssstt ..., jangan keras-keras, nanti kedengaran! lebih baik Mbak lihat ke sana deh." ucapnya dengan menunjuk ke arah Hans dan Amelia yang sedang berdebat di dalam cafe. Seketika saja Mirna pun mengarahkan pandangan menatap orang yang ditunjuk oleh Vitalia.
...****************...
Sedangkan Amelia kini sudah terbangun dari lantai, dengan menatap Hans dengan sorot mata tajamnya, yang kini sudah kembali duduk di atas kursi yang ia tempat tadi.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganmu Tuan Hans? bahkan Aku juga baru mengenalmu?" tanya Amelia pada Hans.
"Aku hanya ingin Anda ikut bersamaku ke Indonesia dengan menyamar menjadi Vitalia di depan keluarganya!" jawab Hans dengan penuh percaya diri mengajak Amelia pergi ke Indonesia.
__ADS_1
Plaakkkk
Tamparan keras dilayangkan oleh Amelia di pipi sisi kiri Hans.
Sementara Vitalia dan Mirna yang sedang menguping pembicaraan Mereka di balik pintu pun tak kalah terkejutnya mendengar pernyataan dari Hans yang menyuruh Amelia agar menyamar sebagai Vitalia.
Sedangkan Hans yang mendapatkan tamparan keras dari Amelia pun lalu memegangi pipinya yang terasa sakit karena tamparan tersebut.
"Kurang ajar kau Nona Amelia! beraninya kau menamparku!" ucap Hans mengepalkan tangannya geram.
Amelia yang melihat Hans mengepalkan tangannya pun tersenyum kecut, lalu berkata, "Saya pikir Anda orang yang sangat baik tapi ternyata Saya sudah salah menduga. Kau adalah musuh dalam selimut. Aku yakin kau menyuruhku untuk menyamar menjadi Vitalia karena ada maksud tertentu,"
"Maksudmu??"
"Jangan berpura-pura bodoh Tuan Hans! Anda pikir Saya mau diperalat olehmu? tidak semudah Tuan Hans, lagi pula atas dasar apa Kau menyuruhku??" jawab Amelia dengan nada mengejek.
"Atas dasar Vitalia, Nona Amelia! apa kau tak mau membantunya??" balas Hans dengan berbalik tanya.
Mendengar perkataan dari Hans Amelia pun mengerutkan keningnya bingung. "Vitalia? Membantu apa maksudmu Tuan Hans??" ucap Amelia dengan melontarkan berbagai pertanyaan pada Hans.
Bukannya menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh Amelia, namun Hans justru hanya tersenyum manis menanggapinya, lalu berkata, "Nona Amelia, sebelum Aku menjawab pertanyaanmu, lebih baik minumlah terlebih dahulu, kebetulan Saya juga sudah memesan menu makanan untukmu," ucapnya tak tahu malu, setelah apa yang telah ia perbuat.
Bukannya menuruti perintah dari Hans, Amelia justru diam mengabaikannya sambil menatap Hans yang begitu menikmati makanannya yang sudah disajikan di meja tersebut.
"Vitalia, Aku yakin Hans mempunyai tujuan buruk dibalik perdebatan Mereka," ucap Mirna pelan tepat di samping Vitalia.
"Bisa jadi Mbak, tapi yang jadi pertanyaanku adalah kenapa Mereka sudah saling mengenal?" shut Vitalia dengan bertanya-tanya.
"Itu semua gegara Aku Vit, maafkan Aku karena sudah mengenalkan Amelia pada Hans, karena sebelum kejadian kemarin Hans masih baik-baik saja, dia belum berubah seperti sekarang," balas Mirna menjelaskan kebenarannya.
"Sudah tidak apa-apa Mbak, ini semua bukan kesalahanmu, tapi kesalahanku yang telah memberi tahu segala informasi tentang Amelia padanya, hanya saja Aku tidak pernah mengenalkannya," ucap Vitalia.
"Huhhhh, semua terjadi bukan karena kesalahan kita, Vitalia. Lebih baik kita pantau saja Mereka, jangan biarkan Amelia kenapa-napa," tutur Mirna Feriska pada Adik Sepupunya.
...****************...
Sedangkan di seberang sana, Amelia benar-benar bingung karena ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah dari Hans agar menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan.
Amelia akhirnya memutuskan untuk meminum orang juice yang ada di depannya saat ini. Sementara Hans kini menatap Amelia yang sedang meminum jus tersebut dengan tersenyum menyeringai.
Glekk.. Glekk.. Glekk..
Amelia meneguk orange juice dengan cepat, karena sebetulnya ia sudah sangat kehausan.
__ADS_1
"Habiskan Nona Amelia, setelah ini akan ku pastikan kau menjadi bonekaku untuk membalaskan dendam ku pada Vitalia dan Chandra," batinnya.
Setelah meminum orange juice itu sampai habis, tiba-tiba saja kepala Amelia terasa pusing, "Tu.. tuan Hans, Sa .. Sayaa.." belum sampai Amelia menyelesaikan ucapannya, Tubuh Amelia pun terhuyung ke depan, tepat di atas meja.
Brukkk....
seketika itu pula Hans yang satu meja dengan Amelia pun segera membawa Amelia pergi dari cafe tersebut dengan membopongnya dengan di bantu dua orang suruhan Hans.
"Cepat, bantu Aku untuk membawa wanita ini pergi dari sini!" titah Hans pada kedua anak buahnya yang sedang berada di meja lain. Mereka pun menuruti perintah dari atasannya untuk membawa Amelia pergi dari cafe tersebut.
Sementara Vitalia dan Mirna yang sedang memantau Mereka pun membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang sudah Mereka lihat. Tanpa berpikir panjang Vitalia dan Mirna memutuskan untuk menampakkan diri Mereka di hadapan Hans.
Saat Hans and the genk akan membawa Amelia pergi, ada seseorang yang yang menghentikan langkah Mereka.
"Tunggu ... !!" teriak seseorang menghentikan langkah Hans and the genk yang akan menculik Amelia.
Bersambung....
...****************...
...----------------...
Tahan dulu bestie...
Kira-kira apakah Hans bisa lolos dari Vitalia, dan berhasil menculik Amelia??
Nah sebelum dilanjut ke episode berikutnya, yukk mampir ke novel Bestie Author, kak Siti Fatimah
Berikut Cuplikannya :
JERATAN ISTRI YANG TERHINA
(Siti Fatimah)
Kisah pahit harus dialami gadis berusia 20 tahun yang tak lain gadis itu bernama Putri Varelina. Gadis malang yang lebih memilih persahabatan ketimbang cinta yang nantinya akan menghancurkan ketiga sahabat itu.
Hinga akhirnya hidupnya hancur lebur setelah ia dinodai oleh mantan kekasihnya yang kini berstatus Suami dari sepupunya sendiri. Mampukah ia bertahan mempertahankan janin yang kini menjadi calon anak dari Suami sepupunya sendiri. Dan mampukah ia berjuang bertahan dari hinaan dan siksaan batin yang dilakukan laki-laki itu yang dengan teganya tidak Sudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.
Bagaikan tertimpa seribu tangga. Ia juga harus menerima kepahitan hidup gimana ia terjebak dalam sebuah pernikahan yang dimana Pria yang ia nikahi adalah Suami dari sahabat terbaiknya sendiri. Kehancuran, kecewakan hinga dendam membuat sahabatnya berbalik menjadi membencinya bertekad untuk menghancurkan kebahagiaannya. Akankah persahabatan mereka yang dulunya terbilang akur akan berubah menjadi dendam?"
__ADS_1